Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Minta penjelasan


__ADS_3

Malam harinya, Harold pulang ke rumah tepat pukul delapan malam dan membawakan makan malam untuknya dan juga keluarganya yang ada disana. Pria itu tampak tersenyum begitu memasuki ruang tamu, ia melihat Zanna serta yang lainnya sedang bermain dan berkumpul di sofa sambil tertawa ceria. Harold pun segera menghampiri mereka, karena ia amat merindukan mereka terutama istrinya, yakni Maysa.


Akan tetapi, entah mengapa Maysa justru bangkit dari tempat duduknya begitu Harold datang dan terduduk di sebelahnya. Ya Maysa pamit kepada Zanna serta yang lainnya, lalu segera melangkah menuju kamar tanpa berkata apa-apa lagi. Hal itu membuat Harold merasa heran, pasalnya ia tak mengerti mengapa Maysa bersikap seperti itu padanya dan tak mau menyapanya seperti biasa.


Karena tidak tahu apa kesalahannya, Harold pun ikut beranjak dari sofa dan mengejar Maysa ke kamar untuk mencari tahu. Harold harus tahu apa penyebab Maysa cuek padanya, ia tak mau tentu Maysa terus bersikap seperti itu. Bagi Harold, apa yang dilakukan Maysa berhasil membuat hidupnya tertekan dan tidak mungkin ia bisa terus-terusan begitu tanpa berbicara dengan sang istri tercinta.


Saat di kamar, Harold melihat jelas bahwa Maysa benar-benar marah padanya dan bahkan tidak mau menganggap dirinya ada. Harold sungguh tak mengerti apa yang terjadi saat ini, namun ia terus coba mendekat dan membujuk sang istri. Harold pun ikut terduduk di sebelah Maysa, berusaha menenangkan wanita itu sembari menatap ke arahnya dengan tatapan lembut.


"Sayang, ada masalah apa lagi sih? Kamu kenapa marah sama aku kayak gitu, hm? Aku punya salah ya sama kamu?" tanya Harold kebingungan.


Maysa hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya, wanita itu tampaknya masih kesal lantaran ia tahu bahwa Harold sudah banyak berbohong padanya selama ini. Sebagai seorang istri, Maysa merasa bahwa dirinya berhak tahu mengenai bisnis apa yang dijalankan suaminya untuk menghidupi keluarganya.


"Kamu kenapa sih sayang, kok diem aja? Aku bingung loh harus apa sekarang, karena kamu kan belum pernah diemin aku sebelumnya. Kalau emang aku ada salah sama kamu, aku minta maaf ya sayang!" ucap Harold dengan lirih.


"Cih, salah kamu itu besar banget mas! Bisa-bisanya kamu gak sadar sama kesalahan kamu sendiri, dasar cowok!" cibir Maysa.


Harold mengernyit tanda tak mengerti dengan apa yang dimaksud istrinya, ia saja masih bingung kenapa Maysa sampai semarah itu padanya dan mengapa Maysa berkata kalau kesalahan yang ia lakukan sangat besar. Padahal, selama ini Harold tak pernah berbuat salah atau apalah itu kepada Maysa maupun yang lainnya disana.


"Eee aku masih belum ngerti sayang, bisa tolong kamu jelasin gak salah aku apa? Kalau begitu, aku kan jadi bisa cari cara buat berubah dan tebus kesalahan aku sayang," ucap Harold kebingungan.


"Kamu mikir aja coba mas, kamu ngaca tuh di cermin terus cari tahu apa kesalahan kamu ke aku!" sentak Maysa.


"Hah??" Harold melongok dibuatnya.


Lalu, Harold pun tampak geleng-geleng kepala dan menggaruk rambutnya yang tak gatal karena bingung dengan sikap istrinya itu. Ia tidak tahu harus bagaimana caranya untuk membujuk Maysa saat ini, apalagi wanita itu tak kunjung mau menjawab pertanyaan darinya. Padahal, ia sendiri juga tidak tahu apa kesalahan yang telah ia perbuat.


"Kamu ngapain masih disitu? Sana kamu ngaca ke cermin, nanti siapa tahu kamu bisa ingat sama kesalahan kamu!" ucap Maysa tegas.


"Tapi sayang, aku rasa daritadi aku gak ngelakuin kesalahan apa-apa deh," ucap Harold keheranan.


"Tau ah!" Maysa yang jengkel langsung berbaring di atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, ia tidur memunggungi suaminya dan tak lagi berbicara apapun.




Hari berganti, namun Maysa tampaknya masih saja merasa kesal pada suaminya lantaran dianggap sudah banyak berbohong padanya dengan tidak mau memberitahu apa bisnis yang dijalaninya. Maysa yang terbangun lebih dulu langsung beranjak dari ranjang dan pergi begitu saja tanpa perduli dengan Harold yang masih tertidur di sebelahnya, ya wanita itu merasa malas sekali meladeni Harold nantinya.


"Maysa!" tiba-tiba saja, Harold terbangun dari tidurnya karena tidak sengaja mendengar suara saat Maysa bangkit dari ranjang.


Pria itu bergerak cepat menyusul Maysa yang hendak pergi, ia cekal lengan sang istri dengan kuat dan memintanya untuk tetap disana. Harold juga tak membiarkan Maysa pergi dari hadapannya, karena ia ingin Maysa menjelaskan apa kesalahannya. Harold sungguh masih bingung, sebab sedari malam Maysa selalu saja diam ketika ditanya perihal itu.


Maysa pun tak dapat berbuat apa-apa ketika Harold menahan tangannya dengan kuat, ia terpaksa berdiam diri lalu mengurungkan niatnya untuk pergi dari kamar itu karena permintaan sang suami. Meski rasanya ia masih amat kesal dengan kelakuan Harold, tetapi sebenarnya ia juga merasa kasihan melihat Harold yang begitu kebingungan saat ini.

__ADS_1


"May, aku salah apa sih sama kamu? Kenapa kamu selalu diam dan gak mau jawab pertanyaan aku? Apa yang bikin kamu sampai semarah ini sama aku sayang, hm?" tanya Harold penasaran.


"Kamu masih belum sadar ya mas? Kamu itu udah bohongin aku loh, itu kesalahan kamu!" jawab Maysa dengan tegas.


Harold mengernyitkan dahinya, "Bohong? Maksud kamu bohong soal apa ya sayang? Aku gak ngerasa ada bohongin kamu deh belakangan ini, coba kamu jelasin secara rinci!" ucapnya keheranan.


"Kamu tuh gak ngerti beneran apa gimana sih, mas?" ucap Maysa tampak kesal.


Harold menggeleng yang menandakan bahwa ia memang tidak mengerti kebohongan apa yang dimaksud oleh Maysa, padahal selama ini Harold tak merasa pernah berbuat bohong pada istrinya. Namun, sepertinya ada sesuatu yang Harold tidak ketahui tentang itu dan membuat Maysa sampai semarah ini padanya.


"Aku bohong soal apa sih? Kamu jelasin dong sayang, kasih tahu aku ya!" pinta Harold.


"Kenapa kamu gak pernah kasih tahu aku tentang bisnis yang kamu jalanin, ha? Aku gak nyangka mas, ternyata kamu orang yang jahat dan kejam!" ucap Maysa sambil menarik lepas tangannya.


"Hah??" Harold menganga lebar, pertanda ia tak mengerti mengapa Maysa berkata seperti itu.


"Maksud kamu gimana, jahat apanya coba? Aku ini orang baik kok, dan soal bisnis kamu juga kan udah datang sendiri ke kantor aku," sambungnya.


"Iya tau, tapi masih ada bisnis lain kan yang kamu jalanin dan aku gak tahu?" sentak Maysa.


Harold terdiam saat itu juga, ucapan Maysa sungguh membuatnya bingung dan tak tahu harus memberi penjelasan seperti apa pada wanita itu. Pasalnya, Harold memang sengaja tidak ingin memberitahu mengenai bisnis ilegal yang ia jalani saat ini karena ia khawatir Maysa akan terkena imbas nantinya jika terjadi sesuatu yang buruk dengan pria itu.


"Kamu gak perlu repot-repot jelasin ke aku sekarang, karena aku udah tahu semuanya tentang bisnis haram yang kamu jalanin!" tegas Maysa.


Deg




Dean juga masih belum tahu siapa sebenarnya wanita tersebut dan apa posisinya disana, karena Harold tak memberitahu apa-apa mengenai wanita bernama Mira itu. Dean pun curiga kalau Mira memang bukan orang bawaan Harold, melainkan pekerja yang ditugaskan oleh sang mandor untuk menggantikan tugasnya selama disana.


Kehadiran Dean bertepatan dengan munculnya sosok Mira, ya wanita itu turun dari mobilnya lalu menatap tajam ke arah Dean. Tanpa basa-basi lagi, Mira segera menghampiri Dean dengan maksud untuk menegur pria itu. Tampaknya Mira tidak suka jika Dean datang terlalu siang, karena wanita itu ingin semua pekerja tiba lebih awal darinya.


"Heh kamu Alvin! Apa-apaan ini maksudnya, kenapa kamu baru datang jam segini? Kamu tuh sebenarnya niat kerja apa enggak sih, ha? Orang-orang itu datang kesini harus pukul enam tepat, bukan malah jam setengah delapan!" sentak Mira.


Dean mengernyitkan dahi, "Loh salahnya dimana bu? Saya kan datang sesuai jam kerja yang tertera, malah sudah lebih awal setengah jam. Kenapa ibu masih marah-marah coba?" ujarnya keheranan.


"Kamu itu menjawab aja ya kalo ditegur! Dengar, saya ini orang yang bertanggung jawab disini dan kamu sebagai karyawan harus nurut sama saya! Sekali lagi kamu membantah kata-kata saya, maka saya tidak akan berikan gaji untuk kamu!" ucap Mira.


"Jangan begitu dong bu! Saya kan udah benar, sebelum datang kesini saya sudah baca semua aturan yang tertera di kontrak. Lalu, kenapa ibu malah dengan seenaknya mengubah aturan itu?" ucap Dean masih kebingungan.


"Sudah tidak usah banyak omong, kamu mulai kerja dan hari ini kamu harus lembur!" titah Mira.

__ADS_1


Dean sampai melongok lebar mendengar ucapan Mira yang dianggap keterlaluan itu, bisa-bisanya wanita itu malah menyuruhnya untuk lembur disaat ia datang lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan dalam kontrak. Namun, saat ini Dean hanya bisa diam dan menerima saja semua yang dikatakan Mira sembari menyelidiki wanita itu.


"Baiklah, sampai pukul berapa saya harus lembur bu?" tanya Dean penasaran.


"Ya seperti orang-orang yang lain, mereka lembur sampai sekitar pukul sepuluh malam. Kamu juga harus begitu, kamu gak boleh pulang sebelum saya suruh!" jawab Mira.


Deg


Lagi-lagi Dean dibuat kaget dengan perkataan Mira, sungguh ia tak percaya jika Mira akan memintanya untuk lembur sampai pukul sepuluh malam. Orang gila mana yang rela bekerja di proyek hingga selarut itu, tentunya Dean tidak akan setuju. Akan tetapi, Dean tidak bisa berbuat apa-apa karena ia sadar akan posisinya saat ini yang sedang menyamar.


"Gimana? Kamu mengerti kan apa yang saya maksud tadi?" tanya Mira lagi.


Dean mengangguk perlahan dan mengatakan ya pada wanita itu, ia tidak memiliki pilihan lain untuk saat ini selain menuruti kemauan Mira. Ya karena hanya itulah satu-satunya cara bagi Dean agar bisa membongkar keburukan Mira, lalu melaporkan semua kepada Harold selaku bosnya.




Harold mengajak Maysa menuju salah satu restoran mewah untuk menikmati santap siang bersama, pria itu hendak menjelaskan semua kesalahpahaman yang dirasakan Maysa kepadanya. Harold tidak ingin Maysa terus membencinya, apalagi semalaman wanita itu sudah bersikap dingin padanya bahkan sampai cuek dan tidak mau berbicara dengannya.


Sesampainya di restoran itu, Harold langsung menuntun Maysa masuk ke dalam dan terduduk di tempat yang sudah tersedia. Harold sengaja memesan terlebih dahulu, ia juga menyewa penuh satu ruangan restoran untuknya dan sang istri. Harold tak ingin ada orang lain yang mengganggu obrolan penting mereka, karena Harold ingin menikmati waktu berdua bersama istri tercintanya.


"Semoga kamu suka ya sama makanannya, ini semua aku siapin khusus untuk kamu sayang! Aku tahu kamu suka semua jenis makanan ini, jadi aku sengaja pesan buat kita berdua kali ini!" ujar Harold.


"Hm, ya aku mungkin suka sama makanan ini mas. Tapi, belum tentu aku bakal suka dengan kamu lagi setelah kamu bohong sama aku. Bahkan, kamu tega tutupin semua tenang bisnis ilegal kamu itu dari aku loh mas!" ucap Maysa menahan sedihnya.


"Eee niat aku ajak kamu kesini kan untuk bahas soal itu sayang, aku akan jelaskan semuanya ke kamu supaya kamu gak salah paham," ucap Harold.


Maysa manggut-manggut perlahan, "Yaudah, kamu jelasin sekarang dong!" ucapnya meminta.


"Nanti sayang, kita makan dulu yuk! Takutnya keburu dingin loh makanannya, terus gak enak lagi. Kamu juga udah lapar kan, hm?" ucap Harold.


Tak lama kemudian, perut Maysa berbunyi dan membuat wanita itu harus mengusap perutnya yang terasa lapar. Memang benar bahwa Maysa sudah tak bisa menahan diri lagi, ia begitu lapar dan ingin segera menyantap hidangan itu. Akhirnya Maysa pun setuju dengan ucapan Harold, lalu mulai bersiap menikmati semua makanan tersebut.


Kini keduanya mulai sama-sama menyantap makan siang yang sudah tersedia, Harold tak bisa berhenti memandangi wajah cantik Maysa yang tampak begitu menikmati makanan disana dengan sangat lahap. Meski Maysa masih merasa kesal pada suaminya, namun ia juga tak dapat menampik kalau saat ini perutnya sudah sangat lapar.


Selama menikmati makanan di piring, Maysa masih saja memikirkan bisnis yang dijalankan suaminya di belakangnya itu. Kemarin Mario memang tak menjelaskan secara rinci mengenai bisnis itu, ya Mario hanya mengatakan bahwa Harold juga menjalankan bisnis ilegal di samping bisnis mabel yang ia kelola selama ini.


"Mas, bisa gak kamu jelasin semuanya sekarang? Aku udah penasaran banget nih, aku pengen tahu kamu sebenarnya kerjain bisnis ilegal apa sih? Terus kenapa kamu bisa ngelakuin itu?" ucap Maysa.


Harold nyaris tersedak mendengar ucapan istrinya itu, ia benar-benar belum siap jika harus menceritakan semua mengenai bisnis gelapnya. Kalau sampai Maysa tahu tentang itu, bukan tidak mungkin Maysa akan tambah membencinya. Harold tak ingin kehilangan istri cantiknya, apalagi ia butuh perjuangan yang besar dulu sebelum bisa mendapatkan Maysa seutuhnya.


"Waduh! Gimana ini ya saya jawabnya? Bingung banget rasanya," gumam Harold dalam hati.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2