Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Pindah rumah


__ADS_3

Javier datang menemui kakaknya yang tengah berdiri seorang diri di kebun belakang sembari memegang secangkir teh, Javier nampak bingung dengan kelakuan kakaknya itu yang malah membuang gadis yang sudah selesai dia pakai begitu saja ke sebuah tempat. Sungguh Javier tak mengerti apa yang dilakukan kakaknya, padahal mereka sudah cukup sulit untuk bisa membawa Maysa ke tempat itu dan Javier dengan seenaknya membuang Maysa setelah memakainya.


Tentu Javier ingin melayangkan protes, ia merasa kakaknya telah salah mengambil keputusan dengan membuang Maysa. Menurutnya, ada baiknya jika Harold mengurung Maysa disana agar gadis itu tidak melapor pada polisi terkait kejadian kemarin. Ya selain itu, Javier juga berharap memang untuk bisa merasakan tubuh indah milik Maysa. Namun, nyatanya malah Javier tidak mendapatkan jatah tersebut karena keegoisan kakaknya.


"Bang, aku bingung deh sama abang. Kemarin abang maksa banget minta aku bantu abang buat culik si Maysa itu, tapi kenapa sekarang abang malah buang dia gitu aja bang?" kesal Javier.


Dengan santainya Harold berbalik dan menatap wajah adiknya itu dingin, seketika nyali Javier ciut saat melihat tatapan membunuh dari sang kakak. Harold menenggak minuman di tangannya itu sejenak, lalu tersenyum kecut ke arah Javier seolah tak memperdulikan ocehan adiknya itu. Bagi Harold, semua yang dia lakukan itu sudah benar dan sesuai dengan apa yang dia rencanakan dari awal.


"Terus kenapa kamu marah-marah begitu, hm? Kamu gak terima?" ujar Harold dingin.


"Eee bukan gitu bang, aku cuma heran aja sama abang ini. Padahal kita udah susah-susah tangkap tuh cewek, kenapa malah dilepas gitu aja? Kalau sampai dia lapor polisi gimana tuh bang, ha?" ucap Javier menjelaskan maksudnya.


Harold menggeleng santai sembari menenggak habis minumannya, "Itu gak akan terjadi, kamu percaya aja sama saya!" ucapnya pelan.


"Tapi bang, kenapa abang yakin banget sih? Emang abang ada rencana apa?" tanya Javier penasaran.


"Ada deh, intinya kamu gak perlu tahu. Sudah sana kamu pergi aja deh!" jawab Harold kesal.


"Aku heran aja sama abang, katanya abang suka sama tuh cewek. Terus kenapa abang bebasin dia gitu aja sih?" ujar Javier.


"Iya saya cinta sama Maysa, tapi saya gak mau kejar-kejar dia. Justru saya pengen bikin dia yang cari-cari saya lebih dulu," ucap Harold.


"Hah? Gimana caranya bang?" tanya Javier.

__ADS_1


Harold menyeringai dibuatnya, "Ya kamu kan tahu semalam saya sudah menanam benih di tubuh Maysa, saya yakin gak lama lagi benih itu akan tumbuh dan Maysa akan mencari saya," jawabnya.


"Waduh, jahat banget kamu bang! Terus kalau misal si Maysa gak hamil, gimana?" ujar Javier.


"Gak mungkin, dia pasti hamil. Cairan saya ini kan yang terbaik, kamu lupa dulu Clara sampai harus menggugurkan anak saya dan dia karena terlalu banyak?" ucap Harold dengan bangga.


"Hadeh, yaudah deh terserah abang aja lah. Aku cuma bisa kasih doa, supaya rencana abang berjalan mulus!" ucap Javier.


Harold tersenyum tipis, kemudian tiba-tiba saja Dean sang asisten datang kesana menemui mereka. Sontak Harold serta Javier sama-sama terkejut melihat Dean yang tampak panik, ya sepertinya Dean memiliki informasi penting yang hendak diberitahu pada bosnya itu. Tentu saja karena penasaran, Harold pun meminta Dean segera bicara padanya.


"Bos, ada berita penting bos! Bos harus tau soal ini!" ucap Dean terengah-engah.


Harold mengernyitkan dahinya, "Berita penting apa? Saya gak punya banyak waktu untuk dengerin ocehan gak jelas kamu, cepat bicara!" ucapnya.


"I-i-iya bos, jadi saya baru aja dapat info dari orang yang saya tugaskan untuk memantau Maysa. Ternyata Maysa dan keluarganya memiliki hutang besar dengan seorang rentenir bos, terus mereka semua tadi diusir dari rumahnya," jelas Dean.


Setelah mendengar penjelasan dari asistennya, Harold pun segera memerintahkan anak buahnya itu untuk terus mengikuti kemana Maysa pergi. Ya Harold tentu tak ingin kehilangan jejak wanita itu, meski ia hanya akan memantau kondisinya dari jauh dan memastikan bahwa Maysa masih terus berada dalam genggamannya.




Disisi lain, Maysa beserta keluarganya tiba di sebuah rumah kontrakan yang lebih kecil dibanding rumah mereka sebelumnya. Beruntung Maysa masih memiliki sisa uang hasil kerjanya untuk bisa membayar biaya sewa kontrakan selama satu bulan, nantinya Maysa akan memikirkan cara untuk membayar sewa sisanya dengan mencari pekerjaan tambahan di luar sana demi menghidupi keluarga.

__ADS_1


Meski kecil, namun mereka bersyukur karena masih bisa mendapatkan rumah dengan cepat. Setelah mereka diusir paksa dari rumah peninggalan sang ayah, kini mereka pun berniat memulai kehidupan baru dan melupakan masa lalu. Tentu ini sangat berat bagi Maysa, dikala dirinya baru mengalami musibah dengan kehilangan kesucian, kini keluarganya malah harus diusir dari rumah.


Maysa langsung memasuki kamarnya, ya rumah itu memiliki dua kamar dan ibu serta adiknya memutuskan untuk berbagi kamar, sehingga Maysa pun bisa memiliki kamar sendiri. Wanita itu terduduk di pinggir kasur berusaha mengistirahatkan tubuhnya setelah menempuh perjalanan jauh, tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya kembali pecah mengingat musibah yang terus dideritanya.


Namun, tiba-tiba saja suara ketukan mengacaukan momen sedih Maysa. Sontak Maysa segera menghapus air matanya dan beranjak untuk membuka pintu, rupanya ada Saskia alias sang adik yang datang ke kamarnya. Tentu saja Maysa merasa bingung, sebab tadi Saskia berkata ingin membereskan barang-barangnya di kamar.


"Sas, ada apa kamu kesini? Udah selesai beresin barangnya?" tanya Maysa penasaran.


Saskia menggeleng dengan wajah panik seolah menunjukkan kecemasan, Maysa pun dibuat makin heran dengan tingkah adiknya itu. Maysa sontak mengajukan pertanyaan dan terus mencecar Saskia agar bisa segera menjawab, akhirnya Saskia mengatakan apa yang dia perhatikan dari ibunya saat sedang berada di kamar tadi.


"Begini mbak, tadi aku lihat ibu tuh kayak pegangin kepalanya gitu terus sambil tunjukin ekspresi nahan sakit. Kayaknya sakit ibu kumat lagi deh mbak," ucap Saskia gugup.


"Apa? Ka-kamu yakin Sas? Mungkin itu cuma perasaan kamu aja kali," ucap Maysa terkejut.


"Enggak mbak, beneran aku lihat pake mata kepala aku sendiri. Ya emang sih pas aku tanya langsung ke ibu, ibu tuh gak mau ngaku. Tapi, aku yakin banget kalau sebenarnya ibu masih sembunyiin sakitnya dari kita!" ucap Saskia.


"Yaudah, nanti kita cari tahu aja ya? Sekarang kamu tenang, aku yakin ibu pasti bakal baik-baik aja kok!" ucap Maysa menenangkan adiknya.


Saskia pun mengangguk perlahan, kemudian Maysa memeluk adiknya itu untuk memberi ketenangan padanya agar tak perlu lagi bersedih. Maysa tidak ingin melihat anggota keluarganya terluka meski hanya sedikit, untuk itu ia bertekad akan terus berusaha membahagiakan ibu serta adiknya itu sampai nantinya maut memisahkan mereka.


"Umm kak, aku boleh ikut kerja ya?" ucap Saskia tiba-tiba sesaat setelah lepas dari pelukan kakaknya.


Deg

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2