Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Lepas kontrol


__ADS_3

Setelah mendapat persetujuan dari dokter, Maysa pun diizinkan untuk pergi menemui ibunya di rumah sakit yang lain karena kondisinya sangat genting. Ya Maysa harus segera tiba disana tepat waktu, agar Melinda tidak kembali drop. Javier memang sudah memberitahu itu pada Maysa, meski awalnya ia tampak ragu karena melihat Maysa tengah bersedih dan menangis di dekat jenazah Saskia tadi.


Maysa yang mendengar itu sontak makin terkejut, ia senang sekaligus sedih pada saat yang bersamaan. Dikala adiknya pergi untuk selamanya, justru sang ibu yang telah ia nanti-nanti akhirnya sadar juga. Maysa pun tidak tahu harus merasakan apa, ia juga bingung apa yang pantasnya ia katakan nanti pada ibunya bila sang ibu bertanya mengenai kondisi Saskia saat ini dan dimana Saskia berada.


Javier tahu betul kesedihan serta kebingungan yang dirasakan Maysa dalam satu waktu, ia pasti juga akan merasakan hal yang sama jika ia berada di posisi Maysa saat ini. Javier sendiri masih tak menyangka semua ini akan terjadi, dua musibah sekaligus menimpa keluarganya itu. Air matanya ikut menetes kali ini, namun ia harus tetap tegar dan terus menyetir demi membuat Maysa tenang.


"Vier, lebih cepat lagi dong bawa mobilnya! Aku cemas banget sama ibu, aku gak mau kehilangan orang yang aku sayang lagi sekarang!" pinta Maysa.


"I-i-iya Maysa, ini aku udah cepat kok. Kamu juga tenang ya, aku yakin kok ibu kamu pasti baik-baik aja! Ada dokter dan suster disana yang jagain ibu kamu kok," ucap Javier menenangkan.


Maysa menghela nafasnya, ia putar kedua bola matanya dan terus merasa cemas pada kondisi sang ibu yang saat ini masih berada di rumah sakit. Setelah kepergian Saskia, tentunya hanya Melinda lah yang kini Maysa miliki. Maysa tak mau jika sampai Melinda juga ikut pergi meninggalkannya, pastinya itu akan sangat menyakitkan buatnya.


Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Melinda dirawat. Tanpa banyak berpikir lagi, Maysa segera meminta Javier untuk membantunya turun dari mobil. Tentu saja Javier menurut, pria itu dengan cepat turun dan memapah tubuh Maysa menuju kursi roda yang tersedia. Ya kondisi Maysa memang masih belum pulih benar, apalagi dia baru saja keguguran sekarang ini.


"Ayo cepetan Vier, aku mau ketemu sama ibu!" ucap Maysa dengan tegas.


Javier terdiam dan menuruti saja permintaan wanita itu, didorongnya kursi roda tersebut memasuki area rumah sakit. Langsung saja Javier membawa Maysa menuju ruang tempat Melinda dirawat, karena Maysa sendiri sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan ibunya yang kini telah sadarkan diri dan terus merengek minta bertemu dengannya.


Sesampainya di depan ruangan, mereka pun didekati oleh Fauzan serta Hendi yang berjaga disana. Tampak kedua pria itu segera mengajak Maysa untuk masuk ke dalam, karena Melinda sudah semakin histeris meminta dipertemukan dengan anak-anaknya. Tentu saja Javier dengan cepat mendorong kursi roda memasuki ruangan itu.


Di dalam, terdengar suara teriakan Melinda yang terus merengek pada suster disana agar dapat dipertemukan dengan putri-putrinya. Mendengarnya, sontak membuat Maysa merasa jika ibunya itu bukan ingin bertemu dengannya. Sepertinya memang Melinda memiliki firasat, bahwa terjadi sesuatu yang buruk kepada Saskia.


"Sus, saya mau ketemu anak saya! Saya mau ketemu mereka sekarang juga, tolong biarkan saya keluar suster!" rengek Melinda.


Maysa meminta Javier berhenti sejenak disana, ia menatap ke arah Melinda disertai tetesan air mata.


"Vier, aku gak yakin ibu mau ketemu sama aku." itulah kalimat yang dilontarkan Maysa, ia merasa sedih saat melihat kondisi ibunya.

__ADS_1




Sementara itu, Dean tak sengaja berpapasan dengan dua orang pria yang tengah mengendap-endap di depan ruangan bekas Maysa dirawat. Sontak Dean merasa curiga dengan gerak-gerik mereka, tanpa banyak berpikir ia pun bergegas mendekat dan menegur kedua pria tersebut. Bagaimanapun, Dean tak ingin ada orang jahat yang masuk kesana.


"Heh kalian!" tegur Dean dengan tegas, sampai membuat kedua pria itu terkejut.


Kini keduanya tampak menoleh ke arah Dean dan terlihat kebingungan, ya mereka seperti maling yang habis tertangkap basah hendak mencuri sesuatu. Dean pun semakin curiga pada mereka, apalagi tampilan mereka cukup mencurigakan. Belum pernah Dean melihat mereka sebelumnya, itulah sebabnya Dean terus mendekati mereka.


"Kalian lagi apa disini, ha? Mau berbuat jahat ya? Jangan harap kalian bisa melukai majikan saya, karena kalian harus berhadapan dulu dengan saya!" sentak Dean.


"Ah eee enggak kok, ki-kita disini bukan mau berbuat jahat. Kita justru lagi cari teman kita yang dirawat," ucap salah seorang dari mereka.


"Ck, kalian pikir saya bodoh apa? Gak mungkin kalian punya teman yang dirawat disini, udah deh kalian mending pada ngaku aja sama saya! Kalian itu disuruh siapa, ha?" ucap Dean.


Dean yang terpancing reflek menoleh sesuai dengan arah tangan pria itu, tapi ternyata semuanya hanya kebohongan semata. Ya kedua pria tersebut pun memanfaatkan momen itu untuk lari, lalu pergi dari sana dan menyelamatkan diri. Sedangkan Dean tampak begitu kesal, sebab ia telah dikerjai oleh dua orang pria asing itu.


"Ah kurang ajar! Kalian kira kalian bisa lari? Jangan harap!" Dean bergerak cepat mengejar kedua pria itu menuju ke luar rumah sakit.


"Hey tunggu!" teriaknya cukup keras.


Dean berhasil mencegah kedua pria itu, tangannya cekatan menarik serta mencengkram kuat pundak si pria yang membuatnya tak dapat bergerak. Akibatnya, mereka terpaksa berhenti dan mengikuti kemauan Dean saat ini. Ya Dean begitu emosi, ia yakin kalau kedua pria itu memiliki niat jahat di rumah sakit ini.


Namun, kedua pria itu tak mau mengaku siapa mereka dan siapa yang sudah menyuruh mereka. Bahkan, kali ini mereka justru menyerang Dean lebih dulu secara bersamaan. Dean yang memang sedang emosi dan dirundung duka, tidak mau ambil pusing dan menghajar mereka berdua sampai tergeletak ke aspal di depan rumah sakit.


Bruuukkk

__ADS_1


"Kalian jawab pertanyaan saya, mau apa kalian ke sini! Siapa yang menyuruh kalian, ha? Jangan main-main dengan saya, atau saya habisi kalian!" sentak Dean.


Mereka tetap tidak mau menjawab, hal itu tentu memancing amarah di dalam diri Dean semakin memuncak. Kini tak ada lagi sosok Saskia di hidupnya, sehingga Dean tidak perlu merasa ragu untuk menghabisi para musuhnya. Dean pun mendekat, lalu kembali memukuli wajah kedua pria itu secara bergantian sampai berlumuran darah.


Bugghhh bugghhh bugghhh


Berkali-kali Dean melakukannya, ia tidak takut sama sekali pada apa yang ia lakukan saat ini. Ia merasa hidupnya telah hancur semenjak Saskia dinyatakan meninggal dunia, tidak ada lagi yang bisa menjadi penyemangat di hidupnya kali ini. Tanpa ragu, Dean terus saja memukuli mereka berdua walau kedua pria itu sudah terlihat tak berdaya.


"Kak Dean, cukup!" tiba-tiba saja, Dean mendengar suara teriakan seorang wanita dari arah sebrang yang mengejutkan dirinya.


Sontak Dean menoleh, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok mirip Saskia berdiri disana.


"Saski??" lirihnya. Ia menganga seolah tak percaya, apa yang dilihatnya sekarang seperti benar-benar terjadi.


"Kak, jangan begitu! Ini bukan kak Dean yang aku kenal, aku gak mau kalau kamu bertindak seperti ini!" ucap sosok itu.


Deg


Dean tersentak, suara dan wajah itu benar-benar sama persis dengan sosok Saskia yang dicintainya. Seketika Dean menghentikan aksinya, ia fokus menatap sosok itu dan mencoba mendekatinya untuk mencari tahu kebenarannya.


"Saski, ini benar kamu? Ka-kamu masih hidup?" Dean bertanya pada sosok itu sembari mendekatinya.


Sosok itu tampak tersenyum ke arahnya, lalu tiba-tiba menghilang entah kemana dan membuat Dean sangat histeris.


"Hah? Saski, Saskia dimana kamu? Kenapa kamu pergi, Saski? Saskiaaa!!" pria itu terus berteriak, air mata kembali menetes dan spontan ia terjatuh ke aspal dalam kondisi menangis.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2