
Maysa masih terdiam dan sangat syok begitu mendengar suara dari si penelpon itu, ia terus memegangi dadanya sambil menatap wajah sang ibu yang tepat berada di sampingnya. Entah karena apa, namun yang pasti Maysa tiba-tiba merasa cemas saat mendengar suara itu. Meski ia belum tahu siapa penelpon itu, tapi di dalam hatinya ia seolah mendapat ancaman dari orang tersebut.
Sampai saat ini Maysa masih belu tahu siapa sosok penelpon tersebut, ia juga belum memiliki keberanian untuk berbicara dengan penelpon yang tengah menelponnya itu. Sedangkan Melinda terlihat cemas dan terus menatap ke arah putrinya, ia heran apa yang sebenarnya terjadi. Sontak saja Melinda bergegas bertanya pada Maysa, karena jujur ia penasaran siapa si penelpon misterius itu.
"May, ada apa sih? Siapa coba yang telpon kamu, terus kenapa kamu bisa sampai panik kayak gitu?" tanya Melinda terheran-heran.
Maysa hanya menggeleng sebagai jawaban, ia sendiri bingung harus menjawab apa karena ia juga belum tahu siapa penelpon itu. Hanya saja, Maysa merasa seperti ketakutan ketika mendengar suara berat dari si penelpon. Semenjak Harold, baru kali ini Maysa mendengar suara seperti itu lagi yang langsung mengganggu jantungnya.
📞"Halo! Halo Maysa!" suara dari telpon itu terdengar kembali, dan membuat Maysa terkejut.
Akhirnya Maysa terpaksa kembali meletakkan ponsel miliknya di dekat telinga, dengan gemetar ia mencoba menjawab suara tersebut kali ini. Maysa sungguh khawatir, entah mengapa ia sudah memiliki firasat tidak enak pada si penelpon itu. Apalagi, dari suaranya yang terdengar berat dan menyeramkan seperti orang yang hendak berbuat jahat.
📞"I-i-iya, ini dengan siapa ya? Mau apa kamu telpon saya?" tanya Maysa tergagap.
📞"Kalau kamu mau tau, temui saya di tempat yang saya kirimkan ke kamu sekitar dua jam dari sekarang! Ada informasi penting yang akan saya sampaikan ke kamu. Tapi ingat, kamu harus datang sendiri!" jawab seseorang itu.
Deg
Maysa tersentak, jantungnya berdebar semakin kencang seolah menandakan betapa cemasnya ia saat ini. Tidak mungkin Maysa bisa menemui orang itu sendirian, sedangkan ia saja sudah berulang kali menjadi incaran dari orang tidak dikenal. Maysa tak mau itu kembali terjadi, karena ia harus kehilangan calon bayinya akibat kasus penculikan itu.
📞"Maaf, saya tidak bisa! Saya gak mau bertemu sama orang yang tidak saya kenal!" tegas Maysa.
Ya hal itu dilakukan oleh Maysa untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, sebab Maysa masih belum bisa melupakan kejadian sebelumnya disaat ia hampir diculik oleh seorang pria asing dan mengakibatkan kandungan di dalam rahimnya harus kehilangan nyawa.
📞"Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya akan tutup telponnya. Satu lagi, jangan pernah kamu coba-coba menelpon saya lagi!" ucap Maysa.
📞"Tunggu dulu Maysa!" tiba-tiba, si penelpon kembali bersuara dan mencegah Maysa mengakhiri telpon tersebut.
__ADS_1
📞"Ada apa lagi? Kamu jangan main-main ya sama saya!" geram Maysa.
📞"Hahaha, kamu yakin tidak mau bertemu dengan saya Maysa? Saya ini punya satu informasi yang penting banget loh buat kamu, saya yakin kamu gak akan menyesal nantinya!" ucap penelpon.
📞"Saya gak perduli, pokoknya saya gak mau ketemu sama kamu!" sentak Maysa.
Setelahnya, Maysa langsung menutup telpon dan membanting ponselnya ke ranjang karena tidak ingin mendengar nada dering telepon lagi. Maysa tampak melipat kedua kakinya, ia meneteskan air mata dan teringat pada calon anaknya yang telah tiada. Kesedihan kembali melandanya, membuat Melinda pun ikut merasakan hal itu.
"Maafin mama, sayang! Maafin mama!" gumam Maysa dengan lirih.
•
•
Singkat cerita, Maysa menemui Clarissa yang datang ke rumahnya dan kini sudah terduduk di ruang tamu menunggunya. Ya Maysa cukup heran karena tiba-tiba sekretaris dari suaminya itu datang kesana, padahal biasanya Clarissa tidak pernah melakukan itu. Karena penasaran, Maysa segera menghampiri Clarissa dan ikut terduduk disana.
"Clarissa, ada apa ya kamu kesini? Kalau kamu cari suami saya, dia kan lagi ke luar kota. Gak mungkin dong kamu gak tahu, secara kamu ini sekretaris dia," ucap Maysa terheran-heran.
"Ahaha, iya bu benar. Saya tau kok kalau pak Harold lagi ke luar kota, lagipula niat saya kesini juga bukan karena itu. Justru saya memang mau bertemu dengan bu Maysa sekarang, karena ada hal yang ingin saya sampaikan," ucap Clarissa.
"Ohh, soal apa ya kalau boleh tau? Apa ini menyangkut mas Harold?" tanya Maysa.
Clarissa mengangguk pelan, "Benar sekali bu, saya mau menyampaikan perintah dari pak Harold kepada bu Maysa sekarang," jawabnya.
"Hah? Perintah apa?" tanya Maysa kebingungan.
Clarissa pun tersenyum dan menunjukkan sebuah surat perintah yang ia bawa dari kantornya, lalu ia memberikan surat itu kepada Maysa saat ini. Ya seketika Maysa terkejut, karena ia masih belum mengerti apa maksud dari ucapan Clarissa tadi. Maysa begitu penasaran, kenapa Harold harus memberikan perintah padanya.
__ADS_1
"Ini dia suratnya bu, disini sudah dijelaskan dengan jelas bahwa pak Harold meminta bu Maysa untuk menghandle semua urusan kantor selama beliau berada di luar kota," jelas Clarissa.
"Apa??" Maysa tersentak dan reflek membulatkan kedua matanya.
"Maksud kamu apa sih, Clarissa? Mas Harold mints saya handle urusan kantor, itu kayak gimana ya maksudnya?" tanyanya kebingungan.
"Eee ya pak Harold meminta ibu untuk mengurus semua urusan di kantornya," jawab Clarissa.
Maysa lagi-lagi terkejut mendengarnya, ia tak mungkin bisa mengurus perusahaan sebesar milik suaminya itu. Apalagi, ia juga tidak menguasai bidang tersebut dan sangat berbeda dengan jurusan kuliah yang ia ambil. Maysa pun berusaha menolak permintaan Clarissa itu, ia khawatir kalau dirinya malah akan membuat perusahaan makin hancur.
"Tapi Clar, saya gak ngerti sama sekali loh tentang usaha suami saya itu. Sebaiknya kamu tunjuk orang lain aja ya, jangan saya!" pinta Maysa.
"Maaf bu, tapi ini permintaan dari pak Harold langsung! Beliau sepertinya lebih mempercayai ibu dibanding orang lain, diterima saja ya bu! Saya janji, saya akan bantu ibu sampai ibu bisa memahami semuanya!" ucap Clarissa.
"Duh, saya harus gimana ya? Saya aja belum lulus kuliah loh Clar, gimana caranya saya bisa pimpin perusahaan sebesar itu?" tanya Maysa.
"Bu Maysa tenang ya, kan ada saya disini! Pak Harold juga menugaskan saya kok untuk bantu bu Maysa, lagipula ini hanya sementara. Begitu pak Harold kembali, beliau nanti yang akan menjadi pimpinan di perusahaan. Bu Maysa mau kan terima semua ini?" ucap Clarissa membujuknya.
"Umm, bisa saya pikir-pikir dulu? Saya mau tanya ibu saya dan minta pendapat yang lain juga, soalnya saya takut kalau salah ambil keputusan nantinya," ucap Maysa.
"Oh, boleh kok bu. Tapi, jangan lama-lama ya bu! Saya butuh kepastian segera mungkin," ucap Clarissa.
"Iya Clarissa." Maysa mengangguk saja.
Sebenarnya Maysa dengan jelas tidak ingin menerima tawaran Clarissa itu untuk menjadi pimpinan di perusahaan milik suaminya, tapi mau bagaimana, Maysa tidak mungkin menolak keinginan suaminya itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...