
Maysa tengah duduk terbengong di salah satu kursi cafe tempat ia bekerja, malam ini suasana begitu sepi dan belum ada satupun pengunjung yang datang kesana sehingga Maysa hanya bisa terdiam melamun disana. Bahkan dua orang karyawan cafe yang lain, juga tampak bosan karena belum ada orang yang bisa mereka layani untuk saat ini.
Tapi kemudian, seorang pria berjas biru masuk ke dalam cafe tersebut dan bergegas menuju ruang VIP yang tersedia. Sontak dua orang teman Maysa memerintahkan wanita itu untuk melayaninya, ya karena itu adalah tugas Maysa. Akhirnya Maysa beranjak dari tempat duduknya, lalu menyusul si pria tadi masuk ke ruang VIP sambil membawa daftar menu cafe mereka di tangan kirinya.
Saat memasuki ruang VIP, betapa terkejutnya Maysa karena pelanggan yang tadi datang itu adalah Harold alias orang yang sudah merenggut kesuciannya dan merusak hidupnya. Tentu saja Maysa spontan berhenti melangkah, ia menatap nanar ke arah si pria dengan tangan bergetar. Ia bingung harus melakukan apa, ingin sekali rasanya ia melampiaskan semua emosinya dan menghajar pria tersebut, tetapi itu semua tak mungkin ia lakukan.
Harold menoleh ke arah Maysa begitu menyadari keberadaan wanita itu disana, ia menyunggingkan senyum seraya memberi kode pada Maysa untuk mendekat. Maysa berusaha profesional, biar bagaimanapun dia telah berjanji untuk bekerja disana dan dia pun harus melakukan semua tugasnya dengan baik dan benar supaya tidak membuat bosnya kecewa nanti.
"Mau pesan apa tuan?" tanya Maysa dengan wajah tegar berusaha menahan tangisnya.
Harold kembali tersenyum, ia bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Maysa sembari menyentuh wajah cantik si wanita. Maysa berusaha menghindar dari sentuhan pria itu, tetapi gagal karena Harold malah menarik tubuhnya lebih dekat dan kini mendekapnya. Tampak Harold menyingkap rambut wanita itu, menatap wajahnya dari jarak dekat sembari mencengkeram rahangnya.
"Kamu masih ingat saya kan, Maysa?" lirih Harold.
"Ma-maaf tuan, saya mohon jangan seperti ini! Jika tuan ingin memesan sesuatu, cepat katakan ke saya!" ucap Maysa gugup dan coba berontak.
Harold menyeringai dibuatnya, pria itu tak sama sekali mendengarkan ucapan Maysa dan malah terus merapatkan tubuh mereka sembari tangannya yang terus memberi usapan pada bagian wajah Maysa. Tak ada yang dapat dilakukan Maysa, selain pasrah dan berdoa agar Harold tidak melakukan hal-hal yang aneh di cafe tempat ia bekerja saat ini.
"Tuan, tolong lepas! Jangan sampai saya berteriak, dan tuan akan kena batunya karena sudah berbuat mesum di cafe orang!" ucap Maysa mengancam.
__ADS_1
"Saya tidak perduli Maysa, saya ingin tubuh kamu lagi sekarang. Saya rasa, kamu pun juga menginginkan itu. Betul kan yang saya katakan, Maysa?" ucap Harold menggoda wanita itu.
"Enggak, itu gak bener. Anda jangan mengada-ada ya tuan, cepat lepaskan saya atau saya teriak sekarang juga!" ucap Maysa.
"Teriak saja sesuka hati kamu Maysa, disini kedap suara dan teriakan kamu itu tidak akan terdengar oleh siapapun! Justru kamu akan habis di tangan saya malam ini," ucap Harold.
"Tuan cukup, saya tidak mau melakukan itu lagi!" sentak Maysa.
"Ayolah, kamu pasti akan menikmati itu Maysa! Waktu itu kamu tertidur, jadi kamu tidak merasakannya kan? Nah sekarang, saya akan bikin kamu merasakan itu dalam posisi sadar. Nikmati saja, Maysa!" goda Harold.
"Tidak, saya tidak mau! Lepaskan saya tuan, saya benci sama anda dan saya gak mau mengulangi hal kotor itu!" protes Maysa.
Disaat Maysa terus berontak, Harold yang kehilangan kesabaran akhirnya mengikat kedua tangan wanita itu menggunakan dasi miliknya dan mendorong tubuh Maysa hingga menyentuh meja. Ya posisi Maysa saat ini membelakangi tubuh Harold, sehingga pria itu dapat merasakan sentuhan antar alat milik mereka.
"Akh lepas! Saya gak mau tuan, tolong lepaskan saya!" Maysa terus merengek meminta dilepaskan.
Namun, Harold bukanlah pria yang mudah melemah dan menuruti kemauan seorang wanita, terlebih wanita itu adalah Maysa yang tentunya amat dicintai oleh Harold. Kali ini Harold malah melepas paksa rok yang dikenakan wanita itu, membuat Maysa menjerit tak karuan karena takut dengan apa yang akan dilakukan pria itu padanya.
"Akh saya mohon jangan tuan! Anda tidak bisa melakukan itu seenaknya, lepaskan saya!" ucap Maysa coba menghentikan tindakan Harold.
__ADS_1
"Hahaha, nikmati saja sayang dan menjerit lah untuk saya!" suruh Harold.
"Tidak! Saya tidak mau melakukan itu lagi dengan anda, saya benci anda tuan Harold! Lepaskan saya, saya mohon!" teriak Maysa dengan sangat keras.
Bukannya menurut, Harold justru turut melepas resleting celananya dan mengarahkan miliknya ke lubang milik Maysa. Dengan sekali hentakan, Harold berhasil menyatukan tubuh mereka tanpa melakukan pemanasan terlebih dulu. Ya seketika itu juga Maysa menjerit sangat keras, ia sangat kesakitan karena miliknya yang masih kering langsung dimasuki begitu saja oleh Harold tanpa ampun.
Harold bahkan memompanya dengan sangat kuat dan tanpa perasaan, tak ada yang bisa dilakukan Maysa selain menjerit pasrah serta menangis meratapi nasibnya. Belum selesai masalah yang ia hadapi, kini masalah lainnya sudah datang. Maysa tak menyangka jika hari ini ia akan bertemu kembali dengan Harold, dan kembali melakukan perbuatan tidak senonoh itu secara paksa padanya.
"Aaarrrgghhh nikmat sekali lubang milik kamu, Maysa!!" teriakan Harold menandakan betapa puasnya ia saat ini.
Ya Harold kembali menyemburkan benihnya ke dalam rahim wanita itu, disusul dengan teriakan kepuasan dan rintihan kesakitan dari Maysa yang memang tak merasakan nikmat sedikitpun. Setelahnya, Harold melepaskan miliknya dan membenarkan kembali celananya. Sedangkan Maysa masih terbaring di atas meja dengan kondisi berantakan, ia menangis terisak meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan kali ini.
"Haaahhh Maysa, kamu begitu nikmat. Rasanya saya gak mau berhenti setubuhi kamu, tapi sekarang saya lapar dan ingin makan. Kamu bisa bawakan saya makanan terenak di tempat ini kan?" ucap Harold.
Maysa hanya mengangguk tanpa berbicara, ia bangkit setelah Harold melepaskan ikatan di tangannya. Merapihkan pakaiannya yang berantakan akibat ulah pria itu, lalu pergi untuk menyampaikan pesanan Harold kepada temannya di luar. Maysa harus menahan tangisnya kali ini, karena ia tak mau ada yang curiga padanya.
"Hahaha, saya berhasil kali ini Maysa. Gak lama lagi kamu akan menjadi milik saya, dan kamu akan ketergantungan dengan saya!" lirih Harold.
Setelahnya, Harold duduk dengan santai di tempat itu sembari menaruh satu kaki di atas kaki lainnya. Pria itu mengeluarkan rokok miliknya, dan mulai merokok disana sambil tersenyum puas mengingat kejadian yang ia rasakan tadi bersama Maysa. Sungguh Harold sangat puas, namun ini semua belum cukup tentu bagi seorang Harold.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...