
Dean masih terjebak di dalam proyek bersama seorang wanita yang belum ia kenali siapa namanya, namun dari sikapnya saja sudah membuat Dean kesal dan yakin sekali kalau wanita itu adalah dalang utama dari masalah yang terjadi. Dean sangat menyayangkan sikap wanita itu, padahal dari segi penampilan si wanita cukup cantik dan tentunya seksi dengan tampilan yang ditunjukkan saat ini.
Wanita itu bahkan merebut paksa helm yang dikenakan Dean dari kepalanya, sungguh hal itu membuat Dean menggeleng pelan dan tak mengerti apa yang terjadi disana sebenarnya. Helm itu merupakan keselamatan para pekerja di proyek, tapi sepertinya si wanita tidak ingin ada pekerja yang memakai helm tanpa membayar dulu padanya sebesar lima ratus ribu rupiah.
"Umm bu, kenapa helm saya diambil ya? Saya kan mau kerja disini, saya butuh helm itu bu supaya saya bisa selamat bekerja nantinya!" ucap Dean.
"Halah gausah manja kamu! Anak baru kok manja banget sih? Kalau mau manja-manjaan jangan disini, sana kamu cari aja proyek lain yang bisa ngertiin kamu!" sentak si wanita.
"Maaf bu, tapi bukannya itu sudah hak dari setiap pekerja yang ada disini ya untuk mendapat jaminan keselamatan dari perusahaan?" tanya Dean.
"Gausah ngaco kamu, lagian emangnya tanpa helm ini kamu bakal kenapa sih? Kamu gak bakal mati juga kan nanti? Udah sih gausah lebay, kalau mau helm ya bayar dong ah!" ucap si wanita tegas.
"Bayar? Bayar kemana ya bu?" tanya Dean lagi dengan wajah penasarannya.
"Ya ke saya lah, mana sini uangnya lima ratus ribu? Itu juga kalau kamu punya uang ya, secara kamu kan anak magang!" ucap si wanita mencibir.
Dean geleng-geleng kepala mendengar perkataan si wanita, ingin rasanya ia membongkar semua dan mengatakan siapa dirinya kepada wanita di hadapannya itu. Akan tetapi, Dean masih ingin mencari lebih banyak bukti disana untuk bisa meringkus dan melaporkan kelakuan buruk si wanita kepada Harold nantinya.
"Sudah sana kamu kerja, kalau gak bisa bayar ya jangan pake helm! Enak banget kamu datang-datang mau langsung pake helm ini!" cibir si wanita.
Disaat wanita itu hendak pergi, Dean mencekal lengannya dan menahan wanita itu sembari menatap tajam ke arahnya. Rahangnya sudah mengeras pertanda ia sangat emosi, namun Dean harus bisa menahan diri demi keberlangsungan misinya saat ini yang tentu tidak boleh gagal dan harus berjalan dengan mulus.
"Ada apa? Berani banget kamu pegang-pegang saya, dasar anak magang gak tahu diri!" ucap si wanita memprotesnya.
Dean segera melepaskan tangan wanita itu agar tidak terjadi salah paham, karena niat Dean sebenarnya hanya ingin meminta penjelasan dari si wanita terkait apa yang dia lakukan disana. Namun, sepertinya wanita itu tidak suka dengan sikap kurang ajar Dean yang dianggap tak pantas langsung mencekal lengannya begitu saja.
"Maaf bu, saya mau tanya aja nama ibu siapa? Apa ibu bersedia memberitahu ke saya?" tanya Dean.
Wanita itu malah melihat kedua tangannya di depan dan menunjukkan tatapan tajamnya ke arah Dean, ia tatap tubuh Dean dari atas sampai bawah tanpa ada yang terlewati. Hal itu membuat Dean cukup grogi dan ketakutan, pasalnya ia khawatir wanita itu akan mengetahui bahwa dirinya sebenarnya bukanlah anak magang yang ingin bekerja disana.
"Oh boleh, nama saya Mira. Sekarang kamu bisa kembali bekerja, kalau mau helm ini kamu harus bayar uang 500 ribu ke saya!" ucap wanita itu.
Dean manggut-manggut paham, setidaknya ia sudah mengetahui siapa nama wanita di hadapannya itu.
•
•
Maysa baru saja pergi dari sekolah Zanna setelah selesai mengantarnya, wanita itu kini berniat kembali ke rumah bersama sang supir yang memang ditugaskan untuk selalu menemaninya dan mengawalnya kapanpun dibutuhkan. Maysa tampak terus tersenyum seraya membayangkan wajah Harold di kepalanya, sepertinya ia sudah mulai kecanduan dengan sosok Harold di hidupnya.
Begitu mereka sampai di halaman rumah, Maysa cukup terkejut ketika melihat adanya sosok lelaki yang berdiri di depan sana seolah tengah menunggu seseorang. Maysa yang penasaran coba untuk mencari tahu siapa lelaki itu, ia mengernyitkan dahi seraya menyipitkan matanya. Saat itu juga, Maysa mengetahui bahwa Mario lah yang berdiri disana dan membuatnya merasa terheran-heran.
Tanpa berpikir panjang, Maysa segera turun dari mobil untuk menemui lelaki itu di luar sana. Maysa penasaran ada urusan apa Mario sampai datang kesana, padahal Harold sedang tidak ada di rumah karena mengurus pekerjaannya. Ya meski Maysa masih belum tahu apa sebenarnya bisnis yang dijalankan Harold selama ini, karena pria itu selalu saja berbohong padanya dan tidak mau jujur.
"Pak Mario!" Maysa langsung menyapa dan menyebut nama lelaki itu, ia berdiri tepat di sebelah Mario dan menatapnya dengan bingung.
Sontak Mario menoleh ke arahnya sambil tersenyum, ia senang dengan apa yang dilihatnya saat ini karena sedari tadi Mario memang menunggu kehadiran Maysa disana. Tidak adanya Harold di rumah itu akan dijadikan kesempatan tentu bagi Mario untuk berbincang dengan Maysa, apalagi ia tahu kalau Maysa pastinya masih penasaran dengan bisnis apa yang dijalankan suaminya sekarang ini.
__ADS_1
"Eh Maysa, akhirnya kamu datang juga! Saya sudah lumayan lama menunggu disini, untung aja kamu datang dan temui saya sekarang! Kalau enggak, saya yakin kamu pasti menyesal!" ucap Mario.
"Apa maksud bapak? Ada urusan apa emangnya bapak datang kesini?" tanya Maysa keheranan.
Mario tiba-tiba saja menarik lengan Maysa dan membawanya ke samping rumah agar bisa bicara lebih leluasa berdua dengan Maysa, para pengawal disana sontak panik dan berusaha memantau mereka dari jarak dekat. Mario pun melepas tangan Maysa, lalu menatapnya secara intens dengan senyuman yang melingkar di pipinya.
"Saya masih punya satu hutang sama kamu, yaitu mengenai bisnis yang dipekerjakan Harold. Saya yakin kamu masih ingin tahu tentang itu bukan?" ucap Mario sambil menyeringai.
Seketika Maysa terkejut dengan ucapan yang dilontarkan Mario barusan, ia terbelalak dan baru ingat kalau Mario memang mengetahui hal itu. Namun, Maysa juga ingat bahwa sebelumnya Mario meminta syarat yang sungguh di luar nalar. Kini Maysa pun tak mau terlalu berharap, ia khawatir Mario akan kembali mengecewakan dirinya.
"Iya betul, saya emang masih mencari tahu bisnis apa yang dijalani suami saya. Tapi, apa anda mau memberitahu saya secara cuma-cuma sekarang? Bukannya waktu itu anda mengajukan syarat yang kurang ajar ke saya?" ucap Maysa.
"Hahaha, syarat itu sudah tidak berlaku Maysa. Kali ini saya akan berikan informasi itu secara gratis ke kamu," ucap Mario sambil terkekeh.
"Benarkah? Kalau gitu, ayo cepat beritahu saya bisnis apa yang dikerjakan suami saya sekarang! Kamu tahu kan, saya ini sangat ingin tahu tentang semua itu!" ucap Maysa tampak antusias.
"Baiklah, saya akan beritahu sekarang. Bisnis yang dikerjakan Harold adalah..."
•
•
Sementara itu, Dean berniat untuk beristirahat makan siang setelah waktu menunjukkan tepat pukul dua belas siang. Pria itu membawa kotak bekal miliknya dan terduduk di tempat yang tak jauh dari proyek untuk menikmati makanan itu, namun ia heran mengapa masih cukup banyak pekerja yang tidak menghentikan pekerjaannya.
Dean begitu penasaran dan ingin tahu apa sebenarnya penyebab mereka semua masih terus bekerja saat ini, padahal seharusnya mereka sudah berhenti bekerja dan menikmati istirahat makan siang agar tidak terlalu merasa lelah. Dean pun menghampiri salah satu dari pekerja itu, lalu bertanya padanya mengenai apa yang ia herankan.
Seorang pekerja itu menatap ke arahnya bersama beberapa pekerja lainnya yang ada di dekatnya, mereka kompak menolak seraya berkata kalau saat ini belum waktunya untuk beristirahat. Sontak Dean merasa heran, padahal ia tahu betul jadwal istirahat di proyek tersebut dan seharusnya sekarang ini memang sudah waktunya untuk beristirahat.
"Sekarang belum waktunya dek, kamu juga lebih baik lanjut kerja deh daripada nanti dimarahin sama bu Mira!" ucap pekerja itu.
"Loh tapi pak, sekarang udah jam dua belas loh. Bukannya ini waktu buat istirahat makan siang ya? Kenapa bapak malah bilang belum waktunya coba?" heran Dean.
"Ya kalau disini beda dek, ada aturan tersendiri. Kalau adek gak mau kena omel atau hukum, ya lebih baik adek balik kerja lagi!" ucap pekerja itu.
"Aneh banget ya PT ini?" ucap Dean keheranan.
Tak lama kemudian, wanita yang sedang mereka bicarakan sedari tadi akhirnya datang kali ini. Ya Mira muncul secara tiba-tiba di dekat mereka dan menatap tajam ke arah Dean pertanda bahwa ia tak menyukai pria itu, Mira merasa Dean terlalu sulit diatur dan selalu membuatnya risih karena Dean berulang kali membantah kata-katanya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian malah asyik ngobrol dan bukan kerja?" tegur Mira.
"Ma-maaf bu, tadi anak ini tanya ke kita soal waktu istirahat disini! Nah, kami sudah beritahu kok kalau disini itu waktu istirahatnya berbeda dengan di PT lainnya," jawab si pekerja.
"Ohh, lagi-lagi kamu ya Alvin? Kamu ini sebenarnya niat gak sih kerja disini, ha?" geram Mira.
Dean hanya menunduk dan tidak tahu harus menjawab apa kali ini, ia berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi. Biar gimanapun, Dean tahu jika Mira adalah dalang dari semua masalah yang terjadi disana. Dean pun tidak akan tinggal diam, ia bisa melakukan apapun demi membongkar semua kebusukan yang dilakukan Mira.
"Kenapa kamu diam aja? Ayo jawab pertanyaan saya, kamu itu niat atau enggak kerja magang disini! Kalau enggak, ya kamu pergi aja dan cari sana perusahaan yang mau terima kamu!" ucap Mira.
__ADS_1
"Maaf bu, saya niat kok bekerja disini! Saya cuma heran kenapa sekarang belum waktunya istirahat? Kalau gitu, kapan ya bu saya bisa istirahat dan makan makanan saya ini?" ucap Dean dengan wajah bingungnya.
"Hah kamu bawa bekal? Sembarangan aja kamu, disini itu udah ada jatah makanan untuk masing-masing pekerja! Kamu atau siapapun itu, dilarang buat bawa makanan dari rumah!" ujar Mira.
"Apa??" Dean terkejut dan membelalakkan matanya lebar-lebar karena tidak percaya.
•
•
Harold dan beberapa anak buahnya tiba di markas mister Rendy saat ini, secara perlahan dan berhati-hati Harold melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana untuk menemui mister Rendy yang sudah menunggu. Sebetulnya Harold malas sekali melakukan ini, karena ia tahu pasti mister Rendy akan memberikan tugas baru lagi kepadanya.
Mister Rendy memang merupakan tipe orang yang tidak ingin dibantah, semua kata-katanya harus dituruti oleh orang yang ingin bekerja dengannya. Jika tidak, maka dapat dipastikan orang itu akan mengalami kejadian yang buruk. Harold tidak bisa berbuat banyak saat ini, menuruti mister Rendy adalah hal yang paling bagus olehnya.
"Selamat siang, mister!" sapa Harold dengan ramah disertai senyum tipisnya.
Rendy yang sedang terduduk kini bangkit dan menghadap ke arah Harold, ia menyeringai dengan senjata yang ada di tangannya. Rendy senang karena Harold mau datang menemuinya saat ini, sehingga ia tidak perlu repot-repot mengancam pria itu. Apalagi, Harold memang sudah berjanji untuk terus setia padanya dan mau bekerja dengannya.
"Baguslah kamu datang Harold, saya sudah menunggu kamu sedari tadi! Ayo duduk, kita bicara dengan santai saja!" ucap Rendy.
"Baiklah mister!" ucap Harold patuh.
Perlahan Harold menarik kursi dan terduduk tepat di hadapan Rendy, ia terlihat cukup ragu untuk berbicara kali ini karena tatapan Rendy yang seperti berisi hal-hal aneh. Harold yakin kalau Rendy akan memintanya melakukan sesuatu yang tidak ingin ia lakukan lagi, seperti sebelumnya saat Rendy memaksanya untuk pergi ke Kanada.
"Kamu tahu Harold? Saya baru saja mengalami kerugian yang sangat besar dengan hilangnya senjata milik saya itu, dan saya juga telah kehilangan klien yang selama ini saya butuhkan. Itu semua karena ulah si pencuri nakal tersebut!" ucap Rendy.
"Betul mister, berarti kita harus cari siapa si pencuri itu dan habisi dia!" ucap Harold memberi usul.
"Tidak perlu, saya tidak mau buang-buang waktu untuk mencari yang tidak pasti. Saya minta kamu kesini, hanya untuk membantu proses pengiriman senjata yang akan saya lakukan," ucap Rendy.
"Oh gitu, emangnya mister mau kirim senjata kemana?" tanya Harold penasaran.
"Ke pelosok negeri, saya akan membantu para pemberontak disana dengan memberi pasokan senjata bagi mereka," jawab Rendy.
Deg
Betapa terkejutnya Harold ketika mendengar penjelasan Rendy, baru saja ia menduga Rendy pasti akan memintanya melakukan hal yang tidak benar dan sekarang semua itu terjadi sehingga membuat Harold sangat terkejut. Tentu saja Harold tak ingin melakukan itu, ia khawatir semua itu akan berakibat buruk pada hidupnya maupun keluarganya.
"Apa mister? Apa ini tidak terlalu bahaya? Kita sama saja mendukung aksi pemberontakan mereka, kita bisa jadi buronan mister!" ucap Harold panik.
Rendy menyeringai dibuatnya, "Kamu tidak perlu khawatir Harold, kamu lakukan saja apa yang saya suruh dan tidak perlu banyak memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi!" ucapnya.
"Baik mister, saya bersedia melakukan semua itu dan mengikuti perintah mister!" ucap Harold tegas.
Rendy tersenyum puas mendengar ucapan Harold barusan, kini ia tak perlu repot-repot lagi atau memaksa Harold untuk mau melakukannya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...