Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Memanfaatkan situasi


__ADS_3

Setelah kepergian Harold beberapa saat yang lalu, Clara justru muncul dengan mobilnya dan langsung turun menghampiri Zanna yang kebetulan memang masih berada di depan sana. Tentu saja Clara amat gembira karena dapat bertemu putrinya lagi, sebab belakangan ini ia selalu kesulitan untuk melakukan itu dikarenakan Harold yang melarangnya dan tidak mengizinkan ia untuk sekedar menengok Zanna.


Tanpa banyak berpikir, Clara pun langsung memeluk tubuh putrinya dengan erat untuk menyalurkan semua rasa rindu yang selama ini ia pendam. Sama seperti mamanya, Zanna juga tak kalah rindu dengan sang mama yang telah melahirkannya itu. Meski Zanna tahu Clara bukanlah sosok ibu yang baik untuknya, tetapi bagaimanapun Zanna juga tetap menganggap Clara sebagai ibu kandungnya.


Dikala mereka tengah berpelukan, tiba-tiba saja Zanna menangis deras karena teringat pada sosok papanya yang baru pergi. Clara sontak heran dengan tingkah putrinya saat ini, ia tak mengerti apa yang jadi penyebab Zanna menangis seperti itu. Padahal, seharusnya Zanna bahagia karena hari ini mereka dapat bertemu kembali setelah cukup lama mereka berpisah dan jarang bertemu.


"Loh sayang, kamu kenapa nak? Kok tiba-tiba kamu nangis kayak gini, ada masalah ya? Cerita aja sama mama sayang, kamu diapain sama mereka ini!" tanya Clara begitu khawatir.


Mendengar ucapan Clara barusan, tentu saja Saskia terpancing emosinya dan tidak terima jika Clara menuduh mereka menyakiti Zanna. Namun, Melinda dengan cepat menghalangi niat Saskia yang ingin maju mendekat ke arah Clara. Ya Melinda hanya tidak mau terjadi keributan disana, apalagi Harold sekarang sudah pergi dari rumah itu.


"Hiks hiks, papa ma barusan papa pergi tinggalin aku sama mama Maysa!" jawab Zanna terisak.


Clara melongok kaget mendengar jawaban putrinya, dahinya mengernyit menandakan bahwa ia masih belum mengerti apa yang dimaksud Zanna tadi. Harold pergi? Memangnya kemana pria itu pergi sampai Zanna sesedih itu? Ya itulah hal yang ada di dalam pikiran Clara sekarang ini.


"Ma-maksud kamu gimana sayang, emangnya papa kamu pergi kemana? Bukannya biasa ya kalau papa tuh pergi kerja?" heran Clara.


Zanna menggeleng pelan, "Enggak ma, sekarang papa bukan lagi pergi kerja. Tapi, papa ada urusan di luar negeri dan harus pergi tinggalin aku beberapa hari," jawabnya sambil terisak.


"Apa??" Clara terkejut bukan main, ia baru tahu kalau ternyata Harold bisa tega melakukan itu pada Zanna.


Siasat licik muncul di kepalanya, Clara tentunya akan memanfaatkan kepergian Harold ini untuk bisa mempengaruhi Zanna. Ya pastinya Clara hendak membawa Zanna kembali padanya, karena saat ini Harold sedang tidak ada disana. Dengan begitu, maka pasti Clara bisa dengan mudah memenangkan gugatan atas hak asuh Zanna di pengadilan.


"Kamu bener kan sayang, papa kamu pergi ke luar negeri?" tanya Clara memastikan.


Zanna mengangguk kembali, membuat senyum Clara semakin lebar seolah senang dengan apa yang terjadi saat ini. Kesempatan Clara untuk bisa membawa Zanna akan semakin mudah tentunya, dan tidak ada lagi yang dapat menghalangi niatnya saat ini baik itu Maysa atau siapapun.


"Duh, jahat banget sih papa kamu itu! Masa dia bisa tega ninggalin kamu kayak gini? Papa macam apa coba itu? Mama gak ngerti deh!" ucap Clara.


Saskia tampak semakin geram dengan tingkah Clara saat ini, ucapan Clara benar-benar tidak bisa ditolerir lagi dan wanita itu harus segera dihentikan jika tidak ingin terjadi sesuatu pada Zanna. Saskia amat khawatir, kalau Zanna akan terpengaruh dengan ucapan biadab Clara itu.




Setibanya di bandara, Harold terlihat menghampiri mister Rendy yang sudah tiba lebih dulu disana bersama para anak buahnya. Sontak Harold menyapa pria itu dengan ramah disertai senyum tipisnya, meski saat ini kondisi hatinya sedang bersedih karena harus pergi meninggalkan Maysa dan juga Zanna yang sangat ia sayangi.


"Selamat pagi Harold! Saya senang kamu akhirnya datang dan tidak mengingkari janji kamu, tadinya saya kira kamu berubah pikiran!" ucap Rendy.

__ADS_1


"Tentu tidak mister, saya adalah orang yang menghargai janji. Tapi mister, apa saya boleh minta sesuatu ke mister sebelum kita pergi?" ucap Harold.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Rendy tampak penasaran.


Harold menghela nafas sejenak seraya meletakkan koper miliknya, pria itu terlihat ragu untuk mengatakan keinginannya karena khawatir jika mister Rendy akan emosi. Namun, Harold tetap mencoba tegas agar ia bisa memastikan bahwa Maysa dan Zanna akan baik-baik saja selama ia tinggal pergi ke Kanada.


"Satu saja mister, saya hanya ingin meminta keselamatan bagi keluarga saya terjamin. Saya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, itu saja mister!" jawab Harold.


Rendy tersenyum mendengar permintaan yang diajukan Harold barusan, pria itu maju mendekat ke arah Harold dan perlahan menyentuh pundaknya. Tentu saja mister Rendy tak akan kesulitan untuk memenuhi kemauan Harold itu, asalkan Harold juga tidak berbuat macam-macam padanya atau berniat untuk berkhianat darinya.


"Itu mudah Harold, saya akan penuhi kemauan kamu dan pastikan keluarga kamu dalam keadaan baik-baik saja! Tetapi, kamu juga harus menurut dengan saya dan tidak boleh membantah!" ucap Rendy dengan tegas.


"Ba-baik mister, saya tidak akan membantah!" ucap Harold cukup gugup.


Setelahnya, Rendy tampak senang dengan apa yang dikatakan Harold tadi dan kini Rendy merangkul pundak Harold serta mengajaknya masuk ke bandara karena waktu sudah semakin mepet. Kini Harold pun menurut saja dengan ajakan Rendy, walau pikirannya masih mengarah kepada Maysa yang tengah kesal padanya.


Tiba-tiba saja, langkah Rendy terhenti ketika salah seorang anak buahnya mendekat lalu mencoba memberitahu sesuatu padanya. Rendy pun tampak penasaran dibuatnya, ia menghentikan sejenak langkahnya karena sepertinya ada hal penting yang hendak disampaikan oleh anak buahnya itu. Tentu saja Harold juga mengikuti pria di sebelahnya itu.


"Kenapa Fred?" tanya Rendy pada salah seorang anak buahnya yang bernama Fred itu.


"Begini tuan, saya baru dapat kabar dari orang-orang yang bertugas membawa barang. Ternyata ada seseorang yang mencegat mereka dan berhasil mengalahkan mereka tuan," jawab Fred.


"Maaf tuan, tapi sepertinya pasukan yang datang itu lebih banyak dari pasukan kami! Sekarang saja banyak dari mereka yang terluka tuan," jelas Fred.


"Kurang ajar!" Rendy mengumpat kesal dan begitu emosi saat ini.


Harold melongok saja ketika melihat Rendy begitu emosi sekarang ini, walau ia masih tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Memang ada banyak yang Harold belum mengerti dari bisnis milik Rendy, itulah sebabnya mengapa Harold agak ragu untuk mengikuti perintah Rendy sebelumnya.


"Ini tidak bisa dibiarkan, kalau barangnya tidak ada lalu bagaimana kita bisa pergi ke luar menemui klien kita?" kesal Rendy.


"Ma-maaf tuan!" Fred terlihat gugup dan ketakutan.


Sementara Harold mulai dapat mencerna semua yang dibicarakan mereka tadi, ya pria itu kini tersenyum sambil berharap jika perjalanan mereka kali ini tertunda atau malah dibatalkan.



__ADS_1


Maysa kini nampak masih melamun memikirkan suaminya yang baru saja pergi ke luar negeri itu, entah mengapa rasanya sulit sekali bagi Maysa untuk bisa mengikhlaskan kepergian Harold yang meski hanya sementara itu. Rasanya Maysa cukup sulit untuk hidup tanpa Harold di dekatnya, apalagi saat ini ia sedang mengandung calon anaknya.


Wanita itu pun terus berdiam diri di sofa ruang tamu dengan tatapan kosongnya, yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah Harold seorang. Jika saja Harold mengatakan alasan yang sejujurnya kepada Maysa mengapa pria itu harus pergi, maka mungkin Maysa tidak akan secemas ini dengan Harold yang pergi secara mencurigakan.


"Kenapa sebenarnya kamu mas? Apa yang terjadi sama kamu sampai kamu harus pergi secara dadakan kayak gini?" gumam Maysa dalam hati.


Disaat ia tengah asyik melamun, Melinda tiba-tiba muncul di dekatnya dan langsung terduduk menghampiri putrinya itu. Melinda tampak cemas dengan keadaan Maysa saat ini, pasalnya Maysa terlihat sangat sedih setelah kepergian Harold. Kini Melinda pun berusaha menghibur Maysa, ia raih satu tangan wanita itu dan mengusapnya lembut.


"Maysa, pasti kamu masih mikirin suami kamu yang pergi itu ya?" tanya Melinda memastikan.


Maysa sedikit kaget dengan keberadaan mamanya itu, ia menoleh dan tersenyum sembari memandang wajah Melinda di sebelahnya. Maysa tidak mungkin bisa membohongi mamanya itu, karena pasti Melinda sudah dapat menebak sendiri apa yang tengah ia rasakan sekarang ini.


"I-i-iya ma, gak tahu kenapa rasanya aku sulit buat biarin mas Harold pergi sekarang. Aku maunya mas Harold tetap di rumah ini ma," ucap Maysa.


"Ya ya, mama tahu perasaan kamu. Pasti kamu sedih kan ditinggal sama suami kamu?" ucap Melinda sambil tersenyum.


Maysa mengangguk perlahan, "Iya ma, tapi bukan cuma itu aja. Aku juga khawatir terjadi sesuatu sama mas Harold disana, soalnya tadi mas Harold pergi tergesa-gesa dan dadakan banget. Dia juga gak mau jelasin alasannya pergi sekarang," ucapnya.


"Kamu tenang dulu sayang! Mungkin aja suami kamu itu lagi mau urusin kerjaannya, kamu gausah mikir yang aneh-aneh dulu ah! Kamu doakan aja yang terbaik buat suami kamu sekarang!" ucap Melinda.


"Tapi ma, aku belum bisa tenang kalau mas Harold belum ceritain semuanya ke aku!" tegas Maysa.


"Ya terus kamu mau gimana? Harold nya aja kan udah pergi, tadi kamu sih gak mau ke depan buat temuin dia terakhir kali," ucap Melinda.


Maysa tertunduk lesu mendengar ucapan mamanya, ia seketika menyesal karena tadi ia tak sempat melihat suaminya sebelum berangkat ke bandara. Kini Maysa pun tidak bisa lagi melakukan itu, karena Harold telah pergi meninggalkannya. Namun, Melinda langsung berusaha menguatkan Maysa dengan cara merangkulnya.


"Sabar ya sayang, lagian kan nanti Harold juga pasti pulang kesini!" ucap Melinda.


"Iya ma." Maysa manggut-manggut saja.


"Oh ya, itu di luar ada Clara. Dia maksa-maksa mau antar Zanna ke sekolah, kira-kira harus mama izinin apa enggak ya?" ucap Melinda.


Deg


Maysa terkejut, emosinya meluap ketika mendengar ucapan Melinda barusan. Ia tak menyangka Clara akan datang secepat ini dan berusaha memanfaatkan situasi yang ada, terlebih sekarang ini Harold juga tidak ada disana.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2