
Clara tengah disekap di sebuah gudang yang kotor dan sepi, kondisi disana sangat menjijikkan baginya dan membuatnya begitu ketakutan. Clara tak percaya kalau ini bisa terjadi padanya, ia sungguh menyesal telah membawa pergi Zanna kala itu dari sekolahnya. Seandainya itu tidak ia lakukan, mungkin saja saat ini ia tak perlu berkutat di markas Rendy dan dijadikan sebagai tawanan oleh pria itu.
Nasib sial memang menimpa Clara bertubi-tubi, setelah Rendy mengatakan tak membutuhkan dirinya lagi, Clara pun dihempaskan begitu saja ke dalam sebuah gudang yang kosong. Clara bahkan dijauhkan dari putrinya sendiri, ia tak dibiarkan untuk sekedar menjenguk Zanna kali ini. Clara hanya bisa menangis meratapi nasibnya, ia baru saja dilecehkan oleh Rendy dan kini pria itu malah sengaja menaruhnya di tempat seperti itu.
"Kurang ajar! Emang dasar cowok biadab! Awas aja, aku pasti bakal balas perbuatan semena-mena kamu ini! Meski aku gak kenal siapa kamu, tapi aku pasti akan balas kamu Rendy!" geram Clara.
"Aakkhh lepas, lepasin saya!!" wanita itu terus berontak, berteriak meminta dilepaskan dan tak henti menangis histeris.
Tak ada satupun orang yang mau mendengarkan teriakannya, Clara betul-betul tersiksa dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Tubuhnya masih terasa sakit akibat perlakuan Rendy tadi, dan sekarang Clara juga harus mendekam sendirian di dalam gudang sepi. Clara juga mencemaskan putrinya, ia khawatir Rendy akan melakukan sesuatu kepada Zanna.
Ceklek
Tiba-tiba saja, pintu gudang itu terbuka dan membuat Clara reflek menatap kesana. Dilihatnya dua orang pria masuk kesana membawa nampan berisi makanan dan minuman, lalu mereka tampak mendekatinya sambil tersenyum. Ada perasaan tidak enak di hati Clara, ia menduga kedua pria itu akan melakukan tindakan aneh padanya.
"Heh, nih lu makan dulu biar berenergi! Daritadi kan lu teriak mulu tuh, pasti lu lapar sama haus kan!" suruh si pria.
"Hey kalian, tolong lepasin saya! Saya mau ketemu sama anak saya, kasihan dia masih kecil dan dia butuh saya! Jangan sampai kalian menyakiti dia, atau saya akan balas kalian!" ancam Clara.
"Halah, udah mending lu makan deh nih makanan! Supaya energi lu bisa balik dan lu bisa layanin kita abis ini," ucap si pria sambil terkekeh.
"Betul tuh, kan lu tau tugas lu sekarang disini itu jadi apa! Lu gak perlu mikirin nasib anak lu itu, karena lu harusnya mikirin diri lu sendiri! Kira-kira lu bakal sanggup gak jadi pelayan kita semua disini?" sahut pria yang lain.
Deg
__ADS_1
Clara benar-benar terkejut mendengar penuturan mereka, membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Clara berdiri. Clara tak mungkin bisa jika harus melayani orang-orang itu, apalagi semalam ia baru dihajar habis-habisan oleh Rendy. Clara pun juga ingin melihat putrinya secara langsung, meski ia tahu semua itu akan sangat sulit.
"Ayo cepat dimakan, jangan bengong aja kayak gitu! Masih mending kita mau kasih lu makanan, kalau enggak udah kita buang lu!" ucap si pria.
Clara menatap tajam ke arah mereka, rasanya ia begitu emosi dan ingin membalas semua tindakan kasar mereka padanya itu. Tapi apa daya, seorang wanita lemah seperti Clara tak akan mungkin bisa melakukan hal itu saat ini. Clara hanya bisa pasrah, ia meraih piring serta gelas itu dan memakannya di hadapan kedua pria tersebut.
Kedua kakinya yang masih terikat oleh rantai, membuat Clara cukup kesulitan untuk bergerak dan mencari posisi yang nyaman. Namun, akhirnya wanita itu tetap bisa memakan semua makanan tersebut karena ia sudah sangat lapar. Ya wajar saja Clara begitu, sebab semalaman ia hampir dibuat pingsan karena permainan ganas Rendy.
•
•
Vino kini kembali menemui Zanna, ia masuk ke kamar tempat gadis itu disekap dan terlihat membawakan piring berisi makanan disertai segelas susu yang akan ia berikan untuk Zanna. Kali ini Vino mendekati gadis itu, ia duduk di sampingnya dan menaruh sejenak piring serta gelas itu di atas meja agar ia bisa leluasa berbicara dengan Zanna.
"Zanna cantik, kamu lagi kenapa? Mikirin apa sih sampai es krimnya gak dimakan? Cair loh itu sayang, gak enak lagi nanti rasanya!" tegur Vino.
Gadis itu hanya menggeleng perlahan, rasanya Vino sungguh tidak tega dan ingin segera membawa Zanna pergi dari sana untuk bisa menemui orangtuanya. Akan tetapi, Vino belum berani melakukan hal itu saat ini karena resikonya terlalu besar. Bisa-bisa Vino akan dihukum nanti, kalau sampai Rendy mengetahui tindakannya.
"Om, tadi katanya om mau cari mama Zanna kan? Sekarang dimana mama aku, om? Kenapa om malah kembali sendirian?" tanya Zanna yang kini menoleh ke arah pria itu.
"Umm, untuk itu om minta maaf ya sayang? Om belum berhasil temuin mama kamu, tapi om janji nanti om akan bawa mama kamu kesini!" jawab Vino dengan gugup.
Saat tangan Vino hendak menyentuh wajahnya, Zanna spontan menepis tangan itu dan memasang wajah jutek. Zanna terlihat emosi pada Vino, ia sepertinya kecewa lantaran Vino tidak bisa membawa mamanya kembali kesana. Padahal, tadi Zanna sudah sangat berharap kalau Vino akan dapat menepati kata-katanya.
__ADS_1
"Om pembohong! Om jangan dekat-dekat Zanna lagi, sana om pergi!" sentak Zanna dengan tegas.
Entah mengapa perasaan Vino serasa hancur mendengar ucapan yang dilontarkan Zanna, ia menyesal telah memberi janji palsu kepada gadis itu sebelumnya. Kini Zanna malah membencinya, membuat Vino tak tahu harus melakukan apa untuk bisa membujuk Zanna kembali.
"Zanna, jangan marah ya cantik! Om udah berusaha buat cari mama kamu, tapi om gak ketemu. Kamu sabar aja dulu ya, sebentar lagi mungkin mama kamu bakal kembali kesini!" bujuk Vino.
"Kapan om? Aku udah nungguin mama daritadi, tapi mama gak balik-balik. Om jangan coba-coba bohongin aku ya, dosa tau!" tegas Zanna.
"Eee om gak bohong kok sayang, percaya deh sama om ya! Om janji sama kamu sekali lagi, kalau om akan bawa mama kamu kesini!" ucap Vino seraya menggenggam dua tangan gadis itu.
"Aku gak percaya sama om, om tukang bohong!" ucap Zanna langsung menarik tangannya.
Kini Zanna berbalik memunggungi Vino, ia melipat kedua tangannya di depan dan memasang wajah cemberut tanda emosi. Zanna tidak senang dengan kebohongan yang terus dilakukan Vino, padahal tadinya ia sudah sempat percaya pada pria itu. Namun, Vino malah mengkhianati dirinya dan merusak kepercayaan yang ia miliki.
"Okay, kali ini om pasti akan berhasil bawa mama kamu kesini sayang! Sekarang kamu makan dulu ya, mau om suapin?" ucap Vino.
"Gausah, om bawa aja dulu mama kesini baru nanti aku mau makan!" ujar Zanna.
Vino pun menunduk lesu, ia sungguh bingung saat ini dan tak tahu harus melakukan apa untuk bisa membawa Clara kembali ke kamar itu. Tidak mungkin Vino dapat menemui Clara begitu saja, karena hanya para anak buah tertentu yang dapat memasuki gudang tempat Clara berada saat ini.
"Duh, saya harus gimana ya? Zanna, om tahu banget kesedihan kamu itu!" batin Vino.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...