Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Gak boleh ikut


__ADS_3

Waktu demi waktu berlalu, kini tiba saatnya Harold berniat pergi kembali ke rumah sakit untuk menjemput mantan istrinya yang dikatakan sudah membaik dan dapat dibawa pulang. Ya seperti yang ia ketahui, Clara mengalami lupa ingatan sementara dan tak mengenal orang-orang di dekatnya. Itulah alasan mengapa Harold masih harus menjemput Clara di rumah sakit saat ini, karena ia khawatir Clara justru akan bingung dan malah kabur entah kemana.


Disaat Harold hendak pergi dari rumahnya, Maysa tiba-tiba memanggilnya dan bergerak cepat mendekati suaminya itu. Maysa terlihat sudah rapih kali ini dengan dandanan khasnya, ia bahkan membawa tas miliknya dan berhenti tepat di dekat sang suami. Sontak Harold tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Maysa dengan lembut sambil mengecup pipinya yang menggemaskan itu.


"Mas, aku udah rapih nih. Aku boleh kan ikut sama kamu?" ucap Maysa sambil tersenyum.


"Boleh dong sayang, masa gak boleh? Tapi kamu harus janji ya, di rumah sakit nanti kamu gak boleh cemburu atau bikin keributan seperti waktu itu!" ucap Harold memperingatkan.


"Iya mas, aku janji kok. Aku ini kan udah coba menerima kondisi yang ada," ucap Maysa.


"Bagus deh," singkat Harold.


Harold pun menangkup wajah istrinya itu, ia bergerak maju semakin dekat ke arah Maysa dan menempelkan bibir mereka. Maysa terpejam seketika, kecupan singkat itu berubah menjadi ciuman yang panas karena Harold menginginkan lebih. Namun, tiba-tiba saja deheman seseorang dari belakang mengejutkan mereka.


"Ehem ehem!!" saat itu mereka terkejut dan reflek mengakhiri ciuman.

__ADS_1


Sepasang suami-istri itu pun menoleh ke asal suara, disana mereka menemukan Melinda yang sedang berdiri menatap ke arah mereka sambil menutupi mata Zanna agar tak melihat kejadian tadi. Ya Harold sontak merasa bersalah, ia menyesal karena tidak tahu tempat ketika hendak bermesraan dengan istrinya itu. Ia tak menyangka bahwa Zanna akan datang kesana, langsung saja ia mendekati putrinya itu sembari menggaruk-garuk kepalanya.


"Eh ada ibu sama Zanna, maaf ya bu? Aku tadi reflek aja, aku gak tau ibu sama Zanna bakal mau kesini. Maafin aku ya bu!" ucap Harold merasa bersalah.


"Gapapa Harold, itu wajar kok. Ya untung aja ibu masih sempat tutupin mata anak kamu ini, kalau enggak nanti bisa bahaya. Dia kan masih terlalu kecil buat melihat adegan itu," ucap Melinda.


"Emangnya tadi papa sama mama lagi ngapain sih? Kok mata aku sampe ditutupin?" tanya Zanna.


Harold serta Melinda kompak tersenyum kali ini, pertanyaan polos yang keluar dari mulut Zanna itu membuat keduanya merasa gemas. Kini Harold berjongkok di hadapan putrinya, ia mengusap lembut puncak kepala sampai ke wajah sang gadis yang amat ia sayangi itu.


"Iya pa, tapi papa sama mama mau kemana? Aku kok gak diajak sih kalau mau pergi jalan-jalan?" tanya Zanna lagi.


Lagi-lagi Harold harus dibuat bingung ketika mendengar pertanyaan putrinya, ia melirik ke arah Maysa seolah meminta bantuan untuk dapat menjawab semuanya. Tak mungkin Harold menceritakan yang sebenarnya kepada Zanna, kalau saat ini mereka hendak menjemput Clara keluar dari rumah sakit. Pastinya Zanna akan kembali bertanya, tentu Harold juga tak mau jika Zanna mengetahui bahwa Clara mengalami hilang ingatan.


"Sayang, mama sama papa gak mau jalan-jalan kok. Sekarang kita ada urusan penting di luar, jadi Zanna gak bisa ikut. Gapapa kan sayang?" ucap Maysa.

__ADS_1


"Ohh, iya deh gapapa. Aku mau main di rumah aja sama oma," ucap Zanna sambil tersenyum.


"Nah betul itu, nanti kita main yang seru-seru ya sayang? Biarin juga mama sama papa kamu pergi berdua, kali aja kan nanti pas mereka pulang mereka bawa sesuatu buat Zanna," ucap Melinda.


"Oh iya ya oma? Kalo gitu aku mau minta kue pancong dong pa," ucap Zanna.


Harold tersenyum dibuatnya, "Pasti sayang, nanti papa beliin kue pancong yang banyak buat kamu cantik!" ucapnya sambil mencolek hidung putrinya.


Zanna merasa senang kali ini dan berteriak penuh bahagia, namun justru mengundang rasa tidak tega di dalam diri Harold. Ya kini Harold mendekap tubuh Zanna dengan erat, kesedihan terasa di hatinya saat membayangkan bagaimana perasaan Zanna nanti jika mengetahui mamanya mengalam hilang ingatan dan tidak bisa mengingat siapapun.


"Maafin papa ya sayang? Papa janji akan terus bantu mama kamu sampai sembuh, dan bisa mengingat kita lagi sayang! Setelah itu, baru papa akan bawa kamu ketemu mama lagi," batin Harold.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2