
Disaat Harold hendak keluar sebentar dari ruangan Maysa, tiba-tiba saja Zanna lebih dulu datang dan masuk ke dalam sana bersama Javier yang mengantarnya. Sontak Harold terkejut, apalagi ketika Zanna berteriak keras memanggilnya sembari berlari ke arahnya dan juga Maysa. Tampak senyuman di wajah Maysa begitu melihat Zanna telah tiba, sepertinya wanita itu bahagia saat Zanna ada di dekatnya seperti sekarang ini.
Harold pun juga tak kalah bahagianya, ia langsung memeluk erat tubuh putrinya itu dan melampiaskan kecemasan yang sedari tadi ia rasakan. Jujur Harold memang sempat khawatir ketika Zanna ditinggal seorang diri di rumahnya, namun kini semua itu telah sirna karena Javier berhasil menyelamatkan Zanna dari jeratan Clara. Sehingga, Harold tidak perlu merasa cemas ataupun khawatir lagi pada Zanna saat ini.
Zanna terlihat begitu sedih saat mengetahui Maysa terbaring di ranjang rumah sakit, gadis mungil itu menanyakan bagaimana kondisi Maysa sekarang dan ingin Maysa cepat-cepat keluar dari sana. Harold tersenyum saja dibuatnya, ia senang dengan keperdulian yang diberikan Zanna kepada Maysa. Dengan begitu, maka dapat dipastikan jika Zanna akan menerima Maysa sebagai ibu barunya.
Lalu, Javier yang semula hanya berdiam diri di dekat pintu pun mulai berani mendekati mereka. Perlahan ia menghampiri Harold serta yang lain, kemudian turut menyapa dan menanyakan kondisi Maysa. Hal itu sontak membuat Maysa terkejut, wanita itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sosok Javier yang merupakan mantan bosnya itu sekarang ada di depannya, dan sungguh membuatnya bingung mengenai siapa sebenarnya Javier itu.
"Hai Maysa! Gimana kondisi kamu, sudah membaik?" tanya Javier sambil tersenyum.
Maysa terbelalak dengan mulut menganga, berulang kali ia mengedipkan matanya serta mencubit pipinya untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Tidak mungkin tentu jika bosnya sekarang ada disana, karena Maysa memang belum tahu kalau Javier adalah adik yang dimaksud Harold sebelumnya.
"Pak Javier? A-anda...."
"Iya Maysa, ini saya mantan bos kamu di cafe itu. Syukurlah kalau kamu masih ingat sama saya, tadinya saya kira kamu sudah lupa mentang-mentang kamu punya calon suami yang kaya raya dan tampan!" sarkas Javier.
"Hah? Gak mungkin lah saya bisa lupa sama anda, kan anda yang sudah sangat berjasa di dalam hidup saya!" ucap Maysa gugup.
Javier tersenyum saja dibuatnya, sesekali ia melirik ke arah Harold dan tampak saling senyum-senyum seolah menyembunyikan sesuatu. Maysa pun semakin penasaran, wanita itu kini kembali berbicara pada Javier dan bertanya bagaimana bisa pria itu datang kesana bersama Zanna.
"Tapi pak, kenapa bapak bisa ada disini? Terus kok bapak datang sama Zanna tadi, apa bapak kenal sama Zanna?" tanya Maysa penuh penasaran.
Lagi-lagi Javier tersenyum lebar mendengar pertanyaan yang diajukan Maysa dengan polosnya, Javier menatap sekilas wajah Harold untuk meminta izin padanya sebelum menjawab pertanyaan dari Maysa. Ya, dan tentu saja Harold mengangguk pelan memberikan izin pada Javier untuk menceritakan semua kepada Maysa mengenai mereka.
"Iya Maysa, jelas dong saya kenal sama Zanna. Dia ini kan keponakan saya yang paling cantik dan gemesin, saya sayang banget loh sama dia!" ucap Javier sambil tersenyum.
"Hah keponakan??" Maysa tersentak mendengarnya, ia seolah tak percaya dengan pengakuan Javier itu.
"Iya benar sayang, Javier ini adik saya yang tadi saya maksud. Masa kamu masih belum paham juga sih? Kan saya yang minta dia buat jemput Zanna dan bawa Zanna kesini, kalau gak ada dia mungkin Zanna sekarang udah dibawa kabur sama mamanya yang gak bener itu!" jelas Harold.
"Apa? Ja-jadi, kamu sama pak Javier ini saudara kandung? Kalian adik-kakak??" tanya Maysa lagi, ia ingin memastikan semuanya lebih dulu.
Harold dan Javier pun kompak mengangguk, mereka mengakui kalau mereka memang sepasang adik-kakak yang dilahirkan dari rahim satu orang wanita. Tentu saja Maysa merasa terkejut, karena sebelumnya Harold serta Javier sempat terlihat perkelahian saat di depan rumahnya. Kala itu, Javier mengantarnya pulang dan tidak sengaja bertemu dengan Harold sampai terjadilah pertikaian kecil.
"Lalu, kenapa kalian seolah-olah gak saling kenal waktu pertama ketemu di depan rumah aku itu? Kok kalian malah pada mau ribut?" tanya Maysa yang masih amat penasaran.
"Eee hahaha, ya itu sih cuma akting. Ya kan bang?" jawab Javier sembari menggaruk kepalanya.
Harold justru menggeleng saat ini, "Enggak, itu bukan akting. Saya memang cemburu waktu lihat kamu diantar sama si Javier ini," ujarnya ketus.
"Ish, kamu mah!" Maysa tampak cemberut dan memalingkan wajahnya karena kesal.
Harold pun terkekeh pelan melihat ekspresi Maysa saat ini, ia dan Zanna kini bergerak mendekati wanita itu untuk coba menghiburnya. Sedangkan Javier hanya diam di tempatnya, mengamati keindahan di depan matanya yang sebenarnya membuat hatinya terluka.
•
•
Hari berganti, Harold pun mengajak Maysa serta Zanna untuk melihat bagaimana perkembangan dekorasi pernikahan mereka nantinya. Harold sengaja membawa wanitanya kesana, karena ia ingin agar Maysa mengatakan apa yang dia inginkan padanya. Setelah itu, barulah Harold akan menyampaikan semuanya kepada anak buahnya.
__ADS_1
Namun, Maysa terlihat melongok lebar dengan kemegahan yang terpampang di gedung tersebut. Meski belum seratus persen, tetapi Maysa sudah sangat terkagum-kagum pada seluruh dekorasi yang ada disana. Apalagi semuanya didominasi warna ungu, sampai-sampai Maysa dibuat mabok oleh warna kesukaannya sendiri saat ini
"Tuan, apa ini tidak terlalu berlebihan? Saya kan gak minta pernikahan yang mewah, apalagi sampai banyak dekorasi begini. Saya takut dicap jelek sama keluarga tuan nantinya, lebih baik kita adakan pernikahan yang sederhana aja ya!" ucap Maysa.
"Maysa, pernikahan itu sesuatu yang sakral loh. Saya gak mau di acara pernikahan saya itu isinya biasa-biasa saja, jadi harus mewah dan istimewa. Apalagi, ini pertama buat kamu kan?" ujar Harold.
"Hm, iya sih tuan benar. Tapi kan gak terlalu mewah kayak gini juga tuan," ucap Maysa.
"Sssttt, sudah kamu jangan banyak protes! Satu lagi, jangan panggil saya tuan terus! Saya berasa jadi atasan kamu tahu, padahal saya kan calon suami kamu. Jadi, panggil saya mas aja ya Maysa!" pinta Harold dengan tegas.
"I-i-iya mas, maaf."
Harold tersenyum melihat Maysa menundukkan wajahnya sembari terlihat kikuk, ia rangkul dan dekap dengan erat tubuh calon istrinya itu sembari mengusap pundaknya lembut. Sedangkan Zanna tampak tersenyum melihat keromantisan antara ayahnya dan calon ibu barunya itu, Zanna sangat senang karena sebentar lagi ia akan memiliki seorang mama baru yang cantik dan baik.
"Oh ya sayang, kamu mau ditambahin apa lagi sebagai dekorasinya? Saya rasa ini masih kurang sih," tanya Harold pada wanitanya itu.
"Hah? Kamu gila apa ya mas? Ini udah lebih dari cukup tau, gausah kamu tambahin lagi ya!" ucap Maysa tampak terkejut.
"Masa segini doang, kamu yakin? Kalau emang kamu pengen yang lebih dari ini, saya bisa tunjukin ke kamu beberapa dekorasi yang menurut saya indah nanti," ucap Harold.
Maysa menggeleng perlahan, "Enggak mas, kayak gini aja cukup kok. Aku yakin banyak orang juga bakal suka kok," ucapnya kekeuh.
"It's okay, saya turuti kemauan kamu. Tapi, sekarang kamu harus ikut saya untuk cobain gaun yang akan kamu pakai di acara pernikahan kita nanti!" ucap Harold.
Deg
Maysa terbelalak saat ini, memang Harold sama sekali belum pernah membahas mengenai gaun pernikahan mereka. Akhirnya kini Harold baru membahas hal itu, dan tentu saja Maysa pun tampak gemetar kebingungan. Harold pun menitipkan Zanna kepada asistennya, supaya ia bisa leluasa menikmati waktu berdua dengan wanitanya itu.
Maysa langsung reflek menutupi mulutnya begitu melihat sebuah gaun indah nan cantik yang didominasi warna ungu itu, ia benar-benar kagum pada keindahan gaun tersebut dan seolah tidak sabar ingin segera mengenakannya. Namun, Maysa juga bimbang dan merasa semua ini terlalu mewah untuk dikenakan olehnya.
"Mas, apa kamu gak salah kasih aku gaun yang kayak gini? Ini terlalu bagus tahu buat aku, aku takut gak cocok dipakai sama aku," ucap Maysa.
"Hey, kamu jangan bicara gitu dong! Justru gaun ini akan semakin cantik kalau dipake sama kamu!" ucap Harold.
Maysa benar-benar bahagia saat ini, semua impiannya menjadi nyata dimana ia memang menginginkan sebuah pernikahan yang mewah dan gaun yang indah untuk dipakainya. Meskipun ia harus menikah dengan pria yang sudah menodainya, tapi tetap saja Maysa merasa bersyukur karena ia tahu Harold kini juga telah jatuh hati padanya.
"Yuk dicoba dulu sayang!" pinta Harold.
Maysa mengangguk setuju, tanpa membantah lagi kini ia diantar bersama seorang wanita yang merupakan pegawai Harold untuk berganti pakaian. Hari ini juga Harold ingin melakukan foto prewed bersama wanitanya itu, sebab ia tidak mau terlalu lama menunda hal itu dan ingin segera resmi menikahi Maysa.
•
•
Cekrek cekrek...
Akhirnya Harold serta Maysa telah menyelesaikan sesi foto prewedding mereka kali ini, tentunya dalam rangka persiapan pernikahan mereka yang sebentar lagi akan terlaksana. Harold tampak bahagia sekali, kini ia terus memandangi wajah calon istrinya dari sebelah kiri sembari merengkuh pinggangnya dan mengecup keningnya dengan lembut.
"Sayang, makasih ya udah mau nurut sama saya dan ikut foto prewedding ini sekarang!" ucap Harold sambil tersenyum.
__ADS_1
Maysa mengangguk perlahan, "Iya mas, ini juga kan demi masa depan aku. Justru aku yang harus bilang makasih ke kamu, karena udah mau kasih yang terbaik buat aku sekarang!" ucapnya lembut.
"Itu gak perlu sayang, saya melakukan semua ini kan untuk membahagiakan kamu!" ucap Harold.
Maysa tersenyum begitu mendengar perkataan Harold, tanpa sadar ia menempelkan wajahnya pada bahu lelaki itu sehingga membuat Harold terkejut. Ya Harold tak menyangka Maysa akan melakukan itu saat ini, karena biasanya Maysa selalu saja malu-malu atau berusaha menjauh darinya.
Untuk mengambil kesempatan, Harold lalu mengusap lembut puncak kepala wanita itu dan sesekali mengecupnya. Harold sangat senang dengan momen ini, ia berharap Maysa sudah mau menerimanya dan melaksanakan pernikahan dengannya beberapa hari lagi.
"Sayang, gimana kalau kita majuin aja jadwal pernikahan kita jadi besok? Saya gak sabar buat cepat-cepat sah sama kamu, soalnya kamu menggoda banget sih!" ujar Harold.
Maysa melongok dan reflek mengangkat kepalanya kembali menjauh dari tubuh lelaki itu, ia tatap tajam wajah Harold sembari mengerucutkan bibirnya. Maysa benar-benar kesal dengan sikap mesum Harold yang masih saja belum berubah, rasanya ia ingin memberi cubitan ganas padanya saat ini.
"Kamu tuh ya, mesumnya masih gak ilang-ilang! Udah ah kamu gausah ngada-ngada, nikahan kita kan udah diatur buat Minggu depan mas!" ucap Maysa tampak kesal.
"Iya iya, saya kan tadi cuma kasih usul aja. Barangkali kan kamu juga mau ngerasain punya saya lagi kayak waktu itu?" goda Harold.
"Ih mas, malu tau ada orang banyak disini! Kalau mereka dengar ucapan kamu gimana? Apalagi ada Zanna tuh yang daritadi ngeliatin kita terus, kamu harus kasih contoh yang baik ke dia mas!" ucap Maysa memarahi lelaki itu.
"Hm, iya deh saya minta maaf. Saya emang paling gak bisa bantah omongan kamu," ujar Harold.
Maysa melebarkan senyumnya, "Nah gitu dong, aku kan jadi makin suka sama kamu mas!" ucapnya dengan lembut.
Hati Harold terasa berbunga-bunga saat mendengar ucapan Maysa barusan, ia reflek mendekap erat tubuh Maysa dan menciumi wajahnya berulang kali sampai wanita itu merasa tersipu. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Harold saat ini, selain pengakuan Maysa yang mengatakan bahwa dia juga menyukai lelaki itu.
"Mmhhh mas, udah ah mas cukup! Aku malu ah dilihatin sama Zanna!" rengek Maysa.
Harold terkekeh dan akhirnya melepaskan Maysa dari pelukannya, ia melirik ke arah Zanna lalu mengajak wanita itu mendekati putrinya. Benar memang kata Maysa tadi, Harold harus terus memberikan contoh yang baik di depan Zanna dan tidak boleh berbuat buruk padanya.
"Zanna sayang, maaf ya nunggunya lama? Kamu pasti capek ya nungguin papa selesai foto sama mama Maysa?" ucap Harold.
Zanna menggeleng sambil tersenyum, sedari tadi ia bergandengan tangan dengan Javier yang tampak menyusul di tempat itu untuk menemani kakaknya melakukan foto prewedding. Zanna pun sangat bahagia melihat papanya tampil lebih tampan kali ini, apalagi ada calon mama barunya disana.
"Gapapa pa, aku malahan senang kok lihat papa foto sama mama Maysa. Papa kelihatan tambah ganteng, apalagi pas ada di samping mama Maysa yang cantik!" ucap Zanna.
"Ahaha, bagus deh kalau begitu. Papa kira tadi kamu bosan karena ditinggal sama papa," ujar Harold.
"Gak kok pa, kan ada om Javier disini. Tadi aku juga dibeliin jajanan loh sama om Javier, enak banget!" ucap Zanna.
"Oh ya? Wah makasih om Javier! Untung ya ada kamu Vier," ucap Harold.
"Iya bang, aku sengaja tadi kesini mau bantu-bantu gitu buat pernikahan kamu sama Maysa. Ya kebetulan aku lihat Zanna lagi sama Dean, yaudah aku ambil alih deh," ucap Javier.
"Zanna!!" tiba-tiba saja, suara teriakan itu mengganggu momen indah diantara mereka berlima.
Ya siapa lagi itu jika bukan Clara, lagi-lagi Clara datang untuk mengganggu acara yang sedang direncanakan oleh Harold serta Maysa. Clara memang ingin mendapatkan kembali putrinya, karena ia sudah tidak tahan lagi saat melihat Zanna lebih dekat dengan Maysa yang bukan siapa-siapa putrinya itu.
...~Bersambung~...
...^^^JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!^^^...
__ADS_1
...|||...
...ASYIK UDAH MAU NIKAH NIH🥳🥳🥳...