Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Minta bantuan


__ADS_3

"Mbak, aku turun duluan ya?" Saskia pamit pada kakaknya itu sembari mencium tangannya, ia pun juga diberikan uang jajan oleh Maysa seperti biasanya.


Lalu, Saskia beralih menatap Harold dan juga ikut berpamitan padanya.


"Kak Harold, makasih ya udah anterin aku! Kalo gitu aku sekarang mau sekolah dulu, kalian have fun ya berdua!" ucap Saskia sambil tersenyum.


"Ish, apa sih kamu dek!" kesal Maysa.


Saskia terkekeh dibuatnya, kemudian gadis itu pun turun dan melangkah masuk ke dalam sekolahnya. Kini tinggallah Maysa berdua dengan Harold, suasana canggung kembali terjadi dan membuat wanita itu memalingkan wajahnya. Jujur Maysa tak tahu harus mengatakan apa saat berdua bersama Harold seperti ini, pasalnya sikap dingin Harold selalu membuatnya gugup dan kebingungan.


Harold melirik wajah Maysa sekilas, sebelum mulai melajukan mobilnya kembali meninggalkan sekolah Saskia.


Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam, Maysa bahkan tampak fokus pada layar ponselnya dan sengaja mengabaikan lirikan dari Harold karena ia tak mau bertatap mata dengan pria itu. Namun, tanpa diduga Harold justru mengerem secara mendadak dan membuat Maysa terkejut serta nyaris terbentur dashboard mobil.


"Hah? Anda ini kenapa sih, tuan Harold yang terhormat? Apa anda sengaja mau melukai saya, iya? Ini cara anda untuk balas dendam ke saya, karena saya gak mau menikah dengan anda?" protes Maysa.


Harold menoleh ke arahnya, senyuman tipis terlihat di bibirnya dan jantung Maysa berdetak kencang saat itu juga. Oh Tuhan, sepertinya Maysa sudah terkena godaan dari duda liar itu.


"Ih anda ini kenapa sih? Kampus saya masih jauh loh, anda lupa ya sama jalannya? Oh wajar sih, anda kan memang sudah tua. Tapi sayang, kelakuan anda itu tidak mencerminkan umur anda. Dasar aki-aki mesum!" lanjut Maysa.


Bukannya menjawab perkataan Maysa, lelaki di sebelahnya itu malah melepas sabuk pengaman dari tubuhnya. Lalu, perlahan Harold mendekat ke arah Maysa dan membuat Maysa berusaha menghindar. Wanita itu benar-benar kebingungan, ia sampai kesulitan menelan saliva nya karena itu. Kini posisi mereka pun tampak saling berhadapan, dengan tubuh Harold yang seolah mengungkung Maysa.


"Udah ngomongnya? Gantian ya, saya juga mau bicara sama kamu!" lirih Harold.


Degup jantung Maysa terasa begitu cepat, wanita itu tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah pria yang kini tepat berada di depannya. Terlebih, Harold juga mulai mengusap lembut wajahnya dan membuat Maysa nyaris pingsan saat itu juga.


"Kamu cantik Maysa, saya suka saat kamu mengomel seperti tadi. Benar-benar cocok untuk jadi istri saya nanti," goda Harold.


Wanita itu benar-benar tak bisa melakukan apapun saat ini, posisinya sudah terjepit dan ia hanya bisa pasrah serta memejamkan mata ketika Harold terus mendekatinya dengan tangan yang membelai wajahnya. Jujur saja, sentuhan lembut Harold berhasil membuat Maysa merasa berdebar-debar dan bingung sendiri.


Cup


Akhirnya terjadi juga, Harold berhasil menempelkan bibirnya dengan bibir Maysa dan mulai melakukan ciuman lembutnya di dalam mobil itu sembari menahan tengkuk Maysa. Kali ini Maysa begitu menikmati permainan bibir Harold, tak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan yang diberikan pria itu sekarang ini padanya.


"Hmm, ini luar biasa sayang. Bibir kamu selalu jadi candu buat saya!" goda Harold selepas mengakhiri permainan bibirnya.


Maysa hanya terdiam, kondisinya masih sangat gugup saat ini setelah percumbuan mereka tadi. Namun rupanya Harold tak ingin berhenti sampai disana, lelaki itu kembali menarik wajah Maysa dan melahap bibirnya. Bahkan kali ini lebih ganas dari yang sebelumnya, membuat Maysa hampir kehilangan nafasnya.




Siang harinya, Saskia yang baru pulang sekolah dikejutkan dengan keberadaan Harold di depan pintu gerbang sekolahnya itu. Bahkan Harold tampak melambaikan tangan ke arahnya, lalu diikuti senyum serta kode yang meminta Saskia untuk mendekat ke arahnya dan pulang bersamanya.


Saskia menurut saja, lalu perlahan melangkah mendekati Harold dengan wajah bingungnya. Ya Saskia masih tak mengerti apa maksud Harold datang ke sekolahnya, karena tadi pagi pria itu sama sekali tak mengatakan jika dia juga ingin menjemputnya. Namun, Saskia tetap merasa senang jika memang Harold ingin menawarkan tumpangan.


"Kak Harold, ada apa?" tanya Saskia pada pria itu dengan keheranan.


Harold tersenyum dibuatnya, "Kok kamu nanya gitu sih? Ya saya kesini mau jemput kamu Saskia, sekalian saya mau ajak kamu makan siang bareng di restoran dekat sini!" jawabnya santai.

__ADS_1


"Apa? Kenapa kak Harold malah ajak aku, kok enggak sama mbak Maysa aja?" heran Saskia.


"Saya itu mau bicarakan soal Maysa, kalau saya ajak dia mah gak pas dong. Kan ini juga demi kelancaran pernikahan saya dan dia nanti," jelas Harold.


"Oalah, pasti kak Harold mau tanya-tanya soal mbak Maysa ke aku ya?" tebak Saskia.


Harold mengangguk cepat, "Bisa dibilang seperti itu, udah yuk kita berangkat sekarang aja biar cepat!" ucapnya mengajak gadis itu.


"Okay kak." Saskia mengangguk setuju dan mengangkat tangannya membentuk huruf 'o'.


Kini Saskia pun masuk ke dalam mobil bersama pria itu, keduanya duduk berduaan di kursi depan sambil saling tersenyum satu sama lain. Saskia tampak bahagia saat ini, sebab ia bisa menaiki mobil mewah seperti milik Harold itu dan tentunya disaksikan langsung oleh para teman-temannya.


Saskia menyempatkan diri untuk membuka kaca mobil itu, lalu melambaikan tangan ke arah luar sembari menyapa teman-temannya. Saskia tentu ingin memamerkan dirinya yang sedang ada di dalam sebuah mobil mewah, jarang sekali ia bisa merasakan ini karena memang selama hidupnya Saskia belum pernah naik ke dalam mobil mewah.


Harold yang melihatnya tersenyum saja sembari menggelengkan kepala, ia mewajarkan tindakan gadis itu dan malah ikut bahagia karena Saskia mudah berbaur dengannya. Kini harapan Harold untuk memiliki Maysa seutuhnya semakin terbuka lebar, tentunya melalui pendekatan dengan Saskia yang merupakan adik kandung Maysa.


Singkat cerita, mereka berdua telah sampai di salah satu restoran mewah yang ada di kota. Harold sengaja membawa Saskia kesana, karena ia ingin mengajukan banyak pertanyaan kepada gadis itu terkait Maysa. Harold juga berharap dengan ini maka Saskia dapat membantunya untuk memiliki Maysa, karena hanya itulah satu-satunya cara.


"Sas, kamu pesan aja apa yang kamu mau! Gausah mikirin harga atau apalah itu, semuanya saya yang bayar nanti!" suruh Harold.


"Umm, aku gak enak kak. Aku juga bingung mau pesan apa, abis disini mahal-mahal semua. Nama makanannya juga aku gak ngerti semua tau," ucap Saskia kebingungan.


Harold tersenyum, lalu membantu Saskia untuk memilih makanan disana. Setelah menemukan makanan yang sesuai, barulah Harold memanggil pelayan disana dan mengatakan pesanan mereka kepadanya. Jujur Saskia jarang sekali datang ke tempat makan semewah itu, dan baru kali ini Saskia pergi kesana bersama seorang lelaki.


"Gimana Saskia, kamu suka kan sama makanannya?" tanya Harold begitu Saskia mencicipi makanan yang sudah datang.


Saskia manggut-manggut sambil tersenyum, "Iya suka kak, ini semua enak-enak!" jawabnya.


"Iya kak, makasih banyak ya. Tapi, kak Harold mau bicara apa ya sama aku sampai bawa aku kesini?" tanya Saskia penasaran.


"Eee itu dia Sas, saya mau minta bantuan kamu untuk bisa dapetin hati Maysa. Kira-kira kamu mau apa enggak bantu saya?" ucap Harold.


Saskia sampai harus menghentikan aktivitas makannya begitu mendengar permintaan yang diajukan Harold, tentu saja ia senang dan tak mungkin menolak permintaan Harold itu. Justru ia akan dengan senang hati mau membantunya, karena ia sangat bahagia bila Maysa menikah dengan Harold yang baik itu.




Disisi lain, Maysa masih berada di kampusnya bersama dua orang sahabatnya. Wanita itu terlihat terus melamun memikirkan perkataan Harold yang ingin menikahinya, jujur saja Maysa sangat bingung dan tidak tahu apakah ia harus pasrah atau tetap kekeuh pada keputusannya untuk menolak dan menjauh dari Harold.


Biar bagaimanapun, Harold lah orang yang sudah merenggut kesuciannya dan membuat hidupnya menderita seperti sekarang ini. Namun, entah kenapa belakangan ini ia merasakan sesuatu yang berbeda tiap kali ia berada di dekat Harold. Terlebih ketika kejadian di mobil tadi, yang mana Harold benar-benar memberikan kenyamanan untuknya.


"Eh May, lu kenapa ngelamun aja sih daritadi? Gue sama Ziva tuh ngajak lu bicara tau, eh lu malah diem aja!" tanya Kayla menegur sohibnya itu.


Maysa pun tersadar dari lamunannya, lalu ia beralih menatap Kayla serta Ziva di sebelahnya. Wanita itu terlihat kebingungan, ia tak tahu harus menjawab apa pada Kayla maupun Ziva saat ini. Pasalnya, tak mungkin ia berkata jujur kalau ia sedang memikirkan pria yang merenggut kesuciannya.


"Eee gue...."


"Maysa!" baru saja Maysa hendak berbicara, tiba-tiba seorang lelaki lebih dulu menyapanya dan berhenti tepat di dekatnya.

__ADS_1


Ya lelaki itu adalah Peter, atau yang biasa dikenali sebagai mantan kekasih dari Maysa. Tentu saja kehadiran Peter disana membuat Maysa sangat kesal, wanita itu tentunya tak mau lagi melihat atau berbicara dengan Peter saat ini. Namun, apa boleh buat karena sekarang Maysa tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah dan berdiam diri.


"Hadeh Peter, ngapain sih lu masih deketin Maysa? Kalian itu kan udah putus hubungan ya, jadi harusnya lu gak perlu lah datengin dia lagi!" cibir Kayla.


"Iya Peter, belum puas apa lu udah nyakitin hati Maysa? Masih pengen lu lihat Maysa sedih atau nangis, iya? Emang dasar cowok gak tahu diri, dikasih hati malah kayak gitu!" sahut Ziva.


"Heh! Kalian berdua diam dulu deh, gausah ikut campur kalau kalian gak tahu apa masalah yang terjadi!" kesal Peter.


"Loh, kata siapa kita gak tahu? Gue sama Ziva udah tahu semuanya kali, lu itu lelaki paling gak bersyukur di dunia! Lu udah dapetin wanita sebaik dan secantik Maysa, tapi lu malah sia-siain dia gitu aja!" ujar Ziva.


"Bener tuh, apa sih kurangnya Maysa? Banyak loh malahan laki-laki yang kejar dia," ucap Kayla.


Peter menghela nafasnya, ia berusaha menenangkan diri untuk tidak emosi karena saat ini ia hanya ingin berbicara dengan Maysa. Peter menyesal telah membuang wanita itu begitu saja sebelumnya, seharusnya ia lebih bersabar dan mau mendengarkan dulu penjelasan Maysa sehingga kejadian seperti itu tidak akan terjadi.


"Sssttt, kalian berdua diam dulu jangan marah kayak gitu! Biar gue yang bicara sama Peter, gue penasaran nih orang mau apa lagi!" ucap Maysa.


Peter hanya menundukkan wajahnya, ia sebenarnya merasa malu saat berhadapan dengan Maysa. Biar bagaimanapun, Peter sudah sempat membuat hati Maysa hancur saat dulu ia memutuskan Maysa begitu saja setelah tahu wanita itu sudah tidak suci lagi karena diperkosa seseorang.


"Lo mau apa lagi sih, ha?" tanya Maysa dengan ketus ke arah Peter.


"Eee aku mau ngobrol berdua sama kamu, May. Kamu ikut aku sebentar yuk ke salah satu cafe di dekat sini!" ajak Peter.


"Hah ngapain? Sorry ya, gue gak ada waktu buat ladenin orang kayak lu!" tolak Maysa.


"Tapi May, ini penting. Aku mau kamu dengerin aku dulu, aku benar-benar nyesel udah putusin kamu waktu itu sayang! Aku harap kita bisa balikan lagi, kamu mau ya ikut sama aku!" paksa Peter.


"Dih, gak salah tuh lu ngomong kayak gitu?" Maysa terkejut seraya menggelengkan kepalanya.


"Ini beneran May, aku gak bisa hidup tanpa kamu. Aku pengen kita balikan seperti dulu, please May kali ini kamu dengerin aku ya!" bujuk Peter.


Maysa geleng-geleng kepala dan terkekeh kecil mendengar perkataan mantan kekasihnya itu, bahkan Kayla serta Ziva juga ikut terkekeh dan meledek Peter yang terus memaksa Maysa untuk balikan dengannya. Padahal dulu Peter lah yang sudah memutus hubungan dengan Maysa, tetapi kali ini Peter malah memohon-mohon di depan Maysa.


"Gue heran deh sama lu, Peter. Kok bisa ya ada laki-laki kayak lu? Lu gak punya malu apa gimana sih?" heran Kayla.


"Diem lu Kayla! Gue cuma mau bicara sama Maysa, jadi lu gausah ikut campur!" sentak Peter.


Kayla tertawa puas mendengar bentakan Peter, ia senang melihat lelaki itu emosi karena perkataannya tadi. Namun, Peter tak berhenti sampai disana dan terus memaksa Maysa untuk mau ikut bersamanya. Peter memang keras kepala, lelaki itu selalu ingin setiap keinginannya terpenuhi.


"Udah udah, kalian jangan pada ribut disini! Gue mau kok ikut sama lu Peter, ayo kita bicara di cafe sekarang! Tapi, gue gak bisa lama-lama. Ya paling gue cuma punya waktu sepuluh menit," ucap Maysa.


Peter melebarkan senyumnya, "Nah bagus, aku senang banget dengarnya sayang!" ucapnya.


Maysa memalingkan wajahnya seolah tak ingin melihat tatapan pria itu, dan saat Peter hendak meraih tangannya dengan cepat Maysa menghentak serta menghindar dari telapak tangan lelaki itu karena tak mau disentuh olehnya.


"Jangan sentuh-sentuh gue! Lo jalan duluan sana, gue nyusul setelah bicara sama Kayla dan Ziva!" usir Maysa.


"Okay."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2