Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Menandatangani


__ADS_3

Harold semakin tertekan dengan kondisi yang ada saat ini, ia tak mau istri maupun anaknya terluka dan berada dalam bahaya. Harold pun tak memiliki pilihan lain, yang ada di dalam pikirannya kini hanya sosok istri serta anaknya. Akhirnya Harold mengambil keputusan untuk mengikuti semua perintah dari Rendy, ia akan kembali ke dalam bisnis itu walau nantinya Maysa mungkin membenci ia.


Rendy tahu kalau Harold sudah tak mempunyai pilihan lain selain menurutinya, untuk itu ia tersenyum dan menyodorkan sebuah surat perjanjian ke arah Harold. Terdapat pulpen juga yang telah disediakan olehnya, sehingga Harold hanya tinggal menandatangani surat tersebut. Rendy amat senang kali ini, sebab rencananya sebentar lagi akan berhasil untuk mengikat Harold dalam bisnisnya.


"Kamu cepat tandatangani itu Harold! Jika tidak, maka nasib istri dan anak kamu tidak akan pernah kamu ketahui! Saya akan perintahkan anak buah saya untuk menangkap mereka, lalu membawa mereka ke suatu tempat!" ancam Rendy.


"Jangan mister! Baiklah, saya akan segera tandatangani surat perjanjian ini! Tapi, tolong perintahkan dulu anak buah anda untuk pergi dari rumah sakit itu!" pinta Harold.


"Tidak Harold, mereka akan tetap disana sampai kamu benar-benar menandatangani ini!" ujar Rendy.


Harold tampak mengusap rambutnya, ternyata sulit baginya untuk mengelabui Rendy karena pria itu benar-benar menginginkan dirinya. Andai saja tadi Harold tidak terpancing untuk datang kesana, maka sekarang ini ia bisa melindungi istrinya. Namun, yang terjadi saat ini ia sudah terjebak dan mau tidak mau ia harus mengikuti semua perintah Rendy.


"Okay, saya akan tandatangani ini! Tapi, anda harus berjanji kalau anda akan membebaskan istri saya!" ucap Harold.


Tak ada jawaban dari Rendy, namun ia tetap memaksa Harold untuk menandatangani surat itu. Rendy pun terus menyodorkan pulpen itu ke arah Harold, yang kemudian tidak bisa lagi ditolak oleh Harold saat ini. Harold lebih mementingkan keselamatan istrinya, itu sebabnya Harold akhirnya mau dan tidak menolak perintah Rendy.


Perlahan Harold mengambil pulpen itu dari tangan Rendy, ia baca lebih dulu setiap isi kontrak tersebut untuk menghindari terjadinya kesalahan. Setelah dipastikan aman, barulah Harold menandatangani surat itu tanpa berpikir kembali. Tindakan Harold itu membuat Rendy tersenyum, seolah senang karena akhirnya Harold mau menuruti kemauannya.


Tampak penyesalan di mata Harold sesudah selesai bertandatangan di atas surat itu, ia sebenarnya tak mau kembali ke dalam bisnis tersebut dan ingin meninggalkan semua yang berbau ilegal. Namun, Harold juga tidak bisa membiarkan istrinya berada dalam bahaya hanya karena ia lebih memikirkan ego dan bisa saja Maysa tak akan selamat nanti.


"Mister, saya sudah tandatangani semua ini. Sekarang saya mohon dengan sangat, lepaskan istri saya dari serbuan anak buah mister! Tolong tepati janji anda!" ucap Harold.


"Hahaha, tenang saja Harold! Saya akan perintahkan mereka semua untuk pergi dari rumah sakit, lalu istri kamu juga akan saya bebaskan. Tetapi seandainya kamu berkhianat dari saya, maka saya pastikan istri kamu akan binasa!" ucap Rendy.


Ucapan Rendy itu menambah emosi di dalam diri Harold, membuatnya semakin jengkel dan ingin sekali rasanya ia menghajar Rendy saat itu juga. Tapi apa daya, Harold tak mampu melakukan itu sekarang karena disana ia dikelilingi oleh cukup banyak anak buah Rendy yang besar-besar dan tentu lebih kuat dibanding dirinya.


"Kalau begitu saya mohon izin mister, saya mau kembali ke rumah sakit temui istri saya!" ucap Harold pamit.


"Silahkan, tapi jangan lupa malam ini juga kamu harus kembali kesini dan bersiap untuk pemberangkatan kamu ke timur mengantar semua senjata saya!" ucap Rendy.


"Siap mister!" ucap Harold patuh.



__ADS_1


Maysa tetap setia berada di rumah sakit menemani ibunya, ia keluar dari ruangan itu dan terlihat begitu sedih karena kondisi ibunya yang belum pulih. Maysa pun terduduk di kursi seperti biasa, matanya sudah sembab akibat keseringan menangis. Maysa benar-benar bersedih, ingin rasanya ia berteriak untuk meluapkan segala kesedihannya saat ini.


Fauzan serta Hendi masih juga berada disana menjaga Maysa, mereka terlihat cemas ketika Maysa keluar dengan ekspresi sedihnya. Mereka tahu betul kesedihan yang dirasakan wanita itu, karena hingga kini ibunya belum juga sadar. Apalagi, saat ini di luar rumah sakit sudah terdapat cukup banyak orang-orang yang ingin mencelakainya.


"Mbak, mbak minum dulu ya! Daritadi aku lihatin mbak kayak belum minum, awas loh nanti dehidrasi!" ucap Saskia menyodorkan botol minuman ke arah kakaknya.


"Eh i-i-iya Saskia, makasih!" ucap Maysa tergugup.


Perlahan Maysa meminum minuman tersebut sesuai permintaan adiknya, lalu kembali menatap kosong ke depan sambil berdoa untuk ibunya. Ia belum tahu apa-apa mengenai Rendy yang mengincar dirinya, sehingga ia masih belum memikirkan itu. Bahkan, baik Hendi maupun Fauzan kompak untuk tidak memberitahu Maysa mengenai hal itu.


"Sas, kira-kira kapan ya ibu bisa sadar? Aku cemas banget sama ibu, aku khawatir ibu kenapa-napa!" ucap Maysa dengan lirih.


"Sabar aja ya mbak, kata dokter kan juga kondisi ibu tuh udah mulai membaik! Kita tunggu aja sebentar lagi, mungkin ibu bakal cepat sadar! Yang penting kita harus doain ibu terus!" ucap Saskia.


"Kamu benar Saskia, aku pasti doain ibu supaya cepat sembuh!" ucap Maysa tersenyum tipis.


Disaat kedua kakak-beradik itu sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja Javier datang bersama Mawar menemui mereka. Pria itu langsung menyapa Maysa dan juga Saskia secara bergantian, yang membuat kedua wanita itu kompak berdiri. Maysa tampak senang melihat Javier disana, meski ia heran siapa wanita yang ada di dekat Javier itu.


"Maysa, kok kalian cuma berdua? Bang Harold dimana?" tanya Javier sambil celingak-celinguk.


Maysa menggeleng perlahan, "Gak tahu, tadi kakak kamu bilangnya mau ke toilet. Tapi, sampe sekarang dia belum balik juga. Aku sih curiganya dia pergi tinggalin aku," jawabnya.


"Ibu sudah mulai membaik kok Vier, ya walau ibu belum bisa sadar. Seenggaknya dokter bilang kalau kondisi ibu baik-baik aja," jawab Maysa.


"Syukurlah, aku ikut senang dengarnya! Oh ya May, kenalin ini calon istri aku namanya Mawar! Tadinya aku juga mau kenalin dia ke bang Harold, eh tapi orangnya malah gak ada," ucap Javier.


Deg


Maysa dan Saskia kompak terkejut, mereka menatap wajah Mawar secara bersamaan dengan ekspresi bingung. Mereka tak menyangka kalau Javier sudah memiliki calon istri, padahal selama ini Javier jarang muncul di hadapan mereka. Namun, mereka juga ikut merasa senang tentunya karena Javier sebentar lagi akan menikah.


Mawar sendiri juga tak mempercayai apa yang diucapkan Javier itu, ia heran mengapa Javier mengatakannya sebagai calon istri. Padahal, status Mawar hanya menemani pria itu sesuai janjinya pada Javier disaat dia terluka. Akan tetapi, sepertinya sekarang Javier telah merubah semua itu dan membuat Mawar benar-benar gugup.



__ADS_1


Disisi lain, Clara datang menjemput Zanna sehabis pulang sekolah. Momen ini ia manfaatkan untuk lebih dekat dengan putrinya itu, apalagi ia telah mendapat izin dari Javier tadi dan membuatnya semakin mudah membawa Zanna pergi dengannya. Clara sangat merindukan Zanna, ia ingin tinggal bersama Zanna dan tak mau melepaskannya.


Sesampainya disana, tanpa basa-basi lagi Clara langsung menghampiri Zanna yang baru keluar dari sekolahnya. Zanna pun tampak bahagia melihat mamanya ada di tempat itu, tanpa ragu Zanna menghampiri Clara dan memeluknya erat. Clara yang dipeluk itu sangat gembira, setidaknya kini Zanna memang juga masih menyayanginya.


"Mama kesini mau jemput aku ya? Aku seneng banget deh, tadinya aku kira gak bakal ada yang jemput aku!" ucap Zanna tampak antusias.


"Gak mungkin dong sayang, kan ada mama disini. Mama bakal selalu ada di sisi kamu sayang, jadi kamu tenang aja ya! Sekarang kamu ikut mama yuk, kita jalan-jalan dulu sebentar!" ucap Clara.


"Siap ma, aku mau kok ikut sama mama!" ucap Zanna disertai senyuman lebarnya.


Akhirnya mereka berdua sama-sama masuk ke dalam mobil, Zanna duduk bersama Clara di bangku belakang saat ini. Clara tak bisa berhenti tersenyum, karena ia merasa begitu bahagia setelah berhasil membawa Zanna bersamanya. Kini Clara hanya tinggal mengajak Zanna ke rumahnya, setelah itu Zanna akan menjadi miliknya kembali.


"Mama senang banget deh, akhirnya mama bisa juga bawa kamu sayang! Kamu sendiri senang gak pergi sama mama, hm? Atau kamu malah gak suka ya?" ucap Clara sembari mengusap wajah putrinya.


Zanna mengangguk perlahan, "Suka kok ma, banget malah. Aku kan udah lama gak pergi sama mama, jadi aku senang deh!" jawabnya.


Mereka kembali berpelukan saat ini, baik Clara maupun Zanna sama-sama terasa begitu bahagia dan antusias dengan momen yang terjadi. Rasanya Clara tidak sabar untuk segera tinggal bersama Zanna, dengan begitu maka Clara tak perlu merasa bersedih lagi karena Zanna sudah berada dalam pelukannya dan tak akan ada yang bisa merebut gadis kecil itu darinya.


"Ma, kita sekarang mau kemana? Mama pengen bawa aku jalan-jalan kan? Apa aku boleh makan es krim, ma?" tanya Zanna.


"Umm, boleh dong sayang. Tapi, Zanna harus nurut ya sama mama! Pokoknya Zanna gak boleh melawan perintah mama dan seluruh perkataan mama, gimana? Zanna mau kan nurut sama mama?" ucap Clara.


"Mau ma mau, yang penting aku bisa makan es krim banyak-banyak hari ini," ucap Zanna.


Clara tersenyum lebar mendengarnya, cukup mudah baginya untuk merayu Zanna agar mau menurut dengannya. Clara pun berharap jika Zanna akan mengikuti semua kemauannya, lalu gadis itu tidak mau kembali ke rumah papanya. Hanya Clara yang boleh tinggal bersama Zanna, siapapun itu tak akan bisa menghalangi niatnya saat ini.


Ciiittt


Akan tetapi, tiba-tiba saja sang supir yang mengantar mereka menginjak rem secara mendadak. Sontak Clara dan Zanna sama-sama ketakutan, mereka dibuat gemetar serta saling berpelukan untuk menenangkan satu sama lain. Clara tak mengerti apa yang terjadi, sehingga ia bertanya pada supirnya.


"Ada apa sih pak, kenapa bapak ngerem mendadak kayak gini? Bapak mau kami terluka?" tanya Clara.


"Ti-tidak bu, tapi itu di depan ada yang cegat mobil kita. Mereka kayaknya sengaja deh bu," jawab supir itu seraya menunjuk ke depan.


"Apa??" Ciara tersentak dan coba melirik ke arah depan, saat itu juga matanya terbelalak karena ada sekumpulan orang yang berdiri disana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2