Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Maysa vs Clara


__ADS_3

Clara terjatuh di aspal dengan posisi terduduk sembari mendongak ke arah Maysa yang kini mendekatinya, Clara mengernyit heran seolah tak menyangka jika Maysa bisa seberani ini padanya dan mau melawannya. Clara pun dibuat bingung, karena biasanya Maysa selalu diam setiap kali Clara melakukan tindakan yang aneh-aneh padanya atau malah bersikap kasar kepada wanita itu.


Maysa pun berdiri tepat di hadapan Clara dan menatap wajah wanita itu dengan tajam, ia tak suka dengan sikap Clara tadi dan kelakuan kasarnya terhadap Zanna yang ingin memaksa Zanna untuk ikut bersamanya. Jika selama ini Maysa lebih banyak diam ketika dikasari olehnya, maka kali ini Maysa tak akan terdiam lagi karena Clara telah berani berbuat kasar pada putrinya yang cantik itu.


"Dengar ya Clara, selama ini aku terima aja kalau kamu mau kasarin aku atau jelek-jelekin aku! Tapi kalau kamu berani bertindak kasar ke Zanna seperti tadi, aku gak akan tinggal diam!" sentak Maysa.


Clara tersulut emosinya, ia bangkit dan membersihkan tubuhnya dari pasir-pasir yang menempel disana. Lalu, matanya menatap tajam ke arah Maysa yang berdiri tepat di hadapannya tanpa ada rasa takut sedikitpun. Satu jari Clara menunjuk wajah wanita itu secara kasar, seolah menandakan bahwa Clara begitu emosi dan tidak gentar dengan keberanian yang ditunjukkan Maysa saat ini.


"Heh! Kamu pikir kamu siapa berani bicara kayak gitu sama saya, ha? Zanna itu anak saya, jadi terserah saya mau apain dia!" balas Clara.


"Kamu emang ibu kandungnya Zanna, tapi bukan berarti kamu bisa bertindak seenaknya sama dia dong! Katanya kamu sayang sama dia, kenapa kamu malah sakitin dia coba?" tegas Maysa.


"Kamu gausah banyak omong ya! Mending kamu minggir deh, jangan halangi saya untuk membawa Zanna pergi dari sini!" ucap Clara emosi.


Maysa tentu saja menghalangi langkah Clara yang hendak mendekati Zanna disana, ya Maysa tak mau jika Clara kembali menyakiti Zanna. Apalagi, Zanna sendiri sekarang begitu ketakutan dan terus bersembunyi dibalik tubuh Maysa. Clara memang tak pernah mengerti perasaan putrinya, ia selalu memaksakan kehendak pada Zanna sampai membuat gadis itu trauma.


"Minggir kamu Maysa! Zanna itu anak saya, jadi terserah saya dong mau bawa dia kemana! Kamu gak ada hak buat larang-larang saya!" ujar Clara.


"Oh jelas aku berhak, aku ini ibu sambungnya Zanna sekaligus istri sah dari mas Harold selaku ayah kandung Zanna yang memegang hak asuhnya. Jadi, aku gak akan biarin kamu untuk bawa Zanna pergi gitu aja!" ucap Maysa tegas.


Clara menggeleng dan perlahan bergerak maju mendekati Maysa dengan tangan terkepal kuat, tanpa aba-aba Clara langsung saja melayangkan tamparan keras ke arah wajah Maysa sampai membuat wanita itu terkejut dan reflek memegangi pipinya yang memerah. Tindakan Clara itu di luar dugaan, Maysa tak menyangka kalau Clara akan seberani itu di hadapan Zanna saat ini.


Plaaakk


Tentu saja Maysa membalasnya dengan turut serta menampar pipi Clara tak kalah keras, ya sontak hal itu memancing emosi Clara semakin membara dan langsung menjambak rambut Maysa disana. Akhirnya aksi jambak menjambak pun terjadi saat ini, kedua wanita itu terus saling berbalas menyakiti satu sama lain tanpa perduli pada kondisi sekitar.


Tangis Zanna pecah melihat kedua mamanya bertengkar disana, ia tak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan merengek saat ini. Ia begitu sedih karena Maysa serta Clara sama-sama tidak bisa menahan emosinya, beruntung datanglah satpam yang bertugas disana bersama juga supir dari Maysa yang lalu bergegas memisahkan mereka.


"Eh bu bu, sudah bu jangan ribut disini! Apa-apaan sih ini? Banyak anak kecil loh bu, malu dong dilihatnya!" tegur si satpam.


"Iya bu Maysa, ibu yang sabar ya jangan terbawa emosi!" sahut Theo sang supir.


"Mamaaa!!" Zanna pun mendekat ke arahnya dan langsung memeluk tubuh Maysa dengan erat sambil menumpahkan air matanya.


Maysa yang melihat Zanna menangis seperti itu merasa tidak tega dan menyesal karena telah terpancing emosinya, seharusnya tadi ia tidak berbuat seperti itu kepada Clara yang tentu tak pantas untuk dilihat oleh seorang anak kecil. Maysa pun membalas pelukan gadis itu sembari mengusap punggungnya lembut, tak lupa Maysa juga meminta maaf pada Zanna atas kelakuannya tadi.


"Maafin mama ya sayang, mama khilaf tadi! Mama harusnya gak berantem di depan kamu, jangan nangis ya Zanna sayang! Mama minta maaf ya!" ucap Maysa membujuk putrinya.


"Iya ma, hiks hiks... aku sedih aja lihat mama berantem sama mama Clara," ucap Zanna terisak.


Maysa melirik ke arah Clara dengan tajam, terlihat emosi Clara masih menggebu-gebu meski telah ditahan oleh satpam yang bertugas. Kali ini Maysa mencoba sabar, ia memikirkan Zanna yang masih bersedih dan tak membuatnya terluka. Lalu, Maysa pun menggendong tubuh Zanna dan berniat membawanya pergi dari sana.


"Zanna, kamu jangan tinggalin mama sayang! Kamu harus ikut sama mama, percaya sama mama nak! Perempuan itu bukan orang baik, dia cuma pura-pura sayang sama kamu! Ayo kamu ikut sama mama aja sayang, ini mama kandung kamu loh!" rengek Clara.


"Bu, sebaiknya bu Clara jangan mengusik non Zanna atau bu Maysa deh! Karena saya yakin, tuan Harold pasti tidak akan tinggal diam!" gertak Theo.

__ADS_1


"Diam kamu! Kamu itu cuma bawahan yang gak tahu diri, kamu gak punya hak buat larang saya! Zanna itu anak saya, jadi saya yang paling berhak buat bawa dia dari sini!" sentak Clara.


"Clara, kamu jangan bandel deh jadi orang! Kamu pergi sekarang sebelum masalahnya semakin rumit, atau biarkan kami yang pergi lebih dulu!" sela Maysa.


"Heh cewek kampungan! Kamu gausah sombong ya jadi orang, kamu itu gak ada apa-apanya tanpa mas Harold! Serahin Zanna ke saya sekarang, sebelum saya makin emosi!" geram Clara.


Clara terus coba berontak dari pegangan satpam itu, tetapi tak berhasil. Kini Maysa memerintahkan Theo untuk mengurus Clara dan membawa Clara pergi dari sana, tentu saja Theo menurut lalu melakukan tugas yang diperintahkan Maysa padanya. Sedangkan Maysa sendiri lanjut melangkah ke dalam mobil bersama Zanna di gendongannya.


"Ayo bu Clara, ibu ikut saya pergi dari sini!" Theo mendekati wanita itu dan memaksanya pergi.


"Ish, lepasin saya! Jangan kurang ajar ya kamu, saya gak sudi disentuh sama kamu! Zanna, Zanna sayang ayo ikut sama mama nak!!" Clara berteriak histeris.


Theo tak perduli dengan ocehan wanita itu, ia membawa paksa Clara pergi sembari mencengkram kedua tangannya agar tak melawan. Teriakan Clara terus terdengar, sampai membuat orang-orang di sekitarnya geleng-geleng kepala keheranan. Clara pun berhasil dibawa pergi oleh Theo, dan tentu Maysa serta Zanna bisa pulang dengan selamat.




Disisi lain, Rendy mengamuk kesal di dalam mobilnya karena gagalnya ia mengambil kembali barang miliknya saat di markas Jeevan tadi. Rendy tak mengerti, bagaimana bisa Jeevan tidak melakukan itu. Ia pun tampak bingung dan terus berpikir keras, siapa lagi orang yang berani bermain-main dengannya dan mencuri semua barang miliknya itu.


"Rold, apa kamu gak punya jawaban untuk ini? Siapa yang berani mencuri barang milik saya?" tanya Rendy kepada pria di sebelahnya.


"Eee tidak tahu mister," jawab Harold singkat.


"Mungkin saja ada orang baru mister, jadi mereka belum tahu kekuatan mister Rendy seperti apa. Sebaiknya kita pulang dulu, biar saya selidiki semua ini sampai mendapat petunjuk. Mister Rendy juga harus beristirahat!" ucap Harold memberi usul.


"Baiklah, saya setuju dengan usul kamu. Tapi ingat Harold, kamu jangan main-main dengan saya! Tadi saya sudah menyelamatkan nyawa kamu, sekarang giliran kamu yang membantu saya!" ucap Rendy.


"Baik mister, saya paham apa yang harus saya lakukan!" ucap Harold tegas.


Rendy tersenyum seraya menepuk-nepuk pundak Harold, ia merasa menang dan telah berhasil membuat Harold bertekuk lutut padanya. Namun, Harold tentu tak akan semudah itu tunduk pada seseorang. Sebagai seorang yang telah lama berkecimpung di dunia bisnis gelap itu, Harold tahu betul bagaimana cara mengambil hati seseorang lalu menghempasnya begitu saja.


Untuk sekarang ini Harold harus bersabar dan berpura-pura tunduk pada Rendy, karena yang terpenting adalah keselamatan keluarganya. Ya setelah ia berhasil meyakinkan Rendy, pastinya ia akan membuat pria itu terluka nantinya. Meski cukup sulit untuk melakukannya, tetapi Harold akan terus berusaha menjalankan misinya kali ini.


Akhirnya Rendy menurunkan Harold di pinggir jalan dekat halte, Harold pun turun dari mobil lalu menarik kopernya menuju halte di depan sana. Pria itu terduduk pada kursi yang tersedia, mengambil ponsel dari saku jasnya lalu menghubungi Dean selaku asisten pribadinya. Sedangkan mobil milik Rendy telah pergi dari sana.


📞"Halo Dean! Kamu jemput saya sekarang, saya share lokasi saya lewat aplikasi!" titah Harold.


Setelah itu, Harold langsung menutup telpon dan celingak-celinguk di sekitarnya sambil memegangi tenggorokannya. Pria itu merasa haus, ya tadi saat pergi dari rumah ia lupa membawa bekal air untuk minum. Kini Harold pun harus kesulitan mencari warung di sekitar sana, untungnya tiba-tiba muncul seorang wanita penjual minuman di dekatnya.


"Minuman dingin minuman dingin..."


Tanpa banyak berpikir, Harold segera memanggil penjual itu dan meminta satu botol minuman untuk menyegarkan dahaganya. Sang penjual tentu saja sangat bersemangat, dengan cepat wanita yang masih muda itu mendekat ke kursi dan memberikan satu buah botol minuman dingin itu kepada Harold.


"Makasih ya dek, lega rasanya saya bisa minum juga!" ucap Harold sesudah menghabiskan setengah botol minuman itu.

__ADS_1


"Iya pak, sama-sama. Makasih juga ya udah mau beli dagangan saya! Abis daritadi saya keliling-keliling baru tiga yang kejual sama ini, padahal sekarang kan cuacanya lagi terik banget ya?" keluh si wanita.


Harold tersenyum dan terus memandangi wajah wanita itu, entah mengapa tiba-tiba saja gairah tubuhnya mencuat setiap kali ia melihat seorang wanita cantik yang usianya jauh di bawahnya seperti sekarang ini.


"Cantik sekali!"




Dean tampak merengut kesal setelah mendapat telpon dari bosnya, usahanya kini gagal lagi untuk bisa menikmati waktu berdua dengan Saskia. Padahal, tadinya ia berpikir kalau dirinya bisa lebih banyak meluangkan waktu bersama Saskia setelah bosnya itu pergi ke luar negeri. Akan tetapi, nyatanya sekarang Harold malah tidak jadi pergi dan meminta untuk dijemput.


Saskia yang ada di hadapannya tampak heran dengan kelakuan Dean saat ini, ia menatap saja wajah pria itu dari dekat sambil mengernyitkan dahi. Ya tentu Saskia tak mengerti apa yang terjadi, pasalnya tadi Dean hanya mengatakan ingin menjawab telpon dari Harold. Seharusnya, saat ini Dean tidak sampai kesal seperti itu.


"Kak, ada apa sih? Kok habis jawab telpon dari kak Harold, muka kakak langsung bete kayak gitu? Emang kak Harold ngomong apa?" tanya Saskia dengan wajah penasarannya.


"Ini loh Saski, saya diminta buat jemput bos Harold sekarang juga. Padahal kita baru aja sampe, ini makanan kita juga belum datang loh. Nyebelin banget emang tuh orang, gak bisa lihat anak buahnya senang sedikit gitu!" jelas Dean.


"Hah? Bukannya kak Harold baru berangkat ke Kanada ya kak? Kok sekarang dia malah minta jemput?" tanya Saskia yang tampak kebingungan.


Dean menggeleng seraya mengangkat kedua bahunya, "Gak tahu, gak jadi lagi kali. Emang dia itu orangnya begitu, suka labil. Umur doang tua, tapi kelakuan kayak anak kecil."


"Hahaha, ih parah ih bos sendiri dikatain! Awas loh aku laporin ke kak Harold!" kekeh Saskia.


"Eh eh, jangan lah Saski! Kalau kamu lakuin itu, nanti saya bisa dipecat. Kalau saya dipecat, kita gak bisa ketemu lagi dong. Kalau kita gak bisa ketemu lagi, nanti kamu sedih loh. Benar begitu kan?" ucap Dean coba menggoda gadis itu.


"Hm, bener gak ya??" Saskia sengaja ingin membuat Dean kesal saat ini.


Dean yang merasa gemas, reflek mencubit pipi gadis itu dan langsung dibalas dengan pukulan telak pada lengannya. Dean pun tertawa puas dibuatnya, setidaknya ia berhasil menyentuh pipi wanita yang disukainya itu. Namun, sekarang ini ia juga harus menjemput bosnya di halte dan melupakan sejenak kesenangannya bersama Saskia.


"Eh Saski, kamu ikut aja sama saya yuk jemput si bos gak tahu diri itu!" ajak Dean.


"Umm, boleh deh. Lagian masa aku ditinggal sendirian disini sih? Tega banget dong kak Dean, nanti aku gak bisa bayarnya terus disuruh cuci piring lagi!" ucap Saskia.


"Ahaha, ya makanya ayo ikut sama saya!" ucap Dean.


Saskia mengangguk dengan cepat, lalu keduanya pun sama-sama beranjak dari tempat duduk dan melangkah keluar setelah membayar pesanan mereka meskipun belum sempat dimakan atau sekedar dicicipi. Ya hilanglah kembali kesempatan Dean untuk berduaan dengan Saskia, bersamaan juga dengan hilangnya uang ratusan ribu pria itu karena harus membayar pesanan tak berarti.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...|||...


...Siapa yang suka sial juga kayak Dean?...

__ADS_1


__ADS_2