
Pagi ini, Maysa dan Harold bangun dalam kondisi yang lebih ceria dibanding biasanya. Ya tentu saja karena semalam mereka baru melaksanakan sesi malam pertama mereka dengan sangat nikmat dan memuaskan, meski sebelumnya mereka memang sudah sering melakukan itu. Bahkan, tadi Harold juga mengajak Maysa untuk mandi bersamanya sembari melanjutkan ronde berikutnya yang membuat Maysa sedikit kewalahan.
Kini Maysa yang sudah selesai membersihkan tubuhnya, berniat untuk menyiapkan sarapan bagi suami serta putrinya itu. Ia langsung menuju dapur, lalu segera mengumpulkan bahan-bahan makanan yang ada disana untuk dimasak. Ia kembali meminta pada pelayan di rumah itu agar tidak ikut campur, sebab ia ingin memberi makan suaminya dengan masakan hasil tangannya sendiri.
Sementara Harold ditugaskan untuk membangunkan Zanna yang tertidur di kamar seorang diri, tentunya Harold tak mungkin mengizinkan Zanna tidur bersama mereka semalam. Bisa saja malam indah dirinya dan sang istri terhambat karena gadis itu, tetapi untungnya Zanna mau mengerti dan menurut pada perkataan papanya itu.
Setelah berhasil membangunkannya, Harold segera membawa Zanna ke dapur menemui Maysa yang sedang asyik memasak. Pria itu tampak tersenyum bahagia begitu melihat istrinya di depan sana, tampilan Maysa terlihat begitu cantik saat tengah mengenakan celemek seperti itu. Apalagi, kini Maysa juga mengikat rambutnya yang membuat wanita itu semakin nampak cantik di matanya.
"Pa, aku mau makan es krim dong!" pinta Zanna pada papanya dengan nada manja.
Harold sampai terbelalak mendengar permintaan putrinya yang tidak masuk akal itu, tentu saja Harold tidak akan mengizinkan Zanna mengonsumsi es krim di pagi hari seperti ini. Harold pun coba memberi pengertian pada putrinya itu, agar Zanna tak lagi memaksa untuk memakan es krim.
"Sayang, gak baik tau makan es krim pagi-pagi begini! Dulu papa punya teman yang suka makan es krim pas pagi, eh gak lama dia masuk rumah sakit," ucap Harold tersenyum.
Zanna mengernyitkan dahinya begitu mendengar perkataan sang papa, "Kok bisa pa? Itu gara-gara makan es krim pas pagi?" tanyanya penasaran.
"Ya enggak sih, dia jatuh ke selokan terus kakinya terkilir. Makanya dia dibawa ke rumah sakit buat diperiksa," jawab Harold sambil terkekeh.
"Papa ih!!"
Zanna merasa kesal dan memukul lengan papanya untuk melampiaskan kekesalan setelah dikerjai oleh papanya itu, sedangkan Maysa yang mendengar semuanya terkekeh saja sembari meneruskan aktivitas memasaknya. Maysa merasa senang melihat kemesraan antara Harold dan Zanna disana, apalagi mereka terlihat begitu bahagia saat ini.
Akhirnya Zanna tidak lagi meminta es krim, setelah Maysa turun tangan dan memberitahu pada Zanna bahwa hal itu tidak baik. Ya sepertinya saat ini Zanna lebih menurut dan mendengarkan ucapan Maysa, dibanding papanya sendiri. Namun, Harold tetap bangga pada istrinya itu karena berhasil membuat Zanna patuh hanya dengan sekali bicara.
Setelah masakannya selesai dibuat, Maysa bersama para pelayan pun membawakan makanan itu ke atas meja makan tempat dimana Harold dan Zanna berada. Kini Maysa ikut bergabung bersama mereka dengan duduk disana, bersiap-siap untuk melakukan sarapan bersama-sama di pagi yang cerah ini.
"Nah, Zanna lapar kan? Zanna mau dong makan masakan mama ini? Semuanya khusus buat Zanna loh sayang," ucap Maysa.
"Waahhh, iya aku mau ma. Ini sih semuanya pasti kerasa enak banget deh!" ujar Zanna.
Maysa kini menuangkan nasi serta lauk pauk yang sudah ia siapkan itu ke dalam piring, lalu memberikannya pada Zanna dan juga Harold yang ada di sebelahnya. Ketiganya sama-sama menikmati sarapan itu dengan lahap, sebab masakan buatan Maysa memang paling jawara.
•
•
Setelah selesai menikmati sarapan bersama, Harold bersiap mengantarkan putrinya itu ke sekolah mengingat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh dan sebentar lagi sekolah akan segera dimulai. Zanna juga sudah tampak rapih dengan baju seragam yang dikenakannya, dan Harold pun telah bersiap untuk mengantar Zanna menggunakan mobilnya sampai ke depan gerbang sekolah.
Sementara Maysa memilih menetap di rumah sambil membantu para pelayan disana membereskan rumah itu, ya Maysa juga memang masih sedikit lemas akibat aktivitas yang ia lakukan semalam bersama sang suami. Harold memahami hal itu, sehingga Harold membujuk Zanna agar mau pergi ke sekolah tanpa Maysa. Untungnya, Zanna mau mendengarkan dan tidak merengek pada Maysa untuk memintanya ikut mengantar.
Setelah Harold dan Zanna pergi ke sekolah, kini Maysa bergegas pergi menuju dapur untuk membereskan sisa-sisa masakannya. Akan tetapi, begitu sampai disana ia malah melihat bahwa dapur sudah dalam kondisi bersih dan kinclong karena para pekerja yang melakukan tugas mereka dengan benar. Maysa pun diminta duduk santai saja di kamarnya, karena pasti Harold juga tidak akan mengizinkannya melakukan apapun.
Akhirnya Maysa pergi ke depan dan bersantai di sofa sembari memainkan ponselnya, ia terduduk disana dengan punggung bersandar dan coba menikmati indahnya hidup mewah. Maysa memang menginginkan semua ini, tetapi ia tak menyangka kalau ia bisa mendapatkannya hanya karena ia menikah dengan lelaki kaya raya seperti Harold. Namun, ia tetap bangga sebab memiliki suami seperti Harold bukanlah sesuatu yang mudah.
TOK TOK TOK....
Tiba-tiba saja, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar yang membuat Maysa terkejut dan mengganggu momen istirahatnya. Maysa pun tak memiliki pilihan lain, ia terpaksa beranjak dari sofa lalu pergi ke depan untuk mencari tahu siapa yang datang. Tidak mungkin ia mengandalkan pelayan disana untuk melakukan itu, karena jika hanya sekedar mengecek para tamu ia pun bisa melakukannya.
"Iya sebentar." wanita itu bersuara seraya melangkah mendekati pintu, satu tangannya bergerak membuka kenop dan menemui sosok tamu yang hadir.
Matanya langsung terbelalak begitu melihat seorang pria berkumis berdiri di hadapannya dan memandangnya dengan senyuman lebar, Maysa cukup syok karena ini kali pertama baginya melihat sosok lelaki seperti itu. Ia tak mengenali siapa pria tersebut, tetapi kemudian lelaki itu menyodorkan tangan ke arahnya dan menyapa Maysa.
"Ah, halo nona cantik! Perkenalkan, saya Mario rekan Harold yang baik hati dan tidak sombong! Saya dan Harold sudah berteman cukup lama, kami juga sering berbagi tubuh wanita. Apa kamu ini termasuk salah satu simpanan dia?" ucap lelaki itu.
Deg
Betapa terkejutnya Maysa saat mendengar itu, mulutnya menganga lebar seolah tak percaya jika Harold bisa berteman dengan lelaki mesum dan mata keranjang seperti Mario itu. Ingin sekali rasanya Maysa menampar lelaki tersebut karena sudah merendahkannya, namun ia harus tetap sabar karena bagaimanapun Mario adalah teman Harold yang tidak boleh ia sakiti.
"Maaf tuan, sepertinya anda salah sangka! Saya ini bukan wanita simpanan mas Harold, lagipun mas Harold kan sudah lama bercerai. Jika anda memang benar temannya, mengapa anda tidak tahu soal itu?" ucap Maysa mencoba tetap tenang.
__ADS_1
"Owh, saya tahu itu kok. Dia sudah menceritakan semuanya ke saya, kecuali mengenai siapa kamu. Jadi, apa kamu bisa mengenalkan diri kamu cantik?" ucap Mario dengan senyum menggoda.
"Ya, saya Maysa. Saya ini bukan wanita simpanan seperti yang anda katakan tadi, justru saya adalah istri sah dari mas Harold. Anda sebaiknya berpikir kembali, sebelum anda melakukan tindakan yang tidak benar disini!" geram Maysa.
Mario terbelalak mendengarnya, "Waw! Benarkah itu? Kamu istri sah Harold? Masa sih, selera Harold kok serendah ini?" ujarnya meledek.
Lagi dan lagi, ucapan Mario benar-benar berhasil memancing amarahnya. Maysa tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak emosi, ia langsung saja mengusir Mario dari rumah itu dan memintanya pergi. Namun bukannya menurut, Mario justru bergerak maju mendekati Maysa dan hendak mencengkram kedua tangannya.
"Anda sebaiknya pergi dari sini, tuan! Anda tidak akan bisa selamat, jika anda berhadapan langsung dengan suami saya!" ancam Maysa.
"Ayolah penghibur, kamu tidak usah berkhayal seperti itu! Tidak mungkin Harold teman saya yang berwibawa itu, menikah dengan wanita rendahan seperti kamu. Sekarang kamu ikut saya, karena saya juga ingin mencicipi tubuh kamu!" ujar Mario.
"Apa??" Maysa terkejut bukan main, ia menggeleng keras seraya berontak dari cengkraman itu.
"Ya Maysa yang cantik, Harold pasti tidak akan keberatan kalau saya mencicipi satu wanita penghiburnya ini!" kekeh Mario.
"Cih, jangan kurang ajar ya anda!" sentak Maysa.
Dengan keberanian yang sedari tadi ia kumpulkan, Maysa akhirnya berhasil melepaskan diri dan malah mendorong tubuh lelaki itu hingga runtuh terjatuh ke belakang. Maysa pun tersenyum puas melihatnya, ia langsung memanggil para pengawal di rumah itu dan meminta mereka mengusir Mario dari sana.
Mario tentu coba berontak dari tangkapan para bodyguard tersebut, tetapi usahanya tidak berhasil karena ia kalah jumlah. Mario pun dibawa pergi ke luar dari area rumah itu, serta tidak diizinkan lagi untuk masuk kesana atas perintah dari Maysa selaku nyonya Harold yang berkuasa disana.
"Maysa!"
Baru saja Maysa hendak masuk ke dalam, lagi-lagi ada yang datang menyapanya dan membuat wanita itu mengurungkan niatnya. Maysa pun menoleh ke asal suara, kemudian melihat Javier yang baru datang dengan wajah kebingungan. Tampaknya, Javier tahu soal Maysa yang mengusir Mario dari rumahnya itu tadi.
"May, ada apa sih? Aku dengar ada keributan tadi, kamu diganggu sama orang?" tanya Javier penasaran.
Maysa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, "Ah enggak, cuma ada masalah sedikit kok. Tapi, aku udah berhasil atasin itu. Kamu gak perlu khawatir Vier!" jawabnya santai.
"Oh syukurlah, tapi lain kali kamu harus hati-hati ya Maysa!" ucap Javier yang kemudian diangguki oleh Maysa dengan cepat.
"Vier, ayo kita masuk! Kakak kamu lagi antar Zanna ke sekolah, kalau kamu mau ketemu sama dia kamu bisa tunggu di dalam!" ajak Maysa.
"I-i-iya May, tapi sebenarnya aku kesini karena mau ketemu sama kamu," ucap Javier gugup.
Maysa sungguh terkejut mendengarnya, ia merasa takut jika hanya akan berduaan dengan Javier di dalam rumahnya. Ia tahu Javier adalah adik iparnya, tetapi rasanya saat ini ia dapat merasakan hawa aneh dari tatapan Javier kepadanya. Seakan-akan, ada yang sedang disembunyikan oleh lelaki itu.
•
•
Harold dan Zanna tiba di sekolah kali ini, mereka pun turun dari mobil dengan Harold yang terus saja menggenggam telapak tangan putrinya. Harold begitu sayang dan perduli pada putrinya itu, sehingga ia tak mau melepaskan Zanna walau sedetik saja. Bagi Harold, gadis mungil itu adalah segalanya dan ia tidak akan mungkin bisa hidup tanpa Zanna atau berpisah darinya saat ini.
Disaat mereka hendak melangkah, tanpa diduga Clara datang kesana menghampiri mereka dan menyapa putrinya yang ada di sebelah Harold itu. Sontak Harold terkejut, sekaligus ia tak menyangka jika Clara akan datang juga ke sekolah putrinya itu. Sepertinya Clara memang sudah menunggu momen ini, agar bisa bertemu kembali dengan putrinya dan melepas rindu yang selama ini ia pendam.
"Zanna, ya ampun sayang mama kangen banget sama kamu! Zanna kenapa gak mau tinggal sama mama aja sih? Kan lebih enak loh sayang, kamu juga bisa dapetin apa yang kamu mau!" ucap Clara.
"Enggak ma, aku lebih suka tinggal sama papa dan mama Maysa!" ujar Zanna.
"Tapi sayang, mama kamu itu ya cuma mama. Gak ada mama lain yang bisa sayang sama kamu seperti mama," ucap Clara.
"Mama Maysa juga sayang sama aku kok ma, ya kan pa?" ucap Zanna dengan senyum lebarnya.
"Iya sayang, bener banget itu. Justru mama Clara ini yang gak tahu deh beneran sayang sama kamu, atau justru cuma kebohongan belaka," kekeh Harold.
"Mas, maksud kamu apa?" geram Clara.
Tampaknya Clara tak terima dengan apa yang Harold ucapkan barusan, wanita itu langsung berdiri menatap tajam ke arah Harold sembari mengepalkan dua tangannya. Namun, Harold hanya bersikap santai saja menghadapi kemarahan Clara di depan putrinya saat ini.
__ADS_1
"Loh, apa yang aku bilang gak salah kan? Belum tentu kamu beneran sayang sama Zanna, bisa aja selama ini kamu cuma pura-pura!" ucap Harold.
Clara menggeleng kuat, "Aku gak begitu ya mas, aku ini tulus sayang sama Zanna. Aku kan ibu kandungnya, justru kamu harus waspada sama orang lain yang pura-pura perduli sama Zanna padahal dia cuma incar harta kamu!" ujarnya.
Harold terkekeh saja mendengarnya, ia tahu Clara sedang coba menjelekkan Maysa di depannya. Tapi tentu saja tak semudah itu bagi Harold untuk terpengaruh oleh ucapan mantan istrinya itu, karena ia lah yang lebih tahu mengenai Maysa dan menurutnya Maysa bukan tipe wanita seperti yang dikatakan oleh Clara barusan.
Kini Harold tampak melangkah mendekati Clara, satu jarinya menunjuk ke wajah Clara disertai tatapan tajam pertanda emosi. Jantung Clara berdetak lebih kencang dari biasanya, wanita itu merasa ketakutan saat Harold sudah semakin dekat dengannya saat ini.
"Dengar ya Clara, sekeras apapun kamu mencoba untuk pengaruhi saya, saya tidak akan pernah terkena dengan kata-kata omong kosong kamu itu!" ucap Harold tegas.
Clara hanya bisa diam kali ini, ia coba mengalihkan perhatian pada Zanna dan fokus menatap gadis itu untuk berusaha membujuknya. Hingga kini Clara masih tak rela jika Zanna tinggal dan lebih dekat dengan Maysa, ia mau Zanna hanya akrab dengannya dan tinggal bersamanya.
"Zanna, kamu ikut mama aja ya sayang! Mama janji akan lebih perhatian ke kamu setelah ini, mama juga bakal bawa kamu jalan-jalan loh!" bujuk Clara.
Namun, usaha Clara sia-sia saja lantaran Zanna tetap memilih untuk tinggal bersama papanya. Memang selama Zanna bersama sang mama, ia selalu merasa kesepian karena Clara yang sibuk dengan urusannya sendiri. Bahkan, kerap kali Zanna ditinggal begitu saja saat Clara sedang ada urusan yang menurutnya lebih penting dari gadis itu.
•
•
Waktu pulang sekolah telah tiba, Maysa pun sudah bersiap di depan gerbang untuk menjemput Zanna sesuai permintaan suaminya tadi. Ya Maysa juga telah berjanji pada Zanna, bahwa siang ini ia akan menjemput gadis itu di sekolahnya karena tadi pagi ia tidak bisa mengantarnya ke sekolah.
Tak lama kemudian, Zanna akhirnya muncul ke luar menemui Maysa sambil tersenyum lebar. Zanna tampak sangat ceria setelah melihat Maysa ada disana untuk menjemputnya, ia menginginkan momen seperti ini karena menurutnya hanya Maysa lah yang bisa membuat ia tersenyum bahagia seperti sekarang.
"Mama!!" gadis mungil itu memanggilnya, memeluk tubuh mama barunya dengan erat dan membuat Maysa merasa bahagia.
Maysa memang belum pernah merasakan memiliki seorang anak, tetapi entah kenapa tiap berada di dekat Zanna selalu berhasil membuatnya merasa tenang dan nyaman. Selain itu, Zanna juga merupakan anak yang periang dan baik hati. Sehingga, mereka berdua bisa cepat akrab seperti saat ini dan seolah-olah telah kenal lama.
"Eh sayang, gimana belajarnya? Zanna bisa kan, terus gak bandel kan?" tanya Maysa sembari mengusap punggung gadis itu.
Zanna mengangguk sambil tersenyum, "Iya dong ma, aku tadi belajar gambar dan bu guru puji gambar aku. Terus aku juga gak bandel kok di kelas," jawabnya.
"Ahaha, pinter deh anak mama! Yaudah sebagai hadiah, Zanna mau gak mama beliin es krim sekarang?" ujar Maysa.
"Wah asyik, iya aku mau ma!" ucap Zanna antusias.
"Nah, yuk kita cari tukang es krim di dekat sini!" ajak Maysa yang langsung menggandeng putrinya.
"Ayo!"
Zanna tampak sangat antusias dibuatnya, mereka langsung saja masuk ke dalam mobil dan meminta sang supir untuk segera melaju mencari tempat makan es krim yang terdekat. Zanna juga sudah tidak sabar ingin segera menikmati es krim bersama mamanya itu, apalagi sudah lama juga ia tidak memakan es krim.
Sesampainya di depan restoran es krim yang terkenal, Maysa serta Zanna pun bergerak turun dari mobil lalu masuk ke dalam restoran itu. Tanpa basa-basi lagi, Zanna segera mengatakan apa yang ingin dia pesan kepada pelayan disana. Maysa hanya menurutinya, karena ia juga tidak tahu apa yang disukai oleh Zanna.
Setelahnya, mereka kini sama-sama duduk di tempat yang tersedia untuk menikmati es krim masing-masing. Ya Zanna juga meminta Maysa untuk memesan es krim yang dia inginkan, karena tak ingin mengecewakan putrinya maka Maysa terpaksa ikut memakan es krim saat ini.
"Hmm, enak banget ini ma! Aku udah lama gak makan es krim kayak gini, suka deh!" ujar Zanna.
"Bagus deh, mama senang kalau lihat Zanna ceria kayak gini! Yaudah, dimakan sampai habis ya es krimnya sayang!" ucap Maysa.
"Iya ma."
Tapi tiba-tiba saja, Zanna meletakkan es krimnya di meja dan memegangi tenggorokannya. Wajah Zanna juga mendadak berubah memerah, membuat Maysa yang melihatnya sangat khawatir. Sontak Maysa menanyakan apa yang terjadi pada Zanna, tetapi gadis itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Sayang, kamu kenapa? A-apa yang terjadi??" tanya Maysa dengan paniknya, ia tak tahu harus apa setelah tiba-tiba Zanna kesakitan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1