
Clara begitu terkejut dengan apa yang terjadi di depan matanya saat ini, mobil yang ia tumpangi itu kini dikelilingi oleh cukup banyak orang yang entah siapa dan apa maksudnya melakukan itu. Clara pun sangat ketakutan, ia cemas jika orang-orang itu adalah suruhan Harold yang ingin mengambil Zanna darinya. Dengan cepat Clara memeluk erat putrinya, ia tak mau jika harus kehilangan Zanna lagi saat ini.
Zanna sendiri tampak tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya, ia menatap wajah Clara dengan bingung karena mamanya itu terlihat begitu cemas. Zanna juga merasa heran mengapa mobil mereka harus berhenti disana, padahal toko es krim yang hendak dituju masih jauh. Dengan polosnya Zanna bertanya pada mamanya, tatapan lugu gadis itu selalu berhasil membuat siapapun merasa gemas.
"Ma, kenapa kita berhenti disini? Mama katanya mau bawa aku ke toko es krim, kok sekarang malah mobilnya berhenti? Mama bohongin aku ya?" tanya Zanna dengan bibir merengut.
Clara menggeleng dan tentu saja berusaha menjelaskan pada putrinya itu, meski ia tak mau Zanna ikut merasa cemas nantinya. Clara hanya mengatakan bahwa saat ini mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan, karena di luar sana ada banyak orang jahat yang ingin melukai mereka dan tentunya menghalangi niat buruk Clara.
"Bukan begitu sayang, kamu lihat sendiri kan di luar ada apa? Mobil kita gak bisa lewat nak, kamu sabar ya!" ucap Clara coba menenangkan putrinya.
"WOI KELUAR LU!"
Tiba-tiba saja, mereka dibuat kaget saat suara teriakan seorang lelaki terdengar di telinga mereka. Clara semakin cemas, ia peluk erat putrinya dan berharap orang-orang itu tidak bisa memaksa masuk untuk mengambil Zanna darinya. Zanna sendiri juga mulai panik, gadis itu berteriak cemas lantaran suara pria tadi memang benar-benar mengerikan.
"Mama aku takut!" Zanna merengek, lalu membenamkan wajahnya di tubuh mamanya.
"Iya iya sayang, kamu tenang ya! Ada mama disini, mama akan selalu jagain kamu!" Clara semakin mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung putrinya dengan lembut.
"Bu, gimana ini? Apa saya keluar aja temuin mereka? Kayaknya mereka ini anggota begal deh bu, mungkin mereka harus dikasih sesuatu biar pergi," ujar sang supir yang menoleh ke belakang.
"Terserah kamu Anto, pokoknya saya gak mau Zanna kenapa-napa!" ucap Clara.
"Baik bu!" ucap supir itu patuh.
Supir bernama Anto itu pun keluar dari mobil, lalu menemui orang-orang yang ada disana dan berusaha mengusir mereka. Sedangkan Clara serta Zanna tetap berada di dalam mobil, mereka tampak begitu ketakutan dan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Bahkan, Clara sudah meneteskan air mata karena ketakutan yang ia rasakan.
Di luar sana, Anto yang belum sempat bicara langsung dihajar habis-habisan oleh sekelompok pria tidak dikenal tersebut. Anto tak bisa berbuat banyak karena ia hanya sendiri, sehingga akhirnya ia tergeletak tak berdaya di aspal. Melihat itu, sontak Ciara terbelalak dan semakin panik ketika orang disana itu mendekat ke arahnya.
"HEH SINI LO KELUAR!" pria itu membuka paksa pintu mobil, dan berhasil.
"Aaaaa mama aku takut!" Zanna reflek berteriak dengan kencang ketika orang-orang itu mulai memaksa masuk ke dalam.
"Lo ikut kita sekarang, jangan melawan atau kita bakal abisin lu!" ancam si pria menggunakan pistol yang ia pegang.
"Ka-kalian ini siapa? Apa mau kalian sebenarnya?" tanya Clara dengan gemetar.
__ADS_1
"Gausah banyak tanya, mending lu nurut aja sama kita! Bawa anak lu itu, dan ikut sama kita sekarang!" titah orang itu.
Zanna terus menangis sejadi-jadinya, ia ketakutan dan tak berani menatap pria di dekatnya. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Clara pun mengikuti perintah dari orang itu karena khawatir akan terjadi sesuatu pada Zanna. Mereka pun turun dari mobil, lalu masuk ke dalam mobil milik orang-orang itu dengan tampang ketakutan.
•
•
Disisi lain, Rendy tersenyum lebar menatap surat perjanjian yang telah ditandatangani oleh Harold sebelumnya. Ia merasa puas karena kini ia tak akan lagi kehilangan Harold, ia sudah mengikat pria itu dan tidak mungkin Harold bisa lepas darinya. Jika sampai Harold berbuat macam-macam, maka Rendy hanya tinggal mengancamnya saja.
Disaat ia tengah berbahagia, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering menandakan ada seseorang yang menghubunginya. Tanpa banyak berpikir, Rendy segera mengambil ponsel itu dari atas meja dan mengangkat telponnya. Rendy begitu penasaran, karena telpon yang masuk itu berasal dari salah seorang anak buahnya.
📞"Halo! Ada apa kamu telpon saya, ha? Apa tugas yang saya perintahkan sudah berhasil kamu kerjakan?" tanya Rendy pada intinya.
📞"Ya mister, kami baru saja berhasil melakukan itu. Sekarang anak dan mantan istri Harold sudah ada di tangan kami, mister. Saya menelpon untuk memberi laporan, selain itu saya juga ingin bertanya hendak dibawa kemana mereka sekarang?"
📞"Bagus, cepat juga kerja kalian! Kalau begitu, bawa mereka ke markas saya yang satunya! Ingat, jangan sampai ada yang tahu soal ini!" titah Rendy.
📞"Siap mister!"
"Hahaha, rasakan kamu Harold! Kamu tidak akan bisa bertemu dengan putri kamu itu, sampai kamu menyelesaikan semua tugas dari saya!" gumam Rendy disertai seringaiannya.
•
•
Harold tiba di rumah sakit tempat Maysa berada, ia turun dari mobilnya dan menatap sekitar untuk memastikan apakah anak buah Rendy masih ada disana atau tidak. Namun, ternyata sudah tak nampak satupun anak buah dari bosnya itu yang berada disana. Harold pun merasa lega, setidaknya Rendy dapat dipercaya untuk kali ini.
Tanpa basa-basi lagi, Harold bergegas masuk ke dalam sana untuk menemui istrinya. Ia hanya diberi waktu sebentar kali ini untuk berpamitan, sebelum nantinya ia harus kembali ke markas Rendy dan mengurus semua keberangkatannya. Harold pasti akan merasa rindu dengan Maysa, apalagi ia pergi dalam waktu yang cukup lama.
"Huft, kenapa hidup saya jadi kacau kayak gini ya? Andai saja dulu saya tidak ikut-ikutan masuk ke bisnis ilegal ini, mungkin saja saya sekarang bisa hidup bahagia dengan Maysa!" gumamnya lirih.
Begitu tiba di depan ruang rawat Melinda, pria itu langsung bergegas menghampiri sang istri yang ada disana. Tampak ada juga Javier, Saskia dan seorang wanita yang tidak Harold kenali ikut terduduk di dekat istrinya. Harold pun menyapa mereka, membuat keempat orang itu spontan menatap ke arahnya dan bangkit dari tempat duduknya.
"Mas? Akhirnya kamu balik juga, kamu darimana aja sih mas? Tadi katanya mau ke toilet, tapi kenapa lama banget coba? Kamu bohong ya?" Maysa langsung mencecar suaminya itu dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
__ADS_1
"Eee iya aku minta maaf ya sayang? Tadi begitu aku keluar dari toilet, aku dapat telpon dari sekretaris aku. Katanya klien aku yang penting datang ke kantor dan mau ketemu aku, itu makanya aku langsung pergi kesana," jawab Harold.
"Ohh, ya syukurlah kalau begitu mas! Aku kira kamu kenapa-napa tadi, lain kali kamu kabarin aku dulu dong mas kalau mau pergi!" ucap Maysa cemas.
Harold tersenyum mendengarnya, ia senang karena Maysa begitu mengkhawatirkan dirinya. Bahkan, kini Harold memeluk erat tubuh istrinya dan memberi kecupan di keningnya. Usapan lembut ia berikan pada punggung sang istri, membuat Maysa merasa nyaman meski saat ini di dekatnya ada beberapa orang yang tengah melihat ke arahnya.
"Aku minta maaf sama kamu, lain kali aku gak akan begitu lagi kok! Kamu tolong maafin aku ya, jangan cemas lagi dong kan aku udah ada disini!" ucap Harold seraya mencubit hidung istrinya.
"Iya mas, aku maafin kamu kok. Sekarang kamu jangan kemana-mana lagi loh!" pinta Maysa.
"Sip, aku pasti gak akan tinggalin kamu! Tapi, untuk saat ini aku mau bilang ke kamu. Tadi waktu aku ketemu sama klien, dia ajak aku buat pergi ke luar kota untuk ngecek proyek kerjasama kita yang ada disana sayang," ucap Harold lirih.
"Apa mas? Kamu baru kembali, terus mau pergi lagi? Ih kamu mah gitu, padahal aku baru senang loh karena kamu ada disini!" ucap Maysa merengek.
"Ma-maaf sayang, aku minta maaf ya! Aku harus pergi sekarang, karena kalau enggak nanti klien aku itu bisa kecewa. Kamu ngerti kan sama posisi aku sayang?" ucap Harold berusaha membujuknya.
Akhirnya Maysa mengangguk kali ini, ia tak memiliki pilihan lain selain mengizinkan suaminya pergi saat ini. Walau rasanya Maysa tidak ingin Harold pergi dari sana, apalagi Maysa sangat cemas dengan sosok pria yang ia sayangi itu. Sejujurnya Maysa ingin terus berada di dekat Harold, apalagi setelah kejadian saat ada seseorang yang mendekatinya.
"Aku bolehin kamu pergi kok mas, tapi kamu pulang jangan lama-lama loh! Aku nanti pasti bakal kangen banget sama kamu," ucap Maysa.
"Iya sayang, aku gak akan pergi lama-lama kok. Kamu tenang aja ya, kita juga kan bisa telponan atau video call! Lagian disini kan masih ada Saskia sama yang lain," bujuk Harold.
"Ya mas, aku ngerti kok." Maysa memahami itu dan mengeratkan pelukannya.
Harold juga melakukan hal yang sama, ia kecup seluruh inci wajah istrinya dan mengusap punggung serta puncak kepalanya. Perlakuan Harold begitu romantis, seolah menunjukkan bahwa pria itu amat mengkhawatirkan Maysa. Jujur Harold masih tak bisa melupakan kejadian tadi, dimana Rendy mengancam akan mengambil Maysa darinya.
"Aku sayang sama kamu, aku gak mau kamu kenapa-napa Maysa!" batin Harold.
Disaat mereka tengah asyik bermesraan, tiba-tiba Javier berdehem pelan menegur keduanya dan membuat sepasang suami-istri itu terkejut. Mereka sontak menoleh ke arah Javier, saat itu juga Harold terkejut melihat sosok wanita di sebelah adiknya.
"Ehem ehem!"
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1