Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Dibawa paksa


__ADS_3

Maysa kini berada di sebuah mall besar bersama Clara yang tadi memang memintanya untuk diantar ke mall, meski awalnya Maysa ragu tetapi kemudian wanita itu setuju saja dan ikut bersama Clara pergi ke mall tersebut untuk berbelanja. Namun, tentu mereka tidak hanya pergi berdua karena ada Theo dan juga Abas yang mengawal wanita itu saat ini.


Mereka terus melangkah mengelilingi mall tersebut sambil membeli apa yang Clara inginkan disana, Maysa hanya mengikuti saja kemana Clara melangkah dan tidak banyak bicara. Sepanjang jalan, Maysa memang masih memikirkan suaminya yang hingga kini tak kunjung ada kabar. Maysa khawatir pada sosok Harold, apalagi pria itu juga tidak bisa ia hubungan sampai sekarang.


"May, kamu kenapa diam aja sih? Kamu kepengen yang mana tasnya? Ini bagus-bagus semua loh, aku yakin pasti kamu belum pernah lihat barang kayak gini kan dari dulu?" ucap Clara.


Maysa tersentak dan spontan melirik ke arah Clara saat mendengar ucapan wanita itu tadi, rasanya Maysa begitu kesal ketika Clara mengatakan itu. Entah apa yang dimaksud Clara, tapi sepertinya Clara memang sengaja ingin menghinanya. Maysa pun berusaha tetap tenang, ia tersenyum saja seraya melihat-lihat tas di sekitarnya.


"Iya sih Clara, aku emang baru kali ini lihat tas yang bagus banget kayak gini," ucap Maysa.


"Nah kan, ya wajar dong kan kamu juga awalnya cuma dari keluarga kecil antah berantah. Beruntung aja kamu ketemu mas Harold, ya kan?" cibir Clara.


"Eee ya kamu betul Clara," lirih Maysa.


Maysa benar-benar harus menahan rasa kesalnya, apa yang dikatakan Clara lagi-lagi berhasil membuat emosinya meluap. Maysa bingung mengapa Clara tega mengatakan itu padanya, padahal waktu itu Clara sendiri yang meminta maaf dan berjanji tidak akan berbuat jahat lagi. Namun, kali ini semua itu seolah terlupakan dan Clara malah kembali membuat hati Maysa terasa sakit.


"Sampe sekarang aku juga masih heran deh, kok bisa ya mas Harold milih kamu buat jadi pengganti aku? Apa sih yang spesial dari kamu, May? Barangkali kamu tahu gitu kan," ujar Clara.


Deg


Betapa syoknya Maysa mendengar ucapan Clara barusan, tentu jika ia mengatakan yang sejujurnya kepada Clara maka pasti urusannya akan rumit. Kalau Clara tahu bahwa Harold menikahinya karena anak yang ia kandung, pastinya Clara akan semakin menindasnya dan berbuat yang tidak-tidak kepadanya atau bahkan juga keluarganya.


"Sa-saya juga gak tahu Clara, semuanya terjadi begitu aja. Kalau kamu mau tahu, ya silahkan kamu tanya ke mas Harold langsung!" ucap Maysa lirih.


"Masa sih kamu gak tahu? Aku gak percaya ah, udah deh kamu jujur sama aku! Apa karena bayi di dalam kandungan kamu itu, ya? Soalnya kan kalian baru nikah beberapa Minggu, masa udah punya anak aja?" ucap Clara mencibir.


"Umm, bisa gak kita gausah bahas soal itu? Kita kesini kan mau belanja, jadi kamu harusnya fokus ke belanjaan kamu aja! Kamu pilih deh mana tas yang kamu mau!" ucap Maysa mulai kesal.


"Ups, iya deh iya maaf ya? Kamu pasti marah ya karena pertanyaan aku tadi?" ucap Clara.


Maysa hanya memalingkan wajahnya, ia malas sekali meladeni Clara jika seperti ini jadinya. Rupanya ucapan maaf Clara malam itu hanya sekedar ucapan, karena nyatanya Clara memang belum berubah dan masih saja menyebalkan. Untung Maysa masih bisa menahan diri, jika tidak pasti sudah terjadi keributan disana.



__ADS_1


Setelah puas berbelanja di dalam mall tersebut, Clara kini mengajak Maysa untuk makan siang bersama di restoran dekat sana. Maysa tidak bisa menolak ajakan wanita itu, karena ia pun merasa lapar dan tidak bisa menahannya lagi. Akhirnya mereka masuk bersama-sama ke dalam restoran itu, mencari tempat yang kosong untuk bisa diduduki.


Namun, langkah mereka terhenti lantaran Clara melihat Theo serta Abas yang mengikuti langkah mereka ke dalam restoran. Ya Clara tidak ingin jika kedua pengawal itu ikut masuk kesana, karena Clara hanya mau berduaan dengan Maysa. Clara pun meminta kedua pengawal itu menunggu di luar, karena mereka tidak boleh mengganggu niatnya.


"Eh eh eh, ini kalian berdua kenapa ikut masuk? Saya sama Maysa mau makan berdua aja, kalian tunggu di luar sana! Atau kemana kek gitu biar gak ganggu kita, sana ah pergi! Saya gak mau ya diganggu sama kalian berdua!" ucap Clara tegas.


"Maaf bu Clara, kami cuma mau menjaga bu Maysa sesuai perintah dari tuan Harold!" ucap Theo tegas.


"Iya saya juga tahu soal itu, tapi kalian kan bisa jagain dari luar kek! Saya gak mau ya kalau ada kalian berdua disini," ucap Clara.


"Emangnya salah ya bu? Kita juga gak bakal dekat-dekat kok, palingan cuma duduk dari jauh buat pantau bu Maysa. Intinya kita akan tetap di dalam restoran ini bu," ucap Theo.


Clara pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk membuat kedua pengawal itu menunggu di luar, akhirnya Clara setuju saja dengan perkataan Theo tadi dan membiarkan mereka berdua duduk di kursi yang tidak terlalu dekat. Lalu, Clara bergegas mengajak Maysa duduk di kursi yang tersedia sambil bersiap memesan makanan.


"Clara, kamu itu sebenarnya kenapa bersikap kayak tadi? Kamu bilang kamu udah nyesel dan mau baikan sama aku, tapi kok kamu masih aja begitu sih?" tanya Maysa begitu mereka terduduk disana.


"Eee sebentar dulu ya, kita pesan makanan dulu aja? Kamu mau apa?" ucap Clara mengalihkan topik.


Maysa menghela nafasnya dan mengatakan apa yang ia inginkan kepada Clara, kemudian Clara beranjak dari tempat duduknya untuk pergi menemui pelayan dan mengatakan pesanan mereka. Maysa sebenarnya masih ingin banyak bertanya pada Clara, tetapi sepertinya Clara selalu saja menghindar dan tidak mau menanggapi ucapannya.


"Nah mbak, nanti tolong ditambah obat ini ya ke dalam minuman jeruk yang saya pesan! Soalnya teman saya itu lagi hamil, jadi dia harus banyak minum vitamin ini. Tapi, dia tuh gak suka banget kalau disuruh minum ini," ucap Clara.


"Ohh, iya baik mbak nanti akan saya sampaikan ke belakang. Ditunggu sebentar ya mbak, pesanan akan segera kami buat!" ucap pelayan.


"Baik mbak, terimakasih ya!" ucap Clara singkat.


Clara tersenyum senang, ia puas karena rencananya kali ini berhasil dan sebentar lagi Maysa akan meminum minuman yang telah dicampur oleh obat pemberiannya tadi. Tentu saja itu bukanlah vitamin yang seperti ia katakan, melainkan sesuatu yang tidak diketahui oleh Maysa dan bisa saja sangat berbahaya bagi kandungan wanita itu nantinya.




Maysa yang setia menunggu di meja tampak tersenyum begitu melihat Clara kembali mendekat ke arahnya, keduanya kini sama-sama terduduk sambil menunggu pesanan mereka tiba. Ya Clara juga sudah tidak sabar ingin melihat Maysa meminum minuman yang ia pesan tadi, lalu menyaksikan sendiri Maysa kesakitan di depannya.


"Aku udah pesan semua yang kamu mau, tunggu sebentar ya? Katanya pesanannya juga lagi dibikin," ucap Clara sambil tersenyum.

__ADS_1


Maysa manggut-manggut paham, kemudian tiba-tiba wanita itu merasa ingin buang air dan pamit kepada Clara disana untuk pergi ke toilet. Ya tentu saja Clara mengizinkan, sehingga Maysa pun bangkit dan pergi dengan membawa tasnya. Clara ditinggal sendiri saat ini, ia menunggu sembari memainkan ponselnya.


Kini Maysa tiba di toilet wanita dan bergegas masuk untuk melakukan keinginannya, setelah selesai tanpa berlama-lama Maysa langsung berjalan menuju cermin yang ada disana. Maysa mencuci tangan dengan air di wastafel, memandang wajahnya sendiri di depan cermin sambil membasuh menggunakan air tersebut.


Wanita itu mengambil ponsel miliknya dari dalam tas, lalu mengecek apakah sudah ada kabar dari suaminya atau belum. Dan ternyata ia harus menerima kenyataan bahwa Harold memang belum memberi kabar apapun, bahkan pesan darinya juga belum dibaca oleh pria dan membuatnya merasa jengkel serta cemas.


"Huft, mas Harold kemana ya? Sampai sekarang juga dia belum kasih kabar ke aku, chat aku juga gak dibaca-baca loh," gumamnya lirih.


Akhirnya Maysa memutuskan keluar dari sana, tapi baru saja ia hendak kembali menuju meja tiba-tiba ada seseorang yang membekapnya dari belakang. Maysa sontak terkejut dan berontak, namun orang itu lebih dulu menariknya secara paksa. Maysa pun tidak bisa berbuat apa-apa, terlebih tenaga orang yang membawanya itu sangat kuat.


Maysa amat ketakutan, ia terus mencoba untuk berontak dan melepaskan diri. Akan tetapi, wanita itu sekarang cukup kesulitan karena orang di belakangnya terus membekap serta mengunci tubuh Maysa dengan kuat. Orang itu berhasil membawa Maysa keluar dari mall, lalu memasukkan Maysa ke dalam mobil yang terparkir di depan sana.


"Mmpphh mmpphh!!" Maysa kembali meronta-ronta saat dibawa masuk ke mobil yang tak ia kenali itu, karena ia tidak akan mau ikut bersama seseorang yang asing baginya.


Tapi semua sudah terlambat, Maysa terjebak di dalam mobil milik si pria yang sekarang juga ikut terduduk di sebelahnya. Pria itu melirik ke arahnya, Maysa tidak dapat mengenali siapa dirinya karena wajahnya yang tertutup topeng.


"Siapa kamu? Kenapa kamu culik saya? Apa mau kamu?" tanya Maysa dengan tegas.


Bukannya menjawab, pria itu malah menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan ocehan Maysa. Tentu saja Maysa tidak tinggal diam, ia berusaha meminta pria itu membebaskan dirinya. Bahkan, Maysa juga mencoba mengganggu si pria dalam menyetir dengan cara menggerakkan setirnya ke arah lain.


"Berhenti nggak, saya bilang berhenti! Saya gak kenal siapa kamu, ayo lepaskan saya dan biarkan saya pergi!" sentak Maysa.


Pria itu mulai kebingungan dan kehilangan kendali, jika terus begini maka pasti mereka berdua akan mengalami kecelakaan. Akhirnya pria itu memilih menghentikan mobilnya sejenak ke pinggir, lalu menatap tajam ke arah Maysa. Sontak Maysa mencoba untuk kabur dengan membuka pintu, tapi ternyata pria itu sudah lebih dulu menguncinya.


"Ish, lepasin saya! Jangan kurang ajar ya kamu, kamu gak tahu siapa suami saya!" geram Maysa.


Lagi-lagi pria itu tak perduli dengan ucapan Maysa, justru sekarang ia meraih dua tangan Maysa dan mengambil tali dari dashboard mobilnya. Dengan cepat pria itu berhasil mengikat kedua tangan Maysa agar tak terus berontak, tak lupa ia juga membekap mulut Maysa dengan sebuah kain.


"Mmpphh!!" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Maysa saat ini.


Tanpa basa-basi lagi, si pria kembali melajukan mobilnya dan membawa Maysa menuju tempat yang entah dimana.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2