Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Perubahan sikap


__ADS_3

Maysa pun tiba di dalam ruang kerja pribadi milik suaminya, ia tampak syok dengan kemegahan yang ada disana dan banyaknya hiasan serta fasilitas yang cukup mewah layaknya kamar hotel. Maysa menggeleng sembari berdecak kagum, ia terus mengelilingi seisi ruangan itu sambil tersenyum. Pantas saja Harold betah berlama-lama di kantor, rupanya ruangan pria itu memang luar biasa.


Tanpa diduga, Maysa dibuat makin terkejut ketika ia melihat ada fotonya yang terpajang di dinding serta meja kerja sang suami. Maysa sampai tak bisa berkata-kata saat ini, ia bingung harus merasa senang atau bagaimana. Pasalnya, ia tak menyangka jika Harold sampai melakukan semua ini padanya dan memasang cukup banyak foto dirinya disana yang membuatnya begitu terharu.


Dean sendiri yang melihatnya ikut merasa senang, senyuman manis di wajah Maysa berhasil membuat Dean tenang dan tidak memikirkan kepergian Saskia lagi untuk sementara waktu. Lagipula, niat Dean datang ke kantor adalah untuk mulai membiasakan diri bahwasanya saat ini Saskia telah tiada. Dean tak bisa terus larut dalam kesedihan, apalagi ia memiliki banyak tugas dan juga amanah saat ini.


"Dean, apa kamu tahu soal ini? Sejak kapan mas Harold pasang foto-foto aku disini?" tanya Maysa yang masih terus mengelilingi ruangan itu.


Dean tersenyum dibuatnya, "Ya bu, saya tau banget. Waktu itu bos Harold sampai menyewa orang untuk mencetak foto bu Maysa sebanyak-banyaknya, supaya beliau bisa pasang semua foto itu di ruangan ini," jawabnya dengan santai.


Lagi-lagi Maysa tak menyangka kalau suaminya seniat itu sampai harus menyewa orang hanya untuk mencetak fotonya dan memajang semua itu di ruang kerja pribadinya, Maysa pun semakin yakin bahwa Harold memang benar-benar tulus cinta padanya dan bukan hanya sekedar menginginkan tubuh mulus nan seksi miliknya itu.


"Andai bu Maysa tau, selama disini tuh bos Harold terus ngeliatin foto ibu loh. Setiap kali beliau gak ada kerjaan, pasti yang dipegang sama dia itu ya bingkai foto ibu," ucap Dean melanjutkan.


Maysa mengangkat satu tangannya ke arah Dean, "Cukup Dean, sudah jangan diteruskan!" pintanya.


"Baik bu!" ucap Dean patuh.


Bukan apa-apa, Maysa hanya tak mau dibuat semakin salah tingkah ketika mendengar cerita dari Dean mengenai suaminya itu. Kini Maysa pun duduk di kursi kebesaran milik sang suami, ia tatap sekitar sembari mengusap meja yang bersih tanpa ada debu sedikitpun itu. Ia begitu bangga, sebab kini ia dapat berada di ruangan yang begitu mewah.


"Ruangan ini nyaman banget, saya kayaknya bisa betah deh lama-lama disini!" ucap Maysa.


"Baguslah bu, itu artinya bu Maysa sudah bisa menerima jabatan yang diberikan bos Harold untuk sementara waktu ini," celetuk Dean.


"Haish, kenapa kamu bicara Dean? Saya kan belum suruh kamu untuk bicara!" tegur Maysa.


"Eee maaf bu, siap saya salah!" Dean merasa gugup dan takut ketika Maysa menatap tajam ke arahnya disertai suara bentakan yang keras itu.

__ADS_1


Dean pun mengunci mulutnya sesuai perintah dari sang istri bosnya, sedangkan Maysa kembali fokus menatap bingkai foto yang ada di meja kerja suaminya itu. Maysa tersenyum, rasanya hatinya begitu berbunga-bunga saat ini karena melihat apa yang ada di dalam ruangan sang suami.


"Ah Dean, kamu bisa keluar sekarang. Saya kan sudah sampai di ruangan suami saya ini," titah Maysa mengusir Dean dari ruangan itu.


"Tapi bu, maaf sebelumnya ada yang mau saya sampaikan ke bu Maysa!" ucap Dean.


Maysa mengernyitkan dahinya, "Apa itu? Coba kamu bicara aja sekarang kalau memang penting!" ucapnya begitu penasaran.


"Begini bu, saya mau membahas mengenai proyek bos Harold yang mangkrak," ucap Dean.


"Hah??" Maysa tercengang, ini kali pertama ia bekerja di kantor seperti itu dan Dean sudah langsung membahas hal yang tak dimengerti olehnya.




"Clara, mau apa kamu kesini? Kamu itu udah gak ada hak atas kantor suami aku ini, jadi kamu sebaiknya pergi!" ketus Maysa.


"Ck, baru dijadikan ceo sementara aja kamu udah sombong banget kayak gini Maysa. Gimana kalau mas Harold angkat kamu sebagai pimpinan selamanya di kantor ini?" cibir Clara.


"Diam kamu Clara! Kamu gausah ikut campur dalam urusan keluarga aku, karena kamu bukan siapa-siapa disini!" sentak Maysa.


"Ya ya ya, aku tau kok Maysa. Aku kesini cuma mau menyampaikan belasungkawa aku ke kamu, karena kamu kan baru ditinggal pergi adik kamu itu. Dan juga, calon anak di dalam kandungan kamu yang keguguran," ucap Clara.


"Aku gak butuh rasa kasihan dari kamu, yang aku mau kamu cepat pergi dari sini!" ucap Maysa.


Clara menggeleng pelan seraya menyunggingkan senyumnya, ia tak menyangka sikap Maysa berubah drastis seperti itu. Padahal, biasanya Maysa tak pernah berani melawan padanya dan selalu diam. Namun, kali ini Maysa justru berani sekali mengusir Clara dari sana dan meminta supaya Clara tidak menginjakkan kakinya lagi di kantor itu.

__ADS_1


"Tunggu apa lagi Clara? Kamu cepat pergi dari sini, atau aku panggil security buat usir kamu!" ucap Maysa mengusir wanita itu.


"Sabar Maysa, jangan sampe karyawan disini nilai kamu itu atasan yang buruk!" ucap Clara.


Seketika Maysa terdiam, ia melirik ke sekelilingnya yang mana terdapat beberapa karyawan yang bekerja di kantor itu dan tengah memandanginya. Maysa pun merasa cemas saat ini, memang benar apa yang dikatakan Clara tadi. Seharusnya Maysa bisa lebih menjaga sikap, namun setiap bertemu dengan Clara emosinya selalu tak bisa dikontrol.


"Tenang ya bu, sebaiknya kita lanjutkan saja langkah kita!" Dean berbisik di telinga Maysa.


Maysa mengangguk setuju, mereka pun berniat melanjutkan langkah untuk keluar menuju tempat makan siang. Akan tetapi, Clara seolah tak membiarkan Maysa pergi begitu saja. Ya kini Clara mencekal lengan Maysa secara tiba-tiba, Maysa pun merasa kesal dan coba melepaskan diri dari cengkraman wanita itu.


"Mau kemana Maysa? Jangan pergi dulu, aku belum selesai bicara loh sama kamu! Oh atau kamu takut ya kalau citra buruk kamu diketahui sama semua orang disini?" ucap Clara.


"Diam ya kamu Clara, aku lagi gak mau ribut sama kamu!" kesal Maysa.


"Iya bu Clara, sebaiknya anda jangan cari gara-gara disini! Saya masih menghormati anda sebagai ibu dari non Zanna, tapi jika anda terus mengganggu bu Maysa maka jangan salahkan saya kalau saya akan bertindak kasar!" ucap Dean membela.


"Haha, enak ya hidup kamu sekarang Maysa? Kamu udah punya pengawal yang banyak, terus dapat posisi di kantor ini juga. Padahal, tadinya kamu kan cuma orang miskin yang gak bisa apa-apa!" ucap Clara mencibirnya.


Emosi Maysa makin memuncak dibuatnya, ucapan Clara itu benar-benar menyebalkan dan terasa menyakiti hatinya. Hanya saja, Dean lebih dulu menenangkan Maysa sebelum wanita itu bergerak mendekat ke arah Clara dan melakukan tindakan yang bisa membahayakan dirinya sendiri. Ya Dean tak ingin jika Maysa dibenci oleh para karyawan di kantornya, itu sebabnya ia menahan Maysa disana.


"Sabar bu, jangan terpancing! Bu Clara itu memang sengaja ingin membuat ibu dibenci disini," bisik Dean menenangkan istri bosnya itu.


Maysa terpaksa mengikuti kata-kata Dean dan mengurungkan niatnya, ia juga menghela nafasnya sembari menarik paksa lengannya agar lepas dari genggaman Clara.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2