Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Honeymoon?


__ADS_3

Keesokan harinya, sebelum berangkat ke kantor Harold menyempatkan diri untuk menemui istrinya dan berbincang kembali dengan wanita itu di atas ranjang. Semalaman Harold memang merasa tidak nyaman setelah Maysa memilih cuek padanya dan tak mau berbicara dengannya, apalagi ini kali pertama Maysa melakukan itu karena biasanya Maysa tidak pernah ngambek dalam waktu lama.


Kini Harold pun terlihat kebingungan, ia tak tahu cara apa yang tepat untuk bisa membuat istrinya kembali tersenyum dan mau memaafkannya. Jika ia berkata jujur pada Maysa mengenai bisnisnya, maka itu bukanlah suatu pilihan yang tepat. Harold tak mau Maysa menjadi incaran para musuh-musuhnya, lalu hidup Maysa akan terancam dan membuat Harold makin khawatir dengan kondisi istrinya nanti.


"Eee sayang, kamu jangan ngambek terus dong! Cantiknya mulai luntur loh itu, kasihan nanti anak kita gak bisa menikmati kecantikan ibunya yang luar biasa ini!" ucap Harold sambil terkekeh.


Rayuan Harold itu hanya mampu membuat Maysa melirik ke arahnya, namun tetap tak ada ucapan yang keluar dari mulut Maysa. Ya seperti Maysa benar-benar kecewa pada Harold, wanita itu menganggap jika Harold tidak bisa lagi dipercaya. Terlebih, setelah kemarin Harold tak mau berkata jujur padanya mengenai bisnis gelap yang dia jalankan di luar sepengetahuan dirinya.


"Sayang, gimana kalau kita pergi honeymoon besok? Aku bisa bawa kamu kemana aja yang kamu mau, kamu tinggal bilang pengen kemana! Nanti biar aku beliin tiketnya deh, kamu setuju gak? Toh sejak nikah kita belum pernah honeymoon kan?" ucap Harold.


Kali ini bujukan pria itu berhasil membuat Maysa sedikit terkejut dan reflek menatap ke arahnya, ya Maysa sebenarnya ingin sekali mengiyakan ajakan Harold dan pergi berlibur dengannya. Akan tetapi, Maysa teringat kalau saat ini ia sedang marah dan tak seharusnya Maysa terbujuk rayuan murahan dari sang suami yang mengajaknya berbulan madu itu.


"Bisa-bisanya ya kamu ajak aku honeymoon, mas? Padahal, aku ini masih marah loh sama kamu. Harusnya kamu jujur dong ke aku, kamu ceritain semua tentang bisnis kamu!" ucap Maysa ketus.


"Ma-maaf sayang, untuk itu aku belum bisa! Tapi, aku janji akan jelaskan ke kamu nanti! Aku mohon sayang, kamu mau ya pergi honeymoon sama aku! Kita senang-senang berdua, supaya kamu gak ngambek terus," ucap Harold.


"Kalau aku gak mau, gimana?" tanya Maysa.


Harold terkejut dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia bingung dengan sikap Maysa yang begitu sulit untuk dibujuk. Sudah berulang kali Harold mencoba menghibur Maysa, tetapi selalu saja gagal dan tidak didengar oleh Maysa. Harold kini sudah tak tahu lagi harus apa, karena Maysa tampak sangat kecewa dan emosi kepadanya.


"Masa kamu gak mau sih? Kita ini kan sejak nikah belum honeymoon loh, ayolah kamu mau ya sayang!" ucap Harold membujuknya.


"Aku mau pergi honeymoon sama kamu, tapi kamu harus cerita dulu soal bisnis gelap kamu ke aku! Kalau enggak, ya aku gak bakal mau ikut honeymoon atau apalah itu," ucap Maysa tegas.


Deg

__ADS_1


Harold melongok lebar dibuatnya, ia terus menatap wajah Maysa dan meraih tangannya untuk digenggam serta usap dengan perlahan. Harold tak ingin Maysa terus begitu, karena ia merasa kurang apabila Maysa cuek padanya. Apalagi, Harold sangat menyayangi Maysa dan tidak mungkin pria itu bisa hidup tanpa sosok Maysa di dekatnya.


"Okay, aku akan jelasin ke kamu semuanya. Aku ini lagi menjalankan bisnis penjualan senjata, aku melakukan ini semua untuk menutupi hutang-hutang perusahaan aku," ucap Harold.


"Apa??" Maysa tersentak mendengarnya, matanya menyiratkan tanda bahwa ia tak mempercayai itu.




Disisi lain, Dean masih berusaha menemukan lebih banyak bukti lagi dari proyek yang ia pantau. Dean yakin masih ada banyak kelakuan buruk yang dilakukan Mira dan Dean harus mengetahui itu, karena sepertinya Mira ini memang sengaja ingin menghancurkan proyek dengan memanfaatkan statusnya sebagai asisten mandor.


Kini Dean tampak tengah bekerja seperti biasa, ia terus menyamar sebagai pegawai magang dan tidak ada yang mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Dean pun terus bertanya-tanya pada para pekerja di dekatnya, ia ingin tahu apa saja kejahatan yang sudah dilakukan Mira selain menahan gaji beberapa pekerja disana serta mengambil keuntungan dari alat-alat keamanan yang ada disana.


Sontak mereka semua menoleh, lalu berkumpul untuk menghadap ke arah Mira seperti kebiasaan yang mereka lakukan. Dean mengikuti saja apa yang dilakukan para pekerja itu, meski ia masih tak mengerti mengapa Mira memanggil mereka. Padahal, Dean tak merasa ada yang melakukan kesalahan saat ini.


"Barang baru udah datang tuh, kalian bantu angkut ya! Ingat, gak boleh sampai ada yang rusak atau kalian harus ganti rugi semuanya!" ucap Mira memberi perintah.


"Baik bu!" ucap semua pekerja dengan kompak.


Mereka pun buru-buru menuju mobil pengangkut yang berada di depan sana untuk mengambil barang sesuai perintah Mira, sedangkan Dean masih berdiri di tempatnya dan melihat ada kejanggalan yang terjadi disana. Pasalnya, barang-barang di mobil itu terlihat sangat sedikit dan tidak mungkin perusahaan memesan barang hanya segitu saja.


"Hey Alvin! Kenapa kamu diam saja? Kamu juga ikut sana angkutin barang-barang, anak magang itu harus banyak kerja!" titah Mira.


"Maaf bu, tapi itu barangnya juga gak banyak kok! Mereka saja sudah cukup buat angkut semua barang itu, jadi saya lebih baik meneruskan pekerjaan saya disini dong," ucap Dean menolak.

__ADS_1


"Kamu ini sukanya membantah saya terus ya? Awas loh, saya bisa kasih laporan jelek ke mandor nanti tentang kamu!" ucap Mira.


"Oh ya bu, omong-omong emangnya pak mandor kita ini kemana sih? Dari sejak pertama saya kerja disini, kok beliau gak pernah kelihatan datang kesini langsung ya bu?" tanya Dean penasaran.


"Pak mandor itu sibuk, tugas beliau banyak. Makanya dia serahkan semua urusan di proyek ini ke saya," jawab Mira tegas.


"Ohh,"


Dean sungguh heran dengan apa yang terjadi, ia geleng-geleng kepala ketika mendengar pengakuan dari Mira tadi. Seharusnya mandor lah yang bertanggung jawab atas segala urusan proyek, tetapi saat ini sang mandor malah tidak terlihat disana. Tentu saja Dean semakin bingung, karena banyak kejanggalan yang terjadi di proyek itu.


"Yasudah, kamu boleh lanjut kerja! Saya akan pantau kamu dari jauh, jadi jangan pernah macam-macam!" ucap Mira memberi peringatan.


Dean mengangguk singkat, "Siap bu!" ucapnya tegas.


Setelah Mira pergi dari sana, Dean pun terus menatap ke arah mobil yang mengantar barang untuk proyek tersebut. Dean melihat dengan jelas bahwa barang-barang yang ada sangatlah sedikit, padahal di proyek itu juga sedang kekurangan stok barang yang bisa digunakan untuk bekerja.


"Kasihan sekali tuan Harold, banyak bawahan beliau yang bekerja tidak benar!" batin Dean.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...|||...


...Ada yang mau honeymoon bareng Harold?...

__ADS_1


__ADS_2