Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Peperangan


__ADS_3

Harold akhirnya tiba di tempat yang sudah ia persiapkan untuk mengumpulkan para anak buahnya dari berbagai wilayah, tampak cukup banyak pasukan disana yang nantinya akan dibawa oleh Harold untuk menyerbu markas Rendy dan membalaskan semua dendamnya. Harold terlihat begitu antusias pagi ini, terlebih ia telah mendapat suntikan semangat dari istrinya melalui cumbuan panas saat di kamar hotel tadi sebelum berangkat.


Ya Harold bertekad kalau hari ini semua misinya akan selesai dilaksanakan, perang besar akan terjadi dan mungkin bisa memakan banyak korban baik dari pasukannya ataupun pasukan musuh. Harold sudah mengantisipasi semua kemungkinan yang ada, untuk itu ia menyiapkan berbagai jenis persenjataan di dalam jasnya. Tak hanya itu, Harold juga meminta para anak buahnya untuk membawa senjata lebih dari satu termasuk persiapan peluru yang banyak.


"Bagaimana, apa kalian sudah siap?" tanya Harold dengan lantang kepada seluruh anak buahnya.


"Siap bos!" jawab mereka semua.


Harold menyeringai, "Bagus, saya suka semangat kalian! Kita hari ini akan menyerang markas Rendy, mereka pasti terkejut karena mengira kita akan datang ke tempat biasa," ucapnya.


"Tapi bos, gimana kalau mereka berkumpul di markas lebih dulu? Kita bisa saja kalah pasukan," tanya Dean tiba-tiba.


Harold pun beralih menatap asistennya itu, ia tidak suka jika ada salah satu anak buahnya yang merasa takut dan menjadi pengecut. Apalagi, Dean merupakan kaki tangannya yang seharusnya tumbuh menjadi sosok pemberani untuk bisa membela serta melindungi seluruh pasukan mereka.


"Simpan ketakutan kamu itu Dean! Hilangkan jauh-jauh! Saya tidak pernah mengajarkan kalian semua untuk takut bukan?" geram Harold.


"Ma-maaf bos, bukan maksud saya untuk takut! Saya cuma bertanya tentang kemungkinan itu, karena tadi kan bos yakin sekali kalau mereka bakal tertipu dengan perkataan bos kemarin," ucap Dean.


"Saya tahu, tapi sebaiknya hal itu tidak perlu kita bahas sekarang!" pinta Harold tampak jengkel.


Dean langsung mengangguk kali ini, "Baik bos, maaf kalau pertanyaan saya salah! Saya tidak pernah takut ataupun gentar sama mereka bos," ucapnya tegas.


"Yasudah, perintahkan semuanya masuk ke mobil masing-masing! Kita bergerak sekarang!" titah Harold.


"Siap bos!" Dean mematuhi perintah bosnya.


Tanpa basa-basi lagi, pasukan Harold pun bergerak cepat memasuki kendaraan masing-masing untuk segera berangkat menuju markas Rendy. Kali ini Harold masuk ke mobilnya bersama Fandy dan juga Dean, rasanya Harold sudah tidak sabar dan sangat berambisi untuk bisa membunuh Rendy beserta seluruh anak buahnya itu.


"Lihat saja Rendy, hari ini kamu akan mati di tangan saya! Nyawa anak saya di atas sana baru akan tenang, apabila kamu sudah benar-benar mati!" gumam Harold dalam hatinya.




Sementara itu, Javier menyamar mengenakan topeng hitam untuk bisa memasuki markas tempat Mawar ditahan. Pria itu sengaja memanfaatkan momen dimana Harold serta pasukannya tengah bersiap untuk perang melawan Rendy, sehingga ia bisa menyelinap masuk kesana tanpa perlu khawatir ketahuan oleh para penjaga disana.


Namun, rupanya tempat itu tidak benar-benar kosong dan masih ada tiga orang anak buah yang berjaga tepat di depan pintu masuk. Tentu saja Javier tampak bingung, ia terdiam sesaat dibalik tembok untuk berpikir cara apakah yang bisa ia gunakan saat ini. Bagaimanapun, hari ini ia harus berhasil menyelamatkan kekasihnya itu.


"Waduh bro, gue kebelet nih! Gue tinggal bentar ya ke toilet?" pamit salah seorang penjaga itu.


Javier tersenyum mendengar itu, inilah kesempatan yang ia tunggu-tunggu dan akan ia gunakan untuk bisa masuk ke dalam sana. Setidaknya jika hanya dua, maka Javier masih bisa melawan mereka dan menyelamatkan Mawar kali ini. Meski, masih sedikit ada rasa ragu di dalam dirinya sebelum mulai bergerak mendekati mereka.


Kini perlahan Javier melangkahkan kakinya dengan membawa sebuah balok kayu di tangannya, ia sangat berhati-hati karena tidak ingin ketahuan oleh mereka. Dari belakang, Javier mulai mengayunkan balok tersebut dan memukul punggung salah seorang penjaga itu dengan keras.


Bugghhh


Seketika si penjaga yang terkena pukulan itu menjerit sembari memegangi punggungnya, ia perlahan terjatuh ke lantai dan pingsan akibat pukulan tersebut. Sedangkan penjaga lainnya tampak terkejut, lalu menoleh ke arah Javier dan meneriakinya.


"Woi! Siapa lu?" tapi belum sempat dia bergerak, Javier sudah kembali memukulkan balok itu ke arahnya hingga terjatuh pingsan.


Bugghhh


Setelahnya, Javier membuang jauh-jauh balok itu dan berjalan memasuki markas untuk mencari keberadaan Mawar. Ia tak perduli lagi dengan kondisi kedua penjaga tadi, karena saat ini yang ada di dalam pikirannya hanyalah Mawar seorang. Bagi Javier, keselamatan Mawar jauh lebih penting dibanding apapun.


Pria itu terus bergerak mencari sosok Mawar kesana-kemari, sampai seluruh ruangan di markas tersebut ia telusuri dan buka satu persatu. Javier terlihat sangat panik, untungnya di pintu terakhir ia berhasil menemukan Mawar yang sedang terduduk di kursi dengan kondisi tangan terikat dan mata yang tertutupi sebuah kain hitam.


"Mawar!!" Javier berteriak, membuat sang empunya nama mendongak lalu mencari-cari asal suara.

__ADS_1


Javier langsung mendekat menghampiri kekasihnya itu, ia tak ingin terlalu lama berada disana karena ia yakin salah satu anak buah Harold tadi pasti akan kembali dan mengecek kondisinya. Untuk itu, Javier buru-buru melepas kain di wajah Mawar serta bergegas melepaskan tali pengikat di tangannya. Javier juga membuka topeng miliknya, lalu menunjukkan wajahnya kepada gadis itu.


"Hah kak Vier??" begitu matanya terbuka, Mawar sangat syok karena Javier lah yang datang kesana.


"Kamu mau apa sih? Gak puas kamu udah bikin aku kayak gini, ha?" sambungnya bertanya dengan nada tegas dan penuh emosi.


Javier menggeleng pelan, "Enggak Mawar, enggak. Aku kesini untuk bebasin kamu," ucapnya.


Mawar tampak mengernyitkan dahinya, ia menggeleng seolah ragu dengan perkataan Javier barusan. Ia tahu kalau yang menculiknya kemarin adalah Harold, kakak dari Javier. Tentu suatu hal yang mustahil apabila Javier ingin menolongnya kali ini, karena pasti Javier mendukung atau bahkan terlibat dalam penculikan kemarin.


"Mana mungkin kamu mau bebasin aku? Kamu itu pasti sekongkol kan sama kakak kamu? Gausah pura-pura kayak gitu deh!" geram Mawar.


"Kamu tenang aja Mawar, aku beneran kok bakal bebasin kamu dari sini sekarang!" ucap Javier.


Tanpa berlama-lama lagi, Javier segera melepaskan tali pengikat di kedua tangan gadis itu dan juga pada kakinya. Ia pun membantu Mawar bangkit dari tempat duduk, lalu memeganginya sambil tersenyum. Ia senang lantaran usahanya berhasil kali ini, bahkan dengan sigap ia memeluk erat tubuh kekasihnya dan mengusap punggungnya.


"Aku senang banget sayang, aku akhirnya bisa bebasin kamu! Kita keluar dari sini sama-sama ya? Aku janji akan selalu jagain kamu, kejadian seperti ini gak mungkin terulang lagi sayang!" ucap Javier.


Bruuukkk


Bukannya berterima kasih, Mawar justru mendorong tubuh Javier hingga terjatuh dan terlihat emosi.


"Jangan pernah sentuh aku! Kamu itu gak ada bedanya sama kakak kamu, sama-sama penjahat dan penipu! Aku gak akan terperdaya lagi sama kamu!" sentak Mawar.


"Ta-tapi sayang, aku itu—"


Tak mau mendengarkan kalimat Javier, kini Mawar melangkah dengan cepat keluar dari kamar itu dan segera membebaskan diri. Namun, tanpa diduga ia malah berpapasan dengan salah seorang anak buah Harold yang baru kembali dari toilet dan terlihat begitu panik setelah mengetahui kedua rekannya pingsan di depan sana.


"Ternyata benar dugaan gue, ada yang coba-coba mau main-main sama gue. Siapa yang bebasin lu, ha?" ujar si penjaga.


Mawar terdiam tanpa dapat berbuat apapun, nafasnya tersengal dan suasana hatinya sangat panik saat ini. Ia tak mungkin bisa berlari dari sana, apalagi yang berdiri di depannya adalah seorang pria kekar dan juga terlatih.


"A-apa? Tu-tuan Javier??" penjaga itu tampak gugup seolah tak percaya, sebab ia tahu jika Javier adalah adik dari bosnya.


"Ya, saya yang udah bebasin Mawar. Kalau kamu gak terima, ayo maju lawan saya!" tantang Javier.


Penjaga itu benar-benar bingung saat ini, ia tidak mungkin bisa melawan Javier mengingat Javier merupakan adik kandung bosnya. Namun jika ia membiarkan Javier pergi membawa Mawar, maka bukan tidak mungkin Harold juga akan memberi hukuman padanya nanti.




Harold beserta seluruh anak buahnya tiba di markas Rendy dan bersiap untuk memulai peperangan, mereka semua turun dari mobil lalu bergerak cepat mendekati markas tersebut. Tak ingin membuang banyak waktu, tentu saja Harold langsung mengerahkan seluruh anak buahnya itu untuk melakukan penyerbuan ke lokasi markas Rendy.


Disaat yang sama, Rendy serta Daniel tengah berjalan keluar dari dalam markas mereka sambil berbincang santai. Mereka terkejut bukan main ketika melihat Harold yang tiba-tiba muncul di depan sana bersama para pasukannya, tentu saja mereka tak menyangka jika Harold akan menyerbu markas mereka kali ini.


"Hahaha, selamat pagi mister Rendy! Apa kabar? Senang kita bisa bertemu lagi disini, setelah anda melakukan banyak kejahatan terhadap saya dan keluarga saya!" ucap Harold.


"Harold, apa-apaan ini? Kenapa kamu malah datang kesini?" heran Rendy.


"Ada apa mister Rendy? Apa kamu takut untuk melawan saya disini, hm? Anda itu memang pengecut, tidak pantas apabila sindikat ini dipimpin oleh orang seperti anda! Sekarang saya akan ambil alih semua itu dari anda!" ucap Harold.


"Cih, jangan mimpi kamu Harold! Langkahi dulu mayat saya, kalau kamu mau menjadi pimpinan bagi mereka!" sentak Rendy.


"Siapa takut? Bersiap-siaplah mister, ajal anda akan segera tiba!" tantang Harold.


Rendy semakin terpancing emosinya, ia bersiap mengambil pistolnya dari dalam saku jas dan hendak menyerang Harold serta pasukannya. Meski hampir setengah anak buahnya sudah ia kerahkan menuju tempat perang, namun Rendy tetap optimis kalau dirinya akan memenangkan pertempuran kali ini melawan Harold.

__ADS_1


"Daniel, telpon anak buah kita yang lain! Suruh mereka semua kembali kesini!" titah Rendy.


"Baik mister!" ucap Daniel mengangguk patuh.


Harold dapat melihat kegelisahan di wajah Rendy saat ini, ia pun memanfaatkan itu untuk menyerang Rendy dan mengerahkan seluruh pasukannya. Ya tentu Harold tak akan menunda-nunda lagi, sebab ia tak mau kehilangan kesempatan untuk bisa menghabisi Rendy dan seluruh anak buahnya.


"Semuanya, maju!" Harold berteriak lantang, memerintahkan anak buahnya untuk maju dan mulai menyerang.


Dorr... Dorr.. Dorr...


Adu tembak mulai terjadi, pasukan Harold bergerak cepat menyerang markas Rendy secara membabi buta. Mereka tak membiarkan pasukan Rendy bersiap terlebih dahulu dan langsung menyerangnya, tak hanya dengan tembakan tapi juga serangan melalui pisau. Akibatnya, banyak pasukan Rendy yang langsung gugur saat ini.


Akhirnya Harold sampai juga di hadapan Rendy, ia menyeringai ketika berhadapan langsung dengan pria yang sangat ia benci itu. Ia meletakkan semula senjatanya ke dalam saku jas, sedangkan Rendy masih terlihat was-was dan terus mengangkat senjata ke arahnya.


"Kamu memang benar-benar licik, Harold! Saya seharusnya tidak percaya dengan kamu, ternyata kamu berani menusuk saya dari belakang! Dimana anak saya? Lepaskan dia!" sentak Rendy.


"Hahaha, anda harus mati dulu di tangan saya, mister Rendy! Baru setelah itu, saya akan membebaskan anak anda," ucap Harold.


Deg


Rendy tersentak, emosinya semakin meluap dan membuatnya reflek menempelkan pistol ke dahi Harold bersiap untuk menembaknya. Ia mengancam akan membolongi kepala Harold jika pria itu tak mau mengatakan dimana Mawar berada, namun Harold justru terkekeh geli dan menyingkirkan secara perlahan tangan Rendy darinya.


"Jangan main-main dengan saya, Harold! Katakan dimana putri saya!" geram Rendy.


"Santai dulu mister! Biarkan saya menghabisi anda lebih dulu!" ucap Harold sambil tersenyum, yang kemudian langsung menancapkan sebilah pisau ke arah perut bagian bawah Rendy.


Bleeshh


Seketika Rendy terkejut, matanya membulat dan menatap ke bawah yang mana terdapat sebuah pisau tertancap di perutnya. Untungnya ia masih memegang pistol, sehingga ia dapat membalas serangan Harold dengan menembakkan peluru ke arah paha pria itu.


"Kurang ajar kamu Harold!" umpat Rendy.


Dorr!!


"Aaakkhhhh!!" Harold meringis kesakitan, reflek ia mencabut pisau itu dari perut Rendy dan memegangi pahanya yang terkena tembakan.


Bruuukkk


Rendy pun ambruk di depannya, ia tampak begitu sakit dan tidak bisa lagi menahan tubuhnya. Darah mengucur keluar tepat di bagian perutnya, Rendy sungguh tidak kuat lagi akibat luka tersebut. Tapi semua tak berhenti sampai disitu, karena Harold perlahan bergerak maju mendekatinya.


"Hahaha, sakit ya mister? Anda harus tau betapa sakitnya saya ketika anak di dalam kandungan istri saya meninggal bersamaan dengan adik ipar saya, anda harus menanggung semuanya!" ujar Harold.


Harold mengambil pistolnya, mengarahkan ke tubuh Rendy dan membuat Rendy amat ketakutan. Rendy pun mengangkat tangannya dan meminta ampun, mencoba untuk meyakinkan Harold agar tidak menghabisinya kali ini. Namun saat ini Harold bukanlah Harold yang dulu, ia tidak memiliki lagi rasa kasihan terhadap siapapun.


"Harold, saya mohon jangan! Jangan habisi saya, ampuni saya! Saya janji akan memberikan semua untuk kamu, tolong ampuni saya!" rengek Rendy.


"Cih, saya tidak butuh pemberian dari anda! Saya bisa mengambil semuanya setelah menghabisi anda, jadi selamat tinggal Rendy dan semoga anda bahagia di neraka!" ucap Harold.


"Ti-tidak...."


Dorr


Harold pun menembakkan peluru ke tubuh Rendy, bukan sekali tetapi berkali-kali sampai ia yakin kalau Rendy benar-benar tewas.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


...|||...


...Rendy mati, tamat novelnya?🤔...


__ADS_2