
Harold kembali ke rumahnya dengan tergesa-gesa karena ia berniat mengambil obat itu dari dalam kamarnya dan membawanya kepada Amy untuk diperiksa, ya Harold tak ingin berlama-lama dan mau semuanya cepat selesai saat itu juga. Pasalnya, rasa penasaran itu sangat mengganggunya dan membuat hidupnya tidak bisa tenang kali ini. Apalagi, reaksi Maysa saat menjelaskan tentang obat itu semalam terlihat cukup mencurigakan baginya dan seolah ada sesuatu yang tengah dirahasiakan oleh wanita itu.
Namun belum sempat ia menuju ke kamar, tanpa diduga Harold malah berpapasan dengan Maysa yang sepertinya baru hendak mengantarkan Zanna ke sekolahnya. Harold pun terpaksa berhenti sejenak, ia tak mau membuat istrinya itu curiga dan apa yang ia rencanakan saat ini akan sia-sia saja tanpa membuahkan hasil.
"Eh mas, kamu kok balik lagi? Aku kira tadi kamu pergi pagi-pagi banget karena mau ke kantor, tapi ternyata kamu malah pulang lagi," ucap Maysa tampak keheranan.
"Eee iya sayang, aku ada urusan sebentar tadi. Ini aku baru mau ke kantor, tapi aku pulang dulu karena ada file yang lupa aku bawa tadi. Kamu sendiri mau antar Zanna ke sekolah ya sayang? Bareng aku aja apa sama supir nih?" ucap Harold.
"Gausah mas, gapapa kamu ke kantor aja biar gak telat! Lagian aku udah minta Theo buat siap-siap kok tadi," ucap Maysa menolak tawaran suaminya.
"Oh gitu, ya syukurlah. Nanti aku minta Hendi dan Fauzan buat kawal kalian juga ya sayang? Aku gak mau aja terjadi sesuatu yang buruk sama kalian nantinya," ucap Harold.
"Iya mas, yaudah aku sama Zanna pergi dulu ya? Kamu kalau mau sarapan, ada di meja makan kok," ucap Maysa pamit.
"Iya sayang." singkat Harold.
Maysa serta Zanna bergantian mencium tangan pria itu saat ini, tak lupa mereka juga melambaikan tangan ke arah Harold sebelum mulai melangkah keluar dari rumah.
"Dadah papa!!" ucap Zanna sambil berjalan bersama mamanya disana.
Harold tersenyum dan ikut melambai pada putrinya, ia merasa senang setiap kali melihat wajah cantik putrinya itu. Namun, kini ia cepat-cepat pergi ke kamar untuk mencari obat yang semalam ia temukan disana. Ya Harold tak ingin membuang waktu, karena ia sudah sangat penasaran mengenai obat apa yang dimiliki Maysa itu.
"Maaf Maysa, tapi aku harus cari tau semua ini!" batinnya.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama lagi, Harold bergegas masuk ke dalam kamar dan berusaha mencari obat yang ia temukan semalam disana. Akan tetapi, sudah berulang kali ia mencari tapi tak berhasil menemukan keberadaan obat tersebut. Harold pun tampak heran, padahal semalam ia yakin sekali kalau obat itu ada di atas meja.
"Duh, ini obatnya kemana ya? Apa dipindahin sama Maysa karena semalam dia mergokin saya? Atau malah udah dikasih ke temannya? Kalau iya, berarti omongan Maysa benar dong?" gumamnya.
Harold benar-benar berpikir keras kali ini, ia terus mencari obat itu di setiap sudut kamar dan berusaha terus untuk menemukan obat itu. Bagaimanapun, Harold sangat penasaran karena obat itu memang cukup mencurigakan baginya. Apalagi, sikap Maysa semalam sungguh menambah rasa curiga di dalam hatinya yang membuat ia tidak bisa tenang.
Tapi tetap saja, sekeras apapun usahanya ia tetap tak berhasil menemukan apa yang ia cari. Harold tampak kesal kali ini, ia lampiaskan emosinya itu dengan cara memukul dinding kamarnya. Ia telah salah langkah, karena sepertinya Maysa sudah lebih dulu menaruh obat itu ke tempat yang aman.
•
•
Sementara itu, Maysa masih berada di dalam mobil bersama Zanna dan sebentar lagi akan tiba di depan sekolah gadis mungil itu. Tampak Maysa juga memegangi obat miliknya dan tersenyum puas karena berhasil mengamankan obat itu dari tangan Harold, setidaknya dengan begini maka Harold tak akan bisa lagi mencari tahu tentang dirinya.
"Ahaha, pasti mas Harold bingung nanti cari-cari obat ini. Kayaknya emang yang paling aman tuh aku bawa aja terus obat ini kemana-mana deh," gumam Maysa di dalam hatinya.
"Ma, mama kenapa sih senyum-senyum kayak gitu? Apa yang lucu ma?" tanya Zanna penasaran.
"Eh sayang, gak ada kok. Ini mama cuma keinget sama papa kamu, makanya mama senyum deh. Mama gak nyangka kalau Zanna bakal lihat, duh jadi malu deh mama," jawab Maysa membohongi gadis mungil itu.
"Ohh, berarti mama kepikiran sama papa terus ya? Cie cie, mama sama papa itu romantis banget deh!" goda Zanna.
"Ah apa sih kamu sayang? Kamu itu masih kecil, tau darimana sih kata begitu?" ujar Maysa.
__ADS_1
"Hehe, dari tante Kia dulu ma. Tapi bener kan kalau mama sama papa makin romantis sekarang?" ucap Zanna tersenyum lebar.
Mendengar nama adiknya disebut, seketika Maysa kembali teringat pada sang adik yang kini telah pergi untuk selamanya. Senyum di wajahnya tadi berubah menjadi sebuah tangisan, air mata menetes dan Maysa terpaksa memalingkan wajahnya agar Zanna tidak melihat hal itu.
Kebencian Maysa terhadap Harold pun makin meluap saat ini, apalagi ia tahu kalau kepergian Saskia tentu ada sangkut pautnya dengan bisnis yang dijalankan oleh Harold. Jika saja ia tak bertemu dengan lelaki itu, maka pasti hidupnya sekarang masih terasa bahagia dan ia tidak perlu kehilangan satu anggota keluarganya.
"Ada apa ma? Mama kok jadi diam kayak gitu? Aku salah bicara ya?" tanya Zanna.
"Eee mama gapapa kok sayang, tadi pas kamu sebut nama tante Saskia, mama agak sedikit kebawa suasana aja. Mama kangen sama tante Saskia kamu itu sayang, pasti kamu juga begitu ya sayang?" ucap Maysa sambil menahan isak tangisnya.
"Iya ma, aku kangen banget sama tante Kia! Andai aja tante Kia masih ada, pasti aku bakalan senang banget dan gak kesepian lagi. Tapi, sekarang tante Kia malah udah pergi," ucap Zanna.
Tanpa diduga, Maysa langsung memeluk putrinya itu dengan erat dan menumpahkan air matanya disana. Ia tak kuasa lagi menahan kesedihan yang ia rasakan saat ini, meski ia tahu kalau tak wajar jika dirinya menangis di hadapan Zanna. Namun, Maysa sudah tidak bisa menahan air mata yang hendak tumpah akibat teringat sosok adik tercinta.
"Ma, udah ya mama jangan nangis! Aku jadi ikutan sedih kalau lihat mama nangis, kan aku masih ada disini buat mama. Mama gak perlu sedih kayak gitu lagi ya!" ucap Zanna.
"I-i-iya sayang, maafin mama ya? Mama emang cengeng banget," ucap Maysa terisak.
Zanna menggeleng perlahan, "Enggak kok ma, mama gak cengeng. Wajar dong kalau mama nangis sekarang," ucapnya.
"Makasih sayang!" Maysa semakin mengeratkan pelukannya dan terus menangis disana.
Zanna pun membiarkan mamanya menangis sambil memeluk dirinya, karena ia juga merasa kasihan saat melihat mamanya itu mengeluarkan air mata dan terlihat begitu sedih setelah ia menyebut nama Saskia tadi.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...