
Clara terus menarik-narik tangan Zanna dengan kasar dan membawanya secara paksa menuju pintu gerbang rumah itu, tampak para pengawal yang ada disana berusaha menghadang langkah Clara dan mencegah wanita itu membawa pergi Zanna. Tetapi, usaha mereka juga tidak ada gunanya karena Clara berhasil membuat para pengawal itu merasa bimbang dan terancam.
Beruntung Javier datang tepat waktu, pria itu bergegas menghampiri Clara lalu mencegah Clara yang ingin membawa paksa Zanna dari sana. Tentu Javier tidak akan takut dengan Clara, karena ia adalah adik dari Harold dan ia memiliki kuasa untuk bisa mencegah niat wanita itu. Clara pun terlihat kebingungan, namun tangannya masih mencengkram kuat lengan putrinya saat ini.
"Minggir kamu Javier, jangan halangi jalan aku! Kamu tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan aku, jadi mending kamu menyingkir!" sentak Clara.
Javier menggeleng perlahan dibuatnya, ia amat syok mendengar ucapan penuh amarah yang keluar dari mulut Clara barusan. Seketika sikap ramah dan lembut Clara hilang begitu saja, muncullah jati diri Clara yang asli saat sedang emosi seperti ini. Sehingga, Javier harus berhati-hati dan tidak boleh sampai kehilangan kesempatan untuk bisa mencegah wanita itu pergi dari sana.
"Clara, aku akan selalu ikut campur apapun urusan kamu kalau itu menyangkut Zanna. Dia itu keponakan aku satu-satunya Clara, dan aku gak akan biarin kamu bawa dia pergi dari sini!" tegas Javier.
"Kamu tuh keras kepala banget ya? Minggir Javier, biarin aku lewat!" ujar Clara.
"Kamu yang keras kepala Clara, buat apa sih pake acara bawa kabur Zanna segala? Kalau kamu mau ketemu dia, kamu kan bisa bebas datang kesini. Bang Harold gak mungkin larang kamu kok buat ketemu Zanna," ucap Javier.
"Aku harus bawa Zanna pergi dari sini sekarang Vier, karena kalau enggak dia bisa terus-terusan terkena pengaruh dari wanita gak tahu diri itu!" sentak Clara.
"Maysa maksud kamu? Emangnya apa yang udah dilakuin Maysa sih, ha?" tanya Javier.
"Kamu tanya aja sama kakak ipar kamu itu sana! Dia itu udah berusaha pengaruhi Zanna untuk benci sama aku, asal kamu tahu itu Vier!" jawab Clara.
Javier terdiam, ia mengernyitkan dahinya seraya berpikir apakah mungkin Maysa tega berbuat seperti itu. Rasanya sulit sekali bagi Javier untuk percaya dengan ucapan Clara, tetapi ia mewajarkan saja karena Clara ketakutan jika sampai kehilangan Zanna yang lebih menyayangi Maysa.
"Enggak om, yang dibilang sama mama itu semua bohong. Mama Maysa tak pernah pengaruhi aku untuk benci mama kok," seru Zanna.
Sontak Javier dan juga Clara kompak menatap ke arah Zanna, dari perkataan Zanna barusan Javier sudah dapat mengambil kesimpulan kalau Maysa memang tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan Clara tadi. Anak kecil tentu tidak akan pernah berbohong, mereka selalu mengatakan yang sebenarnya dan memang terjadi.
"Vier, tuh kamu dengar sendiri kan! Zanna sekarang jadi berani bantah aku, pasti ini semua karena ulah Maysa!" ucap Clara.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Javier, karena pria itu malah tersenyum lebar dan menatap wajah Clara di depannya. Perlahan Javier menarik lepas tangan Zanna dari genggaman Clara, membuat Clara terkejut dan semakin emosi dengan apa yang dilakukan Javier saat ini.
"Javier, kamu apa-apaan sih? Kembalikan Zanna ke aku, dia itu anak aku dan cuma aku yang berhak untuk mengurus dia!" sentak Clara dengan penuh emosi.
Javier menyeringai, "Tidak Clara, Zanna hanya boleh tinggal disini. Kamu itu sudah gagal dalam merawat Zanna, jadi gak akan ada kesempatan lagi untuk kamu Clara!" ucapnya tegas.
"Apa maksud kamu? Jika aku gagal, lalu gimana dengan Maysa? Dia saja sudah bikin Zanna masuk rumah sakit loh, kamu tahu kan?" ujar Clara.
"Iya aku tahu, tapi itu sebuah ketidaksengajaan. Maysa belum tahu kalau Zanna alergi kacang. Sedangkan kamu, kamu sendiri sudah membuat Zanna kekurangan kasih sayang. Kamu selalu tinggalin dia begitu aja," ucap Javier.
Kali ini Clara yang tidak bisa berbicara dan menjawab perkataan Javier, namun wanita itu malah berusaha mengambil kembali Zanna dari tangan Javier saat ini. Beruntung Javier masih sigap dan berhasil menahan niat Clara itu, bahkan Javier juga mendorong tubuh Clara hingga terhuyung ke belakang dan nyaris terjatuh.
"Akh sial! Kamu selalu aja ikut campur urusan aku Javier, kurang ajar!" umpat Clara.
"Tenang Clara, kamu tidak akan kehilangan Zanna! Kamu bisa bebas kapanpun datang kesini, jadi sebaiknya kamu beritikad baik saja!" ucap Javier.
"Cih, aku gak sudi bersikap baik sama perempuan kurang ajar itu!" tegas Clara.
Javier menggelengkan kepalanya secara perlahan, seolah tak menyangka jika Clara begitu keras kepala dan sulit untuk dibilangin. Ia bingung harus bicara apa lagi pada Clara agar bisa membuat wanita itu menurut padanya, maka dari itu Javier pun memilih pergi saja bersama Zanna kembali ke dalam rumah itu meninggalkan Clara sendirian.
Tak ada yang bisa dilakukan Clara saat ini, ia membiarkan saja Javier melewatinya dan membawa Zanna pergi dari sana. Clara juga tampak memukul tanah seolah melampiaskan amarahnya, rasanya Clara ingin segera menghabisi Maysa karena sudah membuat Zanna menjauh darinya. Padahal, hanya Zanna yang Clara punya saat ini.
Begitu terkejutnya Javier ketika melihat Maysa berjalan tertatih sembari memegangi perutnya dan berteriak lirih memanggil Zanna, sontak pria itu bergegas menghampiri iparnya dan bertanya mengenai kondisinya. Sama seperti pamannya, Zanna pun turut merasa khawatir pada Maysa yang saat ini memang terlihat kesakitan.
"May, kamu kenapa bisa kayak gini? Kamu disakitin lagi sama Clara ya?" tanya Javier panik.
"Ma, mama kenapa ma?" Zanna juga ikut khawatir dan panik ketika melihat Maysa saat ini, tetapi Maysa justru tersenyum bahagia begitu Zanna ada di hadapannya kali ini.
Ya Maysa bersyukur lantaran Zanna berhasil diselamatkan oleh Javier, padahal tadinya ia sudah sangat cemas kalau Zanna akan dibawa pergi oleh Clara. Untunglah Javier hadir tepat waktu, sehingga Maysa bisa merasa lega dan tidak perlu khawatir lagi saat ini.
__ADS_1
"Mama gak kenapa-napa kok sayang, syukurlah kamu masih bisa diselamatkan sama om Javier ya!" ucap Maysa tersenyum bahagia.
"May, beneran kamu gapapa? Kalau ada yang sakit, aku bawa aja ke rumah sakit ya!" ujar Javier.
Maysa menggeleng perlahan, "Enggak Vier, aku baik kok. Aku cuma mau berduaan sama Zanna aja sekarang, makasih ya!" ucapnya menolak.
Setelahnya, Maysa mengajak Zanna masuk ke dalam dan lanjut bermain disana. Meskipun tampak kondisinya masih seperti menahan sakit, apalagi langkah kakinya terlihat berat saat ia melewati Javier tepat di depannya. Namun, Maysa mencoba menguatkan diri karena ia yakin bahwa kondisinya baik-baik saja dan tidak perlu dikhawatirkan.
"Aku curiga sama Maysa, dia kayak lagi nahan sakit. Apa ya yang terjadi sama dia tadi?" gumam Javier dalam hatinya.
•
•
Akhirnya Saskia dan sang ibu tiba di rumah istana milik Harold, keduanya turun dari mobil dan merasa kagum pada kemewahan serta keindahan rumah tersebut yang sungguh luar biasa. Baru kali ini Saskia melihat rumah sebesar itu dengan mata kepalanya, ia juga tak menyangka kalau sebentar lagi ia dan ibunya akan tinggal di dalam rumah yang mungkin lebih mirip istana itu.
Bahkan, Saskia sampai terbengong dan tidak bisa berhenti memandangi keindahan rumah itu. Sedangkan Dean di belakang sana tengah sibuk menurunkan barang-barang milik Saskia dan juga ibunya itu dengan bantuan para pengawal, ya Dean tampak tersenyum seraya memandangi wajah Saskia dari posisinya saat ini.
Entah kenapa sejak kejadian tabrakan tak sengaja tadi, Dean merasa berdebar-debar tiap kali melihat wajah Saskia. Mungkinkah pria itu telah merasakan yang namanya cinta? Bisa saja, karena selama ini Dean belum pernah mengalami itu. Meski sudah banyak wanita yang ia temui, tapi belum ada satupun yang berhasil menarik perhatiannya.
Dean dan Harold sungguh bertolak belakang, jika Harold dikenal sebagai pria yang sering memainkan wanita, maka Dean adalah kebalikannya. Ya Dean tidak suka menyakiti wanita, apalagi merusaknya. Selama ini Dean selalu bisa menahan diri, walau terkadang Harold melakukan hubungan panas itu tepat di depan matanya.
"Ehem ehem...."
Deheman dari Dean itu membuat lamunan Saskia serta Melinda terhenti, mereka kompak menoleh ke arah pria itu dan tersenyum malu-malu. Ya terutama Saskia yang memang merasa gugup setelah kejadian di bagasi mobil tadi, gadis itu kini hanya bisa menunduk mencoba melupakan kejadian yang tidak perlu diingat itu.
"Selamat datang di kediaman tuan Harold! Ini dia tempat tinggal baru kalian, semoga kalian nyaman dan suka ya!" ucap Dean.
"Iya om, pasti sih aku bakal suka banget. Rumahnya aja sebesar ini," celetuk Saskia.
"Oh gitu, iya deh maaf. Yaudah, aku panggilnya kakak aja ya?" ujar Saskia.
"Nah, itu lebih baik. Kalo gitu sekarang kita masuk aja yuk ke dalam!" ajak Dean.
Hanya anggukan yang terlihat di wajah Saskia dan juga Melinda, mereka kini sama-sama masuk ke halaman rumah itu dengan perlahan. Lagi-lagi Saskia dibuat kagum dengan kondisi rumah tersebut yang begitu luas, rasanya ia bisa mengajak seluruh teman kelasnya bermain disana dan bahkan mungkin masih menyisakan cukup banyak ruang.
Akan tetapi, langkah mereka terhenti ketika tanpa diduga Clara muncul tepat di hadapan mereka. Baik Saskia maupun Melinda tampak keheranan dibuatnya, mereka tak mengenal siapa Clara dan apa yang dilakukan wanita itu disana. Sedangkan Dean juga tercengang dibuatnya, sebab pria itu tak tahu kalau Clara sedang berada disana.
"Dean, siapa mereka? Ngapain kamu bawa orang gak jelas ke rumah ini?" tanya Clara dengan ketus.
"Eee iya bu Clara, mereka ini keluarganya bu Maysa. Tuan Harold yang menyuruh saya untuk membawa mereka tinggal disini," jelas Dean.
"Apa? Ngapain coba mas Harold suruh orang-orang kampung kayak mereka ini tinggal disini? Apa sih maksudnya?" ujar Clara.
Deg
•
•
Javier kini turut menyusul Maysa dan Zanna masuk ke dalam rumah, pria itu tersenyum melihat mereka tengah asyik bermain di ruang tamu sambil tertawa dan bercanda ria. Rasanya Javier begitu menikmati momen seperti ini, ya karena memang jarang sekali ia bisa melihat Zanna tertawa bahagia bersama seseorang selain papanya.
Perlahan Javier menghampiri mereka, ia ikut duduk di sofa dan mengamati Zanna yang masih asyik bermain disana. Javier tersenyum lebar, sesekali tangannya mengusap puncak kepala Zanna sembari mengamati kondisi Maysa. Hingga kini, Javier masih merasa cemas pada Maysa karena tadi ia melihat jelas bahwa Maysa seperti tengah menahan sakit.
"Sayang, kamu senang ya main sama mama Maysa?" tanya Javier dengan lembut.
"Iya dong om, aku kan udah lama banget pengen punya mama yang bisa aku ajak main. Untung aja sekarang ada mama Maysa," jawab Zanna antusias.
__ADS_1
"Ahaha, baguslah kalau Zanna suka. Jadinya Zanna gak perlu sedih lagi deh," ujar Javier.
Kini Javier pun mendekati Maysa dan terus menatapnya dari jarak dekat, ia sungguh penasaran apa yang terjadi pada wanita itu mengingat tadi Maysa sempat merintih menahan sakit. Javier berniat menanyakan itu, meski ia sendiri ragu karena khawatir mengganggu momen bermain antara Maysa dan juga Zanna.
"May, kelihatannya kamu lagi kurang sehat. Kamu mending jujur aja sama aku, tadi si Clara itu apain kamu!" ucap Javier lirih.
Maysa menoleh dengan wajah terkejut, ia bingung harus mengatakan apa pada Javier saat ini. Ia pun memalingkan wajahnya, membuat Javier tentu merasa bahwa ada yang disembunyikan oleh wanita itu darinya. Maysa takut jika ia mengatakan yang sejujurnya bahwa Clara kembali mendorongnya, maka pasti Harold akan bertindak seperti kemarin dan memarahi Clara dengan luar biasa.
"Udah kamu gausah takut, jujur aja May! Kalau emang Clara ngelakuin hal buruk ke kamu, dia pantas dapat hukuman dari bang Harold!" ucap Javier sekali lagi bertanya pada iparnya itu.
"Enggak Vier, bu Clara gak ngelakuin apa-apa kok ke aku. Dia tadi cuma ambil paksa Zanna dari aku, makanya aku ngerasa sedih," bohong Maysa.
Javier terus menatap ke arahnya guna menyelidiki wanita itu, ia yakin bukan itulah yang sebenarnya terjadi dan Maysa saat ini tengah membohonginya karena ingin melindungi Clara. Ia sungguh salut pada Maysa, karena wanita itu selalu perduli dengan orang lain dibanding dirinya sendiri. Padahal, Javier tahu kalau Clara sering sekali menyakiti hatinya.
"Okay, aku percaya aja deh. Tapi kalau terjadi sesuatu sama kamu, bilang ya May!" ucap Javier.
Maysa hanya mengangguk kecil dan terus menundukkan wajahnya, ia tidak tahu apakah yang ia lakukan tadi benar atau justru ia sudah melakukan kesalahan. Maysa memang paling tidak bisa jika melihat seseorang tersakiti, apalagi saat itu ia melihat jelas suaminya memarahi Clara dan memberi hukuman padanya.
Sementara Zanna yang duduk di sebelah mereka, juga tampak penasaran dengan apa yang terjadi antara Maysa dan Javier. Gadis mungil itu terus menatap ke arah mereka dengan tampang polosnya, ya ia tentu masih belum mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh mereka. Itu sebabnya Zanna hanya bisa melongok memandangi mereka, sehingga membuat siapapun yang melihatnya gemas.
"Ma, ada apa sih?" gadis itu pun bertanya pada mamanya, ya karena rasa penasaran yang sudah terlalu memuncak.
Maysa menggeleng disertai senyuman, perlahan ia mengusap puncak kepala Zanna dan mengatakan kalau tidak terjadi apa-apa padanya maupun Javier tadi. Maysa juga mengajak Zanna untuk kembali bermain, lalu melupakan apa yang ditanyakan Javier karena sekarang Maysa ingin fokus membahagiakan Zanna yang sudah menjadi putrinya.
Disaat yang sama, Dean muncul bersama Saskia dan juga Melinda yang memang telah sampai di rumah istana itu. Mereka langsung saja menghampiri Maysa serta Zanna yang berada disana, menyapa keduanya sambil tersenyum dan saling berpelukan melepas rindu antara satu sama lain karena telah lama mereka tidak bertemu.
Maysa yang melihat keluarganya datang, seketika langsung bahagia dan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berpelukan dengan mereka yang selama ini selalu menemaninya. Maysa senang sekali karena akhirnya ia dapat kembali bertemu dan berkumpul dengan keluarganya, apalagi ia tahu kalau saat ini Saskia dan Melinda akan tinggal bersamanya di rumah itu.
"Wah aunty Kia sama oma datang kesini pasti mau ketemu aku ya!" celetuk Zanna sambil tersenyum.
Sontak Saskia beralih menatap keponakan mungilnya itu, ia merasa gemas dan langsung mencubit kedua pipi Zanna karena tidak tahan. Dari dulu Saskia memang senang dengan anak kecil, sama tentunya seperti sang kakak. Zanna sendiri juga senang karena bisa bertemu mereka, sehingga kondisi rumahnya menjadi semakin ramai.
"Iya dong non Zanna, mulai sekarang mereka bakal tinggal sama kamu disini. Non Zanna senang kan?" ucap Dean menyela.
"Yang bener om? Emang aunty Kia sama oma mau tinggal disini sama aku?" tanya Zanna terkejut.
Dean menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan Saskia serta Melinda yang tersenyum ke arah gadis mungil itu. Seketika Zanna meloncat kegirangan, belum pernah gadis itu sebahagia ini saat bersama Clara dulu karena ia selalu saja ditinggal sendiri dan jarang diajak berkumpul seperti sekarang ini.
"Yeay asik, berarti aku bisa punya teman banyak dong di rumah! Aunty sama oma mau kan jadi teman main aku?" ucap Zanna.
"Ya pasti mau dong sayang, masa iya aunty gak mau main sama ponakan aunty yang gemoy ini?" jawab Saskia sembari memeluk dan mencubit pipi Zanna dengan gemasnya.
Mereka semua tertawa, suasana disana sungguh ceria dan bergembira. Maysa yang masih berada dalam pelukan ibunya juga ikut senang melihat kebahagiaan di mata putrinya, meski Zanna bukanlah anak kandungnya. Namun, rasa cintanya pada gadis itu sungguh luar biasa dan membuat Maysa terharu ketika Zanna tertawa seperti itu.
"Bu, kalo gitu ayo aku antar ibu sama Saskia ke kamar! Kebetulan mas Harold lagi di luar, tapi dia tadi udah kasih tahu ke aku kok tempat ibu sama Saskia disini," ucap Maysa sambil tersenyum.
"Iya sayang."
"Eee biar aku bantu bawa barang bawaannya deh," Javier menyela dan mengambil alih koper milik Saskia serta ibunya itu.
Tanpa sadar, Saskia merasa kagum dengan ketampanan Javier. Ia pun tersenyum lebar dan terus memperhatikan pria yang merupakan iparnya itu, memang sejak pernikahan kakaknya ia selalu terpesona tiap kali melihat Javier. Namun, Saskia sadar kalau memiliki Javier tentu tidak mungkin karena mereka sudah jadi keluarga.
Sementara Dean juga menyadari hal itu, ada rasa tidak suka di dalam hatinya saat melihat wanita yang berhasil membuat jantungnya berdebar-debar tadi kini malah tengah memperhatikan pria lain. Meski Dean tahu Javier hanyalah ipar Saskia, tapi entah kenapa pria itu tetap tidak suka dan memilih memalingkan wajahnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1