Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Anak sakit


__ADS_3

Harold tersenyum puas setelah menyaksikan video kiriman dari Dean yang memperlihatkan Maysa bersama kekasihnya, di video itu terlihat jelas bahwa Maysa tengah bertengkar hebat dengan kekasihnya dan berakhir pada putusnya hubungan mereka. Tentu saja ini merupakan sebuah kabar bahagia bahagia bagi Harold, sebab ia memang ingin Maysa hanya menjadi miliknya dan tidak ada siapapun lelaki yang bisa merebut Maysa darinya.


Pria itu juga mengembangkan senyumnya, karena Dean asistennya pun berhasil mendapatkan lokasi tempat tinggal Maysa yang baru. Kini Harold pun dapat memantau semua aktivitas Maysa, sehingga ia tidak perlu bingung lagi harus mencari gadis itu kemana. Untuk merayakan putusnya Maysa dengan Peter, akhirnya Harold mengajak Javier serta anak buahnya yang lain ke sebuah diskotik sebagai hadiah atas kinerja mereka selama ini.


Namun baru saja Harold hendak melangkah keluar dari rumahnya, tanpa diduga Clara sang mantan telah berada di depan sana dan tengah menatap ke arahnya dengan tatapan tajam. Sontak Harold mengurungkan niatnya, ia memilih menemui Clara sejenak dan berbicara dengannya. Karena tidak mungkin Clara sampai mau jauh-jauh datang ke rumahnya, jika tidak ada hal yang penting.


"Clara, ada apa lagi kamu kesini? Apa kamu masih belum bisa moveon dari saya, hm?" tanya Harold dengan nada menggoda.


Clara langsung meludah ke sembarang arah begitu mendengar perkataan Harold, ia menampik semuanya dan mengatakan kalau dirinya sudah tidak memiliki rasa lagi kepada pria itu. Bahkan sejak Harold kepergok tengah bermain dengan gadis lain di sebuah club, Clara telah amat membenci Harold dan rasa cintanya pada pria itu hilang seketika seolah diantara mereka bukan siapa-siapa.


"Lantas mau apa kamu kesini? Saya kan sudah bilang, kamu bukan istri saya lagi dan kamu tidak bisa seenaknya menginjakkan kaki di rumah ini! Bagaimana jika ada orang yang melihat? Nanti, saya jadi susah dapat jodoh lagi," ujar Harold.


"Harold, aku kesini karena mau menyampaikan berita penting ke kamu. Ini tentang Zanna anak kita, dia lagi dirawat di rumah sakit karena demam berdarah!" tegas Clara.


Deg


Harold tersentak kaget mendengar itu, "Apa maksud kamu? Kok bisa Zanna sampai kena demam berdarah kayak gitu? Gimana sih kamu jadi ibu, ha? Ngerawat anak aja gak becus, kalau gini mending aku tuntut hak asuh Zanna!" ucapnya.


"Apa sih Harold? Ini bukan waktunya ya untuk berdebat, sekarang ayo kamu ikut ke rumah sakit karena Zanna nyariin kamu terus!" ucap Clara.


"Okay, aku akan ke rumah sakit. Sekarang kamu bisa pergi!" ucap Harold dingin.

__ADS_1


"Hah? Kamu gak mau ajak aku pergi bareng gitu? Harold, aku kesini tadi naik taksi loh. Kamu kan tahu kalau aku gak punya kendaraan," ucap Clara.


"Lalu? Ngapain kamu cerita ke aku? Kamu pikir aku perduli gitu? Enggak!" ucap Harold ketus.


Clara pun menggeram kesal, langsung saja ia berbalik dan pergi dari sana dengan perasaan jengkel atas sikap mantan suaminya yang tak berperikemanusiaan itu. Harold terkekeh saja, lalu barulah ia turut melangkah keluar dari rumahnya dan memerintahkan Dean untuk menyiapkan mobil karena ia ingin menemui putrinya di rumah sakit.


"Bang, jadinya kita kemana ini? Ke diskotik atau ke rumah sakit?" tanya Javier.


Harold tidak menjawab, pria itu malah melangkah begitu saja meninggalkan adiknya yang masih terlihat kebingungan. Sepertinya Harold kesal dengan tingkah sang adik, ya karena memang sedari tadi Javier telah mendengar ucapannya dengan Clara. Sehingga Harold berpikir, Javier harusnya tak perlu menanyakan hal-hal yang tidak penting.




Di tengah rintik hujan yang menerpa, Maysa berjalan sembari terisak meratapi nasibnya yang kini benar-benar buruk. Maysa merasa semua yang ia alami ini sudah tidak mampu ia tahan lagi, berbagai usaha telah ia coba tetapi rasanya tekad wanita itu hilang sudah seiring perginya sosok yang selama ini selalu ada di sisinya dan sangat ia sayangi.


Maysa benar-benar tak menyangka, Peter yang selalu ia banggakan itu nyatanya bukanlah pria yang baik. Justru Peter pergi begitu saja darinya setelah tahu bahwa dirinya tidak suci lagi, tentu Maysa sangat sakit hati dan merasa hidupnya telah benar-benar hancur. Maysa pun tak tahu lagi harus bagaimana, rasanya ia sudah pasrah kali ini.


Wanita pun juga tak tahu hendak kemana saat ini, karena daritadi pun ia hanya terus melangkah tanpa tahu tujuan. Rintikan hujan yang turun membasahi tubuhnya pun tak membuat ia khawatir, sebab semua tubuhnya telah hancur dan remuk akibat apa yang ia alami malam itu. Dia Harold, pria yang sudah menanamkan kehancuran yang amat sangat di dalam hatinya saat ini.


"May, Maysa!!" tiba-tiba saja, suara seorang wanita terdengar mendekatinya.

__ADS_1


Maysa sontak menoleh, ia menemukan kedua sahabatnya yang ternyata datang membawakan payung untuknya. Sepertinya mereka tak sengaja melihat Maysa di pinggir jalan saat hendak pulang, akhirnya mereka pun mendekat karena penasaran dengan apa yang dilakukan Maysa disana saat hujan-hujan seperti ini.


"Lo kenapa May? Terus Peter mana? Tadi lu pergi berdua sama dia kan, kok lu malah jadi sendirian sekarang?" tanya Kayla terheran-heran.


"Hiks hiks..." Maysa tak kuasa menjawabnya, ia malah semakin deras menangis kali ini.


"Eh eh May, ini lu kenapa sih? Apa yang Peter lakuin ke lu sampai lu jadi kayak gini? Cerita sama kita, May!" ucap Kayla panik.


"Iya May, lu jangan diem aja!" sahut Ziva.


"Gu-gue...." baru saja Maysa hendak bercerita, namun tiba-tiba angin kencang muncul dan nyaris menerbangkan payung yang dikenakan Kayla.


"Eh ya ampun, anginnya kencang banget! May, ayo lu masuk ke mobil gue aja ya! Disini bahaya, gue takut lu kenapa-kenapa!" ucap Kayla.


Maysa mengangguk saja, ia rasa ini keputusan yang tepat dan ia berharap Kayla serta Ziva akan dapat membantunya. Maysa juga memutuskan akan menceritakan semua yang terjadi padanya itu ke Kayla dan juga Ziva, karena tinggal mereka berdua lah yang ia harapkan untuk bisa membantunya dalam memburu si pelaku.


Di mobil, terlihat Kayla memberikan sebuah jaket milik papanya yang tertinggal disana kepada Maysa. Kayla tampak khawatir jika Maysa akan kedinginan, meski tubuhnya saat ini belum terlalu basah karena hanya terkena hujan ringan alias gerimis. Maysa menurut saja tanpa membantah, kini mereka bertiga pun duduk di dalam mobil itu bersama seorang supir yang mengendarai di depan sana.


"May, sebenarnya lu kenapa? Ayo lu cerita sama kita, siapa tahu kita bisa bantu selesaikan masalah yang lu alami!" ucap Kayla.


Maysa terdiam saja dengan wajah menunduk, sejujurnya ia ragu untuk mengatakan itu pada sahabatnya karena ia khawatir mereka juga akan meninggalkannya seperti apa yang dilakukan Peter tadi. Namun, mau tidak mau Maysa tetap mencoba menceritakan masalah yang ia alami itu demi bisa meminta bantuan dari mereka.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2