
Maysa dan seluruh pengawal di rumahnya dibuat terkejut dengan kemunculan dua orang polisi secara tiba-tiba itu, Maysa tak mengerti apa yang terjadi dan sungguh kebingungan. Ia pun coba mendekat dan berbicara dengan kedua polisi itu, karena ia tak merasa melakukan kesalahan. Namun, tampak jelas kalau kedua polisi di hadapannya itu membawa sebuah surat yang Maysa sendiri belum tahu apa itu.
Kini mereka dipersilahkan untuk duduk pada kursi yang tersedia di teras rumah itu, Maysa begitu gemetar karena ini kali pertama ia berhadapan dengan polisi, terlebih mereka ada dua. Maysa pun berulang kali menelan saliva, ia bahkan tak berani menatap langsung wajah keduanya. Lalu, salah seorang polisi menaruh surat itu di atas meja dan membuat Maysa melongok tanda tak mengerti.
"Tujuan kami kesini hanyalah untuk menyerahkan surat ini kepada istri dari saudara Harold, yakni ibu Maysa Najoan," ucap polisi itu.
Maysa terkejut mendengarnya, "Surat dari suami saya, pak? Memangnya ada apa ya pak, kenapa suami saya sampai harus memberikan surat ini ke saya?" tanyanya begitu penasaran.
"Iya bu, jadi saudara Harold ini sekarang sudah menjadi tahanan besar kami. Beliau ditahan di sebuah pulau yang jauh," jawab polisi itu.
Deg
Betapa syoknya Maysa mendengar penjelasan dari polisi tersebut, Maysa tak menyangka kalau saat ini ternyata suaminya ditahan oleh polisi. Ia menggeleng tak percaya, semua itu terasa tidak mungkin terjadi terhadap suaminya. Maysa berusaha meyakinkan dirinya, kalau semua ini tidak benar dan polisi-polisi itu salah dalam melakukan tindakan.
"Ini gak mungkin pak, pasti semuanya gak benar. Mana mungkin suami saya di penjara? Dia lagi kerja kok di luar kota, ini pasti bapak salah sangka kan! Bukan Harold suami saya yang kalian tangkap, iya kan?" ucap Maysa mengelak.
Polisi-polisi itu tampak saling bertatapan, mereka seolah mewajarkan reaksi Maysa saat ini yang terkejut ketika mendengar berita penangkapan suaminya. Namun, polisi itu kembali menegaskan kalau Harold yang mereka maksud memang merupakan suami dari Maysa sendiri. Apalagi, nama mereka sudah jelas-jelas sama.
"Maaf bu, kami tidak mungkin salah memberikan informasi! Jika ibu tidak percaya, silahkan dibaca saja isi surat tersebut!" ucap si polisi.
"Tapi pak, kenapa suami saya bisa ditangkap? Apa salah dia?" tanya Maysa terheran-heran.
"Suami ibu ini terlibat dalam sebuah sindikat penjualan senjata ilegal, yang sudah lama kami cari. Beliau juga terlibat pada kerusuhan yang terjadi di timur, itu sebabnya saudara Harold ditempatkan pada ruang yang berbeda," jelas polisi itu.
"Apa??" Maysa tersentak dan sampai menutupi mulutnya karena mendengar penjelasan itu.
Kembali air mata menetes di wajahnya, Maysa begitu syok dan kecewa mengetahui jika suaminya begitu jahat. Maysa menatap surat yang diberikan Harold padanya itu, entah kenapa saat ini ia sudah tak tertarik untuk bisa membaca isi surat tersebut, karena rasa kecewanya yang sudah begitu besar.
"Kenapa kamu tega kayak gini, mas? Kamu bohongi aku, kamu bilang kamu udah gak terlibat di bisnis gelap itu. Tapi apa, sekarang kamu malah tertangkap karena bisnis itu!" batinnya.
__ADS_1
Sangking sedihnya, Maysa bahkan sampai merobek surat pemberian Harold itu hingga tak berbentuk sama sekali. Maysa pun menangis saat itu juga, yang membuat Theo spontan mendekat untuk menanyakan kondisinya. Hati Maysa begitu hancur mengetahui semuanya, ia tak menyangka kalau suaminya ternyata tengah mendekam di penjara.
"Bu, ibu gapapa?" tanya Theo yang tampak panik dan berusaha menolong wanita itu.
Maysa menggeleng pelan, "Saya gapapa, kamu gak perlu repot-repot perduli sama saya!" ucapnya dengan nada ketus.
Sesaat kemudian, Maysa terjatuh pingsan dan membuat seisi rumah panik melihatnya.
•
•
"May, Maysa bangun Maysa!"
Suara itu mengejutkan dirinya, ya seketika Maysa membuka matanya dan terbangun dari tidurnya sambil memegangi kepalanya. Ia menatap sekitar, betapa terkejutnya ia melihat ibunya berada di dalam kamarnya saat ini. Sontak Maysa merasa bingung, kejadian yang ia alami tadi seperti sebuah kenyataan yang membingungkan.
"Hah? Polisi apa sih sayang?" Melinda terlihat heran dengan pertanyaan yang diajukan putrinya itu.
"Awhh sshhh.." tiba-tiba Maysa merintih kali ini.
Melinda yang melihat itu seketika panik, apalagi Maysa terlihat memegangi perutnya dan membuat Melinda khawatir terjadi sesuatu padanya. Ya entah kenapa Maysa bersikap seperti itu, sehingga Melinda tidak bisa tenang kali ini. Perlahan Melinda pun membantu Maysa untuk berbaring kembali, agar rasa sakit dapat berkurang.
"Kamu itu kenapa sih sayang? Ibu dengar loh suara teriakan kamu dari luar kamar tadi, apa kamu abis mimpi buruk?" tanya Melinda penasaran.
Maysa mengernyitkan dahinya, "Mimpi? Jadi, yang aku alami tadi cuma mimpi?" ujarnya.
Tentu saja Maysa merasa amat bahagia, ia lega karena ternyata itu semua hanyalah mimpi dan tidak benar-benar terjadi. Namun, Maysa sendiri masih bingung mengapa bisa mimpi itu terasa begitu nyata dan hampir membuatnya jantungan. Untung saja ia lebih cepat bangun saat ini, kalau tidak mungkin terjadi sesuatu yang lebih buruk nantinya.
"Emangnya kamu mimpi apa sih, hm? Mama jadi penasaran banget deh," tanya Melinda.
__ADS_1
"Ibu gausah tahu deh mending, lagian kata orang kan kalau mimpi buruk itu gak boleh diceritain. Sekarang aku mau siap-siap mandi aja bu," ucap Maysa sambil tersenyum.
"Huft, iya juga sih kamu benar. Yaudah, tapi kamu istirahat dulu ya sayang! Kondisi kamu masih belum pulih loh ini, kamu kan habis keguguran. Jadi, kamu jangan terlalu banyak beraktivitas dulu ya sayang!" ucap Melinda.
"Iya bu, sampai sekarang aku belum bisa terima dengan semua ini. Aku kehilangan dua orang yang aku sayang secara bersamaan," ucap Maysa.
Melinda pun ikut bersedih dibuatnya, ia taruh satu tangannya di atas pundak Maysa dan mengusapnya secara perlahan sebagai bentuk kasih sayang. Melinda tahu betapa sedihnya Maysa saat ini, apalagi Maysa harus kehilangan calon bayi di dalam kandungannya bersamaan dengan kepergian adik tercinta untuk selamanya.
Namun, dering telpon muncul secara tiba-tiba dan membuat keduanya terkejut. Maysa mencari asal suara, rupanya itu berasal dari ponsel miliknya. Tanpa berpikir panjang, Maysa segera mengambil ponselnya itu dan melihat siapa yang menelponnya. Tapi ternyata, tidak terlihat nama dari si penelpon yang artinya nomor itu tidak dikenal.
"Siapa yang telpon kamu sayang? Kenapa gak diangkat?" tanya Melinda.
Maysa menggeleng perlahan, "Gak tahu nih bu, nomornya gak dikenal. Males banget aku angkatnya, paling juga dari tukang kredit," ucapnya lirih.
"Loh kok gitu sih? Siapa tahu itu penting loh, kamu angkat aja dulu!" ucap Melinda.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Maysa memilih mengikuti saran dari ibunya untuk mengangkat telpon tersebut. Lagipun, tak ada salahnya memang apabila Maysa mengangkat telpon itu untuk mencari tahu siapa yang menelponnya. Kini Maysa pun menekan tombol hijau di layar ponselnya, lalu meletakkan ponsel itu di dekat telinganya.
📞"Halo! Ini dengan siapa ya, ada apa telpon saya dan darimana kamu dapat telpon saya?" Maysa langsung mengajukan banyak pertanyaan pada si penelpon tersebut.
📞"Halo Maysa!"
Deg
Baru mendengar suara dari si penelpon saja, jantung Maysa sudah berdegup kencang dan merasa sangat ketakutan. Ia reflek menjauhkan ponselnya, membuat Melinda ikut merasa heran dengan kelakuan aneh putrinya itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1