Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Gatel


__ADS_3

Hari sudah malam, Mawar yang baru keluar dari kamar mandi dikejutkan dengan kemunculan Javier secara tiba-tiba di hadapannya saat ini. Ia syok lantaran tak menyangka jika Javier akan berdiri menunggunya disana, padahal biasanya pria itu tak pernah melakukannya. Bahkan, kini Javier terus menatapnya dan tersenyum seolah menggodanya yang membuat Mawar semakin berkeringat walau ia baru saja selesai mandi.


Satu tangan Javier bergerak menempel di dinding samping kamar mandi, membuat tubuhnya kini menghimpit tubuh wanita di hadapannya. Javier tersenyum menyeringai, satu tangannya yang lain mengusap dagu dan mencuri kecupan disana. Lagi-lagi Mawar hanya bisa diam, perlakuan Javier saat ini benar-benar membuat wanita itu gemetar dan sangat kebingungan karenanya.


"Ka-kak...."


Tanpa berpikir panjang lagi, Javier langsung mengangkat tubuh Mawar ala bridal style dan membawanya pergi dari sana menuju kamarnya. Mawar terdiam saja memandangi wajah pria itu dengan mulut terbuka, ia tak percaya dengan apa yang dilakukan Javier. Bahkan, Javier meletakkan tubuhnya dalam posisi terlentang di atas ranjang dan pria itu berada di atasnya.


"Kak Vier, kamu mau apa sih? Jangan macam-macam loh, kamu udah janji ya kalau kamu gak akan begitu!" ucap Mawar ketakutan.


Javier justru tersenyum dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir mungil sang gadis, ia juga memegangi kedua tangan Mawar itu dan mencengkeramnya dengan kuat tepat di atas kepalanya. Mawar pun mencoba berontak, tetapi tenaganya kalah kuat dibanding Javier yang memiliki tubuh besar karena rajin berolahraga.


"Kamu wangi sekali," pria itu mendekat dan mengendus leher Mawar yang terasa harum itu.


Lambat laun Mawar mulai terbuai oleh perlakuan lembut Javier padanya, tangannya yang tadi memberontak kini justru mencengkram sprei dengan kuat sembari menggigit bibirnya. Matanya juga sudah terpejam, suara-suara kenikmatan pun terdengar lirih dari mulutnya yang membuat Javier menyeringai di sela-sela aksinya.


"Mawar, saya janji gak akan rusak kamu. Saya cuma mau kita terus seperti ini, saya menyukai seluruh lekuk tubuh indah kamu Mawar. Kamu begitu mempesona!" bisik Javier di telinganya.


Lagi-lagi Mawar mengerang saat Javier menggigit kecil telinganya, entah mengapa wanita itu seperti tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah saja diperlakukan seperti itu oleh Javier. Padahal, sebelum ini ia sangat menentangnya dan tidak ingin jika Javier menodai tubuhnya walau hanya sekedar mencium atau mengendusnya.


"Kak, sa-saya—"


"Sssttt, saya tahu kamu menikmati ini semua. Rasakan saja, tidak perlu banyak bicara! Kamu cukup keluarkan suara-suara kenikmatan kamu, itu merdu sekali!" sela Javier.


Deg


Jantung Mawar seolah berhenti berdetak mendengar kalimat yang dilontarkan pria itu, tapi anehnya ia menurut saja dan mengikuti semua perintahnya. Kini gerakan Javier di atas tubuhnya semakin liar, membuat Mawar menggelinjang geli. Kecupan kecupan hangat yang diberikan Javier, menimbulkan hawa aneh di dalam tubuhnya saat ini.


"Kenapa aku jadi kayak gini? Ya Tuhan, ini gak benar! Ini salah, harusnya aku larang kak Javier melakukan ini ke aku!" gumam Mawar dalam hatinya.


Bruuukkk


Tiba-tiba saja, Mawar mendorong kasar tubuh Javier sampai terjatuh dari kasur. Wanita itu sontak bangkit terduduk di ranjang sembari memeluk tubuhnya sendiri, sedangkan Javier tampak merintih kesakitan di bawah sana karena jatuh cukup keras. Bukannya merasa bersalah, Mawar justru mensyukuri apa yang menimpa lelaki itu saat ini.


"Rasain tuh, makanya jangan mesum jadi orang! Kamu kan udah janji gak bakal macam-macam, malah ambil kesempatan dari kesempitan lagi!" sentak Mawar.


"Akh aduh, kamu tega banget sih Mawar!" rintih Javier sambil terus memegangi pinggulnya.




Tut.... Tut.... Tut....


Suara layar monitor di rumah sakit terus terdengar, dan tepat di sebelahnya tengah terbaring sosok Harold yang masih belum sadarkan diri hingga sekarang. Ya pria itu sebelumnya mengalami luka tusuk saat sedang bertarung di jalanan melawan kelompok lain, sehingga harus kehilangan banyak darah dan mengalami luka yang cukup serius.


Maysa pun terus terduduk di dekatnya, ia pandangi wajah sang suami yang masih pingsan itu dengan tatapan sendu. Rasanya Maysa begitu menyesal, karena sebelum ini ia sempat marah dan menganggap jika Harold telah membohonginya. Sekarang ini Maysa amat berharap dengan kesembuhan suaminya, ia tentu tidak mau jika harus menjadi janda seperti apa yang dialami Clara.


"Mas, kamu sadar dong mas! Kamu gak tahu apa, aku disini nungguin kamu terus loh? Kasihan juga Zanna, dia nanyain kamu mulu. Dia emang belum tahu kondisi kamu, tapi aku rasa dia punya ikatan batin yang kuat sama kamu mas," ucap Maysa lirih.

__ADS_1


Tanpa sadar, wanita itu terisak dan mengeluarkan air mata kesedihan. Ia pun menyekanya, ia betul-betul tidak sanggup melihat kondisi suaminya yang begitu mengerikan disana. Apalagi, sedari siang Zanna terus merasa cemas dan memaksa untuk menemui papanya. Berkali-kali gadis itu ingin menghubungi nomor Harold, namun tidak bisa karena memang pria itu sedang terbaring di rumah sakit.


"Aku kasihan banget lihat Zanna, mas. Dia gak bisa berhenti nangis mikirin kamu, ayolah kamu cepat sadar ya demi dia sayang!" ucap Maysa seraya mengusap lembut punggung tangan suaminya.


Ceklek


"Maysa!" tiba-tiba saja, pintu terbuka dan seseorang wanita masuk ke dalam sana mendekatinya.


Maysa sontak terkejut, apalagi setelah ia mengetahui yang datang kesana adalah Clara alias mantan istri Harold. Tentu saja Maysa terlihat tak menyukai kehadiran wanita itu disana, tatapannya langsung menjurus tajam seolah menginginkan Clara segera pergi dari sana. Namun, Clara tak perduli dan tetap menemui Harold saat ini.


"Clara, ngapain sih kamu pake kesini segala? Kalau kamu cuma mau buat keributan, tolong ya lebih baik kamu pergi sekarang juga! Aku gak mau kehadiran kamu disini, malah bikin kondisi mas Harold jadi tambah drop!" ucap Maysa dengan tegas.


"Hah? Kamu kira aku kesini mau cari ribut gitu? Ya enggak lah Maysa, aku juga tahu kondisi kali. Kamu itu jangan berpikiran buruk terus deh sama aku!" ucap Clara mengelak.


"Oh ya, terus kamu mau apa kesini? Kalau kamu cari Zanna, dia gak ada disini Clara!" ketus Maysa.


Clara menggeleng perlahan, "Bukan kok, aku kesini bukan pengen cari Zanna. Tapi, aku mau jengukin mantan suami aku yang ganteng ini," ucapnya.


Deg


Maysa melongok lebar dibuatnya, pujian yang dilontarkan Clara kepada suaminya sungguh membuat hatinya terluka dan tidak terima. Biar bagaimanapun, Maysa sekarang adalah istri sah Harold dan tak seharusnya Clara bersikap begitu. Untungnya, Maysa masih bisa mengendalikan emosi agar tidak terjadi keributan di ruangan itu.


"Ya siapa tahu aja kan, dengan hadirnya aku disini mas Harold bisa cepat sadar. Soalnya aku ini kan cinta pertamanya dia," ucap Clara memancing.


Lagi-lagi Maysa dibuat tak berkutik, memang Clara sangat pandai mempermainkan emosi seseorang dan suka sekali mencari keributan dimanapun dia berada. Kini Clara bergerak semakin dekat ke arah Harold, lalu menarik kursi dan duduk memandangi tubuh Harold yang masih terbaring lemas disana.


"Awas kamu Clara! Berani-beraninya kamu goda suami aku, dasar perempuan gatel!" batin Maysa.




Zanna terus bersikukuh kalau ia tidak akan pergi ke sekolah, sebelum berhasil menghubungi papanya dan mengetahui sendiri bahwa kondisi sang papa baik-baik saja disana. Jujur Zanna merasa sangat cemas pada papanya, sepertinya ikatan batin antara Zanna dan Harold memang sangat kuat sehingga Zanna begitu mencemaskan papanya saat ini.


"Sayang, ayo kamu jangan ngambek terus ya! Kita sekolah yuk sayang, ini udah siang loh nanti Zanna bisa terlambat masuk sekolahnya!" bujuk Melinda.


"Gak mau!" sentak Zanna dengan tegas.


"Zanna, katanya kamu suka sekolah. Kok sekarang malah gak mau sekolah sih, emang kenapa? Zanna gak suka lagi sama guru-guru di sekolah, atau sama teman Zanna?" tanya Melinda keheranan.


Zanna menggeleng dengan cepat, ia kembali mengatakan bahwa ia tidak ingin pergi ke sekolah apapun alasannya. Saat ini ia hanya ingin mengetahui kondisi papanya, apalagi sejak semalam ia tidak bisa tidur karena memikirkan itu. Baik Melinda maupun Saskia kompak kebingungan, mereka terus berpikir keras kali ini.


"Aku gak mau pergi ke sekolah, kecuali ada papa!" tegas Zanna.


"Tapi sayang, papa kamu kan lagi kerja di luar negeri. Kamu sabar aja ya, nanti kalau papa udah gak sibuk pasti papa bakal telpon kamu kok!" bujuk Melinda.


"Gak mau oma, pokoknya aku gak mau pergi sekolah! Titik!" ucap Zanna.


Setelahnya, Zanna beranjak dari sofa dan berlari kencang menuju kamarnya sambil menangis karena memikirkan papanya. Ia masuk ke dalam kamar, lalu berbaring disana sembari memeluk boneka pemberian papanya dulu. Zanna benar-benar cemas dengan sang papa, ia tidak mungkin bisa tenang jika belum mengetahui kondisi papanya.

__ADS_1


Sementara Melinda dan Saskia juga coba mengejar gadis kecil itu, mereka sama-sama melangkah menuju kamar Zanna untuk membujuk dia kembali. Bagaimanapun, mereka harus berhasil membuat Zanna melupakan sejenak papanya. Ya mereka tahu ini tidak benar, namun mereka juga tak ingin Zanna terus saja menangis jika mengetahui kondisi asli Harold yang saat ini berada di rumah sakit.


Keduanya tampak mengetuk-ngetuk pintu kamar Zanna, memanggilnya dan berharap Zanna mau keluar menemui mereka. Namun, yang terjadi justru Zanna terdiam saja dan menutupi telinganya menggunakan bantal. Sepertinya Zanna sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun, ia terlanjur kesal dan kecewa pada oma serta tantenya itu.


TOK TOK TOK...


"Zanna, sayang buka pintunya dong nak! Biarin oma sama aunty Kia masuk ya sayang? Kita cuma mau ngobrol kok sama Zanna," ucap Melinda.


"Iya Zanna, aunty janji deh abis ini aunty bakal beliin Zanna es krim yang banyak sesuai kesukaan Zanna! Tapi, Zanna buka dulu ya pintunya sekarang!" sahut Saskia ikut membujuk ponakannya.


"GAK MAU!!" teriak Zanna dari dalam kamarnya secara lantang.




Maysa sendiri masih berada di rumah sakit menemani suaminya, ia tertidur tepat di sebelah tubuh Harold dengan hanya beralaskan telapak tangannya. Ia pun terbangun, menguap dan mengucek matanya untuk memastikan apakah sang suami sudah sadar atau belum. Namun, semua tetap tidak berubah dan Harold masih terbaring pingsan di atas brankar dengan kondisi lemas.


Maysa pun terlihat sangat cemas, ia menghela nafasnya sembari mengusap lembut dahi sang suami dan mengecupnya hangat. Ia bisikkan sebuah kalimat yang menyatakan rasa cintanya kepada pria itu, ia berharap dengan begitu maka Harold bisa lebih cepat sadar dan pulih. Ya karena Maysa tak ingin Zanna terus-terusan menangis memikirkan papanya yang dirawat di rumah sakit itu.


"I love you mas, aku sayang sama kamu! Aku harap kamu cepat sadar ya, karena aku gak bisa hidup tanpa kamu!" bisik Maysa dengan lirih.


Cup


Kalimat itu diakhiri dengan sebuah kecupan singkat pada dahi sang suami, Maysa benar-benar menyayangi pria itu dan tentu saja ia tidak ingin kehilangannya saat ini. Apalagi, sekarang perlahan-lahan dirinya sudah mulai membuka hati dan tulus mencintai Harold meski pria itu adalah orang yang telah merenggut kesuciannya.


"Permisi, bu Maysa!" tanpa disadari olehnya, seorang suster telah masuk ke dalam ruangan dan berniat melakukan pengecekkan terhadap kondisi Harold.


"Ah iya sus, ada apa?" tanya Maysa seraya menyeka air matanya dan bangkit dari kursinya.


"Gak ada apa-apa kok bu, kami hanya ingin memeriksa kondisi pasien. Mohon ibu tunggu sebentar ya di luar?" jelas suster itu.


"Oh begitu, ba-baik sus!" ucap Maysa agak gugup.


Setelahnya, Maysa pun melangkah keluar dari ruangan itu dengan sedikit terisak. Rasanya wanita itu masih belum bisa tenang sebelum suaminya itu sadarkan diri, dan di luar ia bertemu dengan Dean beserta Theo yang dari semalam berjaga disana. Sontak Dean menghampiri istri dari bosnya itu, lalu menawarkan sarapan serta minuman untuknya.


"Eee bu Maysa, ibu mau sarapan sekarang? Kalau iya, biar saya belikan di kantin bu," ucap Dean.


Maysa menggeleng, "Enggak Dean, nanti aja. Saya mau ke toilet, kalian tolong jagain suami saya ya! Kalau ada apa-apa, kabari saya!" ucapnya menolak.


"Baik bu, siap!" ucap Dean patuh.


Maysa kembali melanjutkan langkahnya menuju toilet di rumah sakit itu, sepanjang jalan ia terus melamun memikirkan kondisi suaminya. Bayangan mengenai kejadian indah mereka sebelumnya, selalu muncul di dalam pikirannya. Maysa betul-betul sedih saat ini, tidak bisa dipungkiri kalau ia memang sangat menyayangi Harold.


Baru saja ia hendak masuk ke toilet, tiba-tiba ia berpapasan dengan Peter yang entah kebetulan atau sengaja muncul disana. Sontak Maysa melongok lebar dan panik tentunya, terlebih Peter sudah melihat keberadaannya lalu tersenyum ke arahnya. Maysa tidak tahu lagi harus bagaimana, ia sudah terjebak dan Peter berhasil meraih tangannya.


"Maysa, tunggu dulu dong cantik! Kenapa sih kamu selalu menghindar tiap kali aku deketin, hm? Padahal, dulu itu kamu paling senang nempel sama aku. Kamu pasti masih ingat kan?" ucap Peter.


Maysa menggeleng perlahan dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria itu.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2