
Harold dan Maysa saat ini telah berada di dalam ruangan untuk menjenguk Zanna yang masih terbaring di atas brankar, keduanya tampak sangat cemas apalagi ketika melihat kondisi Zanna yang lemah dan sulit bergerak itu. Wajahnya pun masih tampak pucat, mungkin saja karena pengaruh kacang yang tadi dia konsumsi.
Zanna pun terlihat sangat senang karena dapat melihat kedua orangtuanya disana, ia juga menyesal telah memaksakan diri untuk memakan es krim dengan topping kacang tadi. Zanna sebenarnya hanya penasaran, sebab sebelumnya di sekolah ia melihat teman-temannya yang pamer memakan es krim kacang tersebut.
"Pa, aku minta maaf ya? Aku harusnya gak maksa buat makan es krim kacang, tapi aku iri sama teman-teman aku tadi!" ucap Zanna lirih.
Harold menggeleng perlahan, "Iya gapapa sayang, papa gak akan marahin kamu. Papa cuma minta sama kamu, tolong ya kamu jangan maksa buat makan kacang lagi! Ini udah yang kedua kalinya loh sayang, papa khawatir tau!" ucapnya.
"I-i-iya pa, aku janji lain kali gak akan nakal lagi!" ucap Zanna.
Maysa pun turut bersedih dan tidak bisa menghilangkan penyesalan di dalam dirinya karena sudah mengajak Zanna untuk memakan es krim tadi, Maysa memang tidak tahu jika Zanna alergi kacang sehingga ia tak bisa melarangnya. Namun, terlihat Maysa benar-benar menyesal dan merasa bersalah karena telah menjadi penyebab Zanna pingsan.
"Ma, mama Maysa jangan sedih gitu! Aku udah gapapa kok, beneran deh!" ucap Zanna.
Maysa menatap wajah Zanna sembari menyeka air matanya, ia tersenyum ke arah gadis itu dan merasa senang karena Zanna perduli padanya. Apalagi Zanna juga tidak menyalahkan Maysa atas apa yang terjadi siang tadi, Zanna paham betul sebab Maysa belum mengetahui mengenai alerginya.
"Udah ya ma, mama jangan salahin diri mama sendiri! Justru aku yang salah, karena aku malah maksa buat makan es krim kacang tadi. Mama mau kan maafin aku?" ucap Zanna.
Maysa mengangguk, "Pasti sayang, mama juga gak marah kok sama kamu. Maafin mama juga ya, karena mama tadi bikin kamu pingsan!" ucapnya.
"Enggak ma, ini bukan salah mama."
Zanna akhirnya meminta dipeluk oleh kedua orangtuanya itu, tentu saja Harold serta Maysa menuruti permintaan gadis itu dan saling berpelukan satu sama lain disana. Tapi kemudian, tiba-tiba saja Clara masuk ke dalam lalu membuat ketiganya terkejut bukan main.
"Zanna!!" teriak Clara dari arah pintu.
Sontak Zanna menoleh ke asal suara, ia heran melihat Clara yang tiba-tiba masuk kamarnya dan berteriak seperti itu. Kini Clara tampak mendekati putrinya, wanita itu terlihat begitu cemas dan langsung mendorong tubuh Maysa begitu saja tanpa perduli dengan Harold di sebelahnya.
"Zanna, sayang anaknya mama kamu gapapa kan? Mana yang sakit nak?" tanya Clara cemas.
Zanna menggeleng sebagai jawaban, gadis itu memang sudah membaik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Sebenarnya Clara juga sudah tahu dari dokter, tetapi saat ini wanita itu hanya berakting di depan Zanna supaya putrinya itu percaya jika ia memang khawatir padanya.
"Oh syukurlah sayang, mama cemas banget sama kamu! Lagian kenapa kamu bisa makan kacang sih, nak? Kamu itu kan alergi loh, pasti ini karena mama baru kamu yang gak becus itu kan!" ujar Clara melirik sinis ke arah Maysa.
Maysa langsung memalingkan wajahnya dan kembali merasa bersalah, beruntung Harold segera mendekapnya serta menenangkan istrinya itu agar tidak terpancing dengan ucapan Clara. Sedangkan Clara sendiri masih berusaha meyakinkan Zanna bahwa Maysa adalah orang jahat, sehingga gadis itu tidak akan mau mendekatinya lagi.
•
•
Setelahnya, Harold pun membawa istrinya keluar dari ruang rawat itu untuk menghindar dari ocehan maut Clara yang masih saja menyalahi Maysa atas kejadian tadi. Harold tidak terima dengan itu, apalagi saat ini Maysa sampai sangat bersedih dan terus memikirkan perkataan Clara serta menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Zanna.
Harold mengajak Maysa duduk di depan ruangan itu sambil terus merangkulnya, ia tak mau Maysa terus larut dalam kesedihan seperti itu. Apalagi Maysa tak henti-hentinya menyalahkan diri dan menganggap kalau dia tidak becus dalam menjaga Zanna, padahal Maysa memang belum mengetahui mengenai alergi yang diderita Zanna sebelumnya.
Sebagai seorang suami, Harold tentu paham apa yang harus ia lakukan. Tak mungkin Harold akan menyalahkan Maysa dalam kejadian ini, karena wanita itu juga baru hadir di kehidupannya. Harold mewajarkan semuanya, lagipula Zanna pun tidak mengalami luka yang serius dan sudah dalam penanganan dokter.
"May, kamu jangan sedih terus ya! Kamu gausah mikirin ucapan si Clara tadi, dia itu emang sengaja mau bikin kamu menjauh dari Zanna!" bujuk Harold.
Maysa mendongak menatap wajah suaminya, tampak saat ini dua bola matanya begitu sembab akibat air mata yang keluar membasahi pipinya dan tidak bisa berhenti itu. Harold segera menangkup wajah istrinya itu, menyeka air matanya serta memberi kecupan hangat pada keningnya.
"Tapi mas, yang dibilang Clara benar kok. Aku emang salah tahu mas, aku pantas dihukum. Aku udah gak becus jaga Zanna, aku juga bikin dia masuk rumah sakit!" rengek Maysa.
"Sssttt, kamu jangan bicara begitu ya sayang! Kamu gak salah kok, ini bukan kesalahan kamu! Aku yang salah karena gak kasih tahu kamu soal alergi yang diderita Zanna, udah ya cukup jangan salahin diri kamu sendiri terus begini!" bujuk Harold.
Harold benar-benar telah berubah, Maysa saja sampai terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pria itu barusan. Harold yang sekarang bukanlah Harold yang ia kenal dulu, ataukah memang Harold sebenarnya tidak sejahat yang ia kira selama ini. Karena, sebelumnya pria itu telah amat jahat padanya dan sampai tega menghancurkan masa depannya.
"Tetap aja mas, kamu berhak kok hukum aku. Aku terima apapun hukuman dari kamu," ucap Maysa.
Harold menyeringai saat ini, sepintas pikiran jorok mulai menguasai kepalanya setelah Maysa meminta untuk dihukum. Namun, Harold kemudian malah memeluk erat tubuh istrinya dan mengusap punggung sang istri dengan lembut. Maysa terlihat kebingungan, ia tak mengerti apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh pria itu saat ini.
__ADS_1
"Mas, kamu tuh mikirin apa sih? Kok senyum-senyum kayak gitu?" tanya Maysa tampak keheranan.
"Ahaha, enggak kok sayangku. Aku cuma lagi mikir mau kasih hukuman apa buat kamu," jawab Harold.
Maysa tampak mengernyitkan dahinya, ia lepas pelukan itu dan pandangi wajah sang suami yang masih berada sangat dekat dengannya. Ada rasa kecewa di dalam tatapan Maysa saat ini, karena wanita itu sebelumnya mengira kalau Harold tidak akan mau menghukumnya. Namun, barusan Harold terang-terangan mengatakan akan memberi hukuman padanya.
"Loh kamu kenapa marah gitu sayang? Kan tadi kamu yang minta aku hukum, aku sih cuma nurutin kemauan kamu aja," kekeh Harold.
Maysa justru tampak cemberut dan memalingkan wajahnya, sehingga Harold merasa bingung serta tak tahu harus bagaimana agar bisa membuat istrinya itu baik kembali. Pasalnya, Maysa sendiri lah yang tadi merengek minta dihukum oleh Harold. Akan tetapi, saat ini Maysa malah terlihat kesal dan seolah emosi kepada Harold alias suaminya.
•
•
Singkat cerita, Zanna telah diperbolehkan pulang oleh dokter karena kondisinya yang juga sudah pulih seperti semula. Tanpa basa-basi lagi, Harold segera membawa putrinya itu pulang ke rumah bersama Maysa yang mengantarnya. Harold tak mengizinkan Clara untuk ikut bersama mereka, meskipun wanita itu terus memaksa saat di rumah sakit tadi.
Harold tidak akan mungkin membiarkan Clara ikut pulang ke rumahnya, apalagi setelah Clara tadi sempat menyalahkan Maysa dan memaki-maki istrinya itu di rumah sakit. Harold adalah tipe orang yang pendendam, ia pastinya tak akan menerima begitu saja perlakuan Clara yang sudah membuat Maysa bersedih sampai sekarang.
"Zanna, kamu ke kamar ya sama mama Maysa! Papa ada urusan sebentar, tapi nanti papa balik lagi kok buat temenin kamu!" suruh Harold.
"Iya pa." Zanna mengangguk menurut.
Lalu, Maysa mengikuti perintah suaminya itu dan membawa Zanna ke kamar. Akan tetapi, Maysa tampak sangat penasaran apa kiranya yang hendak diurus oleh Harold saat ini. Ia khawatir kalau Harold akan melakukan sesuatu yang buruk, untuk itu Maysa pun mempercepat langkahnya mengantar Zanna agar bisa kembali menemui suaminya.
Harold kini sudah bersiap untuk pergi menemui Clara di rumahnya, pria itu benar-benar tak terima dengan apa yang dilakukan Clara tadi. Clara memang merupakan ibu kandung Zanna, tetapi tak pantas Clara mengatakan hal itu tadi dan menyalahkan Maysa serta menghina Maysa di depan banyak orang.
Entah kebetulan atau apa, saat Harold baru saja hendak pergi tanpa diduga Clara justru sudah hadir di rumah itu dan berniat untuk masuk. Sontak Harold semakin emosi melihat wajah wanita itu, rasanya ia ingin langsung saja memberi pelajaran kepada Clara atas apa yang diperbuatnya saat di rumah sakit tadi yang sampai membuat Maysa bersedih.
"Mas, aku mau ketemu sama Zanna. Tolong bolehin aku masuk, aku khawatir sama kondisinya!" pinta Clara memohon.
Harold tersenyum tipis dan langsung menarik Clara begitu saja tanpa mengatakan apapun, sontak Clara terkejut dan meronta-ronta karena tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Harold terlihat marah padanya. Harold baru melepaskan wanita itu, begitu mereka tiba di pinggir kolam renang yang terletak di belakang rumah itu.
"Sssttt, jangan banyak bicara kamu Clara! Saya gak akan izinin kamu buat masuk ke dalam, apalagi ketemu sama Zanna!" tegas Harold.
"Tapi kenapa mas? Aku ini ibunya, dan aku lebih berhak untuk ketemu sama Zanna dibandingkan si Maysa yang gak tahu diri itu!" sentak Clara.
Plaaakk
Tanpa ampun, Harold menampar wajah Clara dengan sangat keras seperti ketika Clara melakukan itu kepada Maysa sebelumnya di rumah sakit. Saat itu juga Clara merasa terpukul dan memegangi pipinya yang memerah, Clara menatap tajam ke arah Harold dengan mata berkaca-kaca serta rahang bergetar menahan emosi.
"Itu balasan yang pantas untuk kamu Clara, karena kamu sudah berani menampar istri saya tadi! Jangan kamu kira kalau saya akan diam aja ya, Maysa itu segalanya untuk saya! Dan siapapun yang berani menyakitinya, akan mendapatkan balasan dari saya!" sentak Harold.
Deg
Clara terkejut bukan main mendengarnya, bahkan wanita itu sampai tak bisa menutup mulutnya karena syok dengan perlakuan Harold tadi. Hanya demi istri barunya, Harold sampai tega melakukan hal itu kepadanya yang merupakan ibu kandung Zanna. Clara merasa jika Harold telah terkena pengaruh buruk dari Maysa, maka dari itu Harold terlihat benar-benar sudah berubah dari biasanya.
•
•
Sementara itu, Zanna sudah berada di kamarnya bersama Maysa yang menemani. Gadis mungil itu pun terbaring di ranjangnya dengan mata yang terus memandang ke arah Maysa, ia merasa nyaman dan tenang bila terus berada di dekat wanita itu. Zanna tak ingin Maysa menjauh darinya, meski ia tadi telah mendengar kata-kata dari Clara.
Maysa sendiri masih merasa cemas dengan apa yang hendak dilakukan suaminya saat ini, karena ia juga belum tahu mengenai rencana sang suami yang hendak mengurus sesuatu. Ingin rasanya ia pamit dan pergi dari sana saat ini, tetapi ia tidak tega meninggalkan Zanna yang memang masih ingin ia berada di sampingnya sekarang.
"Sayang, mama boleh gak keluar dulu sebentar? Mama mau ngecek papa kamu nih," ucap Maysa.
Zanna langsung cemberut dibuatnya, ia sepertinya tidak ingin ditinggal oleh mama barunya itu dan ingin terus bersamanya. Bahkan, Zanna tampak menggenggam tangan wanita itu sembari meminta padanya untuk tetap disana. Maysa pun agak bingung saat ini, dia tak tahu harus bagaimana caranya untuk bisa membujuk Zanna.
"Mama jangan pergi ya, pokoknya mama harus tetap disini temenin aku! Aku gak mau sendirian, aku takut ma!" ucap Zanna manja.
__ADS_1
"Iya-iya sayang, mama gak pergi kok. Udah kamu istirahat ya, pejamin mata kamu!" ucap Maysa.
Zanna menggeleng perlahan, "Gak mau, nanti pas aku tidur mama malah pergi tinggalin aku. Aku kan maunya mama disini terus sama aku," ucapnya.
"Eh enggak kok sayang, mama gak bakal pergi. Zanna masa gak percaya sama mama?" ucap Maysa.
"Hm, yaudah mama jangan minta aku buat tidur ya!" ucap Zanna.
"Kalau soal itu, kamu tetap harus tidur dong sayang kan lagi sakit! Mama bacain dongeng aja ya, mau kan?" bujuk Maysa.
"Mau ma." Zanna mengangguk antusias dan tersenyum lebar dibuatnya.
Tentu saja Maysa langsung naik ke atas kasur dan bersandar di samping putrinya, ia usap perlahan puncak kepala Zanna sambil memikirkan cerita apa yang hendak ia berikan kepada Zanna. Sedangkan Zanna sendiri tampak menatapnya, seolah tak sabar untuk segera mendengarkan cerita dongeng dari mamanya itu.
"Ayo ma, buruan bacain aku dongeng! Dari dulu aku pengen banget didongengin kayak gini, soalnya mama Clara gak pernah begitu!" ucap Zanna.
Maysa terdiam saat itu juga, ia merasa kasihan pada Zanna yang ternyata kurang kasih sayang dan perhatian dari mamanya. Maysa pun tersenyum, lalu mulai bercerita pada Zanna mengenai dongeng zaman dulu yang ia tahu dari buku cerita. Meski tidak sepenuhnya ingat, tetapi Maysa tetap bercerita secara asal agar Zanna bisa senang.
Perlahan-lahan Zanna mulai tertidur setelah mendengar cerita dongeng darinya, Maysa pun merasa senang karena kini ia bisa bebas pergi menemui suaminya. Namun, entah mengapa Maysa malah ragu untuk meninggalkan Zanna kali ini. Ucapan gadis itu tadi sungguh membuatnya ikut bersedih, karena Zanna benar-benar menginginkan kasih sayang dari kedua orangtuanya.
Tapi karena rasa penasarannya yang amat sangat, akhirnya Maysa terpaksa turun dari ranjang dan keluar kamar tersebut meninggalkan Zanna. Ya Maysa begitu cemas pada Harold, ia tidak mau Harold sampai berbuat sesuatu yang nekat atau tidak benar karena kejadian di rumah sakit tadi. Apalagi, ia lihat betul aura kemarahan di wajah suaminya sebelum ia pergi tadi.
•
•
Saskia alias adik dari Maysa kini tengah bersiap untuk pergi ke rumah Harold sesuai ajakan pria itu, tak lupa ia juga mengajak ibunya karena memang mereka sangat ingin bertemu kembali dengan Maysa setelah cukup lama berpisah. Saskia pun menemui ibunya di depan saat ini, yang terlihat juga telah bersiap dengan barang bawaannya.
Sebelumnya Harold memang mengatakan akan membawa mereka untuk tinggal di rumahnya bersama Maysa, karena Harold tidak ingin membiarkan keluarga istrinya tinggal mengontrak. Lagipula, kondisi rumah Harold masih sangat luas dan bisa dijadikan tempat tinggal bagi seluruh keluarga Maysa saat ini.
"Bu, ayo kita berangkat sekarang! Jemputan dari kak Harold udah di jalan katanya, ibu udah siap kan?" ucap Saskia sambil tersenyum.
Melinda menganggukkan kepalanya perlahan, lalu mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan seluruh barang yang ingin ia bawa ke rumah Harold dan menetap disana sementara. Tapi kemudian, tanpa diduga terdengar suara ketukan pintu dari arah luar yang membuat keduanya terkejut serta penasaran siapa yang datang kesana.
"Itu siapa ya Sas? Kamu bukain deh, barangkali itu supir yang disuruh Harold buat jemput kita nak!" ucap Melinda tampak penasaran.
"Iya bu."
Saskia menuruti perintah ibunya dan berjalan ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang, ia pun menebak kalau itu memang adalah orang suruhan Harold yang ingin menjemputnya. Tanpa basa-basi lagi, Saskia segera membuka pintu lalu menemui seseorang di luar sana. Betapa syoknya Saskia ketika melihat Peter lah yang berdiri disana, apalagi Peter tampak tersenyum dan membawa setangkai bunga yang ada di tangannya.
"Kak Peter, mau apa kakak datang kesini lagi? Bukannya kakak udah bukan pacar mbak Maysa lagi, ya? Ada perlu apa kakak datang ke rumah aku?" tanya Saskia dengan tampang jutek.
"Maysa ada kan di dalam? Tolong bilang ke dia, kalau aku ada disini!" ucap Peter santai.
Saskia menggeleng cepat, "Enggak, mbak Maysa udah gak ada disini. Dia udah nikah dan tinggal di rumah kak Harold!" ucapnya tegas.
"Apa? Kamu jangan bercanda deh Saskia, kamu mending panggil Maysa sekarang!" ujar Peter.
"Apa sih kak? Emang bener kok mbak Maysa udah nikah sama kak Harold, ini aja sekarang aku mau ke rumahnya kak Harold. Kalau kakak gak percaya, ayo ikut aja sama aku!" ucap Saskia.
"Gak, kamu pasti bohong kan. Gak mungkin Maysa udah nikah, ini semua gak bener!" sentak Peter.
Saskia tersenyum lebar melihat ekspresi wajah Peter saat ini, ia puas karena laki-laki itu terlihat kecewa dan tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Peter yakin bahwa ini semua tidak benar, tetapi perasaan di dalam dirinya justru merasa cemas ketika mendengar Saskia yang mengatakan kalau Maysa sudah menikah dengan Harold.
"Permisi, dengan non Saskia?" tiba-tiba saja, seorang pria datang mendekat dan menemui Saskia serta Peter yang berdiri di depan rumah itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1