
"BODOH KALIAN SEMUA!" Rendy tampak begitu emosi dan menyalahkan seluruh anak buahnya itu atas kepergian Zanna serta Clara dari sana.
Rendy sungguh tak menyangka, dari sekian banyak pengawal yang ia miliki, tidak ada satupun yang bisa mencegah Zanna untuk kabur dari tempat itu. Padahal, Zanna hanya seorang anak kecil dan Clara juga hanyalah wanita biasa. Rendy sangat kecewa dengan seluruh anak buahnya, ia merasa tak ada satupun dari mereka yang bisa diandalkan.
Berulang kali Rendy memberi pukulan dan tendangan pada para anak buahnya itu, Rendy sangat emosi karena dengan kaburnya Zanna maka ia tidak memiliki lagi senjata untuk bisa mengancam Harold agar tunduk padanya. Kini Rendy tampak melampiaskan amarahnya, ia pukuli terus anak buahnya itu sampai satu persatu berjatuhan disana.
"Mister, cukup mister! Tolong hentikan ini, mister!" ucap Daniel coba menahan amarah bosnya.
"Ck, apa yang kamu lakukan Daniel? Kenapa kamu menahan saya, ha? Biarkan saya menghabisi mereka, karena mereka semua ini memang tidak berguna!" sentak Rendy.
"Tahan mister, hentikan! Ini semua bukan salah mereka, kepergian Zanna dan Clara itu karena pengkhianatan dari salah seorang anak buah kita! Seharusnya mister beri dia hukuman, bukan mereka ini!" ucap Daniel.
Deg
Rendy terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan Daniel tadi, ia baru tahu kalau ada seorang anak buahnya yang berkhianat darinya kali ini. Pantas saja Zanna serta Clara bisa kabur dari tempat itu, ia sungguh sangat emosi. Ia juga penasaran siapa pengkhianat yang dimaksud oleh Daniel, karena hingga kini ia belum mengetahuinya.
"Siapa pengkhianat itu Daniel? Dimana dia sekarang?" tanya Rendy.
"Dia Vino, mister. Dia juga sudah kami amankan di dalam penjara, tubuhnya dipenuhi luka akibat tembakan," jawab Daniel.
Braakkk
Langsung saja Rendy menggebrak meja miliknya, ia menggeram kesal dan mengepalkan kedua tangannya disertai rahang yang bergetar. Emosi menguasai dirinya, tak ada ampunan bagi seorang pengkhianat. Meskipun, Rendy tahu kalau Vino adalah anak buahnya yang paling berprestasi dan seringkali membuatnya bangga.
"Ikut saya Daniel, kita temui si pengkhianat itu! Hari ini juga dia harus dihabisi, karena saya tidak terima dengan seorang pengkhianat!" sentak Rendy.
Daniel menurut, Rendy pun mengambil senjata andalannya dari atas meja dan bergegas pergi ke luar dari ruangan itu diikuti oleh Daniel. Mereka berencana menemui Vino saat ini, tapi tanpa diduga mereka justru dihadang oleh Mawar. Ya betapa syoknya Rendy, sebab saat ini putrinya itu sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Papa mau kemana, ngapain bawa senjata segala?" tanya Mawar penasaran.
__ADS_1
"Eee papa ada urusan penting, kamu disini aja ya sayang! Nanti papa suruh Alisia untuk temani kamu, sekali lagi papa minta tolong kamu jangan pergi ke sembarangan tempat ya!" ucap Rendy coba menasehati putrinya itu.
"Tapi pa, tadi papa kelihatannya emosi banget. Papa gak lagi mau bunuh orang kan? Pa, ingat umur dong pa! Papa udah tua loh," ucap Mawar.
Rendy tersenyum dan menggeleng pelan, ia mendekat lalu memegang pundak gadis itu. Ia berusaha meyakinkan Mawar kalau saat ini ia sedang tidak ingin membunuh orang, walau semua itu hanyalah kebohongan semata dan Rendy memang hendak menghabisi Vino.
"Kamu tenang aja, sekarang kamu ke kamar kamu gih! Kalau urusan papa udah beres, papa bakal temuin kamu lagi!" ucap Rendy dengan lembut.
"Iya pa." Mawar hanya bisa mengangguk dan percaya pada perkataan papanya.
Setelah itu, Rendy pergi bersama Daniel menuju ruangan tempat dimana Vino ditahan. Sedangkan Mawar masih terdiam disana, rasanya Mawar belum bisa percaya seratus persen pada ucapan papanya.
•
•
Javier juga mengajak Arum disana, karena wanita itu memang ditugaskan untuk menjaga dan merawat Zanna sebaik mungkin. Tak hanya itu, bahkan ada dua orang pengawal yang ikut bersama mereka sebagai bentuk protokol keamanan. Meski Javier sendiri bisa menjaga Zanna, tapi mereka tetap harus mengikuti kemana Javier pergi.
"Nah Zanna, sekarang kamu mau main apa lagi? Tuh masih ada wahana mandi bola yang besar banget loh, Zanna mau coba gak?" tanya Javier.
"Wah iya ya om, aku mau dong mau! Aku pengen mandi bola disana, pasti seru banget deh. Apalagi, aku kan belum pernah mandi bola di tempat sebesar itu," jawab Zanna tampak antusias.
"Okay sayang, yuk kita kesana!" Javier langsung menggandeng Zanna dan membawanya pergi.
Setelah puas bermain-main selama hampir dua jam penuh, akhirnya Zanna merasa lelah dan menyudahi permainannya kali ini. Zanna juga tampak memegangi perutnya, sepertinya gadis itu merasa lapar karena kelelahan bermain. Zanna pun mendekat ke arah pamannya, sembari menunjukkan bahwa saat ini ia merasa sangat lapar.
"Om, aku lapar. Kita udahan dulu ya mainnya? Aku mau makan dulu om," pinta Zanna.
Javier tersenyum dibuatnya, "Iya sayang, ayo kita cari tempat makan disini! Kebetulan om juga lapar sih," ucapnya dengan lembut.
__ADS_1
Zanna mengangguk kecil, lalu ikut bersama pamannya menuju salah satu tempat makan di dalam mall tersebut. Akan tetapi, tanpa sengaja mereka malah berpapasan dengan Clara yang juga ada disana. Ya sontak mereka menghentikan langkahnya, tampak Zanna langsung tersenyum dan menyapa mamanya itu dengan antusias.
"Mama!" Zanna berteriak keras, lalu bergerak cepat menghampiri mamanya itu dan memeluknya dengan erat.
Clara tentu saja sangat senang melihatnya, ia reflek berlutut di hadapan putrinya dan membalas pelukannya dengan erat. Sedangkan Javier masih diam menyaksikan itu, tak ada yang dilakukan pria itu karena dia tahu Zanna membutuhkan waktu berdua bersama mamanya.
"Mama lagi apa disini? Sendirian aja ya?" tanya Zanna pada mamanya itu.
"Iya nih sayang, mama niatnya mau cari sesuatu aja biar gak jenuh di rumah. Eh malah gak sengaja ketemu sama kesayangan mama ini," jawab Clara sambil mencubit pipi putrinya.
"Aku juga senang ketemu mama, kita makan bareng yuk ma!" ucap Zanna tersenyum lebar.
"Eee...." Clara terlihat ragu menjawabnya.
Clara pun menatap ke arah Javier yang berdiri di hadapannya, seolah meminta jawaban dari pria itu terkait ajakan Zanna. Ya sepertinya Clara khawatir jika Javier tak mengizinkan ia untuk ikut dengan mereka, itulah alasan mengapa Clara kini melirik wajah Javier secara sekilas supaya Javier mau memberi jawaban pasti padanya.
"Kalau kamu mau ikut sama kami, ikut aja Clara! Saya gak akan larang kamu kok, asalkan Zanna bahagia. Lagipula, kami cuma mau makan siang di restoran," ucap Javier.
"Ini beneran kan Vier? Kamu serius?" Clara tampak sumringah dan seolah tak menyangka.
Javier mengangguk, "Ya Clara, ayo ikut aja sama kami! Zanna udah lapar tuh, kalau kelamaan nanti dia keburu sakit perut!" ucapnya.
"Iya iya, makasih ya Javier!" ucap Clara.
Clara sangat senang mendengarnya, begitu juga dengan Zanna yang masih terus memeluk tubuh mamanya itu. Kini mereka pun mengakhiri pelukan itu, lalu dengan penuh semangat Clara menggandeng lengan putrinya dan mulai berjalan menuju restoran alias tempat makan di dalam mall tersebut sesuai permintaan Zanna.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1