
Harold dan Maysa masih berada di rumah sakit saat ini, ya mereka baru habis memeriksa kondisi Maysa yang terlihat begitu lemas tadi. Kini Maysa bahkan masih berbaring di ranjangnya, sedangkan Harold tampak terduduk di sebelahnya bersama dokter bernama Amy yang merupakan sahabat Harold semasa sekolah dulu. Harold sengaja membawa Maysa kesana, karena ia percaya sahabatnya tidak akan mengecewakan dirinya kali ini.
Setelah selesai diperiksa, kini Maysa masih menantikan jawaban dari dokter itu. Tak hanya Maysa, bahkan Harold terlihat lebih antusias dibanding wanita itu. Harold sangat berharap jika hasilnya adalah positif, dimana Maysa harus mengandung anaknya untuk mempercepat sesi pernikahan mereka nantinya. Namun jika itu belum bisa terjadi, maka Harold tidak akan kecewa karena ia yakin lambat laun Maysa juga akan mengandung.
"Gimana Amy, pacar saya ini hamil kan ya?" tanya Harold penuh harap.
Amy sampai terkekeh dibuatnya, ia merasa lucu saat Harold menanyakan kondisi Maysa dan terlihat sekali bahwa pria itu mengharapkan Maysa tengah mengandung anaknya. Sontak Maysa tampak merona, wanita itu sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa malunya di hadapan Amy akibat kelakuan calon suaminya itu.
"Hahaha, kamu itu aneh ya Rold? Tiap pasangan muda yang datang cek ke tempat aku ini, pasti berharapnya pasangannya gak hamil. Eh kamu kok malah kepengen Maysa hamil sih? Emang udah siap buat tanggung jawab?" heran Amy.
"Ya kamu kayak gak tahu saya aja sih, Mi. Saya kan emang mau menikah sama Maysa, ya tapi dia harus hamil dulu biar bisa saya nikahin!" jawab Harold.
"Hadeh, jangan-jangan Maysa ini salah satu perempuan yang kamu jebak lagi ya? Ya ampun Rold, kamu kok ya gak taubat taubat sih? Kasihan tahu anak orang!" ujar Amy.
Mendengar perkataan Amy, sontak Maysa tampak mengernyitkan dahinya karena penasaran. Maysa cukup bingung apa yang dimaksud Amy barusan, apakah calon suaminya itu sering menjebak wanita seperti dirinya? Jika iya, maka pasti Maysa akan sangat membenci Harold dan mengurungkan niatnya untuk menikah dengan lelaki itu.
Harold seketika membantah, "Hus sembarangan aja kamu Amy! Maysa ini perempuan yang saya cintai, gausah ngaco deh kamu!" elaknya.
__ADS_1
"Oh bukan toh? Ya bagus deh kalau kamu udah tobat, semoga Maysa ini bisa jadi yang terakhir buat kamu ya Rold! Aku capek loh kasih pil KB terus ke kamu setiap Minggu," kekeh Amy.
"Mi, udah deh kamu jangan bahas yang lain! Kamu kasih tahu aja hasil tesnya, Maysa hamil atau enggak!" kesal Harold.
Amy tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, ia menatap sekilas wajah Maysa yang masih tergeletak di ranjang dan kembali memandang ke arah Harold dengan senyumannya. Sedangkan Harold terlihat sudah sangat tidak sabar ingin mengetahui jawaban dari Amy, pria itu berharap jika Maysa memang benar-benar mengandung anaknya.
"Iya iya Harold, kamu mah gak sabaran banget. Iya benar, Maysa sekarang sedang mengandung anak kamu. Usianya udah jalan tiga Minggu," jawab Amy.
Deg
Sementara Maysa justru memalingkan wajahnya, ia tampak bersedih mengetahui kabar bahwa dirinya ternyata memang hamil. Pupus sudah harapannya untuk bisa lepas dari jeratan Harold, karena pasti pria itu akan semakin mengurungnya dan memaksa ia untuk menikah dengannya. Maysa pun hanya bisa pasrah, tetes air mata menggenang di pipinya menandakan betapa sedihnya wanita itu.
Tanpa diduga, Amy melihat jelas kesedihan terpampang di wajah Maysa. Kini Amy coba menebak-nebak, apakah benar Maysa juga menginginkan kehamilan itu atau semua hanya permainan Harold. Pasalnya, Amy sudah biasa menerima keluhan dari Harold mengenai wanitanya yang mengandung dan memintanya untuk menggugurkan atau memberi suntikan penggugur.
Namun, sikap Harold saat ini sangat berbeda dibanding biasanya. Lelaki itu malah terlihat begitu bahagia selepas mengetahui Maysa mengandung anaknya, ia yakin kalau saat ini Harold benar-benar tulus mencintai Maysa. Ya walau Amy juga dapat melihat kesedihan di wajah Maysa, yang menandakan Maysa memang tidak ingin hamil atau bahkan berada di dekat lelaki itu.
"Ah sayang, benar kan dugaan saya. Kamu itu hamil sayang, kamu ngeyel sih gak mau percaya sama saya tadi!" kekeh Harold.
__ADS_1
Maysa terdiam saja, perlahan ia menundukkan wajahnya dan air mata semakin banyak mengucur. Harold yang melihat itu sontak panik, ia langsung bergegas mendekati calon istrinya dan menanyakan apa yang membuat wanita itu menangis. Padahal, seharusnya Maysa juga sama bahagianya seperti ia ketika mengetahui kehamilannya.
"Loh May, kamu kenapa sayang? Kok kamu nangis gini sih, apa yang bikin kamu sedih ha? Kamu gak suka sama kehamilan ini, atau gimana?" tanya Harold tampak panik.
Maysa menggelengkan kepalanya seraya mengusap air mata yang membasuh pipinya itu, Maysa berusaha tetap tegar di hadapan Harold karena tak ingin membuat pria itu curiga atau bahkan marah padanya. Namun, Harold yakin ada sesuatu yang disembunyikan Maysa darinya saat ini.
"Rold, bisa kita bicara sebentar berdua?" tiba-tiba Amy menyela, dan mengajak Harold untuk bicara bersamanya.
"Hah? Soal apa?" tanya Harold kebingungan.
"Eee udah ayo kita bicara aja!" tanpa menunggu jawaban dari Harold, wanita itu langsung menarik tangan Harold dan membawanya menjauh dari sana.
Harold pun tak menolak, ia juga penasaran apa yang ingin dibicarakan Amy padanya. Walau ia tidak tega karena harus meninggalkan Maysa dalam keadaan menangis, tetapi mungkin pembicaraan itu tak akan memakan waktu lama.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1