
Harold tersenyum lebar sembari mengangkat tubuh Zanna dan membawanya mendekati Maysa, ia memang ingin mengenalkan putrinya itu kepada calon ibu barunya.
Maysa sendiri nampak terdiam memperhatikan kejadian itu, ia baru tahu kalau ternyata itu adalah putri dari Harold. Ia benar-benar kagum dengan sikap Harold saat bersama putrinya, pria itu seolah memiliki kepribadian ganda yang jauh berbeda.
"Jadi ini anaknya tuan Harold? Lucu juga ya, beda banget sama papanya yang mesum itu!" gumam Maysa di dalam hatinya.
"Nah sayang, ini tuh namanya tante Maysa. Dia calon mama baru kamu Zanna," tiba-tiba saja, Harold sudah mendekati Maysa sembari menggendong Zanna dan mengenalkan mereka berdua.
Maysa terkejut bukan main, ia tak menyangka Harold akan seberani itu berbicara pada putrinya.
"Mama baru aku, maksudnya gimana pa? Aku bakal punya mama dua gitu ya, kayak teman aku di sekolah?" tanya Zanna pada papanya.
Harold mengangguk sambil tersenyum, "Benar sayang, yuk kamu kenalan sama tante Maysa!" ucapnya antusias.
"Halo tante, aku Zanna!" gadis mungil itu menurut, ia melambai disertai senyuman manisnya.
"Oh hai Zanna! Kamu cantik sekali, salam kenal ya tante ini Maysa!" balas Maysa seraya mendekati Zanna dan tersenyum lebar.
"Hahaha, mulai sekarang kalian harus saling akrab ya! Aku pengen kalian berdua bisa saling menyayangi, sebelum nantinya aku dan kamu akan melangsungkan pernikahan Maysa," ujar Harold.
Maysa terdiam saja seraya memalingkan wajahnya, ia benar-benar malu dan tak tahu harus mengatakan apa kali ini di hadapan Harold serta Zanna. Ia masih bingung, apakah semua ini memang keinginan Harold atau pria itu hanya menginginkan tubuhnya dan sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak dirinya ke dalam sebuah rencana pria itu.
"Ehem ehem!! Ada apa ini??" tanpa diduga, Clara sang mantan muncul dari dalam sana menemui ketiga manusia itu dengan wajah bingung.
Clara terlihat kaget melihat Harold sudah ada disana bersama seorang wanita dan tengah menggendong Zanna, ia ingat betul siapa wanita yang bersama Harold itu karena sebelumnya mereka memang sudah bertemu saat di rumah sakit.
"Mas, ngapain kamu bawa perempuan ini kesini?" tanya Clara dengan ketus.
Harold pun beralih menatap mantan istrinya itu, "Gak ada kok, aku cuma pengen ngenalin Zanna sama calon mama barunya. Apa salah kalau aku ngelakuin itu, hm?" jawabnya santai.
"Apa? Mama baru? Kamu apa-apaan sih, mas? Mama Zanna itu cuma aku, gak akan ada yang bisa gantikan aku di hatinya Zanna! Kamu jangan ngaco deh mas!" ucap Clara tampak kesal.
Harold tersenyum dibuatnya, ia merasa tingkah mantan istrinya itu terlalu lucu dengan mengatakan hal demikian. Kekehan terdengar dari mulutnya, membuat Clara semakin kesal dan berniat mengambil alih Zanna dari gendongan pria itu. Namun, tentunya Harold tak semuda itu melepaskan putrinya yang sedang ia gendong itu.
"Kamu mau ngapain sih? Mending kamu masuk aja deh ke dalam, aku janji gak akan ganggu kamu Clara!" ucap Harold.
"Gak bisa mas, aku gak mau kamu pengaruhi Zanna buat benci aku dan malah menganggap wanita ini mamanya! Sekarang lepasin Zanna, aku harap kamu mau hormati keputusan pengadilan terkait hak asuh Zanna yang jatuh ke tangan aku!" ucap Clara.
Harold menggeleng perlahan, "Kamu beruntung Clara, karena aku biarkan Zanna tinggal sama aku. Seandainya aku mengajukan banding, aku yakin Zanna akan jadi milik aku seutuhnya!" ucapnya.
Clara benar-benar kesal kali ini, langsung saja ia mendekat dan coba menarik tubuh Zanna agar lepas dari gendongan mantan suaminya itu. Clara tak mau Zanna semakin dekat dengan Harold, lalu membuat putrinya itu membenci dirinya. Apalagi Harold datang kesana bersama seorang wanita, yang tampaknya akan dinikahi oleh pria itu.
Clara terus berusaha, tetapi hal itu menjadi sia-sia lantaran Zanna sendiri merengek meminta mamanya untuk tidak memaksa mengambil dirinya dari sang papa. Tampaknya Zanna masih ingin bercengkrama dengan papanya, sehingga Zanna tak mau Clara berbuat nekat dengan merebutnya secara paksa dari tubuh Harold saat ini.
Kini Harold nampak tersenyum menyeringai, kepuasan terlihat di wajahnya melihat Clara merengut dan memundurkan langkahnya. Ia senang karena Zanna lebih membelanya, meskipun ia sendiri juga masih belum tega untuk mengajukan banding ke pengadilan terkait hak asuh Zanna.
"Clara, sudah cukup ya! Aku cuma mau mengenalkan Zanna ke Maysa, kamu gak perlu lah ketakutan kayak gitu! Zanna akan tetap anggap kamu sebagai mamanya," ucap Harold.
__ADS_1
"Jangan kira aku gak tahu apa rencana busuk kamu, mas!" sentak Clara.
Harold menggeleng seolah meledek wanita itu, ia tak mengerti apa maksud Clara mengatakan itu padanya. Namun, Harold memilih mengabaikan Clara dan malah berbalik menatap Maysa sembari menggandeng tangannya.
"May, kita makan siang bareng Zanna yuk!" ajak Harold.
Maysa terbelalak, begitu juga dengan Clara. Kedua wanita itu sama-sama terkejut dengan ajakan Harold barusan, Maysa yang tak percaya tampak khawatir dengan keributan yang akan terjadi. Sedangkan Clara tentunya terlihat tak menyukai hal itu, ia pastinya melarang Harold untuk membawa putrinya pergi bersama Maysa.
"Kamu apa-apaan sih, mas? Aku gak setuju ya kamu mau bawa Zanna keluar sama perempuan ini!" sentak Clara.
"Apa urusannya sama kamu? Ingat Clara, kamu memang menang atas hak asuh Zanna. Tetapi, hakim juga meminta kamu untuk mengizinkan aku membawa Zanna walau sebentar!" ucap Harold.
"Iya aku izinin kok, selama ini juga aku kasih izin. Tapi untuk kali ini enggak mas, aku gak mau kamu deketin Zanna ke perempuan lain!" ucap Clara.
"Aku gak butuh izin dari kamu lagi, asalkan Zanna memang mau ikut sama aku. Kamu juga gak bisa larang dia, Clara!" tegas Harold.
"Iya ma, aku mau pergi sama papa. Mama bolehin ya aku ikut papa dan tante Maysa?" sahut Zanna tampak membujuk mamanya.
Clara berada dalam situasi yang amat sulit saat ini, ia sebenarnya khawatir Harold akan membuat Zanna menjauh darinya dengan mendekatkan gadis itu pada Maysa. Namun disisi lain, Clara juga tak mau mengecewakan putrinya itu. Ia tahu sekali saat ini Zanna sedang bahagia, tidak mungkin ia membuat hati putri kecilnya itu terluka.
"Yaudah, mama kasih izin kamu deh sayang. Kamu senang-senang ya sama papa!" ucap Clara terpaksa.
Harold tersenyum dibuatnya, begitu juga dengan Zanna yang tampak bahagia mendengar ucapan mamanya. Meski begitu, Clara terlihat masih belum sepenuhnya percaya. Wanita itu menatap tajam ke arah Maysa, menunjukkan kesinisan pada Maysa seolah mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak menyukai putrinya dengan dekat wanita lain.
Setelah itu, Harold dan Zanna pun pamit kepada Clara untuk segera pergi. Clara mengiyakan saja kali ini, membiarkan putrinya itu pergi dari sana bersama Harold serta Maysa. Ketiganya pun melangkah menuju mobil, bergegas melaju meninggalkan tempat tersebut tanpa perduli dengan Clara.
•
•
Disaat ia sedang menanti ojek yang ia pesan di depan rumahnya, tanpa diduga sebuah motor berhenti tepat di hadapannya kali ini. Matanya pun membulat seketika, melihat bahwa Peter lah yang datang kesana dan turun dari motornya lalu menemui wanita itu. Maysa terlihat memalingkan wajahnya, ia sungguh tak menyukai kehadiran pria tersebut di rumahnya.
"Ngapain lagi kamu kesini, ha? Gak puas kamu udah rendahin aku waktu itu dan injak-injak harga diri aku, hm?" tanya Maysa dengan ketus.
"May, aku kesini cuma mau minta maaf sama kamu. Aku wafat yang aku lakuin ke kamu itu jahat banget, seharusnya aku gak tinggalin kamu dan biarin kamu sendirian menghadapi masalah kamu ini. Maafin aku ya May, please!" rengek Peter.
"Hah? Minta maaf? Udah terlambat Peter, sekarang aku udah gak butuh keberadaan kamu lagi di sisi aku! Mending kamu pergi deh, aku mau pergi kerja sekarang!" ketus Maysa.
"Oh kamu masih kerja di club itu, hm? Gak kapok-kapok ya kamu Maysa? Padahal di tempat itu juga kamu kehilangan kesucian kamu, harusnya kamu belajar dari kesalahan dong Maysa! Atau, jangan-jangan benar ucapan aku?" ucap Peter.
Maysa mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu ucapan yang mana ya? Kamu jangan asal bicara kalau gak tahu apa-apa!" ucapnya kesal.
"Ya itu dia Maysa, sebenarnya kamu bukan diperkosa saat itu. Tapi, kalian melakukan itu atas dasar suka sama suka. Mungkin aja kamu dalam keadaan mabuk, ya kan?" ujar Peter.
"Cukup Peter! Kamu bilang tadi mau minta maaf, tapi kenapa kamu malah mengulangi ucapan biadab itu ha?" geram Maysa.
"Kenapa, memang benar kan? Kalau kamu diperkosa, seharusnya kamu lapor polisi dan jangan balik kerja disana lagi! Tapi apa, kamu malah kembali bekerja di club itu. Gimana caranya aku bisa percaya sama kamu coba?" ujar Peter.
__ADS_1
"Terserah, aku gak perduli lagi sama kata-kata kamu. Intinya aku udah bukan kerja disana lagi, sekarang kamu minggir dan biarin aku lewat! Aku harus pergi bekerja sekarang!" sentak Maysa.
Saat Maysa hendak pergi, Peter reflek mencekal lengan wanita itu dan menahannya.
"Tunggu May! Kamu kerja dimana? Biar aku yang antar kamu ya Maysa, aku mau tahu tempat kerja baru kamu!" ucap Peter.
"Gak perlu," ketus Maysa.
"May, please May! Aku cuma mau antar kamu ke tempat kerja kamu, setelah itu baru deh aku pulang dan biarin kamu disana!" ucap Peter membujuknya.
Bukannya menurut, Maysa justru menghentak tangan Peter hingga lepas dari lengannya. Ia meminta lelaki itu berhenti mengejarnya dan pergi jauh dari hidupnya, karena bagi Maysa sekarang ini Peter hanyalah seorang musuh yang tak akan mungkin bisa ia berikan maafnya.
Namun, Peter seolah tak perduli dan malah terus menahan Maysa tetap disana bersamanya. Bahkan, lelaki itu kembali mencekal lengan Maysa dan tak membiarkan wanita itu pergi. Peter juga memohon pada Maysa, agar wanita itu mau diantar olehnya sampai ke tempat kerja. Jika tidak, maka Peter tak akan melepaskan Maysa sampai kapanpun.
Mereka terus berdebat disana, sampai tiba-tiba seseorang datang dan menyingkirkan tangan Peter dari kulit halus milik Maysa. Sontak mereka berdua kompak terkejut, lalu menoleh ke asal orang tersebut dengan wajah penasaran. Maysa benar-benar tak menyangka, Harold lah yang datang kesana menolongnya dan terlihat sangat emosi.
"Jangan pernah sentuh dia lagi! Kalau tidak, maka kamu akan berurusan dengan saya!" ancam Harold.
Peter terlihat kebingungan, "Siapa kamu? Ini bukan urusan kamu, jadi lebih baik kamu tidak usah ikut campur!" ucapnya tegas.
"Saya Harold, calon suami Maysa." Harold mengenalkan dirinya kepada Peter dengan sangat percaya diri, sampai membuat Peter terbelalak dan menggelengkan kepalanya.
"Anda bicara apa sih??" Maysa menyela, ia tampak heran dengan perkataan Harold tadi.
Harold tersenyum saja, kemudian meraih telapak tangan Maysa dan menggenggamnya erat serta mengajak wanita itu pergi. Tanpa menunggu jawaban dari Maysa, kini Harold langsung saja membawa Maysa pergi dari sana menuju mobilnya.
•
•
Singkat cerita, Maysa telah berada di dalam mobil Harold dan masih terus menunjukkan ekspresi sebalnya kepada pria di sebelahnya itu atas kejadian di rumahnya tadi. Maysa sungguh kesal, lantaran Harold dengan seenak jidat mengenalkan diri sebagai calon suaminya. Padahal hingga kini, Maysa belum memberikan jawaban apa-apa terkait itu.
Sesekali Maysa melirik ke arah Harold saat ini, ia mengepalkan tangannya hendak meluapkan emosi yang selama ini ia tahan. Namun, kebaikan yang Harold lakukan padanya juga berhasil membuat Maysa bingung. Ia tak tahu harus apa nantinya, karena biar bagaimanapun Harold sudah sering sekali membantu dirinya belakangan ini.
"Kenapa ngeliatin saya terus kayak gitu, hm? Udah mulai naksir ya sama saya? Emang sih saya ini tampan, tidak ada perempuan manapun di dunia ini yang bisa menolak pesona saya!" ujar Harold.
Maysa terkejut, reflek ia menunjukkan ekspresi mual seakan hendak muntah akibat perkataan Harold tadi yang sangat tidak benar. Bagaimana mungkin ia bisa terpesona pada orang seperti Harold, yang telah merenggut kesuciannya sekaligus membuat hidupnya menderita seperti sekarang.
"Anda kalau bicara dijaga ya, tuan Harold! Gak mungkin saya naksir sama anda!" elak Maysa.
"Kamu bisa mengelak sekarang, tapi saya jamin kamu akan berubah dalam waktu sekejap nanti! Saya tahu itu Maysa, kamu menyukai saya sejak pertama kita bertemu!" ucap Harold percaya diri.
"Dih, ternyata selain mesum anda ini orang yang mudah pede ya tuan Harold? Seharusnya anda rubah sikap anda itu!" ucap Maysa ketus.
"Tidak mau, saya memang begini Maysa. Calon suami kamu ini ya karakternya memang selalu percaya diri dalam hal apapun, termasuk untuk dapat memiliki kamu!" ucap Harold menggodanya.
Entah kenapa Maysa tersenyum kali ini, bahkan ia sampai memalingkan wajahnya untuk menahan malu dan menyembunyikan pipinya yang bersemu. Maysa tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, mungkinkah ia memang sudah tertarik dengan pria di sebelahnya itu?
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...