Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Boleh pulang


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Harold serta Maysa langsung menemui Clara yang masih terduduk di atas kasur ruang rawatnya sembari menatap heran ke arah mereka. Ya tentu saja Clara tak bisa mengingat siapa kedua orang itu, apalagi kepalanya terus terasa sakit apabila ia coba mengingat masa lalunya. Untuk itu, Clara lebih memilih diam dan tidak melakukan apapun yang membahayakan.


Bersama sang dokter, kini Harold bertanya mengenai kondisi mantan istrinya itu. Sontak dokter yang selama ini merawat Clara pun memberi jawaban, bahwa saat ini kondisi Clara memang sudah membaik dan bisa dibawa pulang. Sehingga, Harold bisa merasa lega dan tak perlu khawatir lagi. Selain itu, Harold pun tak perlu repot-repot lagi pergi ke rumah sakit jika ingin melihat Clara nantinya.


"Clara, kita pulang yuk! Kamu pasti bosan kan disini terus? Saya sudah siapkan semuanya dengan baik, saya yakin kamu pasti akan suka!" ucap Harold.


"Kenapa aku harus pulang sama kalian? Aku aja gak kenal kalian siapa, sana deh mending kalian itu pergi dan jangan dekati aku lagi! Aku mau pulang sendiri aja, minggir kalian!" ucap Clara.


"Clara, kita ini keluarga kamu loh! Saya ayah dari anak kamu Clara," ucap Harold.


"Iya Clara, kamu pulangnya sama kita aja ya? Kalau kamu pulang sendiri, nanti kamu malah kenapa-napa loh!" sahut Maysa.


"Diam kalian! Aakkhh..."


Tiba-tiba saja, Clara merasakan sakit yang amat sangat pada bagian kepalanya. Sontak Harold serta Maysa dibuat kebingungan kali ini, mereka tak mengerti mengapa Clara bisa seperti itu. Clara bahkan terus memegangi kepalanya, rasa sakit itu membuatnya tidak bisa berbuat banyak apalagi mengingat siapa kedua orang itu.


"Dok, Clara gapapa kan? Apa sakitnya kambuh lagi?" tanya Harold pada sang dokter.


Dokter itu menggeleng, "Tidak pak, kondisi pasien baik-baik saja. Itu hal normal yang akan beliau alami setiap kali ada sekilas ingatan yang muncul di kepalanya, jadi saya mohon kalian jangan terlalu memaksa Clara untuk mengingat semua!" jelasnya.


"Oh gitu, baik dok kami paham kok! Tapi, Clara boleh pulang sekarang kan dok?" ucap Harold.


"Ya pak Harold, pasien sudah boleh pulang. Nanti jika terjadi sesuatu pada bu Clara, hubungi saja saya dan biar saya yang mengecek langsung kondisi bu Clara di rumahnya!" ucap dokter itu.


"Baik dok, terimakasih!" singkat Harold.

__ADS_1


Akhirnya mau tidak mau Clara pun menurut saja pada Harold dan juga Maysa, meski ia masih merasa bingung karena tak dapat mengenali mereka. Clara terus memegangi kepalanya saat ini, rasa sakit terus menghantui dirinya dan membuat wanita itu tidak bisa hidup tenang.


"Ck, awas kamu Clara! Aku pastikan kamu akan lenyap dari dunia ini, pokoknya kamu gak boleh sampai ingat semua itu!" gumam Maysa dalam hatinya, saat membantu Clara turun dari ranjang.


Kini mereka pun sama-sama pergi dari rumah sakit, tentu saja Clara melangkah dengan bantuan kursi roda dan dorongan Maysa. Meski tentunya Maysa terus merasa jengkel di dalam hatinya, karena ia masih khawatir dan tidak bisa tenang setelah Clara sempat mengetahui semua yang ia rencanakan untuk membalas dendam pada Harold.


"Sayang, kita antar Clara dulu ke rumahnya ya? Setelah itu, baru deh aku ajak kamu ke suatu tempat yang indah," ucap Harold pada istrinya.


"Hm, kamu gausah janji apa-apa sama aku, mas! Aku udah gak butuh janji kamu, lebih baik kita antar Clara aja dulu dan pikirin caranya supaya Clara bisa cepat sembuh!" ucap Maysa ketus.


"Iya sayang." Harold menghela nafasnya dan mencoba sabar menghadapi sikap sang istri.




"Kalian bawa aku kemana ini? Emang benar ini rumah aku?" tanya Clara terheran-heran.


"Hahaha, ini rumah kamu Clara. Yakali saya bawa kamu ke rumah orang lain, gak mungkin banget dong. Kamu itu kan masih hilang ingatan, jadi kamu mungkin belum bisa ingat semuanya," jawab Harold.


"Masa sih? Aku gak percaya sama kamu, pasti kamu bohong kan!" ucap Clara.


"Hadeh, udah deh kamu diam aja Clara! Kita ini gak bohong sama kamu, bener kok ini rumah kamu. Percaya aja sama kita!" tegur Maysa.


Harold tahu betul kalau istrinya sedang emosi kali ini, untuk itu ia coba menenangkan Maysa dengan cara merangkul wanita itu dan mengusapnya lembut sambil tersenyum. Harold tak mau jika Maysa terus bersikap ketus pada Clara, karena ia khawatir Clara justru tidak akan mempercayai mereka lagi nanti.

__ADS_1


"Yaudah, kita masuk aja yuk! Kamu harus banyak istirahat Clara, supaya kamu gak terlalu lelah dan pusing!" ucap Harold.


"Okay, sekarang kalian tinggalin aja aku disini!" pinta Clara dengan tegas.


"Loh kok gitu? Emangnya kamu udah bisa buat jalan sendiri ke kamar, hm? Udah biar saya sama Maysa yang bantu kamu ya," ucap Harold.


Clara menggeleng kuat, "Gausah, aku gak butuh bantuan kalian!" ucapnya menolak.


Saat itu juga Clara berniat bangkit dari kursi rodanya dengan perlahan, kepalanya masih terasa sakit namun ia tetap mencoba untuk bisa berusaha seorang diri tanpa bantuan dari siapapun. Ia sengaja melakukan itu karena ia tahu kalau Maysa tidak menyukai dirinya, semua itu terlihat dari cara Maysa berucap di depannya tadi.


"Tuh lihat, aku bisa kan bangun sendiri? Udah sana kalian pergi aja deh!" ucap Clara.


Harold tidak bisa berkata-kata lagi saat ini, begitu juga dengan Maysa yang dibuat bingung karena sikap angkuh Clara kali ini. Tapi tak lama, tampak Viona alias pelayan di rumah itu muncul mendekat ke arah mereka. Viona pun terlihat begitu cemas, apalagi setelah ia melihat kondisi Clara yang baru bangkit dari kursi roda.


"Waduh! Bu Clara, ini ada apa bu? Kenapa ibu sampai luka-luka kayak gini? Terus kok pakai kursi roda segala?" tanya Viona begitu cemas.


"Kamu siapa lagi? Kenapa sih saya gak bisa kenal siapapun disini?" ujar Clara kebingungan.


"Tenang Clara, ini itu pelayan kamu yang bekerja di rumah ini! Namanya mbak Viona, dia udah kerja lama banget loh sama kamu. Jadi, dia bakal terus bantu kamu!" ucap Harold menjelaskan.


"Iya betul itu bu, saya pasti bantu ibu kok. Apapun yang bu Clara mau, bilang aja ke saya!" ucap Viona.


Clara terdiam dan tampak bingung kali ini, ia sejujurnya cukup sulit untuk bisa mempercayai kata-kata mereka. Namun, Clara memilih menurut saja dan menganggukkan kepalanya karena tidak ingin ada keributan. Apalagi kepalanya saat ini terasa begitu sakit, sebab ia tidak dapat mengingat apapun di dalam pikirannya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2