
Maysa yang hendak kembali ke mejanya menemui Zanna, dibuat terkejut saat tiba-tiba tangannya dicekal dari belakang oleh seorang pria yang ternyata adalah Peter alias mantan kekasihnya. Maysa pun tampak ketakutan, ia berusaha berontak dari paksaan pria itu dan mengatakan padanya kalau saat ini dirinya sudah menjadi istri orang dan tak sepantasnya Peter melakukan itu padanya saat ini.
Namun, sepertinya Peter tak perduli dengan ucapan Maysa. Ya lelaki itu malah semakin menguatkan cengkeramannya pada lengan Maysa dan memaksa wanita itu untuk ikut dengannya, tentu saja Maysa tak mau dan berusaha berontak saat ini. Maysa juga berteriak memanggil sang pengawal yang ada di meja sana, sehingga Peter tampak ketakutan dan bingung harus berbuat apa nantinya.
"Hey hey, Maysa! Kamu jangan panggil pengawal kamu itu! Aku cuma mau bicara berdua sama kamu, gak lebih kok Maysa!" ucap Peter memohon.
Maysa tetap berteriak sembari meronta-ronta dari genggaman lelaki itu, sontak Peter yang panik akhirnya melepaskan tubuh Maysa karena tak ingin Theo atau orang-orang di restoran itu menghajarnya setelah dianggap ingin melukai Maysa. Teriakan Maysa itu pun didengar oleh Theo, ya tanpa berpikir panjang Theo bergerak cepat menghampiri mereka dan terlihat sangat panik dengan kondisi yang ada.
"Bu Maysa!" Theo berteriak dan berdiri tepat di hadapan Maysa serta Peter yang masih ketakutan.
"Theo, kamu urus orang ini dan bawa dia pergi dari sini! Saya gak mau ya kalau saya ketemu lagi sama dia, cepat Theo!" titah Maysa.
"Baik bu!" ucap Theo patuh.
Peter yang merasa cemas akhirnya berlari pergi dari sana agar tidak tertangkap oleh Theo yang memang ingin mengusirnya, tentu saja Theo tak tinggal diam dan langsung mengejar Peter sesuai perintah dari Maysa tadi. Theo juga tidak ingin jika Peter terus mengganggu bosnya, apalagi Maysa sudah menjadi istri dari Harold saat ini.
Sementara Maysa sendiri kini memutuskan kembali menghampiri Zanna yang masih setia duduk di meja menunggunya, ya Zanna memang belum mengerti apa yang terjadi dan hanya bisa diam sambil tersenyum menatap mamanya. Maysa pun terduduk di sebelah gadis itu, mengusapnya lembut dan mengecup puncak kepalanya.
"Maaf ya sayang, tadi mama lama pesannya! Zanna gapapa kan ditinggal sendiri? Bentar lagi juga steak nya datang tuh, ditunggu ya!" ucap Maysa.
"Iya ma, tapi tadi ada apa sih? Siapa laki-laki yang sama mama tadi?" tanya Zanna penasaran.
"Bukan siapa-siapa kok sayang, udah Zanna gausah mikirin soal itu ya! Mending dimakan nih es krimnya, enak kan?" ucap Maysa sambil tersenyum.
"Iya mama." Zanna mengangguk dan memakan es krim miliknya sampai belepotan.
Maysa pun tertawa melihat mulut putrinya yang terkena es krim itu, ia lalu mengusapnya lembut dan membuat Zanna ikut tersenyum ke arahnya. Momen sederhana seperti ini saja sudah berhasil membuat Zanna dan Maysa sama-sama bahagia, meski mereka belum mengetahui kabar mengenai Harold yang tertusuk saat dalam perjalanan itu.
"Ma, telpon papa dong! Aku kangen sama papa, pengen dengar suara papa!" pinta Zanna.
Maysa terkejut mendengarnya, ia sendiri juga masih merasa kesal dengan sikap Harold yang pergi secara tiba-tiba itu. Namun, tak mungkin juga Maysa menolak permintaan dari putrinya yang sepertinya amat merindukan papanya. Mau tidak mau, Maysa terpaksa menuruti saja kemauan Zanna dan coba menghubungi Harold.
"Iya deh, sebentar ya mama coba dulu?" ucap Maysa mengambil ponselnya dari dalam tas.
Disaat Maysa hendak menghubungi nomor suaminya, tanpa diduga Saskia justru lebih dulu menelponnya dan membuat Maysa merasa penasaran. Ya tidak biasanya memang Saskia menghubunginya seperti itu, Maysa pun khawatir jika terjadi sesuatu pada ibunya atau penyakit yang dideritanya kambuh kembali.
"Eee sebentar ya sayang, ini tante Saskia telpon. Mama angkat dulu ya?" ucap Maysa yang diangguki saja oleh Zanna.
Tanpa banyak berpikir lagi, Maysa segera mengangkat telpon tersebut dengan wajah panik karena mengkhawatirkan kondisi ibunya. Ya biar bagaimanapun, Maysa takut jika terjadi sesuatu pada sang ibu saat ini. Meski belakangan penyakit yang diderita ibunya itu tidak kambuh lagi, tetapi bukan berarti jika ibunya bisa terus baik-baik saja.
📞"Halo Saskia! Ada apa kamu telpon mbak? Ibu baik-baik aja kan?" tanya Maysa dengan panik.
📞"Mbak, gawat mbak! Kak Harold sekarang lagi dalam kondisi kritis, tadi dia ditusuk sama orang yang gak dikenal. Kalau mbak mau tahu lebih lanjut, susul kita aja ya ke rumah sakit citra kasih!" jelas Saskia.
Deg
__ADS_1
Betapa syoknya Maysa mendengar kabar yang diberikan Saskia itu, ia tak menyangka suaminya bisa ditusuk oleh seseorang yang entah siapa. Padahal, sebelumnya pria itu sudah pamit untuk pergi ke Kanada. Kini Maysa pun tampak keheranan, sekaligus cemas dan bingung harus menjelaskan bagaimana pada Zanna nantinya.
•
•
Sementara itu, Saskia masih terlihat begitu panik dan mencemaskan kondisi Harold yang tengah ditangani oleh dokter. Gadis itu terus mondar-mandir di depan ruang UGD sembari menggigit jarinya sendiri, ia sangat berharap jika Harold akan baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu setelah mengalami luka tusuk.
Dean pun tak kalah paniknya dengan Saskia, bahkan ia sampai melupakan rasa sakit akibat pukulan dari orang-orang tadi pada bagian tubuhnya. Ya Dean hanya mengkhawatirkan Harold saat ini, ia tak perduli dengan kondisi dirinya sendiri. Lagipula, kondisi Dean juga tidak terlalu buruk dan masih bisa dianggap baik-baik saja.
"Kak Dean, kenapa kakak gak mau diperiksa juga sih? Itu muka kakak aja luka-luka begitu loh, harus diobati biar gak infeksi!" ucap Saskia.
Dean menggeleng perlahan, "Gak perlu Saski, saya gapapa kok. Saya cuma mau tahu kondisi bos Harold sekarang, saya gak mau terjadi sesuatu sama bos Harold nantinya!" ucapnya dengan cemas.
"Tapi kak, kondisi kakak juga perlu dipikirin dong. Itu darahnya aja kemana-mana loh, pasti sakit kan!" ucap Saskia.
Pria itu malah tersenyum dan mendekati Saskia, ia berdiri tepat di sebelahnya sambil terus menggoda gadis itu yang sepertinya amat mencemaskannya. Saskia pun memalingkan wajahnya, merasa malu sekaligus heran. Dean memang senang sekali menggoda gadis itu, padahal kali ini ia sedang terluka parah dan harus segera diobati.
"Cie cie, kamu perduli banget ya sama saya? Sampe segitunya kamu cemasin saya, padahal saya udah bilang kalau saya gapapa. Emang ya yang namanya cinta selalu seperti ini?" goda Dean.
"Hah? Ngomong apa sih kamu? Aku tuh cuma gak mau aja kalau kamu pingsan nanti," elak Saskia.
"Nah iya, itu kan namanya perduli. Kamu mah ngelak mulu jadi orang, udah sih akui aja kalau kamu udah mulai sayang sama saya!" ucap Dean terkekeh.
"Sssttt, udah deh kamu diam dan jangan kege'eran jadi orang!" sentak Saskia.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang UGD tersebut dan menemui keduanya. Sontak baik Dean maupun Saskia sama-sama mendekati dokter itu, lalu menanyakan bagaimana kondisi Harold sekarang ini. Ya keduanya tampak begitu panik, bahkan sampai tidak bisa berkedip menantikan jawaban dari sang dokter.
"Dok, gimana kondisi kakak ipar saya? Dia baik-baik aja kan dok?" tanya Saskia dengan cemas.
"Iya dok, bos saya itu gak kenapa-napa kan? Ayo jawab dok, jangan diam aja! Dokter gak tahu apa, saya ini cemas banget loh!" sahut Dean.
"Sabar ya mas, mbak! Tadi memang kondisi pasien cukup kritis dan kehilangan banyak darah, tapi untungnya stok darah di rumah sakit ini masih tersedia sehingga kami bisa menyelamatkan pasien yang sekarang baik-baik saja," jawab dokter itu.
"Oh syukurlah, saya lega banget dengarnya dok! Terus apa sekarang kami bisa jenguk pasien dok?" ucap Saskia.
"Belum dulu ya, pasien masih membutuhkan istirahat yang cukup. Jika nanti sudah memungkinkan, maka akan kami informasikan lebih lanjut ya!" ucap dokter itu.
"Baik dok, terimakasih ya!" ucap Saskia merasa lega setelah Harold dalam kondisi baik-baik saja.
"Sama-sama mbak, mas. Kalo gitu saya mohon izin pamit, sekali lagi tolong dimengerti ya ucapan saya tadi!" ucap dokter itu.
Saskia dan Dean kompak mengangguk, sedangkan sang dokter pergi dari sana untuk menuju ruangannya. Sebenarnya mereka berdua ingin sekali menemui Harold saat ini, namun mereka juga tidak bisa memaksa jika dokter belum mengizinkan. Bagaimanapun, mereka harus bisa memahami ucapan dokter itu dan tidak boleh membantah.
"Ah elah! Kenapa sih kita gak boleh jenguk bos Harold secara langsung di dalam? Saya ini kan cemas banget sama bos Harold!" ucap Dean kesal.
__ADS_1
"Sabar dong kak! Nanti juga kalau kondisi kak Harold udah mendingan, kita pasti boleh masuk ke dalam kok. Lagian mending sekarang kamu obatin tuh luka kamu deh!" ucap Saskia.
"Enggak ah, saya gak mau. Kecuali kamu yang obatin luka saya ini," ucap Dean terkekeh.
Saskia terkejut dengan ucapan pria itu, tentu saja ia menolak dan tidak ingin melakukan apa yang diinginkan Dean barusan. Lagipula, mereka sekarang tengah berada di rumah sakit dan ada orang yang lebih mengerti untuk mengobati luka tentunya. Namun, sepertinya Dean tidak ingin melakukan itu dan hanya mau bersama Saskia seorang.
"Apaan sih kak? Udah deh gausah ngaco ngomongnya, mending kamu berobat sana biar lukanya gak tambah parah!" ucap Saskia.
"Kan saya udah bilang, saya maunya diobatin sama kamu bukan yang lain Saski," ucap Dean tegas.
Gadis itu menggeleng saja dengan apa yang diucapkan Dean barusan, rasanya ia benar-benar heran mengapa Dean sampai berbuat seperti itu. Kini Saskia memilih duduk di kursi yang tersedia, sedangkan Dean tersenyum saja melihatnya dan ikut terduduk di samping Saskia yang memang sangat ia kagumi itu.
•
•
Saat ini Javier masih bersama Mawar di dalam apartemennya, keduanya tampak menikmati santap siang yang sebelumnya dibelikan oleh pria itu. Entah mengapa, belakangan ini Mawar justru merasa kesulitan setiap kali hendak pergi dari Javier. Padahal, seharusnya Mawar tidak terus-terusan berada disana bersama Javier yang bukan merupakan siapa-siapanya.
Ya sikap manis yang diberikan Javier padanya, seolah-olah berhasil membuat Mawar merasa tergoda dan tidak dapat berpaling darinya. Bahkan, kini wanita itu terus merasa ingin berada di dekat Javier. Mawar sendiri juga bingung apa yang terjadi pada dirinya, karena sebelum ini ia berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan terpancing dengan godaan yang diberikan Javier.
"Kenapa kamu ngelirik-lirik saya kayak gitu? Mulai sadar ya kalau saya ini tampan dan cocok untuk jadi pasangan kamu?" tanya Javier menggodanya.
Sontak Mawar terkejut dan terbatuk-batuk dibuatnya, ia spontan memalingkan wajahnya karena merasa malu setelah dipergoki oleh pria itu. Tentu saja Mawar tampak gugup saat ini, apalagi Javier terus saja menggodanya. Sepertinya Javier memang menyadari kalau sedari tadi Mawar terus memandang ke arahnya, terbukti sekarang ini Javier tak henti-henti menggoda dirinya.
"Saya tahu kamu udah mulai ada rasa sama saya, jadi sebaiknya kamu gak perlu sembunyikan itu lagi dari saya, Mawar! Saya suka kok kalau kamu mau mengakui semua itu di depan saya," ucap Javier.
"Maaf kak, tapi kayaknya kakak salah sangka deh! Saya gak pernah tuh menyimpan rasa suka sama kakak, malahan yang ada itu rasa benci!" ucap Mawar dengan nada ketusnya.
"Hahaha, masa sih? Kalau emang kamu benci sama saya, terus kenapa kamu masih setia tinggal disini nemenin saya?" tanya Javier.
Deg
Mawar terdiam saat itu juga, ia bingung harus menjawab apa dan tidak tahu apa alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Javier. Pasalnya, Mawar sendiri juga tak tahu mengapa ia masih bertahan di apartemen itu. Mawar pun hanya bisa menunduk lesu, karena Javier yang terus saja menatap ke arahnya dan menggodanya.
"Kalau kamu diam aja kayak gitu, tandanya kamu emang beneran suka dong sama saya. Ayo, akui aja dong Mawar!" ucap Javier.
"Hah? Kakak kenapa bisa sepede itu sih jadi orang? Siapa juga coba yang mau suka sama laki-laki mesum kayak kakak? Mending kakak mikir deh!" ucap Mawar mengelak.
"Ya justru itu Mawar, saya udah mikir kok ini. Saya tahu kamu itu suka sama saya," goda Javier.
Merasa kesal karena terus digoda oleh pria itu, Mawar pun beranjak dari kursinya dan hendak pergi membawa makanannya. Namun, Javier tak semudah itu membiarkan Mawar pergi dan langsung mencekal lengannya. Ya tentu Javier ingin Mawar tetap disana, menemaninya sampai makan siang mereka berdua selesai nanti.
"Mau kemana sih Mawar? Udah lah kamu disini aja deh, makan bareng sama saya dan gausah ngada-ngada mau pergi segala! Apa karena kamu malu ya saya godain terus?" ucap Javier.
Mawar dengan cepat memalingkan wajahnya, lalu menghentak tangannya lepas dari cengkraman pria itu. Javier pun tahu kalau saat ini Mawar tengah emosi, untuk itu ia coba membujuk wanita itu agar tidak terus marah-marah seperti sekarang ini.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...