
Harold dan Rendy beserta para pasukannya tiba di depan markas milik Jeevan yang merupakan saingan bisnis mereka, keduanya tampak memantau keadaan disana dari dalam mobil untuk memastikan bahwa semua akan berjalan lancar. Ya Rendy tidak ingin rencananya kali ini gagal, ia harus bisa mengambil kembali apa yang menjadi miliknya dan membuat Jeevan serta pasukannya hancur lebur.
Rendy mengambil ponselnya dan menghubungi salah seorang anak buahnya, ia perintahkan mereka untuk segera menyerbu dan mencari keberadaan Jeevan di dalam sana. Tentunya Rendy masih tetap di dalam mobil, ia baru akan keluar setelah dipastikan bahwa Jeevan ada disana. Rendy hanya menginginkan Jeevan saat ini, karena Jeevan lah yang selalu menyulitkan Rendy selama ini.
"Mister, kenapa kita gak sekalian turun aja? Kita hajar semua pasukan Jeevan itu, supaya si Jeevan juga bisa langsung muncul!" ucap Harold.
Rendy menggeleng dan menolak usulan dari Harold itu, menurutnya apa yang dikatakan Harold terlalu beresiko mengingat mereka saat ini berada di markas musuh. Pastinya pasukan milik Jeevan berjumlah lebih banyak dibanding pasukannya, itu sebabnya Rendy memilih menunggu di mobil sampai ia bisa melihat Jeevan keluar.
"Kita pancing dulu pria itu keluar dari markasnya, supaya kita bisa lebih mudah menghabisi dia dan mengambil kembali barang-barang saya yang dia curi!" ucap Rendy.
"Baiklah mister, saya hanya bisa menurut saja dengan kata-kata mister," ucap Harold.
Mereka pun sama-sama berdiam diri di dalam mobil, memantau keadaan dari sana sambil berharap-harap cemas. Rendy khawatir rencananya kali ini akan gagal, mengingat Jeevan juga bukan orang yang mudah untuk ditaklukkan. Namun, Rendy memiliki keyakinan lebih pada pasukannya saat ini dan ia yakin mereka akan bisa menangkap Jeevan.
"SERAAANGG!!"
Suara teriakan itu terdengar sangat keras, Rendy tersenyum lebar melihat perkelahian diantara para pasukannya dengan anak buah dari Jeevan itu. Semuanya berjalan lancar, perkelahian itu pastinya akan membuat Jeevan terpancing untuk keluar. Dengan begitu, Rendy serta Harold akan lebih mudah untuk bisa menangkap Jeevan saat ini.
"Jangan senang dulu mister! Biasanya kesenangan di awal itu akan berakhir dengan kesedihan," ucap Harold memperingati.
Rendy menoleh dengan tatapan tajamnya, namun ia tak terlalu memperdulikan perkataan Harold dan fokus saja memantau anak-anak buahnya. Benar saja dugaan Rendy, tak butuh waktu lama akhirnya seluruh kaki tangan Jeevan terpancing untuk keluar. Hanya saja, Rendy merasa heran karena Jeevan sama sekali tidak terlihat disana.
"Dimana Jeevan?" salah seorang anak buah Rendy terus menanyakan itu, sembari memukuli kaki tangan Jeevan.
__ADS_1
Bugghhh
Bukannya jawaban yang dia dapat, melainkan sebuah pukulan dadakan dari salah seorang anak buah Jeevan yang lain. Pria itu pun tersungkur dan menjadi bulan-bulanan pasukan Jeevan, sedangkan teman-temannya juga terlihat kesulitan untuk meladeni kekuatan pasukan Jeevan yang jumlahnya lebih banyak dan juga lebih kuat itu.
Rendy mengepalkan tangannya kuat-kuat, emosi tak bisa ia bendung lagi ketika melihat satu persatu anak buahnya dapat dikalahkan. Harold pun tersenyum dibuatnya, ia senang karena Rendy sepertinya akan mendapat kekalahan saat ini. Namun, Rendy kemudian menatap ke arah Harold disertai rahang yang bergetar.
"Ayo Harold, kita tuntaskan semuanya dan pastikan barang milik saya kembali!" ajak Rendy.
"Baik mister!" Harold mengangguk saja mengikuti arahan sang ketua, mereka lalu sama-sama turun dari mobil bersiap menghadapi pasukan Jeevan di luar sana.
Rendy tampak mengambil senjatanya, tanpa berpikir panjang ia menembaki seluruh anak buah Jeevan secara membabi buta. Sedangkan Harold melihat saja di sebelahnya, pria itu tak menyangka Rendy akan sebrutal ini hanya karena hilangnya barang yang ingin mereka jual.
•
•
Tentu saja Clarissa amat bingung saat ini, ia mengejar Maysa ke luar dan berusaha meminta maaf pada wanita itu atas kesalahannya. Clarissa sendiri juga berada dalam situasi rumit, pasalnya ia hanya tidak mau dianggap berkhianat dari Harold jika ia menceritakan semua bisnis yang dikerjakan pria itu kepada Maysa.
"Bu, bu Maysa tolong berhenti bu! Saya bisa jelaskan alasan mengapa saya tidak memberitahu ibu tentang kepergian pak Harold, saya mohon bu Maysa mau mengerti ya!" rengek Clarissa.
Sepertinya Maysa sudah terlanjur kecewa dan tidak mau mendengarkan ucapan Clarissa lagi, ia terus melangkah menuju mobilnya tanpa perduli dengan Clarissa yang mengejarnya di belakang sana dan berteriak sekeras mungkin. Maysa benar-benar kecewa, harapannya untuk lebih tenang saat ini justru malah membuatnya semakin merasa cemas.
"Aku gak ngerti lagi deh, siapa yang bisa aku tanyakan sekarang?" batin Maysa.
__ADS_1
Disaat Maysa tengah melangkah menuju mobilnya, tiba-tiba saja ia tak sengaja berpapasan dengan seorang pria yang tidak lain ialah Mario alias rekan kerja Harold. Sontak Maysa menghentikan langkahnya, ia menatap wajah lelaki yang dahulu pernah hampir melecehkannya saat di rumah Harold dan membuatnya ketakutan.
"Eh Maysa, kita ketemu lagi. Kamu ngapain ada disini? Bukannya suami kamu itu lagi pergi ke Kanada ya karena ada urusan bisnisnya yang lain?" ucap Mario sengaja memancing wanita itu.
"Anda tahu tentang kepergian suami saya?" Maysa coba memastikannya pada pria itu.
"Oh jelas saya tahu, apa sih yang saya gak tahu tentang Harold itu? Emangnya kamu sendiri gak tahu, hm?" ujar Mario.
Maysa menggeleng, ia juga menundukkan wajahnya dan terlihat begitu sedih. Mario yang melihatnya pun memiliki rencana untuk bisa memanfaatkan hal ini, siapa tahu nantinya Maysa bersedia melayaninya seperti apa yang dia inginkan.
"Wah sayang sekali, si Harold ternyata tega banget ya? Masa istrinya sendiri aja gak dikasih tahu kalau dia punya bisnis lain?" cibir Mario.
Maysa mengernyitkan dahinya, "Bisnis lain? Maksudnya apa?" tanyanya penasaran.
Mario tersenyum menyeringai dan berjalan lebih dekat ke arah tubuh Maysa, ia sengaja ingin membuat wanita itu penasaran dan banyak bertanya padanya. Dengan begitu, pastinya Maysa bisa dengan mudah menuruti kemauannya dan gairah yang ada di dalam dirinya dapat ia tuntaskan bersama istri dari rekannya itu.
"Saya akan jelaskan semuanya, tapi tidak disini Maysa. Kamu ikut dengan saya sekarang, lalu kamu pasti bisa tahu mengenai semua pekerjaan yang dilakukan suami kamu itu!" bisik Mario.
Deg
Tubuh Maysa meremang seketika, bisikan Mario di telinganya seolah membuat dirinya merasa tegang dan bingung. Maysa khawatir jika ini hanyalah sebuah jebakan, sedangkan disisi lain Clarissa tampak ketakutan dan cemas jika sampai Mario mengatakan yang sejujurnya kepada Maysa terkait bisnis yang tengah dijalankan Harold.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...