
Javier kini berada di rumah sakit dan tengah berbaring di atas brankar setelah mendapat pemeriksaan dari dokter, pria itu memang mengalami luka yang parah sehingga beberapa bagian wajahnya harus diperban. Meski begitu, Javier tetap senang karena ia berhasil menjadi pahlawan bagi Mawar dan membuat gadis itu baik-baik saja tanpa ada luka sedikitpun.
Mawar pun masuk ke dalam sana menemui si pria yang menolongnya, ia tampak kasihan dan juga tidak tega melihat kondisi Javier saat ini. Walau pria itu amat menyebalkan, tetapi setelah apa yang dilakukan Javier tadi membuat Mawar sadar bahwa Javier sebenarnya adalah orang baik. Namun, Mawar tak mengerti mengapa Javier sampai harus rela berkorban demi menyelamatkannya dari preman.
"Pak, anda baik-baik saja kan? Saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk menimpa anda, pastinya saya akan jadi orang yang paling merasa bersalah nantinya," ucap Mawar lirih.
Javier terkejut saat Mawar memanggilnya dengan sebutan pak, ia menoleh ke arah gadis itu dan hendak protes atas panggilan itu. Usianya jelas masih muda dan tidak pantas dipanggil pak oleh Mawar, karena Javier bukanlah sosok duda seperti abangnya.
"Kamu panggil saya apa tadi? Bapak? Dengar ya Mawar, saya ini masih muda dan usia saya sama kamu juga gak jauh beda kok!" protes Javier.
Mawar spontan memegangi bibirnya, "Maaf tuan, tadi itu saya bingung mau panggil apa! Kita kan baru ketemu beberapa kali, jadi wajar kalau saya belum mengenal anda," ucapnya.
"Saya kan sudah kasih tahu nama saya waktu itu, saya Javier. Apa wanita muda seperti kamu juga mudah lupa ya?" ucap Javier.
"Umm, saya ngerasa gak sopan aja kalau langsung panggil nama. Lagian panggilan pak itu bukan hanya untuk orang yang sudah tua kok, anda gak perlu merasa begitu!" ucap Mawar.
"Baiklah, tapi saya gak suka dipanggil pak kalau sama kamu Mawar!" tegas Javier.
"Umm, lalu saya panggil kamu apa dong?" tanya Mawar kebingungan.
"Terserah, sayang juga boleh!" jawab Javier.
Mawar melongok lebar mendengar ucapan Javier barusan, ia reflek memukul lengan pria itu yang masih terluka dan menyebabkan Javier merintih. Tentu saja Mawar tak sengaja melakukan itu, karena ia terbawa kesal akibat perkataan Javier tadi. Namun, sekarang malah Javier merasa kesakitan di bagian lengannya yang memang terluka.
"Awhh akh!" rintih Javier sembari memegangi lengannya dan berpura-pura sangat kesakitan.
Mawar yang melihatnya langsung merasa bersalah, ia mendekati Javier untuk coba memastikan kondisi pria itu baik-baik saja. Sejujurnya Mawar tidak ingin melakukan itu, dan apa yang ia lakukan tadi hanya sebatas reflek yang tidak disengaja. Javier pun semakin melancarkan aksinya, pria itu terus berpura-pura kesakitan untuk membuat Mawar makin merasa bersalah dan mencemaskannya.
"Eee pak, saya minta maaf ya? Saya tadi reflek doang, gak sengaja deh beneran. Kamu gapapa kan? Apa perlu saya panggil dokter buat periksa kondisi kamu?" ucap Mawar cemas.
Javier menggeleng, "Eh jangan, gausah! Cukup kamu aja yang ada disini Mawar, gak perlu ada orang lain apalagi dokter!" ucapnya mencegah gadis itu.
"Hah? Tapi kan, saya mah bukan dokter dan gak bisa periksa kondisi kamu. Saya juga gak tahu kamu terluka atau enggak, nanti kalau kamu kenapa-napa gimana?" ucap Mawar.
"Gapapa, saya baik-baik aja kok. Kalau kamu yang mukul mah saya gak akan kerasa sakit," ujar Javier.
"Hih dasar buaya!" cibir Mawar yang lagi-lagi memukul lengan Javier dengan spontan.
"Aakkhh!!" tentu saja Javier memekik keras, tetapi kali ini bukan akting.
__ADS_1
•
•
Pagi harinya, Maysa terbangun dan syok saat menyadari tidak ada suaminya di sampingnya yang berarti Harold semalaman tidak pulang ke rumah. Maysa pun bangkit dari posisinya, ia terduduk di atas kasur dan terlihat kebingungan. Tidak biasanya Harold seperti ini, apalagi pria itu sebelumnya tak memberitahu kalau dia tidak akan pulang.
Akhirnya Maysa memilih keluar kamar untuk mencari Harold di sekitar, ia berharap suaminya itu telah bangun lebih dulu dan ada di luar. Ia terus berkeliling di dalam area rumahnya, sambil celingak-celinguk mencari sang suami yang entah ada dimana. Akan tetapi, Maysa tak berhasil menemukan sosok Harold di sekitar sana dan membuatnya makin cemas.
"Duh, mas Harold dimana ya? Ini masa dari semalam dia gak pulang, katanya sebentar?" gumam Maysa.
Tiba-tiba saja, Saskia yang kebetulan pergi ke dapur tak sengaja melihat kakaknya ada disana dan seperti tengah kebingungan. Karena penasaran, Saskia pun mendekat lalu menegur kakaknya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang dia cari. Ya Maysa terkejut begitu Saskia menyentuhnya, spontan wanita itu berbalik dan menatap ke arahnya.
"Ih Kia, kamu mau ngagetin aja sih! Kalau mau tegur aku tuh jangan kayak gitu lah, hampir aku jantungan tahu!" kesal Maysa.
"Hehe, lagian mbak ngapain sih diem di tengah jalan kayak gitu? Emang mbak cari siapa?" tanya Saskia.
"Ini loh Kia, aku tuh lagi nyari mas Harold. Tadi pas aku bangun tidur, tiba-tiba dia gak ada di samping aku. Ya emang sih semalam dia pamit mau pergi, tapi masa gak pulang-pulang?" jelas Maysa.
"Hah? Waduh gawat tuh mbak, jangan-jangan mas Harold tidur di tempat ceweknya yang lain!" celetuk Saskia.
Plaaakk
"Saskia, kamu jangan sembarangan ya kalo ngomong! Gak mungkin lah mas Harold kayak gitu, dia kan cinta sama aku!" sentak Maysa.
"I-i-iya mbak, aku minta maaf ya? Emang mulut aku suka asal bicara," ucap Saskia menyesal.
Maysa memalingkan wajahnya dan pergi begitu saja meninggalkan Saskia disana, sungguh hal itu membuat Saskia merasa bersalah dan menyesal karena telah asal bicara. Saskia pun menepuk jidatnya, lalu coba mengejar Maysa sambil berteriak meminta maaf karena khawatir jika Maysa amat marah padanya sekarang.
"Mbak, maafin aku mbak! Jangan marah dong, tadi aku cuma bercanda loh niatnya!" bujuk Saskia.
Maysa hanya terdiam dan terus berjalan, sampai kemudian Maysa tak sengaja mendengar suara bising dari arah luar yang membuatnya penasaran. Maysa amat penasaran saat ini, ia pun beralih pergi ke depan untuk memeriksa semuanya. Sontak Saskia juga mengikutinya dari belakang, karena gadis itu belum bisa tenang sebelum mendapat kata maaf dari kakaknya.
"Ada apa sih di depan? Kenapa pada ribut-ribut kayak gitu coba? Apa jangan-jangan itu mas Harold ya?" gumam Maysa sambil terus melangkah ke arah luar rumahnya.
•
•
"Eeeuungghh..."
__ADS_1
Harold yang semalam dikejar-kejar oleh rombongan musuhnya, kini membuka mata dan tampak heran dengan kondisi yang ada sekarang. Ia juga baru sadar kalau saat ini kedua tangannya terikat dan membuatnya tak bisa melakukan apapun, ia melihat sekeliling dan menemukan Dean asistennya juga terikat di atas kursi sama seperti dirinya.
Harold benar-benar bingung, ia coba mengingat kejadian semalam yang bisa membuatnya sampai berada di tempat itu. Suasana disana sungguh asing di kepalanya, baru kali ini Harold menginjakkan kaki di tempat seperti itu. Harold juga tak tahu siapa orang yang membawanya kesana, karena selama ini ia merasa tidak memiliki musuh.
"Sialan! Siapa orang-orang semalam? Kenapa saya bisa ada disini coba? Saya mau pulang, pasti Maysa dan Zanna khawatir banget sama saya!" gumam Harold.
Pria itu berusaha melepaskan diri, tetapi ikatan pada kedua tangannya itu begitu sulit untuk dilepaskan dan lagi ia juga tidak bisa banyak bergerak. Ia coba memanggil nama Dean dan menyadarkan pria itu, namun sepertinya Dean masih dalam pengaruh obat bius sehingga tidak mendengar apa yang ia katakan sedari tadi.
"Haish, ayo bangun Dean! Kamu harus sadar, sekarang kita lagi dalam bahaya!" ujar Harold.
Ceklek
Tanpa diduga, pintu ruangan tersebut terbuka secara tiba-tiba dan membuat pria itu terkejut bukan main lalu tampak kebingungan. Seseorang terdengar melangkah memasuki area ruangan itu, sehingga Harold benar-benar gugup. Matanya membelalak ketika melihat sosok pria berdiri di hadapannya, dan Harold sangat tidak menyangka dengan hal itu.
"Mister Rendy, a-anda yang sudah menculik saya?" begitulah ucapan yang keluar dari mulut Harold, ia tak percaya jika ini semua adalah ulah Rendy.
"Ya Harold, saya sengaja bawa kamu kesini untuk menyelamatkan kamu dan juga asisten kamu itu. Saya tahu kalian semalam diserang saat dalam perjalanan menuju markas, untuk itu saya memerintahkan anak buah saya dan membantu kalian berdua!" jelas mister Rendy.
"Apa? Ja-jadi, kelompok bersenjata yang datang semalam itu utusan anda? Haish, saya kira mereka juga orang suruhan musuh-musuh saya yang ingin mencegah saya menemui anda," ucap Harold.
"Tidak Harold, kamu tenang saja! Sekarang kita bisa lanjutkan pembahasan bisnis kita," ucap Rendy.
"Ta-tapi, kenapa tangan saya dan asisten saya diikat seperti ini? Apa benar kalau anda hanya ingin menolong saya?" tanya Harold keheranan.
Mister Rendy hanya diam dan sedikit mengukir senyumnya, ia melangkah mengitari tubuh Harold yang masih kebingungan itu. Ya Harold mendadak curiga pada tingkah mister Rendy, karena harusnya pria itu tidak perlu mengikatnya jika hanya ingin menolongnya dari kejaran orang-orang yang ingin melukai mereka.
"Kenapa anda diam? Ayo jelaskan ke saya, apa sebenarnya niat anda membawa saya kesini dan mengikat tangan saya!" sentak Harold.
"Sabar pak Harold! Saya hanya ingin kamu mengikuti kemauan saya, mengerti?" ucap Rendy.
Harold mengernyitkan dahinya, "Kemauan apa?" tanyanya benar-benar penasaran.
"Kamu ikut dengan saya ke Kanada sekarang, kita akan perluas bisnis ini dan melebarkan sayap kita Harold! Kamu mau kan menjadi lebih kaya dari sekarang?" jawab Rendy.
Deg
Betapa kagetnya Harold mendengar kata-kata yang dilontarkan mister Rendy barusan, ia sungguh bingung dan juga emosi dibuatnya. Tidak mungkin ia pergi bersama pria itu saat ini, karena dirinya sudah memiliki seorang istri dan juga anak. Pastinya Harold tidak rela meninggalkan mereka, apalagi ia amat menyayangi keduanya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...