
Harold dan Maysa tengah asyik bermesraan di dalam kamar mereka tanpa memperdulikan apa yang sedang terjadi di luar sana, mereka memang selalu begitu tiap kali berhubungan karena Harold tidak ingin ada apapun yang mengganggunya saat sedang menikmati tubuh indah istrinya. Apalagi, sekarang ini Harold begitu bergairah dan ingin segera menerkam Maysa saat itu juga.
Maysa terlihat pasrah di bawah kungkungan suaminya, ia bahkan tersenyum saat Harold menatapnya dari jarak dekat dan mengecupi wajahnya. Kedua tangan Maysa juga dicengkeram oleh Harold dan diletakkan di atas kepalanya, Harold berhasil mengunci tiap inci tubuh Maysa sehingga wanita itu tidak bisa bergerak banyak.
Tanpa basa-basi lagi, Harold segera melahap bibir merah muda milik Maysa dengan lembut dan penuh kasih sayang. Pria itu juga mengucapkan kata cinta di sela-sela ciumannya, Maysa yang mendengarnya pun dibuat merinding serta berdebar-debar. Perlakuan Harold sungguh manis, tak ada kata kasar di dalam permainannya saat ini dan justru berhasil membuat Maysa merasa nikmat.
Waktu demi waktu berlalu, ciuman itu berubah menjadi semakin liar dan ganas. Tangan Harold juga sudah mulai aktif melucuti pakaian sang istri, sehingga menyisakan bagian dalamnya saja. Maysa tak henti-hentinya melenguh dengan mata terpejam, ia menikmati semua perlakuan yang diberikan Harold padanya dan tidak pernah protes.
Gerakan Harold semakin erotis saat ini, suasana di kamar itu pun makin panas meski AC disana masih menyala. Tidak terhitung lagi berapa banyak tanda merah yang diberikan Harold di area leher istrinya, bahkan juga sudah sampai merambat ke bagian gundukan kenyal Maysa. Tidak berhenti sampai disitu, Harold semakin liar menjelajahi tubuh Maysa dan menelanjanginya.
Maysa sudah tak bertenaga lagi dibuatnya, wanita itu hanya bisa pasrah dan mengeluarkan suara kenikmatan dari mulutnya. Satu tangan Harold berhasil menyelinap di bawah sana, mengusap bagian paling indah yang ada di tubuh Maysa. Sedangkan mulutnya juga masih bermain di area gundukan itu, melahapnya seperti bayi kelaparan.
"Mmhhh maassss...."
Suara Maysa membuat Harold semakin ganas dan liar, ia mempercepat gerakan tangannya di bawah sana hingga sampai lah Maysa pada puncak yang dinanti-nanti. Wanita itu melemas seketika, keringat membasahi tubuhnya dan nafasnya sudah tidak karuan lagi karena perlakuan sang suami.
"Let's play the game, baby!" bisik Harold di telinga wanita itu.
Maysa melotot seketika, Harold membuka lacinya dan mengambil berbagai alat permainan yang biasa pria itu gunakan dalam berhubungan. Sesaat kemudian, Maysa kembali merasakan sakit pada area perutnya dan kini mulai merintih karena tidak bisa lagi menahannya. Tentu saja Harold merasa khawatir, ia melempar semua alat mainannya dan kembali mendekati wanita itu.
"Sa-sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Apa aku terlalu kasar tadi sama kamu?" tanya Harold dengan wajah cemas.
__ADS_1
Maysa menggeleng perlahan, "Bukan mas, ini mungkin karena efek dari aku jatuh tadi. Akh sakit banget mas!" lirihnya.
"Apa??"
Betapa terkejutnya Harold mendengar pengakuan sang istri, ia tak mengira Maysa kembali terjatuh seperti sebelumnya dan membuat area perut wanita itu terasa sakit. Tentu saja Harold sangat khawatir, sebagai seorang suami ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya ataupun kandungan di dalamnya itu.
Kini Harold mendekati tubuh Maysa, ia bopong wanita itu dengan perlahan dan berniat membawa Maysa ke rumah sakit. Harold tentu berharap kalau semua akan baik-baik saja, meski saat ini ia melihat jelas bahwa Maysa tengah menahan sakitnya dan terus merintih sembari memegangi perut bagian bawahnya yang memang terasa nyeri.
"Bertahanlah sayang, kita ke rumah sakit sekarang ya!" ucap Harold panik.
•
•
Untungnya, tadi Saskia juga masih ada di dekat Dean saat Harold datang menghampirinya. Sehingga, kini Saskia pun ikut serta mengantar Maysa menuju rumah sakit karena ia benar-benar khawatir pada kakaknya itu. Ya setidaknya Dean masih bisa melihat tubuh Saskia saat ini, bahkan mereka duduk berdua di kursi depan.
Sepanjang perjalanan Harold terus merasa cemas dengan kondisi istrinya, apalagi Maysa yang juga tak henti-hentinya meringis kesakitan. Dua tangan wanita itu pun juga menggenggam erat telapak tangan suaminya, membuat Harold semakin panik dan penasaran apa sebenarnya yang terjadi pada Maysa sebelumnya sampai mengalami hal itu.
"Sayang, kamu itu sebenarnya kenapa sih? Kok bisa kamu sampai kesakitan kayak gini, apa yang terjadi saat aku pergi tadi?" tanya Harold cemas.
Maysa hanya terdiam dan tak ingin menjawabnya, ia malah mengalihkan topik dengan terus merintih. Harold pun semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan Maysa darinya, tentu Harold tidak bisa diam saja dan dia harus mencari tahu ada apa yang sampai membuat Maysa kesakitan dan tidak berhenti merintih itu.
__ADS_1
"Dean, ayo lebih cepat lagi bawa mobilnya! Saya tidak mau istri saya kenapa-kenapa!" titah Harold.
"Baik tuan!" ucap Dean patuh dan langsung menambah kelajuan mobilnya sesuai permintaan sang bos.
Maysa pun merasa bangga dengan perhatian yang diberikan Harold padanya saat ini, ia terus membenamkan wajahnya pada bahu sang suami dan memejamkan matanya. Entah mengapa, tempat itu adalah tempat ternyaman bagi Maysa dan tidak bisa tergantikan oleh apapun. Tentu saja Harold ikut tersenyum dibuatnya, pria itu menggerakkan tangannya dan mengusap lembut wajah istrinya.
Sementara Saskia terus melirik ke belakang dan tampak cemas melihat kondisi kakaknya yang masih merasa kesakitan itu, meski ia sedikit lega karena saat ini Maysa sudah memiliki Harold yang akan selalu ada untuknya. Hal itu turut diperhatikan oleh Dean, ya Dean senyum-senyum sembari menatap wajah Saskia yang menurutnya tambah cantik itu.
Akhirnya mereka semua sampai di rumah sakit, tanpa basa-basi lagi Harold segera menggendong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam sana untuk segera diperiksa. Sedangkan Saskia dan juga Dean hendak mengikuti pasangan itu dari belakang, tetapi tiba-tiba Dean menghentikan langkahnya dan membuat Saskia terheran-heran.
"Sebentar deh non, kayaknya kita gak perlu ikut masuk kesana! Lebih baik kita tunggu disini aja, non!" ucap Dean.
Saskia mengernyitkan dahinya, "Loh kok gitu? Aku khawatir tau sama mbak Maysa!" ucapnya.
"I-i-iya non, saya tahu itu. Tapi, ada baiknya kita jangan ganggu mereka dulu non! Kita tunggu aja kabar baiknya dari sini, supaya mereka bisa leluasa non!" ucap Dean.
"Iya juga sih, yaudah deh aku nunggu disini. Tapi aku haus tau, kamu bisa tolong beliin minuman buat aku gak!" pinta Saskia.
"Hah??" Dean terbelalak mendengarnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...