
Harold terkekeh dan akhirnya melepaskan Maysa dari pelukannya, ia melirik ke arah Zanna lalu mengajak wanita itu mendekati putrinya. Benar memang kata Maysa tadi, Harold harus terus memberikan contoh yang baik di depan Zanna dan tidak boleh berbuat buruk padanya.
Karena merasa bersalah, Harold pun coba sedikit membungkuk untuk berbicara pada putrinya yang sedari tadi ia tinggalkan. Harold meraih serta menangkup wajah mungil putrinya itu sembari mengusapnya lembut, ia tahu jika Zanna pasti akan merasa bosan karena terus diabaikan olehnya.
"Zanna sayang, maaf ya nunggunya lama? Kamu pasti capek ya nungguin papa selesai foto sama mama Maysa?" ucap Harold.
Zanna menggeleng sambil tersenyum, sedari tadi ia bergandengan tangan dengan Javier yang tampak menyusul di tempat itu untuk menemani kakaknya melakukan foto prewedding. Zanna pun sangat bahagia melihat papanya tampil lebih tampan kali ini, apalagi ada calon mama barunya disana.
"Gapapa pa, aku malahan senang kok lihat papa foto sama mama Maysa. Papa kelihatan tambah ganteng, apalagi pas ada di samping mama Maysa yang cantik!" ucap Zanna.
"Ahaha, bagus deh kalau begitu. Papa kira tadi kamu bosan karena ditinggal sama papa," ujar Harold.
"Gak kok pa, kan ada om Javier disini. Tadi aku juga dibeliin jajanan loh sama om Javier, enak banget!" ucap Zanna.
"Oh ya? Wah makasih om Javier! Untung ya ada kamu Vier," ucap Harold.
"Iya bang, aku sengaja tadi kesini mau bantu-bantu gitu buat pernikahan kamu sama Maysa. Ya kebetulan aku lihat Zanna lagi sama Dean, yaudah aku ambil alih deh," ucap Javier.
"Zanna!!" tiba-tiba saja, suara teriakan itu mengganggu momen indah diantara mereka berlima.
Ya siapa lagi itu jika bukan Clara, lagi-lagi Clara datang untuk mengganggu acara yang sedang direncanakan oleh Harold serta Maysa. Clara memang ingin mendapatkan kembali putrinya, karena ia sudah tidak tahan lagi saat melihat Zanna lebih dekat dengan Maysa yang bukan siapa-siapa putrinya itu.
Melihat kehadiran mantan istrinya itu, Harold sontak menggeram kesal dan mengepalkan tangannya. Pria itu sangat emosi, karena lagi-lagi Clara selalu muncul disaat bahagianya bersama Maysa. Ia tak tahu apa yang diinginkan Clara sebenarnya, tapi tentu saja ia sangat tidak nyaman jika Clara terus menerus hadir di kehidupannya.
Dahulu Harold memang berselingkuh di belakang Clara bersama wanita lain, tetapi itu tak lepas dari sikap dan kelakuan Clara sendiri yang selalu saja membantah kata-katanya. Bahkan, Clara terang-terangan menghinanya di hadapan teman sosialitanya dan amat membuat pria itu kesal.
"Mas, kembalikan Zanna sama aku sekarang! Aku ini ibunya, dan aku lebih berhak untuk bisa bersama dia dibanding perempuan gak jelas itu!" ujar Clara.
Harold semakin emosi dibuatnya, apalagi ketika Clara menghina dan menunjuk wajah Maysa seperti itu di depan banyak orang. Namun, Maysa berhasil mencegahnya untuk melakukan tindakan kasar terhadap Clara. Ya Maysa tak mau Harold sampai terpancing, lalu malah terjadi masalah yang lebih besar dari sekarang ini.
"Jaga mulut kamu ya Clara! Saya gak akan pernah memaafkan kamu, kalau kamu berani menghina calon istri saya! Dan ingat, Zanna ini juga anak saya! Artinya, saya berhak atas dia!" geram Harold.
"Oh iya tentu mas, kamu berhak kok atas Zanna. Tapi, tidak dengan wanita ini!" sentak Clara sembari menunjuk ke arah Maysa.
Saat itu juga Maysa merasa bersalah dan menundukkan wajahnya, ia sadar kalau kehadirannya di kehidupan Harold bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh banyak orang. Kini malah Maysa jadi membuat Clara sangat marah, karena kedekatannya dengan Zanna yang merupakan anaknya.
"Clar, cukup ya kamu menyalahkan Maysa kayak gini! Maysa itu calon istri saya, dan dia juga akan jadi ibu sambung bagi Maysa!" ucap Harold tegas.
"Enggak mas! Dia gak boleh jadi ibu sambung Zanna, aku gak akan ridho!" ujar Clara.
"Diam kamu Clara! Saya gak butuh restu dari kamu untuk menikahi Maysa, karena diantara kita sekarang udah gak ada apa-apa. Dan soal Zanna, biarkan dia memilih sekarang apa dia mau ikut saya atau tetap sama kamu!" ucap Harold.
"Hah??"
Clara tersentak mendengar perkataan yang dilontarkan Harold barusan, ia sampai menganga tak percaya seraya menggelengkan kepalanya. Clara pun menolak dengan keras usulan pria itu, sebab ia takut jika Zanna akan lebih memilih Harold dan meninggalkannya. Clara belum siap jika harus menjauh dari Zanna, karena baginya Zanna adalah segalanya dan ia tidak mau kehilangan gadis itu.
"Mas, kamu jangan egois dong! Kamu lupa ya kalau aku udah menang gugatan atas hak asuh Zanna di pengadilan? Kamu harus hormati keputusan hakim dong mas!" ucap Clara.
__ADS_1
Harold tampak memalingkan wajahnya dan mendengus kesal, sudah berulang kali Clara mengatakan itu padanya setiap kali ia membahas mengenai putrinya Zanna. Harold pun sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi, ia bergerak maju mendekati Clara lalu menatap tajam wajah wanita itu tanpa bisa dicegah oleh Maysa.
"Dengar ya Clara, saya akan sewa pengacara terbaik di negara ini untuk mengambil alih hak asuh atas Zanna dari kamu! Tunggu saja undangan dari pengadilan untuk kamu, Clara!" ujar Harold.
Deg
Jantung Clara seolah hendak copot saat mendengar ucapan lantang dari mantan suaminya itu, tampaknya Harold memang tidak main-main lagi dan dia benar-benar akan menuntut hak asuh Zanna serta membuat Clara terpisah dari putrinya itu. Clara pun menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai mengucur di pipinya.
Bruuukkk
Di luar dugaan, Clara tiba-tiba saja berlutut di hadapan Harold serta mulai memohon-mohon sambil menangis agar pria itu tidak membawa masalah ini ke pengadilan. Sebagai seorang ibu, tentu Clara tidak akan mau jika sampai dirinya dipisahkan oleh putri tercintanya yang selama ini selalu berhasil membuatnya tersenyum.
Harold terkejut dengan perlakuan wanita itu, baru kali ini Clara sampai berlutut padanya dan menangis seraya berusaha membujuknya. Harold dibuat bingung saat ini, tak mungkin ia menuruti permintaan Clara karena sekarang ia juga sudah mulai lelah dengan sikap wanita itu.
"Sudahlah Clara, kamu berdiri dan tidak usah berdrama di depan saya! Sampai kapanpun, saya tidak akan merubah keputusan saya! Zanna akan tinggal dengan saya selamanya," tegas Harold.
Clara mendongak menatap wajah Harold disertai mata yang sudah sembab penuh air mata, ia terus berharap pada Harold untuk tidak membawa semua ini ke pengadilan dan mau memaafkannya. Namun, Harold tetap kekeuh pada keputusannya bahwa dia akan memperjuangkan hak asuh Zanna.
"Dean, kamu bawa perempuan ini pergi dari sini dan pastikan kalau dia tidak akan datang lagi ke acara saya!" titah Harold pada asistennya.
Tanpa basa-basi lagi, Dean sang asisten bergerak cepat untuk melaksanakan perintah bosnya. Dean langsung memaksa Clara untuk bangkit dan tidak mengganggu Harold ataupun Zanna disana, ia juga membawa paksa Clara keluar dari sana lalu menyuruhnya untuk tidak kembali.
•
•
Singkat cerita, Harold membawa Maysa serta Zanna untuk menikmati makan malam bersama di sebuah restoran yang mewah. Harold ingin menambah momen romantis diantara mereka bertiga saat ini, karena sebentar lagi mereka juga akan resmi menjadi keluarga. Maka dari itu, Harold tentunya mau jika Zanna semakin akrab dengan Maysa.
Melihat itu, sontak Harold tersenyum lebar dan merasa bahagia. Zanna sangat akrab dengan Maysa saat ini, walaupun mereka baru saja bertemu dan kenal beberapa hari ini. Namun, sepertinya sikap hangat yang diberikan Maysa sudah berhasil meluluhkan hati Zanna.
"Ma, aku mau lagi dong ayamnya! Enak tahu kalau disuapin sama mama Maysa," pinta Zanna.
Maysa terkekeh dibuatnya, ia merasa gemas dengan sikap Zanna yang begitu manja dan lucu. Kini ia seperti merasa memiliki seorang anak, karena dari dulu juga Maysa selalu senang setiap kali bisa bersama anak kecil seperti ini. Maysa pun menuruti kemauan calon putrinya itu, lalu ia memberikan ayam di piringnya kepada Zanna dengan lembut.
"Hahaha, Zanna suka ya disuapin sama mama Maysa? Lebih enak mana coba, makan bareng papa atau mama Maysa?" tanya Harold sambil tersenyum.
"Umm, enggak tahu ah pa. Mau disuapin papa atau mama Maysa sama-sama enak kok, ya tapi aku lebih suka disuapin mama Maysa sih. Soalnya tangan mama Maysa kan lembut," jawab Zanna.
"Waduh, berarti tangan papa gak lembut dong? Terus kasar gitu ya?" kekeh Harold.
"Gak gitu pa, maksud aku tangan mama Maysa lebih lembut dan halus daripada tangan papa gitu," ucap Zanna menjelaskan.
"Ahaha, iya iya sayang.."
Harold tertawa saja dan mengusap lembut puncak kepala putrinya itu, sungguh ia bahagia malam hari ini karena Zanna serta Maysa terlihat begitu akrab dan seperti sudah saling mengenal sejak lama. Begitu juga dengan yang Maysa lakukan sekarang ini, wanita itu tampak sangat bahagia dengan semua yang ia rasakan malam ini.
"May, kamu juga jangan lupa dimakan dong makanannya! Biar sisanya nanti Zanna makan sendiri, dia udah bisa kok. Kalau kamu terus suapin Zanna kayak gitu, yang ada malah kamu gak bisa makan!" ucap Harold pada wanitanya.
__ADS_1
Maysa menganggukkan kepalanya, menuruti ucapan Harold barusan dan langsung bersiap melanjutkan memakan makanannya. Ia terlalu asyik menyuapi Zanna sebelumnya, sampai lupa untuk bisa menghabiskan makanannya sendiri yang sudah ia pesan dan masih tersisa cukup banyak.
"Oh ya pa, malam ini mama Maysa nginep di rumah papa lagi kan? Terus aku juga bisa tidur bareng papa dan mama Maysa dong?" tanya Zanna penuh harap.
Maysa sampai nyaris tersedak mendengar pertanyaan polos gadis mungil itu, ia benar-benar grogi dan gugup saat tahu bahwa Zanna ingin tidur bersamanya lagi seperti kemarin. Tentu saja kedua pipi Maysa langsung memerah dibuatnya, sebab ia tak mungkin mau menerima ajakan Zanna untuk tidur bersama-sama dengan papanya.
•
•
Keesokan harinya, Harold kembali mendatangi rumah kontrakan Maysa bersama Zanna yang sudah tampak rapih dengan seragam sekolahnya. Mereka berdua pun turun dari mobil, lalu segera melangkah menuju pintu rumah tersebut untuk menemui Maysa di dalam sana.
Zanna terlihat kebingungan dengan kondisi rumah Maysa yang berbeda dengan rumahnya, ya kontrakan yang dihuni Maysa sekeluarga memang sederhana dan sangat jauh jika dibandingkan dengan rumah milik gadis mungil itu. Zanna pun mendongakkan wajahnya, memandang Harold dan lalu mengajukan pertanyaan mengejutkan.
"Pa, ini kita beneran mau ke rumah mama Maysa? Kok kecil sih pa rumahnya, apa mama Maysa gak punya rumah besar kayak punya papa?" tanya Zanna dengan polosnya.
Harold sampai harus menahan tawanya begitu mendengar pertanyaan sang putri, ia berhenti melangkah sejenak untuk berjongkok di hadapan putrinya saat ini. Ia genggam kedua bahu Zanna sambil tersenyum menatapnya, ia mencoba memberi pengertian kepada gadis mungil itu.
"Zanna sayang, Zanna gak boleh bicara begitu ya! Nanti kan mama Maysa juga bakal tinggal di rumah besar kita," ucap Harold.
"Oh iya ya pa, yaudah deh aku udah gak sabar mau ketemu mama Maysa terus diantar ke sekolah sama mama Maysa! Aku yakin, teman-teman aku pasti kaget nanti disana!" ucap Zanna.
"Iya sayang, teman-teman kamu itu juga pasti iri sama kamu karena punya mama secantik mama Maysa!" ucap Harold.
Zanna tersenyum lebar, kemudian mengajak papanya untuk segera kembali melangkah. Harold menurut saja, ia bangkit dan menggandeng tangan Zanna lalu mulai berjalan kembali mendekati pintu rumah tersebut. Tanpa menunggu lama, Harold segera mengetuk serta memanggil nama Maysa.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari dalam sana disertai balasan yang terdengar seperti suara Maysa. Harold pun tersenyum dan menghentikan ketukannya, dan benar saja bahwa saat pintu dibuka Maysa lah yang keluar menyambut mereka dengan wajah terkejutnya.
Semalam, Harold memang mengantar Maysa pulang ke rumah kontrakan sesuai kemauan wanita itu. Meski Zanna terus merengek agar Maysa mau tidur di rumahnya, namun Harold akhirnya tetap mengiyakan permintaan Maysa dan memberi pengertian pada putrinya itu.
"Halo mama Maysa!" Zanna langsung menyapa calon mamanya itu dengan senyuman lebar disertai lambaian tangannya.
Maysa terbelalak kaget ketika melihat keberadaan Zanna serta Harold disana, apalagi saat Zanna menyapanya dengan manis dan melambaikan tangan ke arahnya. Maysa tentu tak menyangka jika Zanna hadir di rumahnya bersama Harold sepagi ini, padahal ia sendiri saja baru selesai mandi.
"Nah sayang, salim dong sama mama Maysa!" suruh Harold pada putrinya.
Zanna mengangguk setuju, tanpa membantah ia segera meraih satu tangan Maysa dan mengecup punggung tangannya dengan lembut. Membuat Maysa tersenyum, lalu reflek mengusap puncak kepala gadis mungil itu. Maysa sangat senang kali ini, karena Zanna memang sudah seperti putri kandungnya.
"Mas, ada apa kamu kesini sama Zanna? Terus kenapa gak kabarin aku dulu? Aku sampai kaget loh lihat kamu tadi," tanya Maysa dengan heran.
"Eee iya, ini—"
"May, siapa yang datang itu??" baru saja Harold hendak menjelaskan, tetapi tiba-tiba Melinda alias ibu dari Maysa sudah lebih dulu berteriak dan menuju kesana.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1
...~~~...
...GIMANA TUH KALO IBUNYA MAYSA TAHU HAROLD UDAH PUNYA ANAK?🤔...