
Harold yang baru kembali dari kantor, kini terkejut ketika melihat Clara sedang berdiri di depan rumahnya dan tampak begitu kesal. Harold pun menghampirinya, memandang heran serta tak mengerti apa yang dilakukan mantan istrinya itu disana. Pasalnya, wanita itu tampak sangat jengkel seolah baru menghadapi masalah besar.
Clara sendiri masih belum sadar dengan kehadiran Harold di dekatnya, wanita itu terus berpikir bagaimana cara agar ia bisa membalas semua perbuatan Maysa padanya tadi. Ia merasa Maysa sudah semakin keterlaluan, apalagi sekarang Maysa juga berhasil membuat Zanna menjauh darinya dan lebih memilih wanita itu.
"Ehem!"
Barulah ketika suara deheman itu terdengar, Clara kini menoleh lalu menemukan Harold sudah berdiri di dekatnya. Sontak Clara terkejut, ia tak menyangka Harold sudah kembali dan bisa saja pria itu akan mengusirnya. Clara juga bingung harus menjelaskan bagaimana, ia tahu Harold selalu tidak menyukai setiap kali ia datang kesana.
"Eh mas, kamu udah pulang? Rajin banget ya kamu pulang cepat kayak gini, giliran dulu sama aku aja kamu selalu pulang larut!" ucap Clara.
"Gausah bahas yang udah berlalu, Clara. Mau apa kamu ke rumah aku, hm?" ucap Harold dengan lirih.
"Kamu kok nanyanya begitu sih, mas? Jelas lah aku mau ketemu sama anak kandung aku yang ada disini, ingat loh mas aku masih berhak seratus persen atas Zanna!" ucap Clara tegas.
"Oh gitu, tapi Zanna akan tetap sama aku. Kamu aja dikasih kesempatan buat rawat dia gak becus kok," ucap Harold.
"Loh gak becus gimana? Justru Maysa yang gak becus, mas. Dia udah bikin Zanna makan kacang, sampai masuk rumah sakit karena alergi loh! Masa kamu gak hukum dia?" ucap Clara.
"Cukup Clara! Aku lagi gak mau berdebat sama kamu!" sentak Harold.
Setelah mengatakan itu, Harold pun melangkah pergi hendak meninggalkan Clara disana karena sudah tidak tahan lagi. Namun, Clara dengan cekatan mencekal lengan pria itu serta meminta padanya untuk tetap disana. Harold menoleh dengan kesal, memandang wajah Clara dan menyingkirkan tangan wanita itu darinya.
"Jangan pernah sentuh aku lagi kayak gitu! Kalau memang kamu masih mau hidup," geram Harold.
"Ma-maaf, aku cuma pengen bicara sama kamu. Ini semua soal Zanna, please kamu dengerin aku dulu ya!" mohon Clara.
Harold terdiam sejenak untuk memikirkan itu, ia akhirnya mengangguk dan mau mendengarkan apa yang ingin dibicarakan oleh Clara meski dengan sangat malas. Mereka kini terduduk di kursi yang tersedia, lalu Clara segera menatap Harold dari samping dan bersiap untuk menceritakan semua mengenai Maysa.
"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Harold.
Clara justru memalingkan wajahnya ke arah lain disaat Harold berbalik menatapnya dan mengajukan pertanyaan, jujur Clara juga ragu jika rencananya kali ini akan berhasil. Pasalnya, Harold sendiri merupakan sosok pria yang keras dan begitu mencintai Maysa. Pastinya pria itu akan lebih mempercayai Maysa dibanding dirinya, seperti saat Harold yang malah memberi hukuman padanya.
"Eee aku itu heran aja sama kamu, kenapa sih kamu biarin Maysa buat rawat anak kita? Dia itu orang lain loh mas, kalau dia melakukan sesuatu yang buruk ke Zanna gimana?" ucap Clara lirih.
Harold geleng-geleng kepala dan mengerutkan keningnya mendengar ucapan Clara barusan, ia menyesal telah mengiyakan permintaan wanita itu tadi untuk duduk sejenak dan berbicara padanya. Jika ia tahu Clara akan membahas mengenai keburukan Maysa, maka pasti Harold tidak akan pernah mau menuruti permintaan wanita itu.
Kini Harold pun memutuskan bangkit dari tempat duduknya dan berniat pergi, pria itu sudah tak tahan lagi jika harus terus meladeni omongan Clara. Apa yang dikatakan Clara menurutnya amat tidak penting, sehingga ia memilih pergi begitu saja tanpa memikirkan Ciara yang masih berusaha menahan dirinya agar tidak pergi.
•
•
Singkat cerita, Harold telah berada di dalam rumahnya dan tampak kebingungan saat melihat kondisi disana begitu sepi. Ia terus menoleh ke kanan dan juga kirinya untuk mencari dimana keberadaan orang-orang rumahnya, pasalnya tidak biasanya rumah dalam kondisi sepi seperti itu apalagi setelah ia menikah dengan Maysa.
__ADS_1
Disaat ia sedang kebingungan mencari keberadaan orang-orang rumahnya, tiba-tiba saja Maysa alias istrinya muncul menuruni tangga dan berjalan ke arah Harold sambil tersenyum. Melihat istrinya ada disana, seketika Harold merasa senang dan langsung mendekati wanita itu karena sedari tadi ia begitu khawatir padanya.
"May, kemana aja sih kamu? Rumah kok ditinggal kosong kayak gini, emangnya Zanna kemana?" tanya Harold kebingungan.
Maysa tampak tersenyum lebar saat Harold memeluknya dan mengecup keningnya dengan lembut, sejak menikah Harold memang memperlakukan dirinya lebih manis dibanding sebelumnya. Padahal, awalnya Maysa mengira kalau pria itu hanya main-main dan tidak benar-benar mencintainya seperti yang dikatakannya.
"Umm, Zanna lagi di kamarnya ibu sama Kia, mas. Kayaknya Zanna senang deh dengan kehadiran mereka, makasih ya mas udah bolehin mereka buat ikut tinggal disini!" ucap Maysa.
"Sama-sama sayang, mereka itu kan juga udah jadi keluarga saya. Jadi, ya saya justru yang senang karena mereka mau ikut sama kita disini. Tapi omong-omong, mereka kapan sampainya?" ucap Harold penasaran.
"Oh udah daritadi kok mas, ya belum terlalu lama sih. Emangnya kenapa?" ucap Maysa.
"Yah kalo gitu jangan langsung dibiarin main sama Zanna dong, sayang! Kasihan mereka pasti capek, harusnya biarin mereka istirahat dulu!" ucap Harold.
"Oh iya ya, abis gimana mas soalnya tadi Zanna sendiri yang mau sama mereka," ucap Maysa.
Harold tersenyum dan mengusap puncak kepala Maysa dengan lembut, ia paham kalau ini semua memang bukan kesalahan Maysa melainkan putrinya saja yang terlalu ingin bermain bersama Saskia dan juga ibunya. Mungkin saja karena Zanna memang jarang memiliki teman, sehingga gadis itu amat senang dengan kedatangan mereka.
"Yaudah, selagi Zanna main sama Saskia dan ibu, kamu mending main sama saya yuk!" ujar Harold.
Maysa terbelalak mendengar perkataan suaminya itu, ia menatap heran seolah tak mengerti apa yang dimaksud Harold saat ini. Permainan apa memang yang diinginkan pria itu, karena selama ini mereka tidak pernah memainkan permainan apapun. Ya ekspresi wajah polos Maysa sungguh membuat Harold gemas, pria itu pun menghujaninya dengan berbagai cubitan di area pipi serta hidungnya.
Akhirnya pria itu menarik lengan Maysa dan membawanya menuju kamar mereka untuk bisa memulai permainannya, tentu saja Harold ingin mengulang kegiatan panas mereka semalam yang sungguh luar biasa itu. Walau saat ini, sebenarnya Maysa masih menahan rasa sakit di area perutnya setelah terjatuh akibat dorongan Clara tadi.
Ya Harold tak mengetahui apa-apa mengenai hal itu, karena Maysa memang tidak ingin menceritakannya pada sang suami. Maysa masih perduli dengan Clara, ia tak mau Harold kembali menghukum Clara seperti saat itu dan malah semakin memperburuk hubungannya dengan wanita itu. Namun, tentu apa yang dilakukan Maysa adalah sebuah keputusan buruk dan tidak seharusnya ia lakukan.
•
•
Namun, tiba-tiba saja Zanna merasa haus akibat terlalu sering bicara dan tertawa sedari tadi tanpa henti. Zanna pun memegangi tenggorokannya sembari menelan saliva nya, gadis itu merasa sulit untuk lanjut bermain jika ia tidak minum lebih dulu. Akan tetapi, sialnya saat ini Zanna tidak membawa botol minum miliknya karena tertinggal di bawah.
"Zanna sayang, kamu kenapa? Kok tiba-tiba diam sih?" tanya Saskia keheranan.
"Aku haus aunty, aku pengen minum. Tapi, botol minum aku ketinggalan di bawah. Aku mau ke sana dulu ya aunty ambil botol aku?" jawab Zanna.
"Eh eh, udah gausah Zanna! Biar aunty aja yang kesana, Zanna disini aja ya sama oma!" ujar Saskia.
Zanna mengangguk saja menuruti perkataan tantenya sambil tersenyum manis, ia pun beralih mendekati neneknya yang sedari tadi hanya memandangi mereka itu. Sedangkan Saskia tampak beranjak keluar kamar untuk mengambil botol minum milik Zanna, meskipun Saskia sendiri belum tahu seperti apakah botol minum itu.
Disaat tengah menuruni anak tangga, Saskia pun kebingungan hendak mencari botol minum Zanna dimana. Akhirnya gadis itu memutuskan pergi ke belakang sambil berharap disana ia bisa bertemu dengan seseorang yang mengetahui seperti apa botol minum Zanna, tapi sebelum itu ia malah tidak sengaja berpapasan dengan Dean yang baru membuat kopi untuknya di dapur.
Tentu saja Dean merasa terkejut sekaligus bahagia begitu melihat Saskia ada di depannya, pria itu tersenyum lebar serta menyapa Saskia dengan ramah dan sedikit gugup. Entah mengapa Dean selalu tidak bisa mengendalikan dirinya tiap kali berhadapan langsung dengan wanita itu, padahal ini bukan pertama kalinya ia melakukan itu.
__ADS_1
"Eh non Kia, mau ngapain non ke dapur? Kalau non perlu sesuatu, bilang aja sama saya!" ucap Dean.
Saskia menggelengkan kepalanya, "Enggak kak, ini aku cuma lagi cari botol minum Zanna. Kakak tahu gak ya botolnya kayak apa terus disimpan dimana? Soalnya Zanna kehausan tuh," ucapnya.
"Ohh, saya kurang tahu sih non. Tapi, mending kita ambilin aja minuman yang baru buat non Zanna. Gimana non, setuju gak?" usul Dean.
"Umm, ide bagus sih. Aku juga khawatir Zanna makin kehausan, yaudah kakak temenin aku ya ke dapur ambil minuman buat Zanna!" ucap Saskia menyetujui usul Dean.
Dengan senang hati Dean mengangguk dan bersedia mengantar Saskia tentunya, kapan lagi ia bisa mendapat kesempatan untuk berduaan dengan wanita seperti Saskia selain saat ini. Ia pun harus memanfaatkan itu semua, karena tidak akan mungkin hal itu akan terjadi setiap hari dan Dean tidak boleh menyia-nyiakannya.
"Wah bisa pas gini ya, emang yang namanya jodoh tuh kadang gak bisa ditebak! Tuan Harold sama bu Maysa, saya kebagian adiknya. Haha pas lah kalau begitu!" gumam Dean dalam hati.
•
•
Harold dan Maysa tengah asyik bermesraan di dalam kamar mereka tanpa memperdulikan apa yang sedang terjadi di luar sana, mereka memang selalu begitu tiap kali berhubungan karena Harold tidak ingin ada apapun yang mengganggunya saat sedang menikmati tubuh indah istrinya. Apalagi, sekarang ini Harold begitu bergairah dan ingin segera menerkam Maysa saat itu juga.
Maysa terlihat pasrah di bawah kungkungan suaminya, ia bahkan tersenyum saat Harold menatapnya dari jarak dekat dan mengecupi wajahnya. Kedua tangan Maysa juga dicengkeram oleh Harold dan diletakkan di atas kepalanya, Harold berhasil mengunci tiap inci tubuh Maysa sehingga wanita itu tidak bisa bergerak banyak.
Tanpa basa-basi lagi, Harold segera melahap bibir merah muda milik Maysa dengan lembut dan penuh kasih sayang. Pria itu juga mengucapkan kata cinta di sela-sela ciumannya, Maysa yang mendengarnya pun dibuat merinding serta berdebar-debar. Perlakuan Harold sungguh manis, tak ada kata kasar di dalam permainannya saat ini dan justru berhasil membuat Maysa merasa nikmat.
Waktu demi waktu berlalu, ciuman itu berubah menjadi semakin liar dan ganas. Tangan Harold juga sudah mulai aktif melucuti pakaian sang istri, sehingga menyisakan bagian dalamnya saja. Maysa tak henti-hentinya melenguh dengan mata terpejam, ia menikmati semua perlakuan yang diberikan Harold padanya dan tidak pernah protes.
Gerakan Harold semakin erotis saat ini, suasana di kamar itu pun makin panas meski AC disana masih menyala. Tidak terhitung lagi berapa banyak tanda merah yang diberikan Harold di area leher istrinya, bahkan juga sudah sampai merambat ke bagian gundukan kenyal Maysa. Tidak berhenti sampai disitu, Harold semakin liar menjelajahi tubuh Maysa dan menelanjanginya.
Maysa sudah tak bertenaga lagi dibuatnya, wanita itu hanya bisa pasrah dan mengeluarkan suara kenikmatan dari mulutnya. Satu tangan Harold berhasil menyelinap di bawah sana, mengusap bagian paling indah yang ada di tubuh Maysa. Sedangkan mulutnya juga masih bermain di area gundukan itu, melahapnya seperti bayi kelaparan.
"Mmhhh maassss...."
Suara Maysa membuat Harold semakin ganas dan liar, ia mempercepat gerakan tangannya di bawah sana hingga sampai lah Maysa pada puncak yang dinanti-nanti. Wanita itu melemas seketika, keringat membasahi tubuhnya dan nafasnya sudah tidak karuan lagi karena perlakuan sang suami.
"Let's play the game, baby!" bisik Harold di telinga wanita itu.
Maysa melotot seketika, Harold membuka lacinya dan mengambil berbagai alat permainan yang biasa pria itu gunakan dalam berhubungan. Sesaat kemudian, Maysa kembali merasakan sakit pada area perutnya dan kini mulai merintih karena tidak bisa lagi menahannya. Tentu saja Harold merasa khawatir, ia melempar semua alat mainannya dan kembali mendekati wanita itu.
"Sa-sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Apa aku terlalu kasar tadi sama kamu?" tanya Harold dengan wajah cemas.
Maysa menggeleng perlahan, "Bukan mas, ini mungkin karena efek dari aku jatuh tadi. Akh sakit banget mas!" lirihnya.
"Apa??"
Betapa terkejutnya Harold mendengar pengakuan sang istri, ia tak mengira Maysa kembali terjatuh seperti sebelumnya dan membuat area perut wanita itu terasa sakit. Tentu saja Harold sangat khawatir, sebagai seorang suami ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya ataupun kandungan di dalamnya itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...