
Harold pulang ke rumahnya sesudah melaksanakan pertemuan rahasia antara para pemimpin di bisnis gelap itu, ya Harold merasa lega karena kini ia telah berhasil menguasai sepenuhnya bisnis itu. Paling tidak, Harold akan menjadi orang yang paling ditakuti disana dan tak mungkin ada yang berani melawan atau bahkan membantah perintah darinya.
Sesampainya di depan rumah, dengan cepat Harold melangkah masuk berniat menemui istri serta anaknya yang pasti sudah menunggu disana. Benar saja apa yang ia pikirkan, tampak Zanna tengah bermain bersama Maysa dan juga Melinda di dekat ruang tamu. Ketiga wanita itu terlihat amat bahagia, meski tetap saja Harold selalu merasa berbeda tiap kali melihat Zanna bermain tanpa sosok Saskia.
Sontak kesedihan mendatangi dirinya, tanpa sadar ia meneteskan air mata ketika mengingat kembali momen dimana Saskia selalu mengajak Zanna main dengannya. Harold pun masih tak menyangka jika Saskia akan pergi secepat itu, tapi semua yang sudah terjadi tidak dapat ia ubah kembali. Lagipula, Harold harus membiasakan diri dan ia tidak boleh bersedih di hadapan keluarganya saat ini.
"Papa!!" rupanya Zanna lebih dulu menyadari keberadaan papanya itu, tanpa basa-basi Zanna pun bergerak cepat menghampiri Harold disana.
Dengan cepat Harold menyeka air matanya, ia tak mau Zanna melihat bahwa tadi ia sempat menangis karena memikirkan adik iparnya yang sudah pergi untuk selamanya. Harold amat sedih, sampai sekarang ia juga belum menyangka dan menerima kalau Saskia ternyata sudah pergi dari dunia ini.
"Papa, aku kangen sama papa! Kata mama, besok papa sama mama mau pergi lagi ya? Aku berarti bakal ditinggal dong?" ucap Zanna sambil memeluk papanya dengan erat.
Harold tersenyum dan berlutut di depan putrinya itu sembari menangkup wajahnya, ia tahu kalau Zanna pasti merasa kesepian dengan perginya Saskia. Tentu jika ia dan Maysa kembali pergi untuk berbulan madu, maka pasti Zanna akan merasa semakin kesepian nantinya. Kebingungan pun melanda diri Harold saat ini, karena ia tak tahu harus berbicara apa pada putrinya.
"Maafin papa ya sayang? Papa sama mama gak cuma pergi berdua kok besok, kamu juga kita ajak kok sayang!" ucap Harold.
"Hah? Beneran, pa? Bukannya papa sama mama cuma mau pergi berdua ya? Kalau papa ajak aku, emangnya papa gak akan ngerasa kerepotan?" tanya Zanna dengan wajah bingung.
Harold menggeleng pelan, "Gak akan sayang, masa iya papa kerepotan sih ngurus anak papa sendiri?" jawabnya tanpa ragu.
"Jadi, aku boleh ikut dong pa?" tanya Zanna lagi.
Kali ini Harold mengangguki ucapan anaknya itu dan meminta padanya untuk tidak bersedih lagi, meski ia sedikit kecewa karena rencana bulan madunya harus gagal dan berubah menjadi jalan-jalan biasa. Tidak mungkin Harold akan berbulan madu saat Zanna ada bersamanya, karena pasti semua itu akan sulit untuk terjadi.
"Yeay asik, aku ikut jalan-jalan sama mama papa! Hore!" Zanna reflek meloncat dan mengangkat kedua tangannya dengan penuh gembira.
__ADS_1
"Kalau gitu, mama ikut juga ya sama kalian? Biar mama bisa jagain Zanna nanti supaya gak ganggu waktu berdua kalian, jadi kan kalian tetap bisa fokus bulan madu tuh," ucap Melinda menyela.
"Iya benar mas, kita ajak ibu juga ya? Kasihan kalau ibu ditinggal sendirian disini," sahut Maysa.
"Boleh kok sayang, ibu boleh ikut. Siap-siap aja ya buat barang-barangnya, karena kita kan berangkat besok pagi!" ucap Harold.
"Makasih ya Harold!" ucap Melinda tersenyum lebar.
Harold mengangguk kecil, sedangkan Zanna beralih mendekati Melinda dan sama-sama bergembira karena mereka besok akan pergi jalan-jalan setelah sekian lama harus menunggu momen seperti itu.
•
•
Disisi lain, Javier baru mendapat kabar mengenai meninggalnya sosok Rendy yang juga merupakan ayah dari calon istrinya alias Mawar. Javier sungguh syok mendengarnya, ia sama sekali tak menyangka kalau ternyata benar bahwa Rendy sudah meninggal akibat serangan dari kakaknya kala itu. Kini Javier benar-benar dibuat bingung, pasalnya pasti Mawar akan kembali menanyakan mengenai papanya.
"Eh iya, kenapa Mawar?" tanya Javier sambil tersenyum dan sedikit gugup.
"Ini aku buatin teh hangat untuk kamu, kak. Diminum dulu ya? Aku tahu kamu pasti capek abis dari luar, makanya aku sengaja bikinin ini buat kamu. Katanya, teh itu bisa bikin kita lebih tenang loh," ucap Mawar.
"Ah iya Mawar, makasih. Kamu taruh aja di meja! Saya mau mandi dulu," ucap Javier.
Mawar mengangguk dan meletakkan cangkir teh itu di atas meja, lalu kembali mendekati Javier dan membantu lelaki itu melepaskan jasnya. Tentu saja kelakuan Mawar amat membuat Javier kebingungan, karena biasanya Mawar tidak pernah melakukan itu kepadanya. Entah Javier harus senang atau sedih saat ini, sebab ia baru saja mengetahui bahwa Rendy telah tiada lagi di dunia ini.
"Aku bantu cuciin jas kamu ya, kak? Selama ini kan kamu udah banyak bantu aku, jadi aku mau juga balas budi atas kebaikan kamu. Ya walau sekedar cuciin pakaian kamu sih," ucap Mawar.
__ADS_1
Javier tersenyum kecil, "Ahaha, itu aja udah sangat berarti kok buat saya. Makasih banyak ya Mawar, kamu baik banget deh!" ucapnya.
"Sama-sama, kak." Mawar mengangguk dibuatnya.
Javier pun bergerak mendekati gadis itu, ia taruh tangannya di kedua bahu Mawar sambil menatap ke arahnya dengan serius. Javier menghela nafas singkat, kali ini ia benar-benar gugup dan bingung karena tak tahu harus menjelaskan apa kepada Mawar mengenai kabar papanya yang telah meninggal dunia di tangan Harold.
"Ada apa ya kak? Tadi katanya kamu mandi, kenapa malah diem aja kayak gini?" tanya Mawar.
"Sebentar Mawar, saya masih mau pandangi wajah kamu kayak gini. Gak tahu kenapa, rasanya melihat wajah kamu ini selalu bikin saya tenang. Izinkan saya peluk kamu ya Mawar? Kamu mau kan?" ucap Javier dengan lirih.
"Hm, kamu mau dipeluk? Yaudah, sini aku peluk!" di luar dugaan, Mawar justru bergerak memeluk Javier lebih dulu dan membuat pria itu terkejut.
"Kamu gak perlu minta izin dari aku, kalau emang kamu mau peluk aku ya peluk aja! Kamu itu udah banyak bantu aku, masa cuma perkara peluk aja aku gak mau kasih sih?" sambungnya.
"Makasih Mawar, saya benar-benar senang banget hari ini!" ucap Javier.
Mawar pun mengeratkan pelukannya, Javier sendiri juga melakukan hal yang sama dan terus mengusap lembut punggung gadis itu. Kini bahkan Javier meletakkan wajahnya di ceruk leher Mawar, ia hirup aroma tubuh Mawar yang terasa sangat nikmat di hidungnya.
"Saya paling suka sama wangi kamu, entah sampai kapan saya bisa tahan untuk tidak melakukan hal yang lebih dari ini ke kamu, sayang!" bisik Javier.
"Eeeuungghh..." tanpa sadar, Mawar melenguh di sela-sela endusan Javier padanya.
Perlahan Javier mendorong tubuh wanita itu sampai menyentuh dinding, ia beralih menatap wajah Mawar dan membelai bibir merah mudanya. Tanpa berlama-lama lagi, Javier langsung melahap bibirnya dan memberikan sensasi kenikmatan yang luar biasa kepada wanita itu.
Mawar tak menolak, ia justru membiarkan Javier melakukan apapun yang diinginkan olehnya. Mawar juga membuka bibirnya untuk memberikan akses bagi Javier, ia sengaja melakukan itu karena ia ingin memberikan balas budi terhadap Javier yang telah banyak membantunya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...