Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Bisnis senjata


__ADS_3

Harold yang telah berhasil menemukan Maysa di rumah Peter, langsung mengajak wanita itu untuk segera pulang ke rumahnya dan menemui Zanna yang sudah menunggu disana. Harold terlihat amat senang kali ini, ia lega karena bisa bertemu dengan Maysa dalam waktu singkat dan dapat memeluk kembali istrinya itu setelah tadi sempat berpisah dan membuat Harold sangat cemas padanya.


Maysa sendiri juga tak bisa berhenti tersenyum setelah saat ini ia dapat selamat dari jeratan Peter dan kembali bersama suaminya, tentu saja wanita itu amat senang karena ternyata Harold masih begitu perduli padanya. Hanya butuh waktu beberapa jam saja bagi Harold untuk bisa menolong Maysa keluar dari tempat terkutuk itu, sehingga kini Maysa bisa merasa lega setelah bersama suaminya.


"Mas, kok kamu bisa temuin aku secepat ini sih? Gimana caranya coba? Kamu tahu darimana kalau aku di tempat Peter?" tanya Maysa penasaran.


Harold menoleh sambil tersenyum, "Hahaha, kamu tahu lah siapa aku sayang. Menemukan keberadaan seseorang bukan suatu hal yang sulit bagi aku, apalagi kamu itu kan istri aku. Pasti aku bakal lebih mudah untuk bisa temuin kamu," jawabnya santai.


"Tapi mas, aku masih bingung tahu. Kenapa kamu bisa temuin aku coba?" heran Maysa.


"Udah gausah kebanyakan bingung, yang penting kan kamu udah selamat sekarang. Oh atau kamu lebih suka tinggal di tempat tadi bareng mantan kamu itu?" ucap Harold.


"Hah? Enggak lah mas, aku gak mau sama dia. Aku cuma pengen tinggal sama kamu, suami aku!" ucap Maysa dengan senyuman menggodanya.


"Baguslah, aku kira kamu udah gak cinta sama aku dan mau berpaling ke laki-laki lain. Padahal aku udah takut banget tuh tadi, aku takut kalau kamu lebih memilih Peter dibanding aku," ucap Harold.


"Gak mungkin lah mas, kan cuma kamu yang aku suka. Lagian aku juga udah jadi milik kamu seutuhnya," ucap Maysa.


Harold tersenyum senang mendengar ucapan dari istrinya, setidaknya ia kini tak perlu khawatir lagi kalau Maysa akan berpaling ke lain hati. Meski begitu, tetap saja Harold tidak bisa tenang sebelum ia berhasil melenyapkan Peter. Ya apa yang dilakukan Peter itu sudah keterlaluan, tak mungkin Harold akan memberi ampun padanya.


Mobil yang mereka tumpangi saat ini akhirnya tiba di halaman depan rumah keduanya, Maysa sangat senang dan dapat bernafas lega setelah kini ia tidak perlu merasa was-was lagi seperti ketika masih berada di kamar milik Peter. Dengan Harold yang terus ada di dekatnya, maka dapat dipastikan hidup Maysa akan lebih terasa aman.


Kini sepasang suami-istri itu kompak turun dari mobil untuk segera memasuki rumah, Harold tak berhenti menggandeng tangan istrinya agar Maysa tidak bisa diambil lagi oleh orang lain. Harold seolah khawatir setelah apa yang terjadi pada Maysa, ia tidak mau lagi hal itu sampai terjadi kembali karena ia sangat menyayangi istrinya.


"Mas, aku gak sabar banget mau ketemu Zanna! Dari tadi siang itu aku selalu mikirin dia, aku takut dia kenapa-napa karena sebelumnya kan dia sempat diculik mas!" ucap Maysa.


"Tenang aja, Zanna udah bisa diselamatin kok sama Theo! Lagian penculikan Zanna itu cuma pancingan buat kamu, supaya kamu sendiri dan si Peter itu bisa dengan mudah culik kamu. Lain kali kamu harus hati-hati ya sayang, jangan ceroboh!" ucap Harold.


Maysa mengangguk perlahan, "Iya mas, aku minta maaf kalau udah bikin kamu cemas dengan kecerobohan aku!" ucapnya lirih.


"It's okay, kamu selamat aja aku udah senang kok!" ucap Harold yang kemudian memeluk Maysa.




Keesokan harinya, Dean mulai menjalankan misi yang diberikan Harold sebelumnya untuk pergi ke salah satu proyek milik Harold yang dianggap tidak beres itu. Kedatangan Dean kesana tentunya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, sebab hingga kini masalah keuangan perusahaan belum ditemui titik terang meski Harold telah mencurigai adanya tindakan kecurangan di proyek itu.


Dean dengan penyamarannya kini telah tiba di depan proyek tersebut, ia cukup heran karena kondisi disana masih jauh dari kata selesai. Ia menggeleng perlahan, kemudian melangkah masuk ke dalam proyek tersebut untuk menemui sang mandor. Dean yakin ada yang tidak beres di tempat itu, apalagi setelah ia melihat banyak dari para pekerja tidak mengenakan pakaian keselamatan yang baik.


"Ini apa-apaan sih? Masa orang kerja di proyek tapi ada yang gak pakai helm keselamatan? Ini mana coba mandornya, kok gak kelihatan ya daritadi?" gumam Dean dalam hati.


Lalu, perlahan Dean mendekati salah seorang pekerja yang tengah beristirahat sambil terduduk di depan sana. Dean ingin mencari tahu melalui pekerja itu, karena barangkali ia bisa mendapat informasi dari pekerja tersebut. Apalagi, kebetulan saat ini ia melihat si pekerja juga tidak memiliki helm keselamatan sama seperti yang lain.


"Ehem, permisi!" Dean menegurnya, membuat si pekerja mendongak dan sedikit terkejut.


"Iya, ada apa ya?" tanya si pekerja dengan suara parau.


"Eee perkenalkan, saya Alvin anak magang di proyek ini! Kalau boleh tahu, bapak kenapa tidak memakai helm seperti saya ini ya?" ucap Dean mulai bertanya.

__ADS_1


"Ah kamu pasti belum tahu ya, dek? Disini itu kalau mau dapat helm atau baju keselamatan harus bayar dulu 500 ribu, nah saya mana punya uang sebanyak itu? Gaji saya aja dari 3 bulan lalu belum dibayar kok dek," ucap si pekerja mengeluh.


Dean cukup kaget mendengarnya, ia semakin yakin ada sesuatu yang terjadi pada proyek tersebut dan sang mandor lah yang bermain disana. Namun, Dean masih ingin mengorek info lebih banyak lagi dari orang itu agar ia memiliki banyak bukti yang bisa ia berikan kepada Harold nantinya.


"Oh, masa sih pak? Kok bisa gaji bapak gak dibayar tiga bulan? Terus kenapa juga helm harus dibeli, bukannya itu salah satu syarat keselamatan bekerja ya?" ucap Dean terheran-heran.


"Ya saya juga kurang tahu dek, katanya memang sudah begitu dari sananya. Namanya orang kaya mah begitu, sukanya nindas rakyat jelata seperti saya. Setiap kali ditagih soal gaji juga jawabannya selalu gak jelas kok," ucap pekerja itu.


"Wah gak bener nih pak!" Dean menggeleng dan tampak begitu emosi.


"Heh kalian!" tiba-tiba saja, seorang wanita muncul menghampiri mereka disertai suara bentakan yang cukup keras dan mengagetkan.


Begitu Dean menoleh, ia terkejut melihat sosok wanita itu disana. Dari pakaian yang dikenakan si wanita saat ini, Dean sama sekali tak mengenali siapa wanita tersebut. Rasanya Dean ingat sekali kalau mandor di proyek itu adalah seorang pria, tapi mengapa sekarang ia malah bertemu dengan wanita yang terlihat begitu angkuh.


"Bukannya kerja malah pada ngobrol, gak pada lihat jam apa? Ini itu masih jam kerja, belum waktunya istirahat!" sentak si wanita.


"Ma-maaf bu, tadi saya cuma ngaso sebentar sambil minum! Kalo gitu saya permisi bu!" ucap si pekerja yang langsung bergerak pergi dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Kini tinggal lah Dean berdua dengan wanita itu, mereka saling bertatapan dan sama-sama terlihat kebingungan. Wanita itu menatap Dean dari atas sampai bawah, lalu tanpa diduga ia menarik lepas helm yang dikenakan Dean dari kepalanya. Dean sungguh terkejut, pasalnya tindakan wanita itu benar-benar di luar dugaannya.


"Kamu anak magang baru yang mau kerja disini ya? Lain kali jangan kurang ajar ya, kamu itu belum boleh pakai helm ini! Anak baru kok sok banget, yang lain aja pada gak pakai helm tuh!" sentak si wanita.


Deg


Dean hanya bisa terdiam kali ini, ucapan yang dilontarkan wanita itu membuat dirinya yakin jika dialah dalang dari semua masalah yang ada.




Begitu tiba di dalam, Harold langsung berpapasan dengan sosok pria yang sebelumnya sudah menghubunginya dan membahas mengenai transaksi ini. Ya sekarang pun Harold hanya tinggal menunjukkan secara langsung barang-barang miliknya kepada orang itu, untuk semakin meyakinkan beliau bahwa barangnya yang terbaik.


"Halo mister Harold! Senang bertemu dengan anda dan menjalin kerjasama, selama ini anda selalu berhasil membantu saya!" ucap orang itu.


"Ya mister Hardi, jika anda butuh bantuan dari saya kabari saja! Anda tahu kan mana tempat yang paling terpercaya dan tidak pernah mengecewakan orang-orang?" ucap Harold tersenyum puas.


"Hahaha, anda benar mister Harold! Kalau begitu, mana barang saya?" tanya Hardi.


Harold segera meletakkan kopernya di atas meja, ia buka koper tersebut dan terdapat cukup banyak senjata dengan jenis yang beragam. Saat itu juga Hardi mengangguk sambil tersenyum, seolah puas dengan apa yang ditunjukkan Harold. Memang semua senjata itu adalah hasil curian dari markas Rendy, tetapi tak ada yang mengetahuinya.


"Ini semua hanya contoh, barang yang lain sudah saya kirimkan ke tempat anda dengan aman!" ucap Harold menjelaskan.


"Ya ya, saya mengerti mister Harold. Saya suka dengan barang-barang milik anda, semuanya baru dan selalu bagus! Kalau begini, saya akan terus berlangganan dengan anda," ucap Hardi.


"Terimakasih, kalau begitu sekarang anda hanya tinggal melunaskan sisa pembayarannya!" pinta Harold.


"Baiklah, saya akan langsung transfer sisa dana ke rekening anda seperti sebelumnya!" ucap Hardi.


"Tidak mister Hardi, kali ini tidak ke rekening yang itu! Saya mau anda transfer ke rekening ini," ucap Harold menyela dan memberikan rekening lainnya kepada Hardi.

__ADS_1


"Oh begitu," Hardi mengangguk saja.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Hardi segera mentransfer semua sisa uang pembayaran itu ke nomor rekening yang diberikan Harold. Tentu saja Harold sangat senang, ia bisa mendapatkan cukup banyak uang dari hasil penjualan senjata itu tanpa harus susah payah mengeluarkan uang karena barang itu ia dapatkan secara gratis.


"Sudah lunas ya, saya bawa semua senjata ini sekarang?" ucap Hardi.


"Silahkan, ini semua milik anda sekarang! Saya permisi dulu, terimakasih atas transaksi nya!" ucap Harold pamit.


Mereka berjabat tangan sejenak, sebelum Harold berbalik dan memutuskan pergi dari tempat itu. Kini Hardi kembali terduduk di kursinya, ia pandangi senjata milik Harold yang baru saja ia beli itu. Ada rasa janggal di dalam dirinya, untuk memastikan secara langsung Hardi pun mengambil salah satu senjata dari dalam koper tersebut.


"R.O? Kenapa ada tanda ini disini? Bukannya mister Harold selalu menggunakan nama inisialnya, yaitu H.V? Senjata siapa ini?" gumamnya kebingungan dan merasa geram karena telah ditipu.




Di dalam perjalanan pulang, mobil yang dikendarai Harold dan anak buahnya tiba-tiba saja dicegat oleh segerombolan pemotor serta mobil yang berhenti tepat di hadapannya. Tidak hanya satu, melainkan dua buah mobil dan lima motor sekaligus. Sontak Harold merasa panik, apalagi ia hanya membawa tiga orang anak buah saat ini.


"Pak, siapa mereka pak? Gimana ini kalau mereka serang kita?" tanya Adam tampak panik.


Harold terdiam saja dibuatnya, ia sendiri tidak tahu pasukan siapa yang mencegahnya saat ini dan mengapa mereka melakukan itu. Tapi kemudian, orang-orang di luar sana mulai mendekati mereka dan meminta mereka segera keluar. Karena tidak ingin membuang banyak waktu, Harold pun turun dari mobilnya bersama ketiga anak buahnya.


"Siapa kalian? Kenapa kalian halangi perjalanan saya seperti ini?" tanya Harold dengan kesal.


"Gausah banyak omong lu!" sentak si pria.


Akhirnya perkelahian sengit terjadi diantara mereka, pasukan yang jumlahnya sangat banyak itu langsung menyerang Harold beserta anak buahnya. Tak ada yang bisa dilakukan Harold selain menghindar, ia terpaksa menghadapi orang-orang itu supaya ia bisa bertahan hidup.


Akan tetapi, usaha yang dilakukan Harold sia-sia saja karena ujungnya Harold pun berhasil ditaklukan oleh para pasukan tersebut. Mereka menangkap Harold beserta anak buahnya dan menghajar keempat pria itu secara habis-habisan, sampai Harold benar-benar tak berdaya dibuatnya.


Tak lama kemudian, seseorang muncul disana menemui mereka dengan caping yang dikenakannya. Orang itu membuka capingnya, menunjukkan siapa dirinya di hadapan Harold yang sudah babak belur. Betapa syoknya Harold saat ini, karena orang yang ada di hadapannya adalah Hardi alias kliennya tadi.


"Hey Harold! Berani sekali anda menipu saya, apa anda ingin mati?" ucap Hardi kesal.


"Hahaha, ternyata anda yang melakukan penyerangan ini? Kenapa anda sampai tega menyerang saya, ha?" tanya Harold heran.


"Anda yang sudah tega menipu saya, padahal hubungan diantara kita sudah terjalin cukup baik loh mister Harold. Tapi, kenapa anda malah memberikan senjata yang bukan hasil dari anda sendiri?" geram Hardi.


"Apa maksud anda? Semua senjata yang saya berikan pada anda, itu buatan saya seutuhnya. Jangan asal bicara ya!" elak Harold.


"Halah omong kosong! Buktinya tadi saya lihat sendiri ada tanda R.O di senjata milik anda, bukan H.V seperti biasanya. Katakan dengan jujur, barang siapa itu!" sentak Hardi.


Deg


Harold benar-benar syok dan terkejut, ia tak menyangka kalau Hardi dapat mengetahui semua itu dan membuatnya kebingungan saat ini. Harold tak tahu lagi harus berbuat apa, ia sudah tertekan dan mau tidak mau maka ia akan berkata jujur kepada Hardi terkait senjata yang ia curi dari markas milik mister Rendy beberapa waktu lalu.


"I-i-iya mister, itu memang bukan murni barang milik saya. Semuanya saya ambil dari cabang yang lain, dan saya bekerjasama dengan orang lain yang telah cukup lama berkecimpung di dalam bisnis ini. Anda tenang saja, barang itu tidak akan mengecewakan!" ucap Harold meyakinkan pria itu.


Hardi melotot terkejut seolah tak mempercayai kata-kata Harold, tapi pada akhirnya ia manggut saja dan tidak lagi membantah kata-kata yang diucapkan Harold padanya barusan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2