
Waktu pulang sekolah telah tiba, Maysa pun sudah bersiap di depan gerbang untuk menjemput Zanna sesuai permintaan suaminya tadi. Ya Maysa juga telah berjanji pada Zanna, bahwa siang ini ia akan menjemput gadis itu di sekolahnya karena tadi pagi ia tidak bisa mengantarnya ke sekolah.
Tak lama kemudian, Zanna akhirnya muncul ke luar menemui Maysa sambil tersenyum lebar. Zanna tampak sangat ceria setelah melihat Maysa ada disana untuk menjemputnya, ia menginginkan momen seperti ini karena menurutnya hanya Maysa lah yang bisa membuat ia tersenyum bahagia seperti sekarang.
"Mama!!" gadis mungil itu memanggilnya, memeluk tubuh mama barunya dengan erat dan membuat Maysa merasa bahagia.
Maysa memang belum pernah merasakan memiliki seorang anak, tetapi entah kenapa tiap berada di dekat Zanna selalu berhasil membuatnya merasa tenang dan nyaman. Selain itu, Zanna juga merupakan anak yang periang dan baik hati. Sehingga, mereka berdua bisa cepat akrab seperti saat ini dan seolah-olah telah kenal lama.
"Eh sayang, gimana belajarnya? Zanna bisa kan, terus gak bandel kan?" tanya Maysa sembari mengusap punggung gadis itu.
Zanna mengangguk sambil tersenyum, "Iya dong ma, aku tadi belajar gambar dan bu guru puji gambar aku. Terus aku juga gak bandel kok di kelas," jawabnya.
"Ahaha, pinter deh anak mama! Yaudah sebagai hadiah, Zanna mau gak mama beliin es krim sekarang?" ujar Maysa.
"Wah asyik, iya aku mau ma!" ucap Zanna antusias.
"Nah, yuk kita cari tukang es krim di dekat sini!" ajak Maysa yang langsung menggandeng putrinya.
"Ayo!"
Zanna tampak sangat antusias dibuatnya, mereka langsung saja masuk ke dalam mobil dan meminta sang supir untuk segera melaju mencari tempat makan es krim yang terdekat. Zanna juga sudah tidak sabar ingin segera menikmati es krim bersama mamanya itu, apalagi sudah lama juga ia tidak memakan es krim.
Sesampainya di depan restoran es krim yang terkenal, Maysa serta Zanna pun bergerak turun dari mobil lalu masuk ke dalam restoran itu. Tanpa basa-basi lagi, Zanna segera mengatakan apa yang ingin dia pesan kepada pelayan disana. Maysa hanya menurutinya, karena ia juga tidak tahu apa yang disukai oleh Zanna.
Setelahnya, mereka kini sama-sama duduk di tempat yang tersedia untuk menikmati es krim masing-masing. Ya Zanna juga meminta Maysa untuk memesan es krim yang dia inginkan, karena tak ingin mengecewakan putrinya maka Maysa terpaksa ikut memakan es krim saat ini.
"Hmm, enak banget ini ma! Aku udah lama gak makan es krim kayak gini, suka deh!" ujar Zanna.
"Bagus deh, mama senang kalau lihat Zanna ceria kayak gini! Yaudah, dimakan sampai habis ya es krimnya sayang!" ucap Maysa.
"Iya ma."
Tapi tiba-tiba saja, Zanna meletakkan es krimnya di meja dan memegangi tenggorokannya. Wajah Zanna juga mendadak berubah memerah, membuat Maysa yang melihatnya sangat khawatir. Sontak Maysa menanyakan apa yang terjadi pada Zanna, tetapi gadis itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Sayang, kamu kenapa? A-apa yang terjadi??" tanya Maysa dengan paniknya, ia tak tahu harus apa setelah tiba-tiba Zanna kesakitan.
"Sepertinya non Zanna sesak nafas, bu. Kita bawa ke rumah sakit aja!" usul si pengawal yang ada disana.
Maysa sontak semakin panik ketika mendengar perkataan pengawal itu, langsung saja ia membawa Zanna keluar dari restoran untuk segera menuju rumah sakit. Namun, saat di luar mereka malah bertemu dengan Clara yang lagi-lagi muncul dan terlihat heran melihat Zanna dibopong seperti itu.
"Loh loh, apa-apaan ini? Apa yang terjadi sama Zanna, ha?" tanya Clara penasaran.
"Duh Clara, kamu gausah banyak tanya dulu ya! Aku mau bawa Zanna ke rumah sakit sekarang, tolong minggir!" sentak Maysa.
"Tapi May, kamu apain Zanna? Dasar gak becus ya kamu!" ucap Clara sangat cemas.
Maysa menggeleng cepat dan tidak perduli dengan ucapan Clara tadi, ia masuk ke dalam mobilnya begitu saja melewati Clara dan meminta supirnya untuk segera melaju pergi. Clara yang cemas tampak mengikuti mobil Maysa, wanita itu tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada putrinya.
•
•
Disisi lain, Harold masih berada di ruangan kerjanya dan tengah mengutak-atik laptop miliknya. Pria itu tampak tidak fokus dalam mengurus pekerjaannya kali ini, karena sedari tadi ia terus saja memikirkan istri serta anaknya. Harold tidak bisa bertahan terlalu lama tanpa Maysa ataupun Zanna di sisinya, sepertinya pria itu selalu ingin berada di dekat mereka yang sangat ia sayangi.
Saat ia tengah melamun tepat di hadapan layar laptopnya, tiba-tiba saja ia mendengar suara pintu dibuka yang membuatnya terkejut. Sontak Harold mengarahkan pandangannya ke asal suara, ia terkejut melihat Javier alias adiknya muncul disana dan menghampirinya sambil terkekeh kecil.
"Yah elah bang bang, kamu kok masih kerja aja sih? Bukannya ini masih hari pertama pernikahan kamu sama Maysa ya? Harusnya kamu tuh ada di rumah, kasihan tuh bini ditinggal gitu aja!" ucap Javier.
Harold memalingkan wajahnya, seolah tidak ingin memandang sosok adiknya yang selalu mengganggu ia sejak dulu. Sedangkan Javier masih terkekeh disana, ia pandangi wajah abangnya itu sembari menahan mulutnya yang ingin menceritakan sesuatu pada Harold saat ini.
"Vier, ngapain sih kamu kesini? Terus main masuk ruangan saya gitu aja lagi, gak sopan banget jadi adik!" ucap Harold dengan ketus.
"Yeh sorry bang, aku kan cuma pengen tengok kamu disini. Lagian aku juga punya informasi penting tau tentang Maysa, aku yakin deh kamu pasti bakal kesel banget dengernya nanti," ucap Javier.
__ADS_1
Harold sontak mengernyitkan dahinya, "Apa Vier? Informasi apa yang kamu tahu tentang Maysa, ha?" tanyanya penasaran.
"Begini bang, tadi aku gak sengaja papasan sama teman kamu yang bapak-bapak itu, si Mario kalo gak salah namanya. Nah, aku denger katanya dia itu godain Maysa tahu bang," jelas Javier.
Deg
Seketika Harold terkejut dan membelalakkan matanya begitu mendengar perkataan Javier barusan mengenai istrinya, dua tangannya terkepal kuat menandakan ia begitu emosi kepada Mario yang sudah berani menggoda istrinya. Ia tentu tidak akan membiarkan Mario begitu saja, pastinya ia akan memberi pelajaran kepada pria itu nanti.
"Sial! Kurang ajar banget tuh si Mario, dia gak tahu apa kalau Maysa udah jadi istri saya!" geram Harold.
Javier terkekeh melihat emosi yang ada di wajah abangnya saat ini, namun hal itu justru membuat Harold merasa kesal dan langsung mencengkram kerah baju adiknya. Harold tak mengerti apa yang membuat Javier terkekeh seperti itu, sehingga ia pun merasa sangat kesal.
"Ngapain kamu ketawa? Emangnya ada yang lucu, ha? Saya gak terima kalau Maysa digodain sama si Mario yang mesum itu, apalagi kalau sampai dia berani sentuh Maysa!" ucap Harold kesal.
"I-i-iya bang, aku paham kok. Tapi, abang gak perlu emosi. Mario juga udah diusir kok tadi sama pengawal di rumah abang, dan dia belum berhasil melakukan apapun ke Maysa. Tenang aja kali bang!" ucap Javier gemetar.
"Aaarrrgghhh!!" Harold melepaskan kesah Javier dengan kasar, dan terlihat ia masih emosi saat ini.
"Tetap aja, saya akan kasih pelajaran ke si Mario itu! Kamu jaga disini ya Vier, gantikan tugas saya!" sambungnya.
Javier mengangguk saja menuruti permintaan abangnya, sedangkan Harold tampak sudah berdiri dan bangkit dari tempat duduknya bersiap untuk menemui Mario. Akan tetapi, tiba-tiba ia mendapat sebuah telpon yang membuatnya mengurungkan niat untuk pergi sekarang.
Harold melihat ponselnya, terdapat nama Maysa di layar itu yang membuatnya tersenyum sumringah. Tanpa berpikir panjang, Harold segera mengangkat telpon itu sambil berjalan ke luar ruangan meninggalkan Javier begitu saja. Ya Harold memang mudah mengabaikan adiknya itu, saat ada sesuatu yang lebih penting menurutnya.
•
•
Maysa kini telah berada di rumah sakit, dan Zanna juga sudah dibawa ke dalam ruangan untuk diperiksa oleh dokter mengenai penyakit yang dideritanya. Maysa sungguh sangat panik, ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Zanna karena ia sangat menyayangi gadis itu. Ia merasa bersalah setelah hal ini terjadi pada putrinya itu, seharusnya tadi ia tidak mengajak Zanna untuk makan es krim bersama yang akhirnya membuat gadis itu terluka.
Meski Maysa masih tak tahu apa penyebab Zanna sampai seperti itu, tetapi tetap saja Maysa amat menyesal dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan, berkali-kali ia memukul wajahnya seolah tidak terima dengan apa yang terjadi pada Zanna saat ini. Jika ia bisa menukar takdir, maka ia rela untuk bertukar posisi dengan Zanna di dalam sana.
Dikala ia tengah panik dan cemas menunggu kabar dari dokter mengenai Zanna, tiba-tiba saja Clara muncul di dekatnya dan langsung menarik tubuh Maysa agar menghadap ke arahnya. Maysa yang terkejut tidak dapat berbuat apa-apa, terlebih kini Clara langsung menampar wajah Maysa seolah melampiaskan kekesalan karena menganggap Maysa tidak becus menjaga putrinya.
Plaaakk
"Kamu itu sebenarnya bisa gak sih jaga anak? Aku heran deh sama kamu, udah dikasih kepercayaan tapi kamu malah kayak gini dan bikin anak aku masuk rumah sakit!" geram Clara.
Maysa menatap wajah Clara dan menggelengkan kepalanya, ia sadar ia salah karena telah menyebabkan Zanna masuk rumah sakit. Akan tetapi, ia tetap tidak terima dengan apa yang dilakukan Clara barusan. Menurutnya, Clara tidak berhak untuk menamparnya apalagi di tempat umum dan di hadapan banyak orang.
"Clara, kamu tenang dulu! Aku juga gak tahu apa yang terjadi sama Zanna, dia tiba-tiba aja pingsan dan aku gak ngerti kenapa!" ucap Maysa.
"Halah gausah pura-pura deh kamu! Emang kamu aja yang gak becus jaga anak, seharusnya kamu itu cocoknya ngangon kambing sama bebek di kampung! Cewek murahan seperti kamu, gak pantas jadi ibu buat anak aku!" umpat Clara.
Ucapan Clara barusan berhasil membuat mental Maysa semakin runtuh, kini Maysa hanya bisa diam dan menerima semua caci maki dari Clara tanpa mampu melawannya. Maysa pun menundukkan wajahnya, ia sadar kalau dirinya adalah penyebab Zanna masuk rumah sakit dan mungkin semua ini pantas untuk ia dapatkan.
"Dengar ya Maysa, kalau sampai terjadi sesuatu sama Zanna maka aku gak akan tinggal diam! Aku pastikan, kamu akan dihukum seberat-beratnya!" ucap Clara mengancam.
Clara yang semakin emosi, berniat untuk kembali menampar wajah Maysa dan meluapkan semua kekesalan yang selama ini ia pendam. Tapi disaat yang sama pula, Harold muncul tepat waktu dan berhasil menahan lengan Clara agar tidak jadi menampar wanitanya. Clara terkejut, kemudian syok begitu melihat keberadaan mantan suaminya itu.
"Mau apa kamu Clara? Saya gak akan tinggal diam, kalau kamu berani menyakiti Maysa!" tegas Harold.
"Harold??" Clara menganga dibuatnya, kehadiran Harold tentunya membuat ia tidak punya kuasa lagi untuk bisa mengancam Maysa.
Akhirnya pria itu melepaskan lengan Clara dan memintanya untuk tenang serta tidak mencari keributan lagi disana, lalu Harold beralih menatap Maysa yang tampak bersedih sembari memegangi pipinya. Harold pun menghampirinya, mencoba menghibur istrinya itu dan memeluknya tepat di hadapan Clara.
"Rold, dia udah bikin Zanna sakit sampai masuk ke UGD! Kamu sebagai seorang ayah harus tegas dong, hukum istri kamu itu!" sentak Clara.
Tak ada perkataan apapun yang keluar dari mulut Harold, pria itu hanya mengangkat telapak tangannya dan memberi gestur seolah meminta Clara untuk tidak. Clara pun menurut, sebab ia masih ingin berada disana dan memastikan langsung bahwa kondisi Zanna baik-baik saja.
•
•
__ADS_1
Kini Harold bersama Maysa sudah terduduk tepat di depan ruang perawatan tersebut, keduanya tampak sangat cemas dan terus mengkhawatirkan Zanna. Terutama bagi Harold, pria itu terus saja menatap ke arah pintu seolah menantikan kabar mengenai putrinya dari dalam sana. Harold tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Zanna, meski ia juga belum tahu apa penyebab Zanna seperti itu.
Harold pun kembali menatap wajah istrinya, ia genggam erat telapak tangan wanita itu seraya membelai rambutnya. Harold penasaran apa sebenarnya yang telah terjadi tadi, sebab Harold hanya meminta Maysa untuk menjemput Zanna di sekolah karena itu adalah permintaan putrinya.
"Sayang, kamu bisa jelasin kan kenapa ini semua terjadi? Sebelumnya Zanna kenapa, kok bisa dia sampai pingsan dan masuk ke rumah sakit?" tanya Harold dengan cemas.
"Mas, aku minta maaf mas! Aku yang salah karena udah bikin Zanna pingsan!" rengek Maysa.
"I-i-iya sayang, sudah kamu tidak usah menyalahkan diri kamu sendiri! Sekarang kamu jelasin aja ke aku, kenapa bisa Zanna begini!" pinta Harold.
"Tadi itu aku niatnya cuma mau hibur Zanna dengan bawa dia ke tempat makan es krim, aku gak nyangka kalau dia akan begini mas," jelas Maysa.
"Hah kok bisa? Emang es krim apa yang dia makan sampai bisa kayak gini?" kaget Harold.
"Es krim topping kacang, mas." dengan gugup Maysa menjawabnya, yang seketika membuat Harold terbelalak lebar mendengarnya.
Bagaimana tidak? Harold jelas tahu kalau Zanna alergi pada kacang, beberapa kali juga Harold sudah melarang Zanna dan mengingatkan gadis itu untuk tidak mengkonsumsi kacang. Namun, saat ini ia baru mendengar kalau Zanna memakan es krim dengan topping kacang yang dibelikan oleh Maysa.
"Aduh sayang! Zanna itu alergi kacang, ya pantas dia langsung kayak gini!" ucap Harold.
Maysa tersentak dan semakin merasa bersalah, ia sungguh menyesal karena telah mengajak Zanna memakan es krim siang tadi. Ia juga tidak tahu jika Zanna alergi pada kacang, yang sampai membuat gadis itu kepanasan lalu pingsan saat di tempat es krim tadi. Maysa pun memohon pada suaminya, menangis deras menyesali perbuatannya.
"Maafin aku mas, aku beneran gak tahu kalau Zanna alergi kacang! Tadi Zanna juga yang pilih sendiri topping itu, a-aku minta maaf banget mas!" ucap Maysa terisak.
Harold sungguh tidak tega melihat Maysa yang merengek seperti itu, apalagi Maysa adalah wanita yang ia cintai. Tidak mungkin tentu Harold akan memarahi Maysa, justru kali ini Harold meraih serta mendekap tubuh Maysa dengan erat sembari mengusap puncak kepalanya. Harold meminta Maysa untuk tenang, lalu mendoakan kesembuhan Zanna agar bisa selamat dari penyakitnya.
Sementara Clara yang susah mendengar semuanya, tentu saja tak terima dan bertekad akan membalas dendam pada Maysa karena sudah membuat putrinya masuk rumah sakit. Clara tampak mengepalkan kedua tangannya, rahangnya bergetar seolah menahan emosi yang memuncak.
Tak lama kemudian, dokter akhirnya keluar dari dalam ruangan tersebut. Sontak Harold serta Maysa kompak berdiri, lalu bergegas menghampiri dokter itu untuk menanyakan mengenai kondisi Zanna. Begitu juga dengan Clara yang sudah sangat khawatir, ketiganya kini sama-sama berdiri di hadapan sang dokter dan tampak amat cemas.
"Dok, gimana kondisi anak saya? Dia gak kenapa-napa kan?" tanya Harold cemas.
Dokter itu tersenyum, kemudian mengatakan bahwa Zanna dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, dokter itu juga meminta pada mereka semua untuk menghindari Zanna mengkonsumsi kacang. Karena, hal itu bisa sangat berbahaya untuk tubuh Zanna nantinya.
•
•
Harold dan Maysa saat ini telah berada di dalam ruangan untuk menjenguk Zanna yang masih terbaring di atas brankar, keduanya tampak sangat cemas apalagi ketika melihat kondisi Zanna yang lemah dan sulit bergerak itu. Wajahnya pun masih tampak pucat, mungkin saja karena pengaruh kacang yang tadi dia konsumsi.
Zanna pun terlihat sangat senang karena dapat melihat kedua orangtuanya disana, ia juga menyesal telah memaksakan diri untuk memakan es krim dengan topping kacang tadi. Zanna sebenarnya hanya penasaran, sebab sebelumnya di sekolah ia melihat teman-temannya yang pamer memakan es krim kacang tersebut.
"Pa, aku minta maaf ya? Aku harusnya gak maksa buat makan es krim kacang, tapi aku iri sama teman-teman aku tadi!" ucap Zanna lirih.
Harold menggeleng perlahan, "Iya gapapa sayang, papa gak akan marahin kamu. Papa cuma minta sama kamu, tolong ya kamu jangan maksa buat makan kacang lagi! Ini udah yang kedua kalinya loh sayang, papa khawatir tau!" ucapnya.
"I-i-iya pa, aku janji lain kali gak akan nakal lagi!" ucap Zanna.
Maysa pun turut bersedih dan tidak bisa menghilangkan penyesalan di dalam dirinya karena sudah mengajak Zanna untuk memakan es krim tadi, Maysa memang tidak tahu jika Zanna alergi kacang sehingga ia tak bisa melarangnya. Namun, terlihat Maysa benar-benar menyesal dan merasa bersalah karena telah menjadi penyebab Zanna pingsan.
"Ma, mama Maysa jangan sedih gitu! Aku udah gapapa kok, beneran deh!" ucap Zanna.
Maysa menatap wajah Zanna sembari menyeka air matanya, ia tersenyum ke arah gadis itu dan merasa senang karena Zanna perduli padanya. Apalagi Zanna juga tidak menyalahkan Maysa atas apa yang terjadi siang tadi, Zanna paham betul sebab Maysa belum mengetahui mengenai alerginya.
"Udah ya ma, mama jangan salahin diri mama sendiri! Justru aku yang salah, karena aku malah maksa buat makan es krim kacang tadi. Mama mau kan maafin aku?" ucap Zanna.
Maysa mengangguk, "Pasti sayang, mama juga gak marah kok sama kamu. Maafin mama juga ya, karena mama tadi bikin kamu pingsan!" ucapnya.
"Enggak ma, ini bukan salah mama."
Zanna akhirnya meminta dipeluk oleh kedua orangtuanya itu, tentu saja Harold serta Maysa menuruti permintaan gadis itu dan saling berpelukan satu sama lain disana. Tapi kemudian, tiba-tiba saja Clara masuk ke dalam lalu membuat ketiganya terkejut bukan main.
"Zanna!!" teriak Clara dari arah pintu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...