
Mawar telah siap untuk pergi ke kampusnya pagi ini, ia pun menemui papanya di ruang kerja sang papa untuk sekedar berpamitan sekaligus meminta uang jajan dan juga ongkos untuknya. Ya saat ini Mawar masih tinggal di markas besar papanya itu, karena Rendy memang tak mengizinkan ia pergi dari sana. Apalagi, situasi saat ini sedang sangat gawat dan Rendy khawatir Mawar akan terluka nantinya.
Kali ini saja Mawar dipaksa untuk pergi ke kampus bersama salah seorang anak buah andalannya, yakni Daniel yang juga merupakan orang kepercayaannya. Rendy sangat percaya pada Daniel dan yakin kalau pria itu pasti bisa menjaga putrinya, sebab ia tak mau jika sampai Mawar jatuh ke tangan Harold. Ia yakin sekali, bahwa Harold serta anak buahnya pasti akan melakukan rencana balas dendam kepadanya.
Mau tidak mau Mawar menuruti saja perintah papanya itu untuk pergi ke kampus bersama Daniel, meski awalnya ia sempat menolak dan terjadi perdebatan kecil dengan papanya. Namun, pada akhirnya Mawar pun setuju dan patuh dengan apa yang dikatakan sang papa. Lagipula, itu semua juga demi keamanan dirinya yang sedang menjadi incaran dari kelompok Harold.
"Yaudah, aku mau deh diantar sama om Daniel. Sekarang papa izinin aku pergi ya? Kelas aku bentar lagi nih pa," ucap Mawar.
Rendy tersenyum mendengarnya, "Gitu dong sayang, kamu hati-hati ya! Dan kamu Daniel, saya percayakan Mawar sama kamu! Jaga dia dengan baik, jangan sampai dia lecet walau sedikit!" ucapnya.
"Baik mister!" ucap Daniel patuh.
Setelah berpamitan, Mawar bersama Daniel pun melangkah keluar dari ruangan itu dan segera pergi menuju mobil yang terparkir di luar. Semua terasa baik-baik saja saat ini, sehingga Mawar juga bisa terduduk santai di dalam mobil tanpa merasa curiga atau apapun terhadap keadaan di sekitarnya.
"Huft, begini nih nasib jadi anak bos mafia! Ke kampus aja mesti dikawal kayak gini," keluhnya.
Daniel jelas mendengar itu, namun ia hanya tersenyum dan fokus menyetir mobilnya sambil sesekali melirik ke arah Mawar melalui spionnya. Baik Daniel maupun Mawar, sama-sama tak menyadari bahwa sedari tadi ada yang memantau mereka dan mengikuti mereka ketika keluar dari markas besar Rendy.
Ya tampak sebuah mobil melaju tepat di belakang mobil mereka, bahkan lambat laun mulai mendekat dan sampai menabrak bumper bagian belakang mobil itu. Daniel sontak panik, ia reflek melihat spion dan tercengang ketika mengetahui ada mobil yang dengan sengaja menabrakkan diri ke arahnya.
"Sial! Mobil siapa itu? Berani sekali dia macam-macam dengan saya!" umpat Daniel.
Mawar pun terlihat panik, "Om, gimana ini om? Mereka musuh-musuhnya papa ya, om? Apa yang mau mereka lakuin om?" ujarnya.
"Tidak tahu non, tapi sebaiknya non Mawar tenang dulu dan jangan panik ya! Saya akan lindungi non Mawar apapun yang terjadi, sekarang non Mawar pegangan aja yang kuat ke jok mobil karena saya harus ngebut!" ucap Daniel.
"I-i-i-iya om, hati-hati ya om jangan sampai kita ketangkap!" ucap Mawar.
Daniel terus fokus dalam menyetir mobilnya, ia tak mau mobil di belakang sana berhasil mencegat mereka dan menangkap Mawar darinya. Ia coba menambah laju mobilnya kali ini untuk menghindari mobil tersebut, rasanya ia sangat panik dan berusaha keras menyelamatkan gadis itu.
__ADS_1
"Om, hati-hati om! Mobilnya makin dekat, aku gak mau kita kenapa-napa om!" Mawar semakin ketakutan saat ini.
Braakkk
Suara tabrakan terdengar jelas, mobil di belakang sana dengan sengaja kembali menabrakkan ke arah bumper mobil milik Daniel. Sehingga, Daniel pun kehilangan kendali dan akhirnya terpaksa banting setir ke kiri untuk menghindari terjadinya tabrakan beruntun. Saat itu juga, mobilnya pun menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan yang mengakibatkan keduanya pingsan di tempat.
•
•
Disisi lain, Harold berjalan santai keluar dari kantornya bersama sang adik yang mengikuti di belakangnya. Harold merasa lega karena telah menceritakan semua kepada Javier, meski ia ragu kalau Javier akan benar-benar membantunya kali ini dan melupakan sosok Mawar.
Bagaimanapun, Harold tahu betul seperti apa rasanya jatuh cinta. Tak mungkin Javier semudah itu bisa melupakan Mawar dan menghilangkan rasa cintanya begitu saja, apalagi sebelum ini mereka sangat dekat dan hampir menikah. Namun, Harold akan tetap memberi kesempatan bagi Javier untuk bekerjasama dengannya.
"Vier, kamu harus ikut saya sekarang! Kita pastikan kalau rencana yang saya susun ini akan berjalan dengan lancar tanpa hambatan!" ucap Harold.
Javier mengangguk tanpa berkata apapun, ia tak memiliki pilihan lain saat ini selain menuruti semua perkataan abangnya. Lagipula, Javier juga masih belum percaya kalau ternyata gadis yang ia cintai itu merupakan anak dari musuh terbesar Harold dan itu sungguh menyakitkan baginya.
Tiba-tiba saja, ponsel milik Harold berdering dan menghambat langkah kaki mereka. Harold pun berhenti sejenak untuk memeriksa siapa yang menghubunginya saat ini, karena ia khawatir kalau itu adalah dari salah satu anak buahnya yang sekarang sedang ia tugaskan untuk melakukan semua rencana miliknya.
📞"Halo! Kenapa Theo? Apa ada yang penting?" tanya Harold di dalam telpon.
📞"Ya bos, saya dan Zidan berhasil membuat mobil yang ditumpangi anak mister Rendy kecelakaan menabrak pohon. Sekarang wanita itu sudah ada sama kami bos," jelas Theo.
📞"Bagus, bawa dia ke markas sekarang! Saya akan kesana segera mungkin," titah Harold.
📞"Baik bos!" ucap Theo patuh.
Telpon diputus oleh Harold, ia langsung menaruh semula ponselnya di dalam saku jas dan menatap Javier di sebelahnya. Tampak senyum terukir jelas di wajahnya, membuat Javier makin penasaran pada apa yang terjadi. Pasalnya, gerak-gerik Harold sungguh mencurigakan kali ini.
__ADS_1
"Ada apa bang? Siapa yang telpon tadi dan siapa yang kamu suruh buat dibawa ke markas?" tanya Javier penasaran.
"Kamu mau tau kan Vier? Yaudah, kamu ikut aja sama saya sekarang! Nanti disana kamu bakal tahu sendiri siapa yang tadi saya minta untuk dibawa ke markas," ucap Harold.
"Kenapa gak dikasih tau sekarang aja sih, bang? Aku penasaran loh, apa jangan-jangan kamu udah culik Mawar ya karena dia anak Rendy?" ucap Javier.
Harold tertawa saja mendengar ucapan adiknya itu, ia tak mau memberitahu apapun kepada Javier mengenai proses penculikan yang sudah dilakukan oleh kedua anak buahnya itu. Harold malah melangkah lebih dulu melewati sang adik, sehingga Javier tampak kesal dan berusaha mengejar serta menghentikan abangnya itu.
"Bang, tunggu bang! Jawab dulu pertanyaan aku, jangan kayak gini lah bang!" pinta Javier.
Harold menurut dan terpaksa berhenti melangkah saat Javier menarik lengannya, ia berbalik menatap wajah adiknya itu dengan sedikit geram. Javier masih terus saja mencecar Harold dan meminta abangnya itu memberitahu siapa yang dia culik, namun Harold tetap kekeuh pada pendiriannya.
"Siapa yang kamu culik, bang? Tolong jawab sekarang, aku gak mau kalau sampai kamu menyakiti Mawar! Jawab sekarang bang!" ucap Javier dengan tegas.
Harold menggeleng, "Kalau emang Mawar yang saya culik, kenapa? Gak terima?" ucapnya santai.
Deg
Javier tersentak, matanya melotot lebar disertai kedua tangan yang sudah terkepal kuat dengan rahang bergetar. Emosi di dalam dirinya meluap saat mendengar perkataan abangnya, lalu saat itu juga ia menarik kerah baju Harold dan mendorongnya sampai membentur badan mobil dengan penuh emosi akibat penculikan yang dilakukan Harold terhadap gadis tersayangnya.
"Bang, aku peringatin sama kamu sekarang! Kalau sampai Mawar terluka walau sedikitpun, aku gak akan segan-segan buat abisin kamu!" ancam Javier.
Harold menggeleng dibuatnya, ia menyeringai dan lalu melepaskan diri dari cengkraman adiknya itu. Didorongnya tubuh Javier hingga terhuyung ke belakang, lalu merapihkan semula pakaian miliknya yang sedikit berantakan.
"Jadi ini yang kamu bilang mau bantu saya, ha? Kamu masih perduli sama gadis itu, artinya kamu bukan berada di pahak saya, Javier!" sentak Harold.
Javier terdiam dan memalingkan wajahnya, ia sungguh berada dalam dilema yang amat berat antara harus memilih membela abangnya atau sang gadis yang ia sukai. Jujur Javier amat membenci kondisi seperti ini, karena ia tak akan bisa memilih diantara mereka.
"Sekarang semua keputusan ada di kamu, Vier. Kalau emang kamu mau bela Mawar, itu artinya kamu akan jadi orang yang masuk ke dalam daftar balas dendam saya!" sambung Harold.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...