Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Apa hubungannya?


__ADS_3

Melinda merasa senang begitu melihat sosok putrinya di depan matanya, senyum langsung mengembang di wajahnya ketika Maysa mendekat dan menyapanya saat ini. Ya Maysa telah berada tepat di depan mata Melinda, meski tadinya Maysa ragu untuk mendekati ibunya itu karena khawatir. Namun, Maysa juga tidak tega melihat Melinda yang terus saja histeris karena ingin bertemu putrinya.


Maysa terlihat bingung saat ini, ia sungguh takut jika nantinya ibunya itu akan bertanya mengenai sosok Saskia yang sekarang tidak ada disana. Sedari awal Maysa memang sudah menebak jika ibunya itu pasti memiliki firasat, karena terbukti sang ibu bisa sampai tersadar disaat yang bersamaan. Padahal, sebelumnya dokter sendiri sudah berkata bahwa Melinda akan sadar dalam waktu cukup lama.


"Bu, jangan sedih lagi ya! Aku kan ada disini sekarang, di depan ibu. Aku senang banget bisa lihat ibu sadar kayak gini, ibu harus tenang ya supaya ibu juga bisa cepat sehat!" ucap Maysa lembut.


"Ah sayang, ibu juga senang bisa ketemu kamu! Tapi kenapa kamu di kursi roda sayang, apa yang terjadi sama kamu? Kamu sakit, hm?" tanya Melinda.


"Eee...." Maysa kembali dibuat bingung kali ini.


Maysa sempat melirik ke arah Javier untuk meminta bantuan dari pria itu, tetapi tampak Javier juga menggeleng pelan karena tidak tahu harus apa. Maysa pun kembali menatap ibunya, ia raih satu tangan sang ibu dan mengecupnya lembut. Maysa tak ingin ibunya itu khawatir, apalagi jika ia berkata kalau ia baru saja keguguran.


"Aku gapapa bu, aku baik-baik aja. Ibu gak perlu cemasin aku, justru harusnya ibu yang banyak istirahat biar cepat sehat!" ucap Maysa.


"Sayang, kamu jangan bohongi ibu deh! Jujur sama ibu, kamu itu kenapa!" ucap Melinda.


Ya Melinda memang sulit untuk dibohongi, ia tahu betul kalau habis terjadi sesuatu kepada Maysa yang membuat wanita itu harus terduduk di kursi roda. Tak mungkin jika Maysa baik-baik saja, karena sekarang Maysa terlihat begitu pucat. Melinda pun tampak begitu cemas, ia tak mau kalau sampai Maysa terluka atau tersakiti kali ini.


"Ibu ini kenapa sih? Kok ibu gak percayaan banget sama aku?" ucap Maysa lirih.


"Ya gimana ibu mau percaya coba? Kondisi kamu aja kayak begini, kamu datang kesini pakai kursi roda. Itu tandanya kan kamu gak sehat loh sayang," ucap Melinda.


"Iya bu, aku emang pake kursi roda. Tapi, aku udah gak kenapa-napa kok," ucap Maysa tersenyum.


"Nah kalo udah gapapa, berarti sebelumnya pernah apa-apa? Kamu cerita sama mama ya sayang, soalnya mama itu cemas banget sama kamu dan mama punya firasat gak enak sama anak-anak mama ini!" ucap Melinda begitu cemas.

__ADS_1


"Umm, sekarang mama gak perlu khawatir lagi ya! Aku kan udah sehat loh ini," ucap Maysa.


"Iya deh iya mama percaya, terus adik kamu kemana sayang? Dia kok gak ikut kamu kesini buat ketemu sama mama?" tanya Melinda penasaran.


Deg


Maysa tersentak dan spontan menatap wajah Javier, apa yang ia khawatirkan sedari tadi akhirnya terjadi. Ibunya itu bertanya padanya mengenai Saskia, yang membuat Maysa kini merasa bingung harus menjawab apa pada ibunya. Maysa tak mau jika Melinda syok nantinya, apalagi kondisi Melinda saat ini masih belum pulih benar dari penyakitnya.


"Sayang, kok kamu diam? Dimana Saskia, adik kamu itu?" Melinda kembali mengulang kalimatnya dan terus mencecar Maysa kali ini.


Maysa benar-benar bingung, begitu juga dengan Javier yang hanya bisa terdiam. Keduanya tidak tahu harus menjawab apa, karena mereka khawatir jika Melinda tidak dapat menerima faktanya.




Begitu mereka sampai disana, Rendy begitu terkejut karena ternyata rumah yang ditunjukkan Mawar adalah rumah milik Harold. Sontak Rendy reflek menatap ke arah putrinya itu, ia penasaran mengapa Mawar justru membawanya kesana. Padahal, jelas sekali bahwa tadi Rendy meminta pada Mawar untuk mengajaknya ke tempat kekasihnya.


"Sayang, ini kenapa kita kesini ya? Papa kan minta sama kamu buat anterin ke rumah pacar kamu, kok malah kesini?" tanya Rendy terheran-heran.


"Loh ya iya dong pa, ini tuh rumahnya kak Javier. Waktu itu aku pernah diajak kesini sama dia, jadi ya mungkin aja sekarang dia emang lagi ada di dalam sana," jawab Mawar sambil tersenyum.


"Apa??" Rendy terkejut bukan main, matanya terbelalak lebar disertai mulut terbuka.


Rendy kini beralih menatap rumah besar itu, ia yakin sekali kalau yang ia datangi saat ini memang benar adalah rumah milik Harold. Namun, tadi putrinya berkata jika rumah di depan sana adalah tempat tinggal kekasihnya. Rendy sungguh bingung, ia berpikir keras apa hubungan antara kekasih putrinya itu dengan Harold yang merupakan anak buahnya.

__ADS_1


"Papa kenapa kaget gitu sih? Apa papa tahu sama rumah ini?" tanya Mawar tampak penasaran.


"Eee enggak kok sayang, papa cuma lagi mikir tadi. Kayaknya papa agak familiar sama rumah ini, tapi papa lupa-lupa ingat gitu," ucap Rendy.


"Ah masa sih? Jangan-jangan papa kenal ya sama kak Javier?" tanya Mawar.


Rendy menggeleng, "Bukan, justru itu yang papa bingungkan. Soalnya papa taunya tuh rumah ini milik kolega papa, bukan si Javier pacar kamu itu. Apa mereka ada hubungan ya?" ujarnya menjelaskan.


"Ohh, ya aku gak tahu sih, pa. Emangnya kolega papa itu namanya siapa?" ucap Mawar.


Bukannya menjawab, Rendy justru tersenyum dan memalingkan wajahnya kembali ke arah rumah milik Harold itu. Rendy masih tak menyangka kali ini, karena ternyata pria yang menjadi kekasih putrinya memiliki hubungan dengan Harold. Meski Rendy belum tahu apa hubungan mereka, tapi tetap saja ia tak menyukai hal itu.


"Pa, papa sebenarnya kenapa sih? Ini kita jadi gak ketemu sama kak Javier?" Mawar terlihat bingung karena sikap aneh papanya itu.


"Lain kali aja deh kita ketemu pacar kamu itu ya sayang, papa baru ingat kalau ada yang harus papa urus. Kamu juga ikut sama papa ya? Papa gak mau kamu menghilang lagi seperti kemarin," ucap Rendy.


"Papa aneh banget sih, tadi aja maksa banget supaya aku mau antar papa kesini. Lah giliran udah nyampe, papa malah minta balik," kesal Mawar.


Rendy tersenyum lebar dan mengusap puncak kepala putrinya itu dengan lembut, ia tak lagi berkata apa-apa dan bersiap menyalakan mesin mobilnya. Akan tetapi, tanpa diduga ia justru tak sengaja melihat seorang anak kecil keluar dari dalam rumah itu. Betapa syoknya Rendy, karena yang ia lihat itu adalah Zanna alias putri kandung Harold.


"Apa-apaan ini? Kenapa Zanna bisa ada di rumah ini? Jelas banget saya sudah tangkap dia dan juga ibunya waktu itu, tapi kenapa sekarang dia bisa ada disini? Ada yang gak beres nih, saya harus cepat sampai ke markas!" gumam Rendy kebingungan.


"Papa bicara apa sih?" tanpa diduga, Mawar masih dapat mendengar ucapan lirih papanya.


Sontak Rendy terkejut, namun ia hanya tersenyum menatap wajah putrinya dan tidak mengatakan apapun kali ini.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2