Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Kejutan dari Maysa


__ADS_3

Maysa tampak tengah menyiapkan makan siang untuk suami dan juga keluarganya, ia dibantu oleh kedua pelayan disana berusaha menyajikan masakan yang enak dan sesuai dengan keinginan Harold tentunya. Apalagi, Maysa tahu kalau Harold sudah banyak membantunya dalam berbagai hal. Kini tiba lah saatnya bagi Maysa untuk membalas semua kebaikan Harold, salah satunya adalah dengan cara memberikan makan siang baginya.


Rencananya Maysa akan pergi ke kantor tempat suaminya itu bekerja dan membawakan makan siang tersebut, ia sudah membuat janji pada Harold yang memang mengizinkan ia datang kesana. Lagipula, Maysa masih penasaran bisnis apa yang dijalankan suaminya dan dimana letak kantor Harold itu. Karena sejak menikah, Maysa belum sama sekali diajak mengunjungi kantor pria tersebut.


Disaat ia sedang asyik memasak, tiba-tiba saja Zanna muncul menghampirinya dengan membawa boneka miliknya yang setia dipeluk olehnya. Zanna mendongak menatap wajah Maysa dengan tatapan penuh harap, hal itu membuat Maysa bingung sekaligus cemas karena sekarang ia dan para pelayan disana tengah sibuk memasak.


"Ma, aku mau ikut masak makanan buat papa dong! Boleh ya ma, kan nanti aku juga bakal jadi kayak mama!" ucap Zanna.


Maysa terkejut mendengarnya, ia tak menyangka kalau anak sekecil Zanna bisa memiliki keinginan seperti itu untuk belajar memasak dengannya. Jujur Maysa agak ragu untuk memberi izin, karena ia khawatir terjadi sesuatu pada Zanna nantinya. Namun, entah mengapa Maysa juga sulit menolak keinginan Zanna dan tidak bisa mengatakan tidak.


"Loh Zanna kok malah kesini? Tadi bukannya lagi asyik main sama oma ya? Zanna mending disana aja, disini itu bahaya sayang takutnya nanti Zanna kenapa-napa loh!" ucap Maysa.


Zanna menggeleng cepat, "Gak mau ma, aku maunya disini sama mama. Please ma, bolehin aku ikut masak ya!" ucapnya memohon.


"Eee yaudah deh, mama juga gak bisa nolak kalau udah Zanna yang minta. Tapi, Zanna harus hati-hati ya dan jangan sentuh apapun tanpa seizin mama! Zanna paham kan?" ucap Maysa.


"Iya ma, aku paham kok." gadis itu mengacungkan jarinya membentuk huruf 'o'.


Setelahnya, Maysa menggendong Zanna dan menaruhnya di atas kursi yang tersedia sembari membawa sayur-sayuran yang akan ia potong. Maysa meminta Zanna memperhatikan bagaimana ia memasak saat ini, tentu saja gadis itu menurut walau sebenarnya dia sangat ingin mencoba melakukan apa yang mamanya lakukan.


"Nah, begini caranya sayang. Nanti kalau Zanna udah besar, mama yakin deh Zanna pasti bisa masak yang enak kayak mama sekarang!" ucap Maysa sambil tersenyum manis.


Lalu, Maysa membawa potongan sayur-sayur itu untuk dimasukkan ke dalam panci berisi air yang sudah ia masak sebelumnya. Namun, Zanna tampak mencegah mamanya dan meminta untuk diberi kesempatan melakukan itu. Ya Zanna sepertinya penasaran ingin memasukkan sayuran tersebut ke panci, sehingga Zanna terus merengek saat ini.


"Ma, aku mau dong tuang itu ke panci! Boleh kan?" ucap Zanna dengan manja.


"Eee tapi sayang, ini tuh ba—"


"Ayolah ma, kan cuma dituang doang! Aku bisa kok, boleh ya ma!" Zanna lebih dulu menyela dan memohon pada mamanya itu.


Maysa pun tidak bisa lagi berbuat apa-apa sekarang ini, ia terpaksa mengiyakan dan membolehkan Zanna melakukan itu meski ia khawatir akan terjadi sesuatu pada Zanna. Ya kini Maysa membantu Zanna untuk menuang sayuran itu ke panci, ia terlihat begitu hati-hati karena tidak mau Zanna terkena cipratan air panas yang berbahaya.


Zanna tersenyum lebar saat melakukannya dengan bantuan mamanya, beruntung kali ini tidak terjadi apapun dan semua baik-baik saja. Sayuran itu telah berhasil dimasukkan ke dalam panci tanpa melukai Zanna, sehingga Maysa dapat bernafas lega meski dahinya sudah berkeringat. Ya sekarang Maysa pun meminta Zanna turun, lalu pergi dari dapur.

__ADS_1


"Ini kan udah selesai, Zanna sekarang ke depan dulu ya sayang!" pinta Maysa.


Gadis itu menggeleng disertai senyuman lebarnya, lalu tanpa diduga ia malah berlari meninggalkan Maysa dan menghampiri seorang pelayan yang tengah menggoreng ikan. Zanna berniat membantu pelayan tersebut, karena ia penasaran dengan apa yang sedang dimasak oleh pelayan itu dan ingin coba mencari tahu.


"Bik, bibik lagi ngapain itu? Aku mau coba bantu dong, boleh kan bik?" ucap Zanna dengan wajah mendongak ke arah si pelayan.


"Hah? Eh eh, non Zanna gak boleh dekat-dekat ya ini bahaya loh!" ucap pelayan itu melarangnya.


Akan tetapi, Zanna tidak semudah itu menuruti perkataan si pelayan dan malah semakin bergerak mendekatinya. Zanna sepertinya sangat penasaran dengan hal itu, karena ia belum pernah melihatnya sebelum ini dan begitu ingin membantunya. Zanna adalah tipe anak yang banyak ingin tahu, untuk itu sekarang Zanna berada disana.


Maysa yang melihatnya sontak makin terkejut, ia bergegas menghampiri Zanna dan berusaha mencegah gadis itu untuk tidak mengganggu pelayan yang sedang menggoreng ikan disana. Maysa tentu tidak mau jika terjadi sesuatu pada Zanna, karena pasti ia lah yang akan disalahkan jika sampai semua itu terjadi.


"Zanna, sayang jangan dekat-dekat ke kompor ya cantik! Ini tuh bahaya, kamu gak boleh main-main disini ya Zanna sayang!" beruntung Maysa berhasil mencegah dan memeluk tubuh gadis itu lebih dulu, sebelum Zanna bergerak lebih dekat.


"Yah mama mah gitu, aku kan cuma pengen bantu bibik masak ikan itu!" ucap Zanna merengut.


"Iya sayang, nanti kapan-kapan kamu boleh bantu bibik kok. Tapi, sekarang kamu ikut mama dulu yuk ke depan! Mama gak mau kamu kenapa-napa sayang, disini bahaya tau!" ucap Maysa.


Maysa tersenyum mendengarnya, ia bangkit dan lalu mengajak Zanna pergi dari dapur itu dengan cepat sebelum terjadi sesuatu nantinya. Maysa tidak mau jika Zanna sampai terluka, karena pasti Harold akan sangat marah nanti padanya. Untung saja Zanna mau menurut sekarang, sehingga Maysa tidak perlu merasa khawatir lagi.


Saat mereka hendak melangkah keluar dari dapur, tiba-tiba mereka malah bertemu dengan Melinda yang memang mencari-cari dimana keberadaan Maysa. Tadi saat Melinda tengah bermain bersama Zanna di luar, gadis itu pergi begitu saja tanpa berbicara lebih dulu pada oma nya tersebut dan membuat Melinda khawatir.


"Duh Zanna, ternyata kamu disini! Ya ampun, oma cariin kamu kemana-mana loh sayang! kamu itu kalo mau pergi bilang-bilang dulu dong!" ucap Melinda.


Zanna merengut kecewa dibuatnya, "Maaf oma, aku tadi penasaran pengen tahu mama Maysa lagi masak apa! Makanya aku samperin deh, aku juga mau bantu mama," ucapnya.


"Oalah, ya tapi tetap kamu harus bilang dulu sama oma biar oma gak khawatir!" ucap Melinda.


"Iya oma, maaf." gadis itu menunduk dan merasa bersalah karena sudah pergi secara diam-diam.



__ADS_1


Disisi lain, Harold yang hendak keluar untuk istirahat makan siang bersama adiknya dibuat kaget ketika Clara tiba-tiba muncul disana dan membuat keduanya terkejut. Harold tak mengerti mengapa mantan istrinya itu ada disana, padahal biasanya Clara tidak pernah datang kesana kecuali karena ajakannya dikala mereka masih menjadi pasangan.


Clara pun mendekati mantannya itu, ia tatap wajah Harold dengan mata berkaca-kaca seolah menandakan ia tengah bersedih. Harold hanya diam menatap keheranan wajah Clara di depannya, Harold penasaran apa sebenarnya yang hendak dilakukan Clara saat ini. Apalagi, Clara benar-benar menunjukkan ekspresi sedihnya.


"Clara, ngapain kamu kesini? Kamu itu udah bukan istri saya, kamu harusnya gak perlu menginjakkan kaki lagi di tempat ini!" ketus Harold.


"Rold, aku mohon sama kamu jangan jauhkan aku dari Zanna! Aku gak bisa jauh-jauh sama dia, sekarang cuma dia loh yang aku punya Rold! Aku gak punya apa-apa lagi," bujuk Clara.


"Hah? Jadi, kamu datang ke kantor saya sekarang cuma mau bilang begitu? Dengar ya Clara, saya gak pernah sama sekali punya niat untuk jauhin Zanna dari kamu! Kamu bebas kok mau ketemu dia kapanpun, tapi kamu gak bisa bawa dia pergi dan tinggal sama kamu!" tegas Harold.


"Iya aku tahu, kamu emang baik Rold. Tapi, masalahnya istri kamu itu loh yang selalu menghalangi aku. Dia gak bolehin aku buat ketemu Zanna walau cuma sebentar, katanya dia ngelakuin itu atas perintah kamu," ucap Clara.


"Bicara apa sih kamu? Saya gak pernah suruh Maysa buat ngelakuin itu loh, dan Maysa juga gak mungkin melakukan itu!" sentak Harold.


Clara menggeleng perlahan disertai kekehan kecil, seolah-olah ia kesal dengan sikap Harold yang terus saja lebih membela Maysa dan begitu percaya dengan wanita itu. Padahal menurutnya, Maysa bukan lah wanita yang baik untuk Harold dan Maysa hanya memanfaatkan kekayaan pria itu. Clara pun terus berusaha meyakinkan Harold, kalau Maysa tidak sebaik yang dia kira.


Harold benar-benar kesal dengan ucapan Clara saat ini, tangannya sudah terkepal kuat menandakan ia begitu emosi kepada Clara. Jika saja sekarang mereka tidak sedang berada di kantor, maka pasti Harold sudah meluapkan semua emosinya pada wanita itu dan memberi pelajaran padanya karena sudah berani menjelek-jelekkan Maysa di depannya dan berbicara yang tidak benar.


Javier yang berdiri di sebelahnya hanya bisa diam dan sesekali tersenyum mendengar perkataan Clara barusan, ia sendiri sudah paham bagaimana karakter Clara dan pastinya semua yang dikatakan Clara adalah tidak benar. Javier tahu kalau Clara hanya ingin membuat Harold membenci Maysa, lalu merusak hubungan rumah tangga mereka.


"Cukup ya Clara! Kamu itu dikasih kesempatan untuk berubah, tapi gak pernah pergunakan kesempatan itu dengan baik. Sekarang juga kamu harus diberi pelajaran!" geram Harold.


Clara mengernyitkan dahinya, "Aku cuma bicara yang sebenarnya loh Rold, Maysa sendiri yang bilang sama aku soal ini," ucapnya.


"Udah ya Clara, jangan coba-coba untuk pengaruhi saya! Maysa gak mungkin begitu, jadi kamu mending pergi sekarang sebelum saya berubah pikiran!" ancam Harold.


"Sebentar Rold, kamu harus percaya sama aku! Ini demi Zanna juga loh," bujuk Clara.


Harold menggeleng perlahan dan sudah mulai kehilangan kesabaran, akhirnya dengan cekatan Harold meraih tangan Clara dan mencengkram nya kuat. Harold pun membawa Clara pergi dari sana, diikuti Javier dari belakangnya yang merasa bingung. Clara terus berontak, namun usahanya tak berhasil karena tenaga Harold jauh lebih kuat dan lagipun Harold saat ini sedang dalam keadaan emosi.



__ADS_1


__ADS_2