Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Paksaan Javier


__ADS_3

Setelah selesai berbincang dengan adiknya di luar sana, Harold kini kembali ke kamarnya sambil senyum-senyum sendiri mengingat seperti apa ekspresi Javier tadi. Rasanya Harold tak bisa berhenti tertawa, apalagi saat mendengar cerita dari Javier yang mengatakan bahwa dia ditolak oleh seorang pelayan di salah satu bar dan ditampar keras di hadapan banyak pengunjung.


Maysa yang memang masih terjaga tampak keheranan melihat ekspresi suaminya itu, ia bangkit lalu bertanya pada Harold mengapa dirinya sampai tertawa terus seperti itu seolah-olah habis bermain dengan anak kecil. Padahal setahu Maysa, tadi Harold pamit untuk menemui Javier di bawah sana karena ada sesuatu hal yang penting dan hendak dibicarakan oleh Javier kepada kakaknya itu.


"Mas, kamu kenapa ketawa-ketawa begitu sih? Awas loh nanti dikira gak waras sama readers!" tanya Maysa dengan wajah terheran-heran.


Harold masih terkekeh dan duduk di pinggir ranjang mendekati istrinya itu, ia hendak menceritakan semua yang terjadi saat ia berbicara dengan Javier di bawah tadi. Pria itu tidak bisa menahan tawanya setelah mendengar cerita Javier, itulah sebabnya mengapa sedari tadi Harold terus tertawa dan membuat Maysa keheranan.


"Iya sayang, jadi aku itu begini ya karena si Javier. Dia cerita sama aku kalau dia abis ditolak sama cewek, mana kena tampar juga lagi. Gimana aku gak ketawa coba?" kekeh Harold.


"Ish mas, kamu parah banget sih jadi abang! Harusnya kamu kasihan dong sama Javier, dia kan adik kamu!" tegur Maysa.


"Ahaha, iya iya maaf. Aku gak bisa tahan aja karena cerita dia itu lucu banget, gak kebayang deh gimana malunya Javier tadi sewaktu di bar dan ditampar di depan banyak orang," ucap Harold sambil tertawa.


"Di bar? Maksudnya, Javier nembak cewek di bar gitu mas?" tanya Maysa penasaran.


Harold terdiam saat itu juga, seolah bingung harus menjawab bagaimana dengan pertanyaan yang diajukan istrinya itu. Harold khawatir jika Maysa akan teringat kembali pada momen kelam dirinya dahulu, karena apa yang dilakukan Javier sangat lah mirip dengan kelakuan Harold sebelumnya dimana ia bisa memiliki Maysa hingga menjadi istrinya.


"Mas, kok kamu mendadak diam kayak gini? Ada apa sih?" tanya Maysa lagi.


"Eee a-aku...."


Melihat kegugupan di wajah Harold saat ini, Maysa sontak penasaran dan semakin bingung mengapa suaminya mendadak diam seperti itu. Padahal, sedari tadi Harold terus tertawa dan bahkan tidak bisa dihentikan. Namun, kali ini Harold malah diam tanpa berbicara sepatah katapun dan membuat Maya sangat penasaran.


"Hayo, pasti ada yang kamu sembunyiin kan dari aku? Mending jujur aja deh mas, Javier pasti bukan nembak cewek kan!" ucap Maysa merengut.


"Haha, ya gitu lah pokoknya dia ditolak sama cewek terus ditampar. Udah kamu gak perlu tanya-tanya lagi yang lain, tidur aja yuk dah malam loh ini!" ucap Harold mengalihkan topik.


"Apa sih ih? Kamu jawab dulu yang jelas, aku gak mau tidur sebelum kamu kasih tahu ke aku apa yang Javier lakuin di bar tadi!" sentak Maysa.


Harold kembali terdiam dibuatnya, pria itu menggaruk pelipisnya karena bingung harus apa. Maysa pun semakin penasaran, ia terus saja memaksa suaminya untuk menceritakan apa yang terjadi antara Javier di bar tadi. Tapi, sepertinya Harold memang tidak bisa menceritakan itu karena dia sekarang malah terus saja diam.


"Mas ih, kamu mah nyebelin banget sih! Ayo jawab dulu, kasih tahu aku!" pinta Maysa.


"Sayang, mending kamu istirahat deh udah malam loh ini! Kasihan calon bayi kita itu, yuk tidur yuk!" ucap Harold.


"Gak mau, jawab dulu pertanyaan aku!" kekeuh Maysa.


"Yaudah iya deh iya, Javier tadi ngajak pelayan di bar buat one night stand. Kayak apa yang aku lakuin dulu ke kamu, puas kan sekarang?" jelas Harold.


"Hah??" Maysa terbelalak kaget mendengar pengakuan suaminya.




Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Zanna sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar mama papanya dan berteriak cukup keras memanggil keduanya. Zanna terlihat sudah rapih mengenakan seragam sekolahnya, tapi entah kenapa gadis itu malah meminta orangtuanya untuk bangun dan segera membuka pintu menemuinya.


Baik Saskia maupun Melinda sudah berusaha untuk mencegah Zanna dan menghentikan gadis itu, tetapi Zanna sepertinya memang ingin bertemu dengan mama atau papanya pagi ini. Ya akhirnya mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa, kini mereka memilih menatap saja Zanna dari jarak dekat dan berharap kalau gadis itu tidak mengganggu momen kedua orangtuanya di dalam sana.


"Mama papa ayo bangun! Aku mau diantar ke sekolah sama mama sama papa!" teriak Zanna sembari menggedor-gedor pintu kamar itu.


Melinda serta Saskia sampai harus menutupi telinga mereka akibat ketukan keras yang dilakukan Zanna itu, mereka tak menyangka kalau Zanna bisa begitu kuat dan suara teriakannya sangat keras sampai nyaris membuat mereka pengang. Saskia pun berusaha menghentikan Zanna dengan cara mendekatinya, lalu membujuk Zanna untuk mengecilkan sedikit suaranya.


"Zanna sayang, pelan-pelan aja ya panggil mama sama papanya! Kasihan loh nanti dedek bayi yang dikandung mama Maysa bisa kaget dengarnya, emang Zanna gak kasihan sama calon adik Zanna itu?" bujuk Saskia.


"Umm, kasihan sih aunty. Tapi, aku kan cuma pengen diantar papa sama mama ke sekolah," ucap Zanna.


"Iya sayang, nanti papa sama mamanya Zanna bakal keluar kok. Sekarang Zanna tunggu di meja makan aja ya, kita sarapan bareng-bareng yuk!" ucap Saskia sambil tersenyum.


"Tapi aunty, mama papa kan belum bangun. Aku pengen nungguin disini pokoknya sampai mama papa bangun!" ucap Zanna kekeuh.


"Eee...."


Saskia terlihat bingung dan tak tahu lagi harus berkata apa, ia melirik ibunya tetapi Melinda juga menggeleng sembari mengangkat bahunya. Kedua wanita itu sudah kehabisan cara untuk bisa menghentikan Zanna, dan kini Zanna malah kembali mengetuk pintu kamar itu sambil berteriak memanggil mama serta papanya.


"Papa, mama ayo bangun! Mama papa jangan tidur terus dong!" teriak Zanna.

__ADS_1


Ceklek


Akhirnya pintu kamar pun terbuka setelah cukup lama Zanna berteriak disana, tentu saja Zanna langsung bergembira melihatnya dan spontan mendongak ke atas. Terlihatlah sosok Harold yang baru keluar dari dalam sana, sambil menguap pria itu menyapa putrinya yang sudah menunggu sedari tadi di depan pintu kamarnya.


"Hai, good morning sayang anak papa yang cantik! Kenapa sih ketuk-ketuk pintu sampai kayak gitu, hm? Kangen ya sama papa kamu yang ganteng ini?" ucap Harold berjongkok di depan putrinya.


Zanna menggeleng dengan cepat, "Enggak pa, aku cuma pengen diantar ke sekolah sama papa. Terus sama mama Maysa juga, bisa kan pa?" ucapnya.


"Hah? Ohh, Zanna mau diantar sama papa dan mama sekarang? Ya bisa dong sayang, tapi sebentar ya mamanya masih di kamar mandi. Zanna sekarang ke meja makan aja dulu sama aunty dan oma ya!" ucap Harold.


"Iya deh pa." Zanna mengangguk setuju.


Lalu, Zanna pun berbalik dan menggandeng tangan Melinda serta Saskia sambil mengajak mereka pergi ke meja makan sesuai perintah papanya. Harold menggeleng pelan disertai senyuman lebar melihat tingkah gemas putrinya, kemudian ia kembali masuk ke dalam kamarnya setelah memastikan semua aman dan Zanna baik-baik saja disana.




Di dalam kamar, tampak Maysa yang baru keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk berwarna putih melangkah menghampiri suaminya disana. Maysa terlihat bingung dengan tingkah Harold saat ini, apalagi pria itu terus geleng-geleng kepala sembari memegangi keningnya. Karena merasa cemas, Maysa pun mendekat lalu berdiri di sebelah Harold.


"Mas, kamu abis ngapain sih? Kok geleng-geleng kayak gitu? Jangan bilang kamu emang beneran udah gak waras ya, mas?" tanya Maysa menegurnya.


Harold terkejut dengan suara yang tiba-tiba muncul itu, ia menoleh dan menemukan istrinya disana tengah berdiri sembari memandang ke arahnya dengan wajah penasaran. Harold mengusap dadanya perlahan, ia lega karena ternyata itu adalah suara istrinya dan bukan suara yang berasal dari makhluk halus atau bangsa jin.


"Ya ampun sayang, ngagetin aja sih kamu! Aku kira tadi ada hantu loh di kamar kita, eh ternyata itu suara kamu. Tumben kamu cepat banget mandinya, biasanya paling bentar satu jam?" ucap Harold.


"Ih mana ada begitu? Aku mandinya selalu cepat loh ya, ngada-ngada aja kamu!" elak Maysa.


"Hahaha, iya udah gausah manyun gitu jadi tambah gemas tahu aku! Nanti aku yang ada minta jatah lagi sama kamu loh," goda Harold.


"Ish, dasar mesum! Udah kamu jangan alihin topik deh, jawab dulu pertanyaan aku tadi!" kesal Maysa.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Harold pura-pura.


"Ih kamu mah gak usah pura-pura deh! Itu loh tadi kan aku tanya ke kamu, kenapa kamu geleng-geleng kayak gitu?" ucap Maysa kesal.


Maysa mengernyitkan dahinya dan kebingungan mendengar perkataan suaminya, sebenarnya hari ini ia sedang malas kemana-mana dan hanya ingin berbaring di ranjangnya. Namun, tidak mungkin juga jika ia menolak permintaan Zanna itu. Apalagi, Maysa tidak mau kalau Zanna membencinya dan malah menjauh darinya nanti.


Melihat istrinya yang mendadak terdiam dan menunduk lesu, Harold sontak mendekat lalu memegang kedua pundak wanita itu dengan kuat. Maysa sontak terkejut serta mendongak ke arah suaminya, wanita itu pun merengut dan bingung harus mengatakan apa. Sedangkan Harold terus saja menatapnya disertai elusan yang dia berikan.


"Sayang, kamu kenapa? Gak bisa ya ikut buat antar Zanna hari ini? Apa kamu kecapekan karena kemarin pergi sama aku?" tanya Harold lembut.


"Eee a-aku bisa kok mas, aku juga gak capek atau lelah," jawab Maysa berbohong.


"Bener nih kamu bisa? Kalau emang kamu capek gapapa kok sayang, nanti biar aku yang bicara sama Zanna soal itu," ucap Harold.


"Eh eh, jangan mas! Aku gak mau bikin Zanna kecewa, aku juga gapapa kok!" bujuk Maysa.


Harold tersenyum mendengarnya, ia bahagia karena sekarang Maysa begitu perduli pada Zanna yang padahal bukan putri kandungnya. Sepertinya Zanna memang sudah menerima kehidupan barunya, dan juga mau menganggap Zanna sebagai anaknya. Tentu saja Harold amat bergembira, karena akhirnya ia bisa memberikan ibu yang baik bagi Zanna.


"Terimakasih ya sayang, kamu itu emang luar biasa dan bikin aku kagum!" ucap Harold memujinya.


"Sama-sama mas," ucap Maysa singkat.


Lalu, Maysa tampak mendekati suaminya dan memeluk lelaki itu dari samping sembari membenamkan wajahnya. Harold tentu tersenyum dibuatnya, akan tetapi apa yang dilakukan Maysa berhasil membuat miliknya di bawah sana mengeras. Ya Harold memang mudah bergairah tiap kali bersentuhan dengan Maysa, walaupun Maysa sama sekali tak menggodanya.




Siang harinya, Harold mengajak sang istri mampir sejenak ke sebuah restoran ternama yang pria itu sering datangi. Tentu saja mereka datang kesana untuk menikmati makan siang bersama, ya tanpa banyak basa-basi mereka langsung turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam restoran itu dengan bergandengan tangan.


Keduanya pun terduduk di tempat yang tersedia dan masih kosong, langsung saja Maysa mengambil daftar menu yang ada disana dan memilih makanan yang ingin ia pesan. Sedangkan Harold menanti giliran untuk itu, dia menatap saja wajah wanita di hadapannya dengan senyuman yang terus merekah di kedua pipinya.


"Eee mbak, saya mau pesan salmon sashimi nya ya!" ucap Maysa pada si pelayan.


Pelayan itu mengangguk dan mencatat pesanan Maysa, tetapi kemudian Harold merasa bingung dengan makanan yang dipesan oleh istrinya itu. Menurut Harold, tak seharusnya Maysa memesan sushi disaat hamil seperti sekarang. Harold pun melancarkan protesnya kepada sang istri, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada kandungan Maysa nanti.

__ADS_1


"Sayang, kok kamu pesan sushi sih? Kamu itu lagi hamil loh, gak baik makan yang mentah-mentah kayak gitu!" tegur Harold.


"Tenang aja mas, aku juga tahu kok kalau aku gak boleh makan sushi!" ucap Maysa tersenyum santai.


"Loh, terus itu tadi kenapa kamu pesan sushi nya? Kalau bukan buat kamu, terus buat siapa sayang?" tanya Harold bingung.


"Kamu." Maysa menjawab disertai senyuman lebar dan menunjuk ke arah suaminya.


Sontak Harold terperangah kaget mendengar jawaban sang istri, ia sampai tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu barusan. Maysa rupanya ingin dirinya lah yang memakan sushi itu, tapi tentu saja Harold menolaknya. Dari dulu sampai sekarang, Harold belum pernah mencoba yang namanya sushi dan ia sangat tidak menyukai itu.


"Sa-sayang, maksudnya aku gitu yang disuruh makan sushi?" Harold kembali bertanya untuk memastikan, dan Maysa pun menjawabnya dengan anggukan.


Harold semakin kebingungan saat ini, ia tak tahu harus apa untuk bisa menghindari memakan sushi. Sedangkan Maysa sudah mengatakan pesanannya yang lain kepada si pelayan, Harold menepuk jidatnya dan terus merasa bimbang. Pria itu tidak mungkin bisa memakan sushi, karena pasti ia akan langsung merasa mual nanti bila memakannya.


"Iya mas, kamu kenapa sih kok kayak gak suka gitu? Padahal sushi enak loh, gak masalah dong?" ucap Maysa keheranan.


"Haha, i-i-iya gapapa sih. Tapi kenapa mesti aku yang makan sayang? Aku kan lagi gak pengen makan sushi, yang lain aja ya?" bujuk Harold.


"Ih gak bisa mas, aku tuh kepengen lihat kamu makan sushi. Kayaknya ini bawaan bayi deh, kan calon anak kamu juga! Kamu harus nurut mas, kalo enggak nanti dia ileran loh!" ucap Maysa merengut.


"Hah??" Harold terkejut dan spontan memukul wajahnya sendiri.


Setelah itu, pesanan mereka akhirnya tiba dan Maysa langsung terlihat meminta Harold untuk mencoba sushi tersebut. Harold sendiri tampak kebingungan, sebab pria itu belum pernah memakan sushi dan dari baunya saja ia sudah merasa mual. Entah apa yang terjadi nanti, tetapi Harold saat ini tak memiliki pilihan lain.


"Ayo mas, dimakan ya biar anak kita senang!" suruh Maysa sambil tersenyum.


Harold menelan saliva nya, kemudian dengan perlahan ia mulai mengambil sepotong sushi itu dan memasukannya ke dalam mulut. Baru suapan pertama, Harold sudah merasa mual dan ingin muntah. Pria itu pun bergegas bangkit, lalu pergi ke kamar mandi karena tidak tahan lagi.


"Huweek huweek..."


"Loh mas, mas kamu mau kemana?" tanya Maysa berteriak panik.




Javier kembali mendatangi bar tempat Mawar bekerja dan tentu saja pria itu ingin menemui gadis yang menjadi incarannya sejak semalam itu, sebelum ia berhasil menaklukan hati Mawar maka ia tidak akan berhenti berusaha. Tekad Javier hanya satu untuk saat ini, yakni bisa membawa Mawar ke atas ranjang dan menikmati malam bersamanya.


Begitu ia memasuki tempat itu, wajahnya langsung bersinar saat melihat sosok Mawar yang sedang melayani seorang pelanggan di depan sana. Tanpa banyak berpikir, Javier langsung saja bergerak cepat menghampiri gadis itu. Sebelum Mawar sempat menjauh, Javier sudah lebih dulu mencekal lengannya dan menahan Mawar saat ini.


"Eits, kamu gak bisa pergi Mawar. Kamu disini dulu sama saya ya, ada yang mau saya bicarakan sama kamu! Ayo kamu ikut saya, kita ke belakang dan bicara disana!" ucap Javier memaksa.


"Ih apa sih? Lepasin tangan aku, kamu jangan kurang ajar ya atau saya teriak nih!" sentak Mawar.


"Sssttt, kamu diam aja Mawar! Nurut sama saya, maka saya gak akan menyakiti kamu!" ucap Javier dengan cekatan menutupi mulut gadis itu.


"Mmpphh mmpphh!!" Mawar berusaha teriak dan berontak, tetapi usahanya gagal.


Akhirnya Javier membawa paksa tubuh Mawar menuju tempat yang agak sepi, ia baru melepaskan gadis itu setelah dipastikan aman dan tidak ada yang bisa mengganggunya. Kini Javier mengurung tubuh Mawar di dekat tembok, membuat gadis itu tak dapat melakukan apa-apa. Javier menyeringai, satu tangannya mencengkram rahang Mawar dan ia tatap dari jarak dekat.


"Kamu cantik sekali Mawar, saya jatuh hati sama kamu! Sekali lagi saya tekankan ke kamu, terima tawaran saya dan hidup kamu akan jauh lebih bahagia dari sekarang! Kamu pasti mau begitu kan?" ucap Javier dengan serius.


Mawar terbelalak dan spontan menggelengkan kepalanya, ia tentu tidak mau menerima tawaran gila pria itu yang menurutnya sudah sangat merendahkan harga dirinya. Mawar pun berusaha menyingkirkan tangan Javier dari tubuhnya, dengan tegas ia berkata bahwa sampai kapanpun ia tidak akan pernah mau mengikuti kemauan pria itu.


"Anda dengar ya tuan, saya bukan wanita yang mudah tergoda dengan uang. Saya tidak akan mau menerima tawaran anda itu!" tegas Mawar.


"Oh it's okay, saya hargai keputusan kamu. Tapi, jangan salahkan saya kalau nantinya saya akan terus hadir di kehidupan kamu dan membuat kamu semakin menderita!" ucap Javier mengancam.


Lagi-lagi Mawar dibuat terkejut dengan perkataan Javier, ia khawatir kalau pria itu memang benar-benar akan terus mengusiknya. Mawar bukannya takut dengan Javier, ia hanya tidak ingin jika sampai Javier menyentuh keluarganya yang tidak bersalah. Apalagi, sepertinya Javier adalah tipe lelaki yang sangat nekat.


"Kamu putuskan ini baik-baik Mawar, saya cuma mau bantu hidup kamu loh!" ucap Javier.


Mawar tampak kebingungan saat ini, tubuhnya tidak bisa digerakkan walau sedikit karena sentuhan keras dari Javier. Ia juga tidak tahu harus menjawab apa kepada Javier, karena pria itu terus saja memaksa dirinya untuk menerima penawaran tersebut. Padahal, Mawar sudah berulang kali mengatakan bahwa ia tidak mau menerima tawaran itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2