
Maysa masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman sang mantan yang terus saja menghantui dirinya, ia juga tak mengerti mengapa Peter selalu muncul di hadapannya dan memaksa ia untuk ikut dengan pria itu. Padahal, hubungan diantara mereka telah usai dan tak seharusnya Peter bersikap seperti ini padanya. Apalagi, dahulu pria itulah yang sengaja memutuskan hubungan mereka.
Jika saja dulu Peter tak bersikap semena-mena dan mengakhiri hubungan mereka disaat Maysa tengah mengalami musibah, maka mungkin saja saat ini mereka masih bisa bersama. Namun, sekarang semuanya sudah berbeda karena Maysa juga telah menjadi istri dari seorang pengusaha hebat dan ternama yang tidak lain adalah sosok Harold Vincenzo, walau dia masih terbaring sakit.
"Kamu tuh mau apa lagi sih, hm? Gak bosan apa ya paksa aku mulu kayak gini? Kamu lupa kalau diantara kita udah gak ada hubungan apa-apa?" tanya Maysa dengan nada ketusnya.
Peter menggeleng perlahan, baginya tentu tak ada rasa bosan untuk coba mendekati wanita itu karena ia masih amat mencintainya. Peter sendiri menyesal karena telah memutus hubungan dengan Maysa sebelumnya, seandainya ia tidak bertindak bodoh seperti itu maka pasti sekarang ini mereka masih bisa hidup bersama-sama.
"Enggak Maysa, aku gak akan pernah bosan deketin kamu setiap hari. Walaupun kamu udah jadi istri orang, tapi kamu tetap masih ada di hati aku Maysa. Sampai kapanpun, aku gak akan pernah bisa lupain kamu!" ucap Peter tegas.
"Kamu udah gila ya Peter? Kamu mau jadi perusak rumah tangga orang gitu, ha?" ucap Maysa terheran-heran.
"Ya kalau memang itu satu-satunya cara untuk mendapatkan kamu, aku akan lakukan. Aku cuma mau kamu kembali jadi milik aku Maysa, karena aku selalu gak bisa lupain kamu," ucap Peter.
"Ish, jangan ngaco ya Peter! Itu semua gak akan terjadi, aku gak mau balikan sama kamu!" ucap Maysa menolaknya.
"Kenapa? Bukannya kamu cuma cinta sama aku, iya kan? Kamu menikah sama laki-laki itu, karena kamu terpaksa kan. Sudahlah, kamu jujur aja sama aku dan kita balikan sekarang!" paksa Peter.
"Cukup Peter!" sentak Maysa penuh emosi.
Wanita itu akhirnya tak bisa lagi menahan diri, ia menghentak tangannya dan mendorong Peter sampai terhuyung ke belakang. Hal itu sontak membuat Peter terkejut, seolah tak percaya Maysa berani melakukan itu padanya. Peter tampak menganga lebar, menatap wajah Maysa sembari memegangi bagian perutnya.
"May, kamu tega dorong aku kayak gitu? Aku ini orang yang kamu cintai loh, dan cuma aku yang tulus cinta sama kamu!" ucap Peter.
__ADS_1
"Bullshit kamu tuh, kalau kamu cinta sama aku harusnya kamu gak ngelepeh aku gitu aja waktu aku lagi menderita! Sekarang aja kamu baru minta balikan sama aku, setelah kejahatan yang kamu buat dulu!" kesal Maysa.
"Tapi May, waktu itu aku terbawa emosi dan aku gak sengaja mutusin kamu sayang!" jelas Peter.
Maysa menggeleng saja dan berlalu pergi meninggalkan pria itu disana, bahkan ia sampai rela menahan keinginannya untuk buang air kecil karena tidak ingin terus bertemu Peter. Maysa pun terpaksa pergi ke toilet yang agak jauh, tentunya demi menghindar dari Peter. Namun sebelum itu, tak lupa Maysa menemui Dean terlebih dahulu dan meminta Dean untuk mengusir Peter dari sana.
"Dean!" Maysa memanggilnya dan berdiri tepat di hadapan asisten suaminya itu.
"Iya siap bu, kenapa?" tanya Dean tegas.
"Kamu tolong usir laki-laki yang disana itu ya, saya gak suka dia ada disini!" titah Maysa sembari menunjuk ke arah Peter.
"Oh, iya siap laksanakan bu!" ucap Dean patuh.
•
•
Tak hanya Maysa, bahkan Harold sendiri ikut tersenyum ketika mengetahui yang pertama ia lihat adalah wajah istrinya. Harold tak menyangka Maysa begitu setia padanya, sampai-sampai wanita itu rela menunggunya di rumah sakit selama ini. Meski tubuhnya masih terasa sedikit sakit, namun Harold berusaha untuk bangkit mendekati sang istri disana.
"May, sa-saya minta maaf sama kamu Maysa! Saya sudah bikin kamu kecewa karena kepergian saya secara mendadak kemarin, maafin saya ya sayang!" ucap Harold lirih.
Maysa menggeleng, "Gak mas, itu masa lalu. Kamu lupakan aja semua itu ya!" ucapnya.
__ADS_1
"Tapi sayang, gara-gara itu kamu—"
"Sssttt, mending kamu sembuhin diri kamu dulu deh mas! Jangan mikirin masalah yang udah lewat, nanti kamu malah makin sakit!" ucap Maysa menyerang.
Harold tersenyum dibuatnya, "Terimakasih ya sayang, kamu memang istri yang baik dan setia! Kamu udah mau temenin saya selama sakit disini, saya senang banget lihatnya!" ucapnya.
"Sama-sama mas, itu udah kewajiban aku sebagai seorang istri untuk selalu ada di sisi kamu," ucap Maysa sambil tersenyum.
Harold pun menggerakkan tangannya, ia usap tengkuk kepala Maysa dengan lembut sambil perlahan-lahan mendorongnya maju mendekat agar ia bisa mengecup kening wanita itu. Kecupan hangat yang diberikan Harold barusan, membuat Maysa merona dan tersipu malu. Rasanya Maysa cukup merindukan itu, dan sekarang Maysa sangat senang setelah mendapatkan kecupan itu.
"Kamu makin cantik aja sayang! Saya jadi gak sabar pengen keluar dari sini, terus main di ranjang lagi sama kamu!" ucap Harold menggodanya.
Maysa mengernyitkan dahi mendengar ucapan mesum suaminya, ia terkejut tentu karena baru sadar saja Harold sudah berani mengatakan itu dan merunduk momen ranjang mereka. Maysa pun menggeleng saja kali ini, wajar jika Harold sangat ingin melakukan itu kembali karena sudah lama mereka tak bersenang-senang sebelumnya.
"Kamu ah yang dipikirin kesitu mulu, ini nih tubuh kamu urusin dong! Kalau pengen cepat-cepat pulang, kamu harus sembuh dulu mas! Nanti abis itu baru deh kita main di ranjang sampai kamu puas," ucap Maysa.
"Bener ya? Berarti kalau aku belum puas, kamu jangan minta berhenti loh!" ucap Harold.
"Iya mas iya." Maysa mengangguk menurutinya.
Kini Harold meminta istrinya kembali mendekat, tentu saja Maysa menurut karena dia tak berpikir kalau Harold akan melakukan hal yang aneh. Namun, nyatanya dia salah sebab Harold langsung mengecup bibirnya dan menahan tubuhnya agar tak bergerak. Bibir mereka pun bersatu selama beberapa detik disana, lalu Harold juga mulai menyesapnya dan melakukan percumbuan disana.
"Saya rindu banget sama bibir kamu yang mungil ini sayang, biarin aku cium dia sesuka hati saya ya Maysa?" ucap Harold di telinga wanita itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...