
Saskia alias adik dari Maysa kini tengah bersiap untuk pergi ke rumah Harold sesuai ajakan pria itu, tak lupa ia juga mengajak ibunya karena memang mereka sangat ingin bertemu kembali dengan Maysa setelah cukup lama berpisah. Saskia pun menemui ibunya di depan saat ini, yang terlihat juga telah bersiap dengan barang bawaannya.
Sebelumnya Harold memang mengatakan akan membawa mereka untuk tinggal di rumahnya bersama Maysa, karena Harold tidak ingin membiarkan keluarga istrinya tinggal mengontrak. Lagipula, kondisi rumah Harold masih sangat luas dan bisa dijadikan tempat tinggal bagi seluruh keluarga Maysa saat ini.
"Bu, ayo kita berangkat sekarang! Jemputan dari kak Harold udah di jalan katanya, ibu udah siap kan?" ucap Saskia sambil tersenyum.
Melinda menganggukkan kepalanya perlahan, lalu mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan seluruh barang yang ingin ia bawa ke rumah Harold dan menetap disana sementara. Tapi kemudian, tanpa diduga terdengar suara ketukan pintu dari arah luar yang membuat keduanya terkejut serta penasaran siapa yang datang kesana.
"Itu siapa ya Sas? Kamu bukain deh, barangkali itu supir yang disuruh Harold buat jemput kita nak!" ucap Melinda tampak penasaran.
"Iya bu."
Saskia menuruti perintah ibunya dan berjalan ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang, ia pun menebak kalau itu memang adalah orang suruhan Harold yang ingin menjemputnya. Tanpa basa-basi lagi, Saskia segera membuka pintu lalu menemui seseorang di luar sana. Betapa syoknya Saskia ketika melihat Peter lah yang berdiri disana, apalagi Peter tampak tersenyum dan membawa setangkai bunga yang ada di tangannya.
"Kak Peter, mau apa kakak datang kesini lagi? Bukannya kakak udah bukan pacar mbak Maysa lagi, ya? Ada perlu apa kakak datang ke rumah aku?" tanya Saskia dengan tampang jutek.
"Maysa ada kan di dalam? Tolong bilang ke dia, kalau aku ada disini!" ucap Peter santai.
Saskia menggeleng cepat, "Enggak, mbak Maysa udah gak ada disini. Dia udah nikah dan tinggal di rumah kak Harold!" ucapnya tegas.
"Apa? Kamu jangan bercanda deh Saskia, kamu mending panggil Maysa sekarang!" ujar Peter.
"Apa sih kak? Emang bener kok mbak Maysa udah nikah sama kak Harold, ini aja sekarang aku mau ke rumahnya kak Harold. Kalau kakak gak percaya, ayo ikut aja sama aku!" ucap Saskia.
"Gak, kamu pasti bohong kan. Gak mungkin Maysa udah nikah, ini semua gak bener!" sentak Peter.
Saskia tersenyum lebar melihat ekspresi wajah Peter saat ini, ia puas karena laki-laki itu terlihat kecewa dan tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Peter yakin bahwa ini semua tidak benar, tetapi perasaan di dalam dirinya justru merasa cemas ketika mendengar Saskia yang mengatakan kalau Maysa sudah menikah dengan Harold.
"Permisi, dengan non Saskia?" tiba-tiba saja, seorang pria datang mendekat dan menemui Saskia serta Peter yang berdiri di depan rumah itu.
Orang itu adalah Dean, atau yang biasa diketahui sebagai asisten pribadi Harold. Ya tentu saja Dean ditugaskan saat ini untuk menjemput Saskia serta Melinda disana, semuanya atas perintah dari Harold yang memang menginginkan Saskia dan juga Melinda untuk tinggal bersamanya di rumah besar yang lebih mirip istana itu.
"I-i-iya, saya sendiri. Kamu siapa ya?" Saskia terlihat bingung dan penasaran dibuatnya.
"Ah perkenalkan, saya Dean asisten tuan Harold! Saya ditugaskan kesini untuk jemput kamu dan juga bu Melinda," jawab Dean mengenalkan dirinya.
"Ohh, jadi kamu suruhan kak Harold? Bagus deh, sebentar ya saya panggil ibu saya dulu?" ujar Saskia.
Dean mengangguk memberi izin, lalu Saskia bergegas masuk ke dalam rumah memanggil ibunya dan mengatakan bahwa jemputan sudah datang. Sedangkan Peter ditinggal disana bersama Dean, tampak Peter menunjukkan ekspresi kesalnya saat melihat orang yang merupakan anak buah dari saingannya itu alias Harold.
Peter pun beralih mendekati sosok Dean disana dan menatapnya tajam, seolah-olah Peter hendak membalas dendam atas kelakuan Harold yang telah merebut Maysa darinya. Peter sangat tidak menyukai Harold maupun anak buahnya, apalagi setelah ia tahu bahwa Harold sudah resmi menikahi Maysa dan memiliki wanita itu seutuhnya.
"Heh! Gue mau tanya sama lu, apa benar bos lu itu udah nikahin Maysa pacar gue?" ujar Peter dengan tegas dan tatapan tajamnya.
Dean menanggapi dengan santai, ia tersenyum lebar kemudian menatap ke arah pria di sebelahnya. Ia tahu betul siapa Peter itu, karena sebelumnya ia juga sudah mendapatkan banyak informasi mengenai orang terdekat Maysa atas permintaan bosnya. Namun, kali ini Peter bukanlah siapa-siapa Maysa lagi karena pria itu telah membuangnya.
"Iya itu benar, memangnya kenapa ya? Anda tidak terima dengan pernikahan mereka?" ucap Dean.
"Kurang ajar! Harold gak tahu dia berhadapan dengan siapa, bilangin ke bos lu itu kalau gue gak akan biarkan dia hidup tenang!" geram Peter.
"Ya baiklah, saya akan katakan itu nanti. Tapi, saya gak yakin tuan Harold akan takut dengan ancaman murahan anda itu," kekeh Dean.
Amarah Peter makin memuncak, kedua tangannya terkepal kuat seolah bersiap memukul wajah Dean. Benar saja, kini Peter telah mengangkat tangannya dan hendak melayangkan pukulannya. Namun, tiba-tiba saja Melinda serta Saskia muncul dari dalam rumah dan menghentikan perkelahian antara kedua pria itu.
"Nak Peter, ada apa ini? Kenapa kamu mau pukul dia?" tanya Melinda dengan wajah heran.
Peter tampak mengurungkan niatnya dan membuang muka, ia coba menahan emosinya yang sudah meluap itu karena tidak mungkin ia melanjutkan aksinya di depan Melinda. Biar bagaimanapun, Peter tetap menghormati Melinda sebagai ibu dari wanita yang ia cintai.
"Tidak tante, aku cuma main-main kok tadi. Yasudah, kalau begitu aku pamit dulu ya tante? Maaf kalau kehadiran aku disini mengganggu, permisi!" ucap Peter pamit.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Peter langsung pergi dari sana dengan perasaan kesal dan emosi. Bahkan, Peter masih menyempatkan diri untuk menatap ke arah Dean dan memperlihatkan kekesalannya terhadap pria tersebut. Peter pun masuk ke mobilnya, lalu bergegas pergi dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah itu.
Sementara Dean tersenyum saja kali ini, ia beralih menatap Melinda maupun Saskia yang ada di depannya. Ia pun mengajak kedua wanita itu untuk segera pergi, Dean juga mengatakan kalau saat ini Harold dan yang lainnya sudah menunggu kehadiran mereka disana.
Tentu saja Saskia dan juga Melinda sama-sama mengiyakan ucapan Dean, mereka melangkah menuju mobil pria itu sembari membawa barang bawaan mereka yang dibantu oleh Dean. Saskia tampak sudah tidak sabar ingin segera sampai di kediaman Harold, karena ia yakin kalau rumah Harold pasti sangat besar seperti yang ada di dalam pikirannya.
"Aduh!" Saskia memekik kecil seraya memegangi kepalanya saat tak sengaja berbenturan dengan Dean yang hendak memasukkan barang-barangnya.
Tanpa disadari, mereka justru sama-sama saling bertatapan dengan ekspresi yang berbeda. Dean merasa khawatir dengan kondisi gadis itu, sedangkan Saskia sendiri terlihat gugup karena belum pernah berada dalam posisi seperti sekarang.
"Duh, kok jantung aku jadi berdebar-debar kayak gini ya?" batin Saskia.
•
•
Disisi lain, Harold tampak menemui Mario alias rekan kerjanya yang sebelumnya sempat datang ke rumah dan berniat menggoda Maysa. Tentu saja Harold tak terima dengan itu, sehingga kini Harold mendatangi kantor pria itu dan masuk ke dalam ruangan pribadinya untuk melampiaskan amarah yang sedari kemarin ia tahan.
Mario yang melihat kehadiran Harold disana dengan tampang emosi, seketika terkejut karena biasanya Harold selalu memberi kabar setiap kali ingin datang ke kantornya. Mario pun bangkit dari kursinya, menyambut Harold dengan senang hati dan mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk di kursi yang telah tersedia.
"Saya kesini bukan untuk membahas pekerjaan, tapi karena kelakuan biadab anda ke istri saya waktu itu! Saya tegaskan pada anda, kalau wanita yang anda rayu kala itu adalah istri saya!" sentak Harold.
Betapa terkejutnya Mario saat ini, ia tak mengira jika Harold akan datang ke kantornya untuk membahas mengenai kejadian beberapa waktu lalu itu. Mario pun langsung memalingkan wajahnya dan terlihat ragu untuk berbicara, sedangkan Harold yang emosi sudah mendekat dan menggebrak meja tepat di hadapan Mario.
Braakkk
Mario kembali tersentak dengan apa yang dilakukan Harold barusan, ia sadar rekannya itu sedang emosi dan dalam pengaruh amarah yang sangat besar. Wajar saja menurutnya, karena memang apa yang kala itu dilakukan olehnya adalah sesuatu hal yang tidak pantas. Mario pun menyesal, ia juga tak tahu kalau Maysa adalah istri dari sahabatnya.
"Kalau saya lagi bicara, anda harus tatap wajah saya! Anda dengar kan apa yang saya katakan tadi? Jawab!" tegas Harold.
"Rold, it's okay. Iya saya tahu saya salah, tapi waktu itu saya gak tahu kalau dia itu istri kamu Harold. Lagian kamu juga tidak mengundang saya ke acara pernikahan kamu, jadi ya mana saya tahu kalau kamu sudah menikah lagi?" ucap Mario gugup.
"Sabar Rold, semuanya bisa kita bicarakan baik-baik! Saya minta maaf kalau bikin kamu tersinggung, tapi tolong kamu jangan marah-marah begini dan kita duduk dulu yuk!" bujuk Mario.
Bukannya menurut, Harold justru semakin emosi dan membuang seluruh barang-barang yang ada di atas meja Mario sampai berserakan di lantai. Mario terbelalak dengan apa yang dilakukan Harold saat ini, apalagi Harold juga terus saja memporak-porandakan seisi ruangan itu dan tak memberi kesempatan Mario untuk bicara.
"Harold cukup, hentikan! Saya minta maaf atas kelakuan saya, tolong kamu tahan emosi kamu!" ucap Mario memohon.
Harold menoleh ke arahnya, kembali ia mendekati pria itu dan mencengkram kerah bajunya. Diangkat lah tubuh Mario dengan kekuatan tangannya, sampai-sampai Mario begitu ketakutan dan meminta Harold untuk melepaskannya. Namun, Harold justru melempar tubuh Mario hingga terjatuh ke lantai dalam posisi telungkup.
"Aakkhh, ampun Harold! Saya menyesal sudah melakukan itu, saya janji tidak akan mengulangi itu lagi! Saya mohon ampuni saya, tolong jangan besarkan masalah ini!" rengek Mario.
Harold menyeringai dibuatnya, "Dengar mister Mario yang terhormat, ini semua belum berakhir! Kalau anda masih saja begitu, maka saya akan ratakan seluruh kantor ini!" ucapnya mengancam.
Deg
Mendengar ancaman yang dilontarkan Harold, membuat Mario merasa cemas dan ketakutan jika sampai itu benar-benar terjadi. Harold memang tidak pernah main-main dalam ucapannya, sehingga Mario pun memohon di kaki pria itu dan berjanji kalau ia tidak akan mengulangi kesalahannya.
•
•
Zanna masih menikmati momen berdua bersama Maysa di taman samping rumahnya, mereka terlihat sama-sama berbahagia dan terus bermain sambil tertawa penuh keceriaan. Zanna juga sangat senang dengan semua ini, karena dahulu ia jarang sekali bisa bermain dengan mamanya yang selalu saja sibuk dengan urusannya sendiri.
Kini Zanna pun berharap kalau semua yang terjadi sekarang akan terus terjadi untuk selamanya, sebab Zanna benar-benar bahagia memiliki mama seperti Maysa yang sangat tulus menyayanginya dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Meski mereka baru kenal beberapa hari saja, tetapi entah kenapa keduanya sudah berhasil akrab.
Disaat mereka tengah sama-sama menikmati permainan itu, tiba-tiba saja Clara kembali datang dan mengganggu momen kebahagiaan mereka. Tentu saja Zanna serta Maysa kompak terkejut melihat kehadiran Clara disana, terlebih Clara saat ini langsung menghampiri Zanna dan menarik tangan gadis itu menjauh dari Maysa.
"Apa-apaan ini Clara? Kenapa kamu tarik tangan Zanna gitu aja? Kamu gak kasihan apa sama dia, kalau sampai dia terluka gimana?" tanya Maysa dengan nada tegas.
__ADS_1
"Diam kamu wanita murahan! Kamu itu gak tahu diri sekali ya, udah bikin Zanna masuk rumah sakit karena alergi sekarang kamu masih berani aja deketin dia! Aku pokoknya gak rela ya kalau Zanna diasuh sama perempuan kayak kamu!" sentak Clara.
Maysa sampai menggelengkan kepala dibuatnya, ia heran mengapa Clara berkata seperti itu di hadapan Zanna dan terlihat begitu emosi. Padahal, tadinya ia kira semua masalah mengenai alergi Zanna telah usai. Tapi nyatanya, Clara sendiri masih begitu emosi dan belum bisa memaafkan Maysa serta terus saja mencari keributan dengannya.
"Ma, mama jangan marahin mama Maysa kayak gitu! Mama Maysa tuh gak salah, lepasin tangan aku ma!" rengek Zanna.
"Diam kamu Zanna! Ayo kamu ikut sama mama, kalau kamu disini terus yang ada nanti kamu bisa terpengaruh sama perempuan gak bener ini!" ucap Clara dengan tegas.
"Ish, aku gak mau ma. Aku pengen tinggal disini sama papa dan mama Maysa, jadi mama gak bisa paksa aku kayak gitu!" tolak Zanna.
"Zanna, kamu kok jadi berani ngelawan perintah mama sih? Pasti ini semua gara-gara wanita gak bener ini, dia itu udah pengaruhi kamu kan sayang!" sentak Clara.
"Enggak ma, mama Maysa gak kayak gitu. Lepasin aku ma, aku gak mau ikut mama!" rengek Zanna.
Zanna terus saja berupaya untuk melepaskan diri dari genggaman mamanya, tetapi Clara tidak berniat melakukannya dan malah menguatkan cengkraman pada lengan putrinya itu sampai membuat Zanna merintih kesakitan. Clara sepertinya sudah terbawa emosi, sehingga ia tak mendengarkan rengekan putrinya yang kesakitan itu.
Maysa sontak merasa kasihan melihat ekspresi Zanna kali ini, sebelum Clara berhasil membawa gadis itu pergi dari rumahnya, Maysa pun dengan cepat bergerak menahan Clara disana. Mayra berjuang sekuat tenaga demi bisa menyelamatkan Zanna, sebab ia tahu jika Zanna tidak bahagia saat bersama ibu kandungnya itu.
"Clara, lepaskan Zanna sekarang! Kamu jangan bertindak bodoh ya Clara, kasihan Zanna kesakitan kamu tarik kayak gitu!" ucap Maysa.
"Ah diam kamu Maysa!" Clara mendorong tubuh Maysa dengan kencang sampai terjatuh.
Ini kedua kalinya Clara melakukan itu, dan tampak Maysa meringis sembari berusaha bangkit karena tidak ingin kehilangan Zanna. Namun, Clara telah berhasil membawa pergi Zanna menjauh dari Maysa yang masih terjatuh itu. Clara pun berniat untuk mengajak Zanna pulang ke rumahnya, lalu tidak akan pernah lagi mengizinkan Zanna menemui papanya.
•
•
Clara terus menarik-narik tangan Zanna dengan kasar dan membawanya secara paksa menuju pintu gerbang rumah itu, tampak para pengawal yang ada disana berusaha menghadang langkah Clara dan mencegah wanita itu membawa pergi Zanna. Tetapi, usaha mereka juga tidak ada gunanya karena Clara berhasil membuat para pengawal itu merasa bimbang dan terancam.
Beruntung Javier datang tepat waktu, pria itu bergegas menghampiri Clara lalu mencegah Clara yang ingin membawa paksa Zanna dari sana. Tentu Javier tidak akan takut dengan Clara, karena ia adalah adik dari Harold dan ia memiliki kuasa untuk bisa mencegah niat wanita itu. Clara pun terlihat kebingungan, namun tangannya masih mencengkram kuat lengan putrinya saat ini.
"Minggir kamu Javier, jangan halangi jalan aku! Kamu tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan aku, jadi mending kamu menyingkir!" sentak Clara.
Javier menggeleng perlahan dibuatnya, ia amat syok mendengar ucapan penuh amarah yang keluar dari mulut Clara barusan. Seketika sikap ramah dan lembut Clara hilang begitu saja, muncullah jati diri Clara yang asli saat sedang emosi seperti ini. Sehingga, Javier harus berhati-hati dan tidak boleh sampai kehilangan kesempatan untuk bisa mencegah wanita itu pergi dari sana.
"Clara, aku akan selalu ikut campur apapun urusan kamu kalau itu menyangkut Zanna. Dia itu keponakan aku satu-satunya Clara, dan aku gak akan biarin kamu bawa dia pergi dari sini!" tegas Javier.
"Kamu tuh keras kepala banget ya? Minggir Javier, biarin aku lewat!" ujar Clara.
"Kamu yang keras kepala Clara, buat apa sih pake acara bawa kabur Zanna segala? Kalau kamu mau ketemu dia, kamu kan bisa bebas datang kesini. Bang Harold gak mungkin larang kamu kok buat ketemu Zanna," ucap Javier.
"Aku harus bawa Zanna pergi dari sini sekarang Vier, karena kalau enggak dia bisa terus-terusan terkena pengaruh dari wanita gak tahu diri itu!" sentak Clara.
"Maysa maksud kamu? Emangnya apa yang udah dilakuin Maysa sih, ha?" tanya Javier.
"Kamu tanya aja sama kakak ipar kamu itu sana! Dia itu udah berusaha pengaruhi Zanna untuk benci sama aku, asal kamu tahu itu Vier!" jawab Clara.
Javier terdiam, ia mengernyitkan dahinya seraya berpikir apakah mungkin Maysa tega berbuat seperti itu. Rasanya sulit sekali bagi Javier untuk percaya dengan ucapan Clara, tetapi ia mewajarkan saja karena Clara ketakutan jika sampai kehilangan Zanna yang lebih menyayangi Maysa.
"Enggak om, yang dibilang sama mama itu semua bohong. Mama Maysa tak pernah pengaruhi aku untuk benci mama kok," seru Zanna.
Sontak Javier dan juga Clara kompak menatap ke arah Zanna, dari perkataan Zanna barusan Javier sudah dapat mengambil kesimpulan kalau Maysa memang tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan Clara tadi. Anak kecil tentu tidak akan pernah berbohong, mereka selalu mengatakan yang sebenarnya dan memang terjadi.
"Vier, tuh kamu dengar sendiri kan! Zanna sekarang jadi berani bantah aku, pasti ini semua karena ulah Maysa!" ucap Clara.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Javier, karena pria itu malah tersenyum lebar dan menatap wajah Clara di depannya. Perlahan Javier menarik lepas tangan Zanna dari genggaman Clara, membuat Clara terkejut dan semakin emosi dengan apa yang dilakukan Javier saat ini.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...