
Harold pulang ke rumahnya dengan perasaan kesal setelah apa yang ia alami di kantornya tadi, ia benar-benar merasa heran dengan syarat yang diajukan Mario padanya demi mau melanjutkan aksi kerjasama antara perusahaan mereka. Tentu saja Harold menolaknya, tidak mungkin ia mau menerima tawaran itu dan mengorbankan istrinya hanya demi keselamatan perusahaan yang dalam bahaya itu.
Begitu sampai di halaman depan rumahnya, Harold dibuat kaget ketika melihat cukup banyak para anak buahnya yang ia tugaskan untuk berjaga-jaga disana tengah berkerumun seperti membahas sesuatu. Karena penasaran dan ingin tahu, pria itu langsung saja turun dari mobilnya untuk menemui mereka semua di depan sana lalu bertanya apa yang jadi penyebab mereka berkumpul seperti itu.
Tidak hanya Harold yang terlihat penasaran, Dean sang asisten pun memilih ikut turun dari mobil menyusul bosnya karena dibuat heran dengan apa yang ada di depannya saat ini. Dean yakin kalau tengah terjadi sesuatu disana, mungkin saja itu adalah sebuah masalah yang perlu diselesaikan dengan bantuan darinya atau sang bos.
"Hey hey hey, ada apa ini? Kalian ngapain pada ngerumpi di depan rumah kayak gini? Bukannya kerja, apa kalian pada pengen saya pecat ha?" ucap Harold menegur para pekerjanya.
Sontak Theo beserta segerombolan anak buahnya merasa terkejut dan menunduk bingung, mereka tak tahu harus menjawab apa saat ini. Pastinya Harold akan merasa marah dan jengkel jika tahu mengenai istrinya yang diculik, untuk itu mereka tidak mau membuat Harold kecewa lalu malah menyalahkan mereka atas peristiwa diculiknya sosok Maysa.
"Kenapa kalian malah diam? Jawab pertanyaan saya, ada apa!" sentak Harold.
"Hey! Kalian sudah gak menghargai tuan Harold lagi, ha? Kalau tuan Harold nanya itu dijawab, bukan malah diam aja begini!" sahut Dean.
Theo kini mendekat ke arah mereka dengan wajah menunduk, kedua tangannya ia taruh di depan dan tampak gugup untuk bercerita. Theo sadar akan kesalahannya, ia siap jika Harold memarahinya setelah tadi ia gagal dalam menjaga Maysa. Namun, Theo juga tidak mau dianggap lalai lalu diberi hukuman oleh bosnya itu.
"Ma-maaf tuan, ini semua salah saya! Saya tadi tidak bisa menjaga bu Maysa dengan baik, sehingga bu Maysa diculik oleh seseorang yang saya tidak tahu!" ucap Theo tampak gugup.
Deg
Harold terbelalak dan terkejut bukan main mendengar jawaban dari Theo, ia benar-benar tak percaya kalau ternyata sedari tadi Maysa diculik. Pantas saja banyak pesan darinya yang tidak dibalas, bahkan telponnya juga tidak diangkat oleh wanita itu. Kini Harold terlihat sangat panik, ia begitu cemas dengan kondisi istrinya saat ini.
"Apa? Istri saya diculik? Kenapa ini bisa terjadi, kemana kamu ha? Kamu lupa ya kalau saya sudah titipkan Maysa ke kamu?" geram Harold.
"Maafkan saya tuan, tadi saya lalai dalam menjaga bu Maysa! Tapi, itu semua karena non Zanna juga sempat diculik tuan. Saya yakin, penculikan non Zanna itu hanya pengalihan, yang sebenarnya mereka incar itu bu Maysa," jelas Theo.
"Aaarrrgghhh kurang ajar! Kamu emangnya cuma sendirian apa? Kemana yang lain?" sentak Harold.
"Itu dia tuan, tadi saya sudah tugaskan Adam untuk menjaga bu Maysa. Tapi, bu Maysa malah bilang ke Adam buat menyusul saya. Sepertinya bu Maysa sangat khawatir sama non Zanna," jawab Theo.
"Emang dasar kalian semua gak becus! Saya gak mau tahu, kalian harus bisa temukan Maysa dalam keadaan selamat!" titah Harold.
"Ba-baik tuan!" ucap Theo dengan gugup.
Setelahnya, Harold pun pergi masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan jengkel.
•
•
Saat di dalam rumahnya, Harold langsung berusaha melacak keberadaan istrinya melalui alat gps yang telah ia pasang pada cincin dan kalung milik Maysa. Harold berharap Maysa masih mengenakan kedua perhiasan itu, setidaknya salah satu dari itu. Dengan begitu, maka pasti Harold dapat melacak tempat Maysa berada saat ini dan ia tidak perlu khawatir.
Sesuai dugaan, ternyata Maysa memang masih mengenakan salah satu dari perhiasan yang ia berikan itu. Harold pun tersenyum lebar dibuatnya, karena akhirnya ia dapat menemukan lokasi Maysa berada dan tidak perlu susah payah mencarinya. Namun, Harold cukup terkejut juga karena Maysa ternyata ada di tempat yang tidak jauh darinya.
"Hahaha, syukurlah saya bisa ketemu dengan kamu Maysa! Saya gak akan berlama-lama lagi, saya harus jemput kamu sekarang sayang!" gumam Harold.
Disaat Harold bangkit dan keluar dari kamarnya, tanpa diduga rupanya Zanna sudah berdiri lebih dulu di depan sana bersama Saskia dengan wajah murung. Harold sontak terkejut, apalagi ia melihat Zanna bersedih dan terus memikirkan mamanya. Harold tahu Zanna juga merasa bersalah kali ini, gadis itu menganggap dirinya sebagai penyebab atas diculiknya Maysa oleh seseorang tadi.
"Zanna sayang, lagi ngapain berdiri di depan pintu kamar papa sambil cemberut kayak gitu?" tanya Harold seraya mencubit gemas pipi putrinya yang terlihat mengembung itu.
"Pa, papa mau cari mama kan? Aku mohon pa, temuin mama ya! Aku takut banget mama terluka karena diculik, aku juga minta maaf sama papa karena gara-gara aku mama jadi diculik deh tadi," ucap Zanna merengek.
"Gak sayang, ini bukan salah kamu. Ini itu musibah, jadi kamu gak boleh nyalahin diri kamu sendiri ya sayang!" ucap Harold.
"Tapi pa, kan bener tadi mama Maysa diculik karena aku gak bisa jaga diri. Maafin aku ya pa, harusnya aku lebih bisa jagain mama biar mama gak diculik sama orang!" ucap Zanna cemberut.
__ADS_1
"Udah ya Zanna sayang, kamu jangan salahin diri kamu sendiri dong! Papa janji akan temui mama kamu, tapi sekarang Zanna harus senyum dulu biar papa makin semangat!" ucap Harold.
"Bener ya pa? Papa harus bawa pulang mama kesini, aku khawatir banget sama mama!" pinta Zanna.
"Pasti sayang, itu pasti."
Harold berhasil meyakinkan putrinya kalau ia akan membawa Maysa pulang ke rumahnya, karena memang Harold sendiri tidak mungkin bisa hidup tanpa sang istri tercinta. Apalagi, selama ini Maysa sudah cukup bersikap baik padanya dan Harold tahu hanya Maysa lah yang berhasil memikat hatinya lalu membuat hidupnya lebih berwarna.
"Kalo gitu papa pergi dulu ya sayang? Kamu di rumah aja sama aunty, kalau ada apa-apa nanti papa kabarin kamu deh!" ucap Harold.
Zanna mengangguk menuruti ucapan papanya, ia sangat berharap Harold bisa menemukan Maysa dan membawa mamanya itu kembali ke rumah karena ia begitu mengkhawatirkan Maysa. Zanna pun yakin papanya pasti bisa melakukan itu, karena ia tahu Harold adalah orang yang hebat dan pasti Maysa akan selamat jika bersama Harold nantinya.
Setelah Harold pergi dari sana, kini Zanna ditemani Saskia menunggu di sofa ruang tamu sambil bermain boneka. Saskia berusaha keras membujuk Zanna agar melupakan sejenak mamanya, meski sulit sebab Zanna terus saja memikirkan Maysa. Sebenarnya Saskia sendiri juga tidak bisa tenang saat ini, apalagi Maysa adalah kakaknya.
"Aunty, kira-kira mama Maysa bisa diselamatin gak ya sama papa?" tanya Zanna di sela-sela aktivitas mereka.
"Eee kita bantu doa aja ya sayang, supaya papanya Zanna bisa bebasin mama Maysa!" ucap Saskia yang kemudian diangguki oleh Zanna dan melakukan doa bersama.
•
•
Peter kembali ke kamar tempat Maysa berada dengan membawa sepiring makanan beserta satu gelas air mineral untuknya, sesuai ucapannya tadi kini Peter akan memberikan makan malam untuk Maysa agar kandungannya tetap sehat. Peter tentu tak ingin Maysa atau anak yang dia kandung terluka, meski Peter tahu itu bukanlah anaknya.
Maysa masih tampak merengut dan tidak sudi melirik ke arah lelaki di dekatnya itu, bahkan Maysa malah memalingkan wajahnya dan menunjukkan ekspresi tidak senang dengan kemunculan Peter saat ini. Rasanya Maysa ingin memukul saja pria yang sudah menculiknya itu, tapi apa daya ia tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi Peter.
"Makan dulu ya sayang, supaya kamu gak sakit dan calon anak di dalam rahim kamu itu baik-baik aja! Nih kamu makan, aku udah bawain makanan spesial untuk kamu yang dulu jadi kesukaan kamu loh!" ucap Peter dengan ramah.
"Aku gak butuh makanan ini, aku maunya kamu lepasin aku dari sini sekarang! Aku udah jadi istri orang Peter, gak seharusnya kamu kayak gini dan bikin gara-gara!" ucap Maysa kesal.
"Kamu benar-benar gak waras, aku nyesel pernah cinta sama laki-laki seperti kamu!" geram Maysa.
Peter justru tertawa mendengar perkataan Maysa barusan, ia kini terduduk tepat di sebelah wanita itu dan menatapnya secara intens sembari mengusap lembut punggungnya. Namun, dengan cepat juga Maysa mengelak dan meminta pada Peter untuk menjauh darinya karena dia tidak ingin disentuh.
"Jangan pernah kamu sentuh aku sembarangan kayak gitu! Aku gak sudi ya tubuh aku yang mulus hasil dari perawatan untuk suami aku, disentuh sama laki-laki lain!" ucap Maysa.
"Santai Maysa, aku janji gak akan sentuh kamu lagi tanpa seizin dari kamu!" ucap Peter mengalah.
Maysa yang kesal langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berniat pergi, tetapi tiba-tiba Peter mencekal lengannya dari belakang seolah menahan Maysa agar tidak pergi meninggalkannya. Ya Peter masih ingin berbincang dengan Maysa, meski sebenarnya Maysa juga tidak bisa pergi kemana-mana karena seisi kamar telah terkunci.
"Kamu disini aja Maysa, aku beneran deh gak bakal pegang kamu lagi!" pinta Peter.
"Lah ini apa? Tangan kamu ini sentuh tangan aku sembarangan loh, ini yang kamu bilang gak akan sentuh aku lagi?" ujar Maysa.
"Eee ma-maaf, itu khilaf sayang! Lagian kamu mau kemana sih?" ucap Peter.
"Ke toilet, tadi kan kata kamu aku disuruh makan. Aku mau bersih-bersih dulu, cuci tangan sama yang lainnya," ucap Maysa.
"Ohh, aku antar yuk!" ajak Peter.
Plaaakk
"Jangan kurang ajar ya! Kamu pikir aku cewek apaan?" sentak Maysa.
Peter terkejut dan memegangi pipinya yang terkena tamparan dari Maysa barusan, Peter tak menyangka Maysa akan melakukan itu dan cukup tega untuk menampar pipinya. Padahal, Peter hanya ingin mengantar Maysa sampai ke depan pintu toilet dan tidak ada niatan jahat atau ingin melecehkan wanita itu seperti dugaannya tadi.
__ADS_1
TOK TOK TOK...
"Siapa?" Peter berteriak dan bertanya ketika ada suara ketukan pintu dari arah luar.
"Ini saya bos, Lukman."
"Masuk!"
Ceklek
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang pria yang tak lain adalah anak buah Peter masuk ke dalam sana menemui mereka. Pria bernama Lukman itu terlihat gemetar seolah ketakutan, membuat Peter serta Maysa kebingungan. Ya mereka tidak tahu apa yang menjadi penyebab Lukman ketakutan seperti itu.
"Ada apa Lukman? Kenapa kamu ketakutan kayak gini?" tanya Peter penasaran.
"Ga-gawat bos, di luar ada orang ngamuk ngakunya sebagai istri dari mbak Maysa," jawab Lukman dengan gugup.
"Apa??" Peter terperangah mendengarnya.
•
•
Akhirnya Peter dan Lukman melangkah keluar untuk memastikan sendiri bahwa perkataan Lukman tadi benar atau tidak, disana Peter menemukan banyak anak buahnya sudah tergeletak tak berdaya dipenuhi luka yang cukup parah. Peter pun melihat sesosok pria dengan amarah yang memuncak, dia adalah Harold atau yang dikenal sebagai suami Maysa.
Begitu melihat Peter muncul, Harold langsung menatap tajam ke arahnya dan berjalan mendekat disertai tangan terkepal kuat. Tak ada luka atau goresan sedikitpun di wajah pria itu, justru darah yang ada di tubuhnya adalah bagian darah dari anak buah Peter yang baru saja ia habisi demi bisa menyelamatkan Maysa dari dalam sana.
"Jadi anda yang menculik istri saya? Keterlaluan, berani sekali anda bersikap seperti itu! Apa anda tidak tahu siapa saya, ha? Anda mau main-main dengan saya?" ucap Harold penuh emosi.
Peter tampak ketakutan, ia memalingkan wajahnya dan merasa gemetar setelah melihat sendiri para anak buahnya terluka disana. Jika saja Peter memaksa melawan Harold saat ini, bukan tidak mungkin ia juga akan ikut terluka. Namun, Peter pun tidak ingin kehilangan Maysa karena ia sangat mencintai wanita itu.
"Kenapa anda diam saja? Jawab saya, dimana istri saya sekarang! Serahkan dia ke saya, kalau tidak saya akan ratakan seluruh tempat ini menjadi debu termasuk kalian semua!" ucap Harold mengancam.
"Ja-jangan! Okay, gue bakal kasih tunjuk ke lu dimana Maysa berada. Lo gak perlu khawatir, Maysa aman selama disini karena gue rawat dia dengan sepenuh hati! Gue ini sayang sama Maysa, itu alasan gue culik dia dari lu," ucap Peter.
"Saya gak perduli apapun alasan kamu, cepat kasih tahu dimana Maysa!" sentak Harold.
"I-i-iya, ayo ikut gue!" ucap Peter gugup.
Mau tidak mau, Peter terpaksa membawa Harold ke dalam rumah itu untuk menemui Maysa agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Peter lebih memilih nyawanya tentu dibanding harus berkorban dan nekat melawan Harold, apalagi ia sadar bahwa kemampuannya tak akan mungkin sebanding dengan Harold yang merupakan seorang mafia.
"Maysa ada di dalam kamar ini, lu bisa masuk karena gak dikunci!" ucap Peter begitu mereka tiba di depan kamar tempat Maysa berada.
"Oke, awas kalo anda macam-macam dengan saya!" ucap Harold mengingatkan.
Peter menggeleng dengan cepat, tak mungkin ia berani berbuat hal-hal yang aneh atau membohongi Harold saat ini. Tanpa banyak berpikir, Harold pun masuk ke dalam kamar itu untuk menemui Maysa yang memang berada disana. Sedangkan Dean beserta Theo diminta berjaga di luar bersama Peter, tentunya agar Peter tidak melarikan diri.
"Maysa, sayang!" Harold langsung berteriak histeris dan berlari ke arah Maysa saat ini.
"Mas Harold??" sama halnya dengan Harold, kini Maysa pun terlihat sangat senang dan spontan bangkit dari ranjangnya menghampiri pria itu.
Sepasang suami-istri itu akhirnya berpelukan melepas rindu, mereka berdua sama-sama senang karena malam ini mereka dapat bertemu kembali dalam keadaan selamat dan tidak ada luka maupun sakit di tubuh keduanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1