Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Membara


__ADS_3

Puas bermain bersama Maysa sampai beberapa ronde, pagi ini Harold pun terbangun dengan kondisi yang segar bugar karena ia telah mendapat suntikan kepuasan dari sang istri. Apalagi, selama ini Harold sudah jarang bermain dengan istrinya dan malam tadi adalah sebuah kesempatan emas baginya. Tentu saja Harold merasa lebih siap kali ini, ia juga tak sabar untuk segera menyerang markas Rendy.


Disaat Harold sudah terbangun dan terduduk di atas ranjangnya sambil tersenyum, Maysa sendiri masih tampak pulas dan begitu menikmati tidurnya. Harold mewajarkan hal itu, sebab semalam ia terus saja memompa tubuh Maysa sampai wanita itu sangat lelah dan kurang beristirahat. Harold pun tak ingin mengganggu Maysa kali ini, ia membiarkan saja istrinya itu tertidur sampai puas nanti.


Perlahan Harold mendekat ke arah tubuh Maysa, ia kecup wajah istrinya itu dengan lembut sembari mengusap rambutnya. Harold sangat puas karena telah diberikan jatah oleh sang istri, meski hari ini ia juga harus pergi meninggalkan Maysa disana untuk bisa membalaskan dendamnya. Ya Harold sengaja tak memberitahu hal itu pada Maysa, karena ia tak mau Maysa merasa cemas dan khawatir padanya.


"Aku siap-siap dulu ya sayang, kamu tidur aja disini sampai aku kembali! Aku janji sama kamu, aku pasti akan temui kamu lagi dengan selamat dan kita bisa hidup bahagia nanti!" bisik Harold tepat di telinga wanita itu.


Akhirnya Harold bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus bersiap menuju tempat yang sudah ia persiapkan bersama anak buahnya. Hari ini juga Harold akan melakukan penyerangan, ia berjanji pada Maysa dan keluarganya kalau ia pasti berhasil mengalahkan Rendy beserta pasukannya.


Selepas mandi, dengan cepat Harold memakai pakaiannya yang ia ambil sendiri dari dalam lemari. Ia mengenakan kemeja serta jas hitam miliknya secara lengkap, tak lupa Harold menyemprot parfum di tubuhnya dan menyisir rambutnya di depan cermin. Meski ia ingin berperang, namun tak ada salahnya apabila ia tampil rapih pagi ini.

__ADS_1


"Eeeuungghh..." lenguhan itu muncul dari mulut Maysa, ya sepertinya Maysa terbangun akibat mencium aroma parfum sang suami.


Sontak Harold reflek membalikkan tubuhnya, ia melihat ke arah Maysa yang tiba-tiba sudah bangkit terduduk di atas ranjang sembari mengucek matanya. Tentu saja Harold bingung saat ini, niatnya tadi adalah untuk pergi diam-diam dari sana agar Maysa tidak banyak bertanya.


"Mmhhh mas, kamu mau kemana sih? Ini masih pagi loh, istirahat aja dulu tidur sama aku disini!" ucap Maysa dengan lemas.


Harold tersenyum dibuatnya, ia langsung menghampiri istrinya disana dan mengusap lembut wajah wanita itu. Bahkan, Harold juga memberi kecupan hangat di kedua pipi serta kening sang istri. Ia sangat menyayangi Maysa, meski dahulu niatnya mendekati Maysa hanya untuk dijadikan sebagai pemuas hasratnya.


Maysa mengernyitkan dahinya, "Hm, emang kamu mau kemana mas?" tanyanya penasaran.


"Ada urusan penting di luar sayang, aku harus ketemu seseorang. Kamu gapapa kan aku tinggal dulu? Nanti aku balik lagi kok," jawab Harold.

__ADS_1


"Ohh, iya deh gapapa mas. Kalo gitu kamu hati-hati ya sayang!" ucap Maysa.


"Pasti." Harold mengangguk dan membungkuk sedikit ke dekat Maysa, sebelum kemudian menyatukan bibir mereka.


Maysa terpejam, menikmati sentuhan kenyal di bibirnya saat ini. Mereka berdua kembali terjebak dalam gairah yang luar biasa, meski baru semalam mereka melakukan itu. Namun kali ini hanya sebatas ciuman, karena Harold tidak ingin menunda lagi waktu penyerangannya kepada markas Rendy.


"Hari ini aku akan balaskan kematian calon anak kita dan juga Saskia, sayang. Aku pastikan mereka semua akan mati nanti!" batin Harold.


Harold pun menahan tengkuk Maysa, lalu perlahan mendorong tubuhnya sampai berbaring di ranjang. Ciuman itu semakin memanas, tampaknya Harold ingin meluapkan emosinya dengan cara seperti itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2