
TOK TOK TOK...
Sementara itu, Peter yang merupakan kekasih Maysa datang ke rumah gadis itu untuk memastikan apakah Maysa sudah pulang atau belum. Ya sejak kemarin Peter bersama teman-teman gadis itu terus mencari Maysa kemana-mana, tetapi mereka tak berhasil menemukan keberadaan Maysa ataupun petunjuk siapa yang telah membawa Maysa pergi.
Peter pun sangat khawatir, terlebih hingga kini kekasihnya itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan pulang atau sekedar membalas pesannya. Akhirnya Peter memutuskan datang ke rumah Maysa pagi ini, ia berharap Maysa sudah berada disana dan ia bisa bertemu dengannya. Lalu, tak lama pintu pun terbuka menampilkan sosok Saskia yang merupakan adik kandung dari Maysa itu.
Ceklek
"Eh kak Peter? Pasti mau cari kak Maysa, ya?" ujar Saskia langsung menebak tujuan pria itu kesana.
"Ahaha, iya nih Kia. Maysa nya ada gak ya di dalam?" ucap Peter sambil tersenyum.
Saskia menggeleng dengan wajah merengut, "Enggak kak, dari kemarin kak Maysa belum pulang. Malahan aku sama ibu ngiranya kak Maysa lagi sama kak Peter, tapi ternyata enggak ya?" ucapnya.
"Loh dia gak sama aku tuh, makanya aku cari dia kesini. Emangnya dia gak ada kabarin kamu atau ibu kamu gitu?" heran Peter.
"Enggak kak," jawab Saskia lirih.
"Waduh, kemana kamu Maysa? Kenapa kamu gak ada kabar sama sekali kayak gini? Aku cemas banget sama kamu sayang!" gumam Peter.
Karena mendengar suara bising dari luar, Melinda alias ibu kandung Maysa pun turut keluar. Wanita itu tersenyum lebar melihat kehadiran Peter disana, ia langsung menyambut dan menanyakan mengenai putrinya pada pria itu. Peter yang bingung hanya bisa diam menggaruk kepalanya, ia tak tahu harus menjelaskan apa pada Melinda saat ini.
"Peter, kenapa kamu diam aja? Dimana Maysa? Dia sama kamu kan?" tanya Melinda mencecarnya.
"Eee...."
Disaat Peter tengah bingung, tiba-tiba saja sebuah taksi berhenti di halaman depan rumah itu. Sontak mereka bertiga kompak menoleh ke arah taksi itu untuk memastikan siapa yang datang, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat ternyata Maysa lau yang turun dari taksi tersebut.
__ADS_1
"Maysa?" lirih ketiganya bersamaan disertai senyuman kebahagiaan, terlebih saat Maysa berjalan ke arah mereka dengan sedikit tertatih-tatih.
"Selamat pagi bu, Saskia! Dan kamu juga Peter," ucap Maysa mengucap salam.
"Duh Maysa! Kamu darimana aja sih sayang? Kenapa handphone kamu susah dihubungi? Ibu sama Saskia nyariin kamu loh dari kemarin," ujar Melinda.
"Maaf ya bu, handphoneku hilang dijambret. Aku gak tahu deh harus hubungin ibu pake apa," ucap Maysa.
"Hah dijambret? Terus kamu gapapa kan sayang? Ada yang luka gak?" tanya Melinda histeris.
Maysa menggeleng perlahan, "Enggak bu, May baik-baik aja. Ya cuma itu aja handphone May dijambret kemarin pas lagi sama teman May," jawabnya.
"Teman kamu siapa, Maysa?" tiba-tiba Peter menyela dan mengajukan pertanyaan itu.
"Eee ada teman kerja aku, semalam kan aku nginep di rumah dia karena udah terlalu malam. Kamu mungkin gak kenal sama dia," bohong Maysa.
Lalu, Melinda pun mengajak putrinya itu masuk ke dalam untuk beristirahat. Karena tak ingin mengganggu Maysa, akhirnya Peter memilih pergi setelah memastikan kekasihnya itu baik-baik saja. Namun, Peter tampak heran dengan kelakuan Maysa saat baru datang tadi. Ya Peter melihat ada yang aneh dengan cara berjalan Maysa, selain itu sikap Maysa juga seolah tengah menyembunyikan sesuatu dari orang-orang disana.
•
•
TOK TOK TOK...
Tak lama setelah Peter pergi, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar yang membuat Maysa beserta keluarganya terkejut. Saskia sang adik pun memutuskan keluar untuk mengecek, karena tahu kalau mamanya sedang ingin berbincang berdua dengan Maysa disana. Akan tetapi, Maysa serta ibunya juga tampak penasaran dengan tamu yang datang ke rumah mereka kali ini.
Saskia yang telah berada di dekat pintu, memilih memastikan terlebih dahulu melalui jendela agar tidak salah mengambil keputusan. Dirinya langsung syok saat itu juga, matanya terbuka beserta mulut yang menganga tipis. Bagaimana tidak, karena nyatanya yang ada di luar sana adalah dua orang pria penagih hutang yang biasa mendatangi rumah mereka untuk meminta bayaran.
__ADS_1
Sontak Saskia panik, gadis kecil itu bergegas kembali ke tempat ibu dan kakaknya berada untuk melaporkan kejadian tersebut. Ya Saskia tentu tak tahu harus melakukan apa, untuk itu ia memilih menemui ibunya. Setelah mengetahui kabar dari Saskia, sontak kini bukan hanya dirinya yang panik tetapi juga ibu serta kakaknya. Mereka sama-sama tak tahu harus apa, terlebih Maysa belum memiliki cukup uang untuk membayar hutangnya.
"Duh bu, gimana ini ya? May belum dapat uang cukup lagi buat bayar hutang ke mereka, mana kita udah nunggak tiga bulan!" ujar Maysa panik.
"Eee sabar ya Maysa! Biar ibu aja yang temuin mereka ke depan," ucap Melinda menenangkan.
Tentu Maysa menggeleng dan menahan ibunya dengan memegangi kedua tangan Melinda, ia tak mau jika terjadi sesuatu pada ibunya nanti saat berhadapan dengan para debt colector tersebut. Maysa pun meminta untuk ikut menemani ibunya ke depan, sedangkan Saskia tetap disana menunggu dan berjaga-jaga.
Saat di luar, mereka langsung menemui kedua debt colector itu dengan perasaan gugup. Bukan pertama kali mereka dihadapkan pada situasi seperti ini, sebab mereka memang sudah berhutang selama berbulan-bulan dan belum bisa membayar lunas. Tentu semua itu mereka lakukan demi memenuhi kebutuhan hidup yang banyak, terutama biaya sekolah Saskia serta kuliah Maysa.
"Lama banget sih buka pintu doang! Mana uangnya? Sudah lebih tiga bulan ini," ujar si debt colector.
"Umm, ma-maaf ya pak? Kami belum bisa melunasi hutang kami sekarang, tapi kami janji akan membayar semuanya bulan depan. Tolong beri waktu kami ya pak!" ucap Melinda.
"Apa? Enak aja minta waktu terus, si bos udah kehabisan kesabaran sama kalian! Bayar sekarang juga, atau semua barang-barang di dalam rumah ini kami sita beserta rumahnya sekalian biar cukup!" ucap si debt colector mengancam.
"Apa? Pak, saya mohon jangan pak! Saya janji akan bekerja lebih giat nantinya, supaya bisa membayar hutang ibu saya!" ucap Maysa memelas.
"Kamu pikir hutang bisa dibayar pake janji? Pokoknya saya gak mau tahu, bayar sekarang atau rumah ini kami gusur dan kalian tidak bisa menempati rumah ini lagi!" ujar si debt colector.
"Saya mohon jangan begitu, pak! Sa-saya..."
"Ah bodoamat!" debt colector itu langsung menyela dan mendorong tubuh Maysa sampai terjatuh.
Kedua pria kejam itu menyerobot masuk ke dalam rumah, tak perduli dengan halangan dari Melinda maupun Maysa. Mereka juga menyita semua barang serta mengusir paksa Maysa dan keluarganya, Saskia pun ikut menjadi korban kekejaman mereka yang sudah diselimuti rasa emosi. Akhirnya ketiga wanita itu terpaksa keluar dari rumah yang sudah mereka tempati sejak lama, dan kini mereka tak tahu harus kemana lagi untuk bisa tetap tinggal.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...