Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Pengakuan Dean


__ADS_3

Dean kini sudah berada di depan ruangan Mira dan bersiap menemui wanita itu, rencananya kali ini Dean akan membongkar semua kebusukan Mira serta mengatakan siapa dirinya di hadapan wanita itu secara langsung. Semua bukti yang ia dapatkan sudah cukup, kini saatnya bagi Dean untuk mengungkap semua dan menangkap Mira agar bisa diserahkan kepada Harold lalu diadili disana.


Tanpa basa-basi lagi, Dean segera mengetuk pintu dan meminta untuk masuk ke dalam. Mira yang tengah terduduk santai dibuat terkejut dengan suara ketukan itu, ia persilahkan saja Dean masuk karena merasa penasaran dengan pria itu. Begitu Dean membuka pintu, sontak Mira semakin heran dan menatap ke arah pria itu dengan wajah bingung disertai dahi yang mengernyit.


"Permisi bu, saya mau bicara empat mata dengan ibu!" ucap Dean setelah berada tepat di hadapan Mira dan membuat wanita itu tak berkutik.


Kini Mira tampak bingung harus berkata apa, ia persilahkan saja Dean untuk duduk karena heran mengapa pria itu tiba-tiba datang dan berkata ingin bicara berdua dengannya. Saat ini sebenarnya masih masuk waktu kerja, sehingga Mira begitu jengkel ketika tahu Dean lah yang datang dan bolos dari jam kerjanya dengan alasan ingin menemui dirinya.


"Alvin, kenapa kamu—"


"Bukan Alvin, bu. Saya Dean, Dean Henderson!" Dean lebih dulu menyela dan mengatakan siapa dirinya sebenarnya.


Mira yang mendengar itu terlihat semakin bingung dan tak mengerti, ia geleng-geleng kepala seolah tak mempercayai perkataan pria tersebut. Dari yang ia tahu, nama Dean Henderson dimiliki oleh orang kepercayaan Harold yang merupakan sang bos besar di proyek itu. Namun, Mira tak mungkin percaya jika pria di depannya adalah orang itu.


"Maksud kamu apa? Jadi sebenarnya siapa nama kamu, ha? Kenapa kamu bikin saya pusing kayak gini sih? Kalau kamu gak niat magang disini, lebih baik kamu keluar aja!" sentak Mira.


"Tenang bu, saya punya bukti kok untuk itu!" ucap Dean dengan santai.


Kembali Mira mengernyitkan dahinya pertanda bahwa ia makin bingung dengan apa yang dikatakan Dean, lalu Dean mengeluarkan sebuah kartu nama miliknya dan menyerahkannya secara langsung kepada Mira disana. Sontak Mira syok bukan main, wanita itu menganga dan reflek menutupi mulutnya serta menatap tajam wajah pria di depannya.


"A-apa ini? Ka-kamu??" Mira sampai tak berkutik dan begitu bingung harus bicara bagaimana.


Dean tersenyum menyeringai, "Ya benar, bu Mira yang terhormat. Saya ini Dean Henderson, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan tuan Harold Vincenzo selaku pemilik sah proyek ini," jelasnya.


"Ta-tapi, apa yang—"


"Saya kesini atas perintah tuan Harold untuk mencari tahu apa penyebab mangkirnya proyek ini, dan sekarang saya sudah mengetahui semuanya. Ibu Mira lah yang ada di balik ini semua, saya sebentar lagi akan melaporkan ibu ke tuan Harold!" sela Dean.


Mira menggeleng cepat, "Tidak, ka-kamu tidak boleh lakukan itu! Kamu salah paham Dean, saya ini cuma menjalankan perintah dari pak mandor. Kalau kamu mau cari penyebabnya, mandor tua itulah orang yang harus kamu salahkan!" ucapnya gugup.


"Sama saja bu, ibu Mira pun sudah melakukan hal yang tidak benar selama saya disini. Jadi, ibu juga akan saya laporkan!" ucap Dean.


"Ja-jangan Dean, saya mohon jangan! Saya gak mau masuk penjara, kamu ngertiin posisi saya dong! Saya ini cuma menjalankan perintah, saya terpaksa melakukan ini semua," ucap Mira.


"Masa sih? Bukannya ibu sendiri bangga ya melakukan itu, hm?" goda Dean.


Deg


Mira terdiam tak berkutik, bahkan untuk sekedar menelan salivanya saja sulit dan Mira benar-benar bingung harus menjawab apa.




Disisi lain, Maysa tiba di rumah sakit tempat ibunya dirawat setelah diberitahu oleh Saskia sebelumnya. Maysa tampak sangat khawatir, cepat-cepat ia pergi menuju ruangan ibunya bersama Harold yang setia menemani. Bagaimanapun, Harold tak ingin meninggalkan Maysa karena dia juga tak kalah cemas dengan wanita itu saat ini.


Mereka pun berhasil menemukan ruang rawat Melinda, terlihat Saskia tengah berdiri seorang diri disana dan tampak begitu cemas. Tanpa banyak berpikir lagi, Maysa serta Harold bergegas mendekat ke arah Saskia dan menyapanya. Maysa ingin segera mengetahui bagaimana kondisi ibunya, sebab ia amat mencemaskan sang ibu.


"Saskia, Saskia!" Maysa langsung memanggil adiknya dan berhenti tepat di dekat gadis itu.

__ADS_1


Sontak Saskia menoleh ke arahnya, kemudian reflek memeluk kakaknya untuk menyalurkan kesedihan yang sedari tadi ia rasakan. Saskia menangis terisak di dalam pelukan kakaknya, tampak gadis itu benar-benar bersedih dan ketakutan. Pasalnya, kondisi Melinda tadi sangat memburuk dan Saskia khawatir jika terjadi sesuatu pada ibunya.


"Mbak, ibu mbak! Ibu kritis lagi, aku takut banget ibu kenapa-napa, mbak! Aku gak sanggup kalau harus kehilangan ibu, aku masih mau ibu ada di sisi aku!" ucap Saskia sambil terisak.


"Hus, jangan bicara begitu Saskia! Kamu harus yakin kalau ibu akan sembuh!" tegur Maysa.


"I-i-iya mbak, tapi aku khawatir banget sama ibu! Tadi ibu kelihatan kesakitan banget, aku gak mau ibu terluka mbak!" ucap Saskia.


"Kamu tenang ya Saskia, aku yakin kok kondisi ibu pasti bakal membaik!" ucap Maysa.


Maysa terus berusaha meyakinkan adiknya kalau ibu mereka pasti akan baik-baik saja, tetapi sepertinya Saskia tidak bisa tenang begitu saja sebelum dia tahu langsung mengenai kondisi ibunya. Saskia amat bersedih dan tak bisa berhenti menangis, bahkan meski Maysa telah mengusapnya dan memberi pelukan hangat untuknya.


"Saskia, kamu jangan sedih terus ya! Bu Melinda pasti akan baik-baik aja, aku janji sama kamu kalau ibu kamu itu akan mendapat perawatan yang paling baik disini!" ucap Harold.


Gadis itu kini beralih menatap Harold, isakan tangisnya masih sulit untuk dihilangkan mengingat ia begitu cemas dengan kondisi sang ibu. Namun, perlahan Saskia mulai bisa menenangkan diri dan mendoakan kesembuhan ibunya. Apalagi, ada Maysa disana yang juga terus berusaha membuat adiknya itu merasa tenang.


"Eee kalo gitu aku mau urus semua administrasinya ya? Kamu disini aja temenin Saskia, mungkin sebentar lagi dokter akan keluar!" ucap Harold.


Maysa mengangguk saja, sedangkan Harold langsung berbalik dan pergi menuju meja administrasi untuk mengurus seluruh biaya pengobatan Melinda. Maysa pun tetap berada disana bersama adiknya, ia merangkul Saskia sembari mengusap lembut bahunya agar gadis itu dapat ditenangkan olehnya.


Tak lama kemudian, dokter muncul dari dalam ruang rawat itu dan membuat kedua wanita tersebut merasa antusias. Maysa serta Saskia sontak bangkit, lalu menghampiri dokter untuk menanyakan mengenai kondisi ibu mereka. Keduanya tampak begitu cemas dan ingin segera mengetahui apa yang terjadi pada ibu mereka saat ini.


"Ah dok, gimana kondisi ibu kami dok? Beliau baik-baik aja kan?" tanya Maysa begitu cemas.


"Umm, kamu yang sabar ya! Kondisi pasien sekarang sedang dalam masa kritis, kalian sebaiknya banyak-banyak berdoa saja untuk kesembuhan pasien!" jawab dokter itu.


"Apa??" Maysa dan Saskia kompak terkejut.




Akhirnya Harold terpaksa mengurungkan niatnya, lalu meladeni Clara sejenak disana karena penasaran apa yang hendak dilakukan wanita itu. Clara pun berhenti tepat di dekatnya, sehingga Harold semakin dibuat heran. Entah apa maksud dari Clara hadir disana, sebab wanita itu tidak terlihat sedang sakit atau terluka.


"Hai Harold! Kamu lagi apa disini? Kamu sakit atau justru Zanna yang sakit ya?" tanya Clara tampak mencemaskan putrinya.


Harold menggeleng perlahan, "Bukan, yang sakit itu ibu mertua aku. Kamu sendiri ngapain ada di rumah sakit ini, hm? Apa jangan-jangan kamu ngikutin saya ya?" ucapnya.


"Hadeh, pikiran kamu itu cetek banget sih Harold! Aku itu kesini karena ada urusan lain, kurang kerjaan banget aku ngikutin kamu!" elak Clara.


"Oh gitu, yaudah saya mau ke ruang rawat bu Melinda dulu. Kamu urus aja urusan kamu, gausah ikut campur lagi ke dalam urusan saya! Kamu tahu kan, saya paling gak suka kalau ada orang asing kepo sama urusan saya!" ucap Harold tegas.


"Galak banget sih kamu Rold, padahal aku ini masih ibunya Zanna loh. Masa kamu anggap aku orang asing sih?" ucap Clara.


Harold hanya menghela nafasnya kali ini, ia sudah tak memiliki banyak waktu untuk meladeni sikap aneh Clara. Harold pun hendak melangkahkan kakinya, tetapi lagi-lagi Clara menahannya dan malah mencekal lengannya. Tentu saja Harold tampak kesal, terlebih Clara dengan berani menyentuh lengannya tanpa seizin darinya.


"Harold tunggu!" ucap Clara seraya menggenggam erat lengan pria itu.


Tindakan Clara membuat Harold merasa jengkel dan menggeram kesal, ia tatap wajah wanita itu dengan tajam seolah meminta Clara melepaskan pegangan tangannya. Sontak Clara spontan menuruti kemauan Harold, karena dia tidak mau jika Harold sampai emosi dan terjadi pertengkaran diantara mereka yang bisa berakibat buruk nanti.

__ADS_1


"Kamu itu mau apa lagi sih, hm? Saya bilang kamu jangan ikut campur urusan saya, jadi sebaiknya kamu pergi dari sini!" ucap Harold penuh emosi.


"Aku cuma mau ikut sama kamu buat jenguk ibu mertua kamu itu Rold," ucap Clara.


"Untuk apa kamu ngelakuin itu? Paling kamu cuma mau cari gara-gara nanti disana, saya gak akan izinin kamu buat ikut sama saya!" tolak Harold.


"Enggak Rold, aku serius mau jenguk ibu mertua kamu. Ayolah, bolehin aku ya!" bujuk Clara.


Harold menggeleng saja sembari mengusap wajahnya, ia kemudian mencengkram kuat lengan Clara dan menariknya secara paksa. Clara terkejut dengan hal itu, apalagi Harold membawanya pergi ke luar dari rumah sakit. Tampaknya Harold sudah benar-benar emosi, sebab kelakuan Clara yang selalu saja menyusahkan dirinya.


"Rold, kamu apa-apaan sih? Lepasin aku ah, kamu gak bisa dong usir aku kayak gini! Ini kan rumah sakit umum, jadi terserah aku dong mau disini atau enggak!" rengek Clara.


"Diam kamu Clara!" sentak Harold.




Javier terpaksa harus terus berada di apartemennya saat ini, karena ia tak mau jika Mawar melarikan diri dari sana dan meninggalkannya. Bagaimanapun, Javier tidak ingin kehilangan Mawar dan merasa sangat membutuhkan wanita itu. Sejak Mawar ada disana, hidup Javier jauh lebih mudah dan tentu saja Javier ingin terus semua berjalan seperti itu.


Mawar pun tidak bisa pergi kemana-mana dengan adanya sosok Javier disana, setiap kali ia hendak beranjak dari sofa pasti pria itu selalu saja menghadangnya. Mawar kini tak tahu lagi harus melakukan apa untuk bisa lepas dari cengkraman Javier, karena jujur Mawar sudah tidak tahan jika terus berada disana bersama pria itu.


"Kak, ayolah bolehin aku kerja malam ini aja ya! Aku butuh banget pekerjaan ini, kalau aku gak kerja-kerja nanti yang ada aku bisa dipecat. Kamu ngertiin dong kondisi aku, kak!" ucap Mawar membujuknya.


Rengekan Mawar itu tidak didengar oleh Javier, ya tentu karena Javier tak akan pernah mengizinkan Mawar keluar dari apartemennya. Javier terlalu takut untuk kehilangan Mawar, sebab pria itu sudah terlanjur sayang dan cinta padanya. Javier sendiri tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, namun ia hanya ingin Mawar ada di dekatnya.


"Kamu kenapa diam aja sih kak? Kamu dengerin aku ngomong enggak sih?" tanya Mawar tampak kesal.


Javier pun beralih menatap gadis itu, senyum terpampang di pipinya dan satu tangannya bergerak mengusap wajah cantik Mawar saat ini. Javier juga menggeser posisi duduknya, menatap wajah Mawar dari dekat sambil terus tersenyum. Degup jantung Mawar berdetak lebih kencang, terlebih posisi mereka yang hampir tidak ada jarak.


"Aku gak akan pernah biarin kamu keluar dari apartemen ini Mawar, walau sebentar. Kamu cuma boleh keluar atas seizin aku, dan dengan aku. Kalau kamu terus maksa, aku gak akan segan-segan untuk hukum kamu malam ini!" ucap Javier tegas.


"Apa sih kak? Kenapa kamu jadi larang-larang aku kayak gini coba? Kamu itu bukan siapa-siapa aku, kamu gak ada hak buat larang aku!" kesal Mawar.


"Mawar!" Javier mencengkram rahang gadis itu dengan kuat dan menatap tajam wajahnya.


"Mmhhh.." Mawar terlihat kesulitan untuk bergerak atau sekedar berontak, karena cengkraman Javier yang begitu kuat.


"Kamu dengerin aku ya Mawar, kamu itu sekarang udah jadi milik aku! Apapun yang aku katakan, kamu harus nurut! Jika tidak, maka kamu akan mendapat akibatnya!" sentak Javier.


Deg


Mawar terbelalak lebar mendengar perkataan Javier barusan, ia sungguh tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Sikap Javier benar-benar berbeda, sehingga membuatnya amat ketakutan dan tak bisa bersikap tenang. Mawar sangat khawatir jika Javier akan melakukan hal yang tidak benar, apalagi ia tahu Javier selalu menginginkan itu.


"Sekarang kamu nurut sama aku, kamu tetap disini dan kita habiskan malam yang indah ini bersama!" ucap Javier tepat di telinga gadis itu.


Tubuh Mawar meremang seketika, hembusan nafas Javier amat terasa di kulitnya saat pria itu dengan sengaja mengecup telinganya. Mawar tak tahu harus berbuat apa, bahkan tubuhnya pun tidak bisa diajak berkompromi saat ini.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2