Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Saskia....


__ADS_3

Plaaakk


Tamparan keras mendarat di pipi salah seorang pria yang kini tengah menghadap bosnya, ya itu semua terjadi lantaran kegagalannya dalam menculik Maysa dan kehilangan jejak wanita itu. Padahal, nyaris saja dia berhasil membawa Maysa menuju bosnya itu sesuai perintah. Akan tetapi, di tengah jalan justru Maysa dengan nekat melompat ke luar mobil dan menyebabkan keguguran baginya.


Jeevan sama sekali tidak senang mendengar hal itu, yang ia inginkan adalah Maysa dan bukan kabar mengenai keguguran wanita itu. Apa yang disampaikan anak buahnya saat ini sama sekali tidak membuatnya senang, meski ia juga ingin melihat Harold menderita. Namun, Jeevan belum puas jika ia belum berhasil membawa Maysa ke tempatnya dan membalaskan dendamnya itu.


"Kalian memang bodoh! Ditugaskan menangkap Maysa saja kalian tidak bisa, dasar payah! Harus berapa kali lagi saya beri kalian kesempatan, ha? Kalian itu tidak bisa diandalkan!" geram Jeevan.


"Maafkan kami, bos! Kami akan berjuang kembali untuk membawa Maysa kemari, kami janji bos! Begitu dia sadar nanti, dia pasti terkejut karena dia sudah berada di tempat kita sekarang bos!" ucap seorang anak buahnya.


"Cukup omong kosongnya, saya gak butuh itu!" sentak Jeevan penuh emosi.


Jeevan sudah benar-benar tidak dapat menahan emosinya lagi saat ini, ia mengambil senjata api miliknya dan bersiap menembak ke arah anak buahnya yang lalai itu. Sontak mereka berdua sama-sama terkejut, mencoba memohon pada Jeevan untuk tidak menghabisinya dan mau memberi ampun pada mereka kali ini.


"Hah? Bos, saya mohon bos jangan habisi kami! Kami janji akan membawa Maysa kemari, percaya sama kami bos!" ucap anak buahnya itu.


"Ah omong kosong! Saya gak percaya sama semua yang kalian bicarakan!" sentak Jeevan.


"Ja-jangan bos, kami mohon ampuni kami! Tolong berikan kami satu kesempatan lagi, kali ini kami janji tidak akan mengecewakan bos!" ucap anak buahnya terus memohon dengan wajah ketakutan.


"Haish, baiklah saya kasih kalian satu kesempatan lagi! Bawa Maysa kemari, bagaimanapun caranya!" titah Jeevan.


Sontak kedua anak buahnya itu merasa lega mendengar ucapan yang dilontarkan bos mereka, setidaknya kini nyawa mereka masih bisa selamat karena Jeevan memberikan satu kesempatan lagi bagi mereka. Meski begitu, tetap saja mereka harus berjuang keras untuk bisa membawa Maysa ke tempat bosnya itu nanti.


"Sekarang kalian cepat pergi dari sini, jangan kembali sampai kalian berhasil mendapatkan Maysa!" ucap Jeevan memberi perintah.


"Ba-baik bos!" ucap keduanya bersamaan.


Setelahnya, kedua orang anak buah Jeevan itu mulai pergi meninggalkan markas dan bergegas mencari keberadaan Maysa. Ya mereka akan terus berusaha demi bisa membawa Maysa ke hadapan Jeevan, karena jika tidak nyawa mereka lah taruhannya. Apapun yang terjadi, mereka harus bisa mendapatkan Maysa nantinya.


"Tuan, kenapa anda harus menggunakan Maysa sebagai alat balas dendam pada Harold? Apa tidak ada cara lain tuan?" Tom alias asisten Jeevan datang mendekat, lalu berbisik di telinganya.


"Kamu diam saja Tom, biar saya yang urus semua keinginan saya!" pinta Jeevan.


Tom terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa, bosnya itu memang cukup keras dan tak suka dibantah oleh siapapun. Meski Tom tampak tidak setuju dengan rencana yang dibuat Jeevan, namun ia tak dapat berbuat apa-apa untuk menahan bosnya itu. Ya saat ini Tom hanya bisa mengikuti perintah Jeevan, karena ia masih membutuhkan pekerjaan itu.


"Saya akan tangkap kamu, Maysa! Kamu tidak bisa lepas dari saya begitu saja, kamu akan menjadi tawanan saya nantinya!" geram Jeevan.




Kini Javier menemui Maysa yang telah sadarkan diri dan pulih seperti semula, meski begitu tampak Maysa masih belum bisa terima dengan apa yang dia alami saat ini. Ya tentu saja Maysa sangat kecewa dan menyesal, akibat tindakan nekatnya kala itu sekarang justru Maysa harus kehilangan sosok bayi yang sudah lama ia nanti-nantikan.


Javier pun terlihat bingung kali ini, ia tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa membujuk Maysa agar wanita itu tidak bersedih lagi. Bahkan, Maysa sampai tidak mau makan karena yang ada di pikirannya hanyalah anaknya. Javier paham betul kesedihan yang dirasakan Maysa, sebab ia juga tak mau ini semua terjadi kepada calon ponakannya itu.


"Maysa, kamu harus ikhlas! Kamu gak boleh terus larut dalam kesedihan kayak gini!" ucap Javier dengan lirih disertai senyum tipisnya.


Sontak Maysa menoleh ke arahnya dengan sinis, rahangnya mengeras pertanda ia tak suka pada perkataan Javier barusan. Sulit bagi Maysa untuk bisa mengikhlaskan kepergian calon anaknya, karena ini adalah yang pertama baginya. Untuk itu, Maysa tampak begitu emosi disaat Javier meminta dirinya tegar dan tidak terus bersedih.


"Kamu gak ngerti apa yang aku rasain, Javier! Kamu itu gak tahu apa-apa, kesedihan yang aku alami ini sangat besar Javier! Aku baru aja kehilangan anak aku, gimana caranya aku bisa ikhlas?" sentak Maysa.

__ADS_1


Deg


Javier tersentak mendengar kata-kata Maysa itu, ia tak menyangka kalau Maysa bisa sampai sekesal itu dan sungguh berbeda dengan Maysa biasanya. Tapi Javier memahami itu, karena pastinya sekarang Maysa masih dilanda kesedihan yang amat dalam. Rasanya Javier juga tak sanggup untuk menghibur Maysa, apalagi jika nantinya Maysa tahu kabar mengenai adiknya yang tertusuk.


"Hiks hiks, gimana nanti aku harus bicara sama mas Harold? Dia pasti marah besar setelah tahu calon anaknya itu meninggal," ucap Maysa terisak.


"Itu gak perlu kamu pikirin sekarang, Maysa! Kamu fokus aja dulu sama kesembuhan kamu, dokter bilang kamu harus makan supaya kondisi kamu bisa makin membaik!" bujuk Javier dengan perlahan.


Maysa menggeleng perlahan, "Gak bisa Vier, mana mungkin aku bisa makan dalam kondisi seperti ini? Aku aja masih belum bisa terima dengan kepergian anak aku, gimana caranya aku bisa makan coba? Kamu lebih baik pergi, biarkan aku sendiri meratapi nasib kesedihan aku disini!" ucapnya lirih.


"Tapi May, kalau kamu gak makan nanti kamu malah makin sakit loh! Emangnya kamu mau jatuh sakit, hm?" ucap Javier.


"Aku udah gak perduli lagi sama diri aku, Vier!" ucap Maysa seraya memalingkan wajahnya.


Javier benar-benar bingung saat ini, Maysa sangat sulit untuk dibujuk dan tetap saja kekeuh tidak mau memakan makanan yang dibawanya. Javier pun terlihat pasrah, ia letakkan piring di tangannya itu ke atas meja dan terduduk di dekat Maysa. Kini Javier mencoba mengajak bicara Maysa dari hati ke hati, supaya wanita itu bisa lebih tenang.


"Kamu gak boleh gitu Maysa, kasihan nanti anak kamu kalau lihat kamu jatuh sakit gara-gara mikirin dia! Aku yakin dia pasti sedih di atas sana, karena dia maunya kamu sehat Maysa!" ucap Javier.


Maysa terdiam, tak ada sedikitpun ia terpengaruh dengan ucapan yang dilontarkan Javier.


"Kamu pasti tahu kan Maysa? Anak kamu rela berkorban loh demi keselamatan kamu, dia rela kehilangan nyawanya supaya kamu masih bisa hidup sampai saat ini. Terus, apa sekarang kamu mau sakiti hati dia?" sambung Javier.


Kali ini Maysa menoleh ke arah Javier, ia menggeleng dan meminta Javier berhenti bicara karena ia sedang tidak ingin diganggu.




Clara membawa Zanna ke rumah Harold kali ini karena ia yakin hanya disana lah mereka bisa aman untuk sementara ini, ya Clara cukup khawatir jika Rendy atau anak buahnya masih melakukan pencarian pada mereka yang telah kabur dari sana. Clara tak mau mengambil resiko, apalagi hanya rumah Harold yang dijaga oleh para pengawal.


"Non Zanna, ini ada apa non? Kenapa non nangis coba? Kemana aja non selama ini, ha?" tanya Theo dengan penuh penasaran.


"Hiks hiks..." Zanna justru menangis terisak, kemudian berlari masuk ke dalam rumahnya melewati para penjaga disana. Tampaknya ia masih belum bisa melupakan Vino, walau kebersamaan mereka hanya sebentar.


Theo pun beralih menatap Clara, "Kenapa ini bu? Apa yang terjadi sama non Zanna?" tanyanya.


"Eee kami itu diculik, kami disekap di suatu tempat yang menyeramkan. Zanna terus menangis karena ketakutan, itu sebabnya dia sekarang langsung pergi masuk ke dalam," jelas Clara.


"Apa? Siapa yang berani menculik non Zanna, bu Clara?" tanya Theo tampak terkejut.


Clara menggeleng pelan, "Tidak tahu, tapi orang-orang disana panggil bos mereka dengan sebutan Rendy," jawabnya.


Deg


Theo terkejut bukan main, begitu juga dengan para pengawal yang lainnya. Mereka tahu betul siapa Rendy yang dimaksud oleh Clara itu, tapi mereka bingung mengapa Rendy sampai menculik Zanna dan menyekapnya seperti itu. Tentu saja mereka akan mencari tahu tentang ini nanti, karena sekarang mereka harus bisa menenangkan Clara serta Zanna.


"Kalau begitu, silahkan masuk bu!" ucap Theo memberi jalan bagi Clara.


"Terimakasih." Clara mengangguk singkat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah itu menyusul Zanna yang sudah lebih dulu kesana.


Sementara itu, Zanna sendiri telah berada di dalam rumah dan masih terus menangis terisak. Hal itu membuat Arum yang tengah terduduk di sofa terkejut, sontak Arum beranjak dan mendekat ke arah Zanna lalu memeluknya. Arum sungguh tak mengerti apa yang terjadi, ia juga kaget karena tiba-tiba Zanna masuk ke ruang tamu.

__ADS_1


"Non, ada apa non Zanna? Kenapa non nangis kayak gini, hm? Siapa yang bikin non nangis? Ayo bilang sama bibik, biar bibik hajar dia!" ucap Arum.


"Gak ada bik, aku cuma mau om Vino selamat. Tolong om Vino, bik!" rengek Zanna.


Arum terbelalak lebar mendengar kata-kata Zanna, ia bingung dan heran mengapa Zanna berbicara seperti itu. Ia juga tak mengenal siapa itu om Vino, bahkan baru kali ini Arum mendengar nama tersebut disebutkan oleh Zanna. Arum pun menangkup wajah gadis kecil itu, lalu coba bertanya secara perlahan kepadanya mengenai siapa om Vino.


"Sayang, emang om Vino itu siapa sih? Kenapa non minta bibik buat selamatin dia? Terus emangnya dia kenapa, non sayang? Kok sampai harus diselamatin kayak gitu?" tanya Arum kebingungan.


"Hiks hiks, om Vino kena tembak bik! Aku takut banget om Vino meninggal!" jawab Zanna.


"Hah??" Arum menganga lebar, ia masih belum bisa memahami perkataan Zanna kali ini.


"Non Zanna ini habis darimana sih? Kok bisa ada yang kena tembak kayak gitu? Jelasin pelan-pelan ke bibik ya sayang!" pinta Zanna.


"Hiks hiks...." Zanna semakin deras menangis di dalam pelukan Arum saat ini.




Dean diizinkan masuk ke dalam ruang ICU untuk menemui Saskia secara langsung, tentu saja ia diharuskan mengenakan pakaian khusus yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit. Ya Dean sudah sangat menantikan momen ini, karena ia begitu khawatir dengan Saskia dan ingin melihat gadis itu dengan mata kepalanya sendiri.


Kini Dean pun terduduk tepat di sebelah tubuh Saskia terbaring, ia tatap wajah gadis itu yang masih terpejam dan tertutupi infus. Dean meneteskan air matanya, ia tak menyangka semua ini akan terjadi kepada Saskia. Sungguh Dean menyesal karena gagal dalam menjaga Saskia, seharusnya ia lah yang ada di posisi Saskia saat ini.


Pria itu terus mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Saskia kepadanya, dimana kala itu Saskia berkata jika dia sudah menyukai Dean sedari lama. Dean sebenarnya sangat senang mendengar ucapan itu, tetapi kesenangan itu hanya sesaat karena kini ia harus melihat Saskia terbaring lemah disana. Dean pun berharap Saskia bisa segera sadar, karena ia tak mau kehilangan gadis itu.


Jika saja Dean lebih berhati-hati dan memperhatikan sekitar saat itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi kepada Saskia. Ia paling tidak bisa melihat sosok yang ia sayangi terluka seperti itu, pastinya ia akan sangat menyesal dan merasa bersalah. Tetes air mata tak bisa berhenti mengalir di wajahnya, Dean begitu bersedih di hadapan Saskia saat ini.


"Kamu harus kuat Saskia, aku yakin kamu pasti bisa sadar dan pulih seperti semula! Aku sayang sama kamu, begitu kamu sadar nanti aku pasti akan langsung menyatakan cinta aku ke kamu!" ucap Dean lirih.


Tak lama kemudian, ia melihat tangan Saskia bergerak dan tubuh gadis itu mengejang hebat. Sontak Dean panik dibuatnya, ia beranjak dari tempat duduk dan segera menekan tombol disana untuk memanggil dokter beserta perawat. Dean sangat ketakutan, ia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepada adik dari majikannya itu.


"Ada apa ini?" tanya dokter yang baru saja tiba disana bersama seorang perawat.


"Ini dok, pasien kejang-kejang! Saya mohon selamatkan dia dok, saya gak mau kehilangan dia!" ucap Dean sangat panik.


"Sabar ya pak! Sekarang bapak mohon tunggu di luar, biar dokter cek kondisi pasien dulu!" ucap suster yang meminta Dean keluar dari sana.


Dean pun menurut dan perlahan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, ia sangat cemas saat ini dan terus memikirkan kondisi Saskia. Rasanya Dean tidak mungkin bisa hidup tanpa Saskia, itulah sebabnya ia terus mendoakan yang terbaik bagi keselamatan gadis itu.


"Ya Tuhan, selamatkan lah Saskia! Jangan ambil nyawanya sekarang, ya Tuhan!" ucap Dean memohon dalam doanya.


Pria itu terus berharap-harap cemas, sampai kemudian dokter yang tadi menangani Saskia pun keluar dari dalam ruangan setelah beberapa menit memeriksa gadis itu. Sontak Dean bergegas menghampiri sang dokter, lalu bertanya padanya dengan wajah panik. Ya Dean tampak sudah tidak sabar, ia ingin mengetahui bagaimana kondisi gadis yang ia sayangi itu.


"Dok, gimana kondisi pasien dok? Apa yang terjadi sama dia, dok?" tanya Dean.


Dokter itu menghela nafasnya, "Maaf pak, pasien tidak bisa kami selamatkan! Yang maha kuasa lebih menyayanginya," jawabnya.


Deg


Dean tersentak, matanya terbelalak disertai mulut terbuka dan air mata yang mengalir dengan deras. Ia menggelengkan kepalanya, apa yang dikatakan dokter itu seolah seperti mimpi buruk baginya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2