
Harold tengah menemani Maysa beristirahat di dalam kamarnya sehabis meminum vitamin pemberian Amy tadi. Harold berjanji, kalau seharian ini ia tidak akan meninggalkan Maysa lagi dan terus menjaga wanita itu. Harold tentu tidak mau kejadian tadi terjadi kembali, apalagi kondisi Maysa masih belum pulih seperti biasanya.
Keduanya pun bersandar di atas ranjang dengan wajah Maysa yang menempel pada bahu sang suami, Harold menikmati hal itu dan terus mengusap lembut puncak kepala istrinya sampai membuat Maysa terpejam. Mereka benar-benar merasa nyaman, sampai tidak ada dari mereka yang berbicara karena terlalu menikmati posisi itu.
"Oh ya mas, aku mau tanya sesuatu deh sama kamu. Sebetulnya, udah dari lama aku pengen tahu soal ini. Tapi, aku takut kamu tersinggung kalau aku bahas ini di depan kamu," ucap Maysa lirih.
"Hm, emangnya kamu mau tanya soal apa sih sayang? Ayo tanya aja, aku gak akan marah atau tersinggung kok!" ucap Harold.
"Umm a-aku....."
Maysa merasa ragu untuk mengatakannya, ia khawatir hal itu akan menyinggung perasaan Harold dan berakibat buruk pada hubungan mereka nantinya. Namun, hingga kini Maysa masih sangat penasaran dan ingin tahu apa bisnis yang sedang dijalankan suaminya itu selama ini.
"Aku mau tahu mas, kamu itu sebenarnya kerja apa sih? Kok bisa gitu loh sampai kamu sekaya ini?" tanya Maysa penasaran.
Saat itu juga Harold terdiam, ia pandangi wajah istrinya itu dan terlihat kebingungan. Sedangkan Maysa terus mendongak menatap wajahnya, tampak bahwa Maysa begitu penasaran dan ingin sekali mengetahui apa pekerjaan suaminya. Biar bagaimanapun, Maysa sekarang adalah istri dari Harold dan wajar bila ia ingin mengetahuinya.
"Kenapa mas, kamu gak mau kasih tahu ya? Eee kalau emang gitu, yaudah gapapa kok. Tadinya aku cuma pengen tahu, soalnya aku kan istri kamu. Aku juga berhak tahu dong dimana kamu kerja, dan apa pekerjaan kamu," ucap Maysa.
"Ahaha, iya deh aku kasih tahu. Ya aku itu pebisnis sayang, aku punya banyak cabang di berbagai kota. Bahkan ada yang di luar negeri loh, makanya aku bisa jadi orang kaya," ucap Harold santai.
"Ohh, tapi bisnis kamu itu bergerak di bidang apa mas?" tanya Maysa lagi.
Harold malah mendekap erat tubuh istrinya dan menghujani dengan berbagai kecupan lembut, Maysa pun merasa risih dan berusaha menghindar walau sulit karena tenaga pria itu jauh lebih besar dibanding dirinya. Maysa benar-benar heran, mengapa Harold tidak mau memberitahu apa bisnis yang dijalankan pria itu sebenarnya.
__ADS_1
"Ah kamu ini kepo banget sih, nanti deh kapan-kapan aku bawa kamu ke kantor langsung. Jadi, disana kamu bisa tahu semuanya deh," bujuk Harold.
"Beneran mas?" tanya Maysa memastikan.
Harold mengangguk perlahan, kemudian kembali menciumi seluruh area wajah wanita itu tanpa ada yang terlewati. Maysa terkekeh geli dengan kelakuan suaminya, wanita itu tak mampu berbuat apa-apa karena kedua tangannya dicengkeram dan tubuhnya dikunci oleh suaminya.
TOK TOK TOK....
Tiba-tiba saja, ada yang mengetuk pintu kamar mereka disaat mereka tengah asyik bermesraan. Tentu saja Harold merasa geram, ia menghela nafas kasar sampai mengumpat pelan karena merasa terganggu. Maysa pun menegurnya, dan mengatakan kalau hal itu tidak sepantasnya dilakukan Harold.
Ya sebagai pria penurut, Harold hanya bisa menganggukkan kepalanya dan tak mau beradu argumen dengan wanita itu. Kini malah Harold bergerak turun dari ranjangnya, lalu berjalan menuju pintu untuk mencari tahu siapa yang datang. Sedangkan Maysa diminta untuk tetap berada disana, karena kondisi wanita itu masih lemah.
•
•
Zanna berdiri disana sambil tersenyum dengan memegang boneka beruang cokelat di tangannya, gadis itu tampak sangat polos dan menggemaskan. Harold pun tersenyum, kemudian berjongkok di hadapan Zanna sembari mencubit kedua pipi gadis itu. Harold merasa sangat gemas pada putri kecilnya itu, seolah-olah ia tidak bisa berhenti menggodanya.
"Ada apa princess kecilnya papa yang cantik dan manis ini?" tanya Harold sembari mencolek hidung serta pipi putrinya.
Zanna tersenyum lebar, "Hehe, aku mau ketemu sama mama Maysa, pa. Tadi aku dengar dari tante Saskia, katanya mama Maysa baru habis dibawa ke rumah sakit ya sama papa?" ucapnya.
"Ohh, anaknya papa yang cantik ini mau ketemu sama mama? Iya tadi tuh papa emang bawa mama ke rumah sakit, tapi sekarang mama udah baik-baik aja kok. Jadi, Zanna gausah khawatir begitu ya sama mama!" ucap Harold lembut.
__ADS_1
"Iya pa, berarti aku boleh kan masuk buat ketemu mama Maysa?" tanya Zanna lagi.
Harold mengangguk cepat disertai senyuman lebarnya, sesaat kemudian ia langsung menggendong tubuh putrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ia pun mempertemukan Zanna pada istrinya disana, tapi tanpa diduga ternyata Maysa sudah tertidur pulas mungkin efek dari vitamin yang dia minum tadi.
"Yah sayang, mamanya udah bobok tuh. Gimana dong? Zanna pasti kecewa ya karena gak bisa ngobrol sama mama?" ujar Harold.
Zanna justru menggeleng, "Enggak pa, aku gak kecewa kok. Lagian mama kan abis sakit, pasti mama butuh istirahat. Udah yuk pa, kita main di luar aja jangan ganggu mama!" ucapnya.
"Wah, pintarnya anak papa ini! Yaudah, ayo deh mama temenin kamu main di luar!" ucap Harold.
Zanna tersenyum gembira mendengar ucapan papanya, kemudian tanpa aba-aba Harold langsung berlari keluar kamar sambil menggendong tubuh Zanna di atas kepalanya. Tentu saja Zanna tertawa cekikikan dibuatnya, ia sangat menikmati momen bersama papanya itu. Berbeda dengan Clara dulu, Harold memperlakukan Zanna jauh lebih lembut dan juga sering membahagiakan gadis itu.
Saat di luar, Harold dan Zanna bertemu dengan Melinda yang baru turun dari tangga dan entah hendak kemana. Melinda pun menghentikan langkahnya saat melihat sepasang ayah dan anak itu, ia tersenyum lebar karena kemesraan antara Harold dan juga Zanna sekarang. Meski awalnya Melinda tidak suka pada Harold, tapi akhirnya wanita itu tahu jika Harold adalah sosok yang lembut.
"Eh ibu, mau kemana bu? Kalau butuh apa-apa, ibu panggil aja pelayan disini!" ucap Harold ramah.
Melinda tersenyum dibuatnya, "Gapapa kok, ibu bosan aja kalau di kamar terus. Apalagi Zanna tadi pergi katanya mau ketemu papanya, jadi ya ibu mau keliling-keliling aja," ucapnya.
"Ohh, kalo gitu biar aku sama Zanna temenin aja bu, gimana?" usul Harold.
"Iya tuh oma, aku juga mau keliling bareng sama oma!" sahut Zanna.
Melinda setuju saja dengan usul Harold dan juga Zanna, lalu mereka sama-sama melangkah untuk mengelilingi rumah besar itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...